Kekhalifahan – Tantangan Islam Terhadap Tatanan Global?

Oleh: Noman Hanif
Selasa, 31 Januari 2006
Sumber: http://world.mediamonitors.net

“Jika Barat bermaksud menentang model ini, tak ada alternatif baginya kecuali memerangi Islam dan Al-Qur’an. Ini bukan benturan peradaban yang disengaja, tapi lebih tepatnya identifikasi jelas atas ketidakserasian doktrin antara Islam dan Liberalisme sekuler Barat.”

Keyakinan ilahiah yang dipegang oleh gerakan Islam radikal terhadap Institusi Kekhalifahan sebagai benteng untuk mengembalikan kekuatan Islam dan kendaraan untuk menantang keunggulan peradaban Barat sedang membawa badai di dunia Islam dan selainnya. Bersumber dari Al-Qur’an dan sejarah Islam, gerakan Islam mungkin berbeda tentang apakah metodologi kebangkitan itu mesti jihad, reformis, atau politis, tapi sasaran pengembalian Kekhalifahan kini sudah disepakati secara seragam.

Respon Barat terhadap gerakan Islam adalah mengaitkan Kekhalifahan dengan jihad global dan lewat perluasan perang melawan terorisme. Evolusi bahasa di ibukota-ibukota Barat dari terorisme generik menjadi terorisme Islam, ideologi jahat, dan akhirnya Kekhalifahan, telah mengabsahkan apa yang sudah lama dinyatakan oleh gerakan Islam, bahwa perang melawan teror pada esensinya merupakan perang terhadap Islam.

Sebagai bukti lebih jauh, gerakan Islam mempergunakan serangkaian pernyataan luar biasa mengenai Kekhalifahan yang dikeluarkan oleh para pemimpin politik di Washington dan Eropa. Dalam sebuah pidato di Heritage Foundation pada 6 Oktober 2005, Menteri Dalam Negeri Inggris, Charles Clarke, mengatakan, “…tidak boleh ada negosiasi tentang pendirian kembali Kekhalifahan; tidak boleh ada negosiasi tentang penegakan hukum Syariah (Islam).” Presiden George Bush dalam pidato kepada bangsanya pada 8 Oktober 2005 menyatakan, “Para militan yakin bahwa pengendalian satu negara akan mengerahkan masyarakat Muslim, memungkinkan mereka untuk menggulingkan semua pemerintahan moderat di kawasannya, dan mendirikan kerajaan Islam radikal yang membentang dari Spanyol sampai Indonesia.” Pada 5 Desember 2005 di Universitas John Hopkins, Menteri Pertahanan AS, Donald Rumsfeld, dalam ucapan menyangkut masa depan Irak, mengatakan, “Irak akan menjadi basis Kekhalifahan Islam baru yang membentang ke seluruh Timur Tengah dan akan mengancam pemerintahan sah di Eropa, Afrika, dan Asia. Mereka (gerakan Islam radikal) telah menyatakan demikian. Kita berbuat kekeliruan mengerikan jika tidak mau mendengarkan dan mempedulikannya.”

Kekhalifahan menurut definisi Gerakan Islam Sunni adalah kepemimpinan total atas semua Muslim yang bertujuan mengimplementasikan hukum Islam dan menyampaikan pesan Islam ke seluruh dunia. Suksesor Kekhalifahan Islam-lah yang dahulu membentang dari Indonesia sampai Spanyol selama periode 1400 tahun. Kekhalifahan tidak didefinisikan sebagai monarki, demokrasi, kediktatoran, atau teokrasi. Tapi lebih tepatnya merupakan kontrak kepemimpinan antara Khalifah terpilih dan warga negara untuk menerapkan hukum Islam secara menyeluruh dalam kebijakan dalam negeri dan luar negeri.

Aliran Sunni berbeda dari Syiah dalam hal pengesahan restorasi segera aturan Islam oleh Muslim yang memenuhi kriteria tertentu. Aliran Syiah, di sisi lain, mendikte bahwa hanya orang dari silsilah Nabi Muhammad yang mempunyai wewenang untuk mengimplementasikan aturan Islam. Silsilah ini, yang terputus oleh menghilangnya atau bersembunyinya Imam ke-12 di tahun 941, mengandung arti bahwa hanya dengan kemunculannya kembali aturan Islam bisa berlanjut. Karena itu, revolusi Iran tidak pernah dideklarasikan atau diterima oleh mayoritas Sunni atau bahkan Syiah di dunia Islam sebagai Kekhalifahan.

Dalam artikel ini saya akan memperlihatkan bahwa posisi Barat untuk menghindari konfrontasi terbuka dengan Islam dan menentang gerakan populer menuju pendirian kembali Kekhalifahan tidak bisa dipertahankan. Bersenjatakan Al-Qur’an, gerakan Islam terus memenangkan setiap pertempuran dalam perang ide. Bantuan dari Islam moderat sebagai cermin Liberalisme Barat di dunia Islam sedang kolaps pesat mengingat adanya otoritas keilmuwan ulung dari gerakan Islam.

Gerakan Islam telah berhasil menghadirkan kepada masyarakat Muslim model ideologi alternatif yang sesuai dengan Al-Qur’an terhadap Liberalisme sekuler Barat. Pendirian kembali Kekhalifahan membentuk puncak model ini sebagai cara menantang struktur global yang didominasi Barat.

Jika Barat bermaksud menentang model ini, tak ada alternatif baginya kecuali memerangi Islam dan Al-Qur’an. Ini bukan benturan peradaban yang disengaja, tapi lebih tepatnya identifikasi jelas atas ketidakserasian doktrin antara Islam dan Liberalisme sekuler Barat.

Tolol sekali jika berargumen bahwa Barat akan mengubah kebijakannya terhadap dunia Islam. Konflik terus-menerus antara keamanan energi, Kapitalisme global, promosi demokrasi sekuler dan pengakomodasian Islam politik akan terus menyusahkan tindak-tanduknya. Karenanya, ayunan kecenderungan Barat di dunia Islam ke arah pemaksaan demokrasi terkendali dan pendudukan hanya memperkuat gerakan Islam. Dukungan terus-menerus terhadap kediktatoran dan monarki yang bermaksud menyapu bersih gerakan Islam dan menentang Kekhalifahan hanya menegaskan dalam pikiran masyarakat bahwa Barat bermaksud terus memerangi Islam. Kondisi ini tak pelak lagi menyediakan lingkungan untuk kolapsnya rezim lokal, masuknya Kekhalifahan, dan akibatnya pergolakan dalam tatanan global.

Akar Kebangkitan Islam

Kevakuman ideologi yang ditinggalkan oleh runtuhnya eksperimen Komunis di Rusia cepat-cepat memfokuskan perdebatan internasional pada apakah Islam akan mengisi lowong tersebut dan menghadirkan tantangan berikutnya kepada doktrin liberal sekuler global yang jaya yang dipimpin oleh AS dan Eropa. Bersenang-senang dalam kekalahan ideologi Komunisme yang tak disangka-sangka, akademisi yang tumbuh dalam tradisi liberal sekuler Barat cepat-cepat menyatakan kebangkitan Islam sebagai reaksi terhadap supremasi ideologi Barat, sebuah teka-teki strategis, tapi takkan mampu menantang universalisme Barat. Pemikiran ini cenderung mendominasi literatur di Barat, menghasilkan kekeliruan fundamental dalam memahami dan mengaitkan penjelasan dengan dasar kebangkitan Islam dan tantangannya untuk merevolusi tatanan global.

Akademisi dan pembuat kebijakan di Barat telah melakukan kekeliruan krusial dalam menganalisa sumber kebangkitan Islam dan kondisi yang menstimulasinya sebagai satu hal yang sama. Lahirnya ide tidak terpisah dari lingkungan sosial, ekonomi, dan politik yang membantu pertumbuhannya. Fondasi gerakan Islam yang bertujuan membangkitkan totalitas Islam melalui Kekhalifahan berakar kuat dalam inspirasi sumbernya, Al-Qur’an.

Di dunia Islam, Al-Qur’an-lah yang dianggap sebagai utopia pemikiran dan dianggap telah mengakhiri sejarah 1.200 tahun sebelum dialektika tolok ukur revolusi Prancis-nya Francis Fukuyama. Keyakinan terhadap kesempurnaan Al-Qur’an dan hukum Allah yang timbul darinya membentuk akar kemarahan Muslim dan menjadikan benturan peradaban antara Islam dan liberalisme sekuler tak terelakkan lagi.

Diskursus akademisi Barat mengenai kegagalan tetap Islam politik diiringi oleh globalisme Barat sehingga mereka mengkonstruksi hipotesis Islam dengan gambarannya sendiri yang jauh terlepas dari Al-Qur’an, pusaka besar yurisprudensi Islam dan otomatis kekuatan gerakan Islam. Keyakinan terhadap universalisme Al-Qur’an dan keselarasan antara materi dan jiwa membuat paradigma pereformasian Islam tak berdaya.

Diktum sekuler Barat, ‘menempatkan Kaisar sebagai Kaisar dan Tuhan sebagai Tuhan’, dibantah kuat oleh gerakan Islam lewat ayat-ayat Al-Qur’an dan pemahaman yurisprudensi mereka sebagai diktum yang tidak mempunyai kesejajaran dalam diskursus Islam klasik atau kontemporer.

Argumen bahwa Islam politik telah gagal lantaran tak mampu beradaptasi dengan modernitas Barat dan struktur politik Barat bukanlah penuntutan atas kegagalan Islam politik. Itu lebih merupakan bukti lebih jauh bahwa arsitektur politik Islam dan Barat tidak serasi secara doktrin dan sistem. Lagipula, pendirian Kekhalifahan oleh Gerakan Islam sebagai alternatif politik dan sistem terhadap model sekuler Barat sebetulnya melambangkan keberhasilan Islam politik.

Kondisi sosial, ekonomi dan politik di dunia Islam tak diragukan lagi menjadi penyebab gerakan Islam, tapi, berlawanan dengan asumsi Barat, solusi atas ketidak-enakan tersebut bukan diidentifikasi dalam liberalisme sekuler atau derivatif Kapitalisnya melainkan akibat ketiadaan Islam. Kesimpulan ini tak pelak turut mempertimbangkan apa yang telah dialami dunia Islam dalam masa-masa campur tangan barat yang terjadi akibat kolonialisme, konflik superpower, dan persahabatan brutal dengan kediktatoran non-Islam selama berdekade-dekade atas nama stabilitas dan kepentingan pengamanan minyak. Terus-menerusnya pendudukan, penghinaan, dan intervensi Barat hanya menegaskan dalam pikiran masyarakat Muslim bahwa Barat, bukan Islam, merupakan penyebab penderitaan mereka. Ketidakberdayaan itu telah memotivasi mereka untuk mencari alternatif dalam Islam dengan harapan memberikan martabat, kekuatan, perlindungan, dan stabilitas lewat sebuah sistem kepada individu, negara, dan masyarakat. Karena itu, pertalian dengan Al-Qur’an, pusaka Islam, dan Kekhalifahan merupakan sesuatu yang alami dan tak terelakkan. Upaya Barat untuk menghalangi kebangkitan dan Kekhalifahan lewat intervensi militer, politik, budaya, dan ekonomi hanya membakar kemarahan Muslim.

Kebangkitan

Tuntutan pendirian Kekhalifahan dari gerakan Islam melebihi gagasan artifisial dan kolonial Westphalia yang diukir dari abu Kekhalifahan Utsmani. Hari ini, setiap rezim di dunia Islam menghadapi ancaman terhadap eksistensinya dari gerakan Islam trans-nasional. Penolakan terhadap nasionalisme sebagai kekuatan merusak dan memecah-belah ditopang oleh rujukan dari Al-Qur’an, yurisprudensi, dan sejarah, membentuk senjata hebat dalam upayanya menggulingkan orde negara bangsa yang ada di dunia Islam dan mendirikan Kekhalifahan menyatu. Runtuhnya orde Soviet telah semakin menghasilkan perluasan pesat gerakan tersebut, mengisi kevakuman di Kaukasus dan Asia Tengah, pada gilirannya melengkapi busur kebangkitan Islam.

Keyakinan terhadap Islam sebagai sumber komprehensif untuk mengatur individu, negara, dan masyarakat, bersama dengan pergerakan imigrasi, ide, dan informasi global telah memungkinkan dunia Islam untuk mengatasi inferioritas intelektual, teknologi, dan politiknya di hadapan peradaban Barat. Kekayaan tambang, strategi, sumber daya intelektual dan manusia yang eksis di luasnya wilayah dunia Islam menyediakan keyakinan intelektual terhadap kemampuan Kekhalifahan untuk menantang dan mengatasi keunggulan militer dan teknologi Barat. Oleh sebab itu, sama sekali tak mengherankan jika anggota-anggota gerakan Islam berpendidikan tinggi yang beroperasi dari wadah peradaban Barat di Washington, London, Paris, dan Roma berhasil mempelopori pemasaran global Kekhalifahan.

Serangkaian peristiwa politik dari pendirian Israel hingga invasi Irak telah secara radikal mengubah pemandangan dan atmosfer politik di dunia Islam. Berkat, sebagian besar, pembudayaan masyarakat oleh gerakan Islam dan tanpa bantuan kebijakan Barat, kedewasaan politik di dunia Islam jauh dari impotensi yang diperagakan dalam fase akhir Kekhalifahan Utsmani. Proyek-proyek yang dikembangkan oleh kekuatan Barat bekerjasama dengan rezim lokal untuk menyimpangkan dan menggilas kebangkitan Islam dalam delapan tahun terakhir telah semakin terancam oleh meningkatnya kesadaran politik. Perang melawan teror dan invasi Irak dianalisa luar biasa di dunia Islam sebagai perang terhadap Islam dan sebagai kebijakan untuk menghalangi Kekhalifahan. Alhasil, gerakan Islam telah menyingkirkan perbedaan antara kebijakan Barat dan pemerintah lokal. Dengan pembudayaan politik yang efektif, gerakan untuk mengubah rezim jauh lebih riil dari gerakan Islam ketimbang dari kekuatan Barat.

Menantang Tatanan Global

1.400 tahun sejarah Kekhalifahan di bidang sains, militer, ekonomi, dan politik memberi kesaksian tentang akan munculnya pergolakan dalam struktur internasional yang didominasi AS dan Eropa. Sebagaimana peradaban Barat selalu kembali kepada sumber-sumber klasik Yunani dan Romawi kuno untuk inspirasinya, gerakan Islam juga telah kembali ke masa depan.

Penyelesaian berbeda gerakan Islam dalam membangkitkan sumber klasik Islam ke dalam paradigma modern guna menantang Barat telah membentuk inti perlawanannya terhadap Komunisme sebagai doktrin politik dan sistem. Paradigma yang sama kini menyerang tatanan sekuler/Kapitalis global.

Dalam menerapkan paradigma tersebut, gerakan Islam telah berbuat jauh dalam merinci model-model alternatif ekonomi, sosial, dan politik yang berbeda. Aturan komprehensif yang didapat dari Al-Qur’an dan sumber-sumber klasik menyangkut transaksi ekonomi, hubungan sosial, hukum pidana, kehakiman, putusan, dan kebijakan luar negeri telah memberi kepercayaan diri kepada masyarakat Muslim lewat gerakan Islam bahwa Islam dan Kekhalifahan dapat menyediakan solusi terhadap persoalan modern.

Kekuatan Barat akan punya sedikit masalah dengan struktur kekuasaan atau sosial Kekhalifahan sebagaimana terbukti lewat kebijakan luar negeri mereka terhadap kediktatoran yang berturut-turut. Dalam prinsip dan kebijakan ekonomi, militer, dan hubungan luar negeri-lah kepentingan Barat dan Kapitalisme global akan ditantang langsung.

Definisi fundamental gerakan Islam atas masalah ekonomi sebagai persoalan distribusi, berlawanan dengan model produksi Barat, akan membentuk basis kebijakan ekonomi Kekhalifahan. Pembagian antara kepemilikan negara, masyarakat, dan pribadi akan menjadi alternatif terhadap model privatisasi ekonomi. Penolakan terhadap pasar sebagai distributor tunggal kemakmuran dan dan komoditas pokok akan melanda hebat Afrika, Asia, Timur Tengah, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, di mana ekonomi liberal dan Kapitalisme internasional, meski menjanjikan globalisasi dan perdagangan multilateral, telah gagal membalik kemiskinan dan tergelincir ke dalam chaos.

Kekayaan tambang termasuk minyak dan gas akan diregulasi berdasarkan prinsip komoditas ekonomi Islam sebagai saham warga negara yang dipercayakan kepada Negara. Aturan ini menguraikan fondasi untuk mengeliminasi kepentingan minyak Barat di dunia Islam. Akses Barat yang murah dan penghamburan oleh rezim dukungan Barat atas kekayaan minyak di dunia Islam telah memperkuat magnet untuk pendirian kembali Kekhalifahan.

Ditopang oleh kekuatan minyak dan keyakinan politik, Kekhalifahan akan beralih (sebagaimana dulu dalam sejarah) ke standar emas untuk menanamkan displin dan stabilitas finansial di lingkungan ekonomi domestik dan internasional. Senjata minyak kemungkinan besar akan menjadi kunci untuk mendapatkan cukup emas guna menopang mata uang tersebut. Stabilitas yang diproyeksikan diharapkan bertindak sebagai katalisator untuk menginternasionalisasikan kembali standar emas seiring dumping dolar secara pesat mengingat terdapat penurunan kepercayaan akibat meningginya pergolakan politik.

Penolakan gerakan Islam terhadap ide hukum internasional berlandaskan bangunan doktrin dan filsafat Hobbes akan menimbulkan ancaman besar bagi PBB. Berbeda dari sikap pragmatis Uni Soviet, Kekhalifahan akan menentang ide hukum internasional dan PBB sebagai kendaraan untuk hegemoni sekuler Barat, sebuah tuduhan yang sudah populer di dunia Islam dan dunia berkembang. Sebagai alternatif, Kekhalifahan, berlandaskan preseden historis dan sumber-sumber Islam, akan kembali menjalankan hubungan internasional melalui pakta, kebiasaan, dan kekuatan opini publik internasional.

Peningkatan kekuatan militer Kekhalifahan kemungkinan besar akan pesat. Penyingkiran pangkalan militer Barat akan meniadakan akses menuju perairan, ruang udara, rute darat, dan logistik yang strategis bagi respon militer Barat jangka pendek dan menengah. Lebih jauh, ketersediaan opsi nuklir akan membuat ini jadi mustahil.

Kekhalifahan tidak akan kekurangan pemikir brilian dan juga akses menuju pasar internasional bagi para ilmuwan yang terbuka terhadap Washington dan Eropa. Lebih jauh, banyak kelompok pemikir Muslim simpatik yang bekerja di kompleks-kompleks industri militer Barat dan Uni Soviet akan secara alami dipergunakan dalam mengarahkan saluran pemikiran kritis namun bisa diprediksi di Barat.

Sebagaimana dalam sejarah, pencarian supremasi militer kemungkinan besar akan mendominasi upaya memperkuat gerakan kekhalifahan menuju kepemimpinan ideologi global. Namun, supremasi militer tidak mencegah timbulnya kebusukan ideologi pada Kekhalifahan Utsmani. Penyebabnya bersifat politis, sebagaimana pada runtuhnya Uni Soviet. Gerakan Islam tampaknya telah belajar dari sejarah dengan memperagakan ketrampilan politik yang tajam dalam kemampuannya mempertahankan dan memelihara momentum di dunia Islam. Tak diragukan lagi, kecerdasan politik tersebut akan menjadi kekuatan menakutkan yang diterapkan pada upaya revolusi tatanan global oleh Kekhalifahan.

Menerima Kekhalifahan

Mentan Perdana Menteri Inggris-lah, William Gladstone, saat fase-fase akhir pelucutan Kekhalifahan Utsmani, yang mengangkat Al-Qur’an di hadapan Parlemen dan memprediksi bahwa selama dunia Islam tetap melekat pada kitab tersebut, Barat tidak bisa menghalangi kebangkitannya. Prediksi Gladstone telah menjadi kenyataan dengan terbukanya lagi ijtihad klasik (metodologi ortodoks dalam menggali hukum Islam) yang secara radikal telah mentenagai gerakan Islam untuk mengambil sumber Al-Qur’an dalam permasalahan modern sebagai alternatif terhadap liberalisme sekuler Barat.

Dalam menghadapi tantangan ini, kebijakan Barat tak bisa lagi meneruskan peperangan dengan Islam lewat pintu belakang, termasuk Perang Melawan Teror. Islam berarti ‘damai’, tapi ada syaratnya, yaitu ketaatan penuh kepada hukum Allah. Karenanya, meski secara politik terdapat pemujian berlebihan atas Islam oleh Washington dan Eropa, tidak mungkin terjadi koeksistensi antara Islam dan Peradaban Barat.

Kebijakan Amerika yang dipengaruhi oleh neo-konservatif dan diinspirasi oleh Reaginite kelihatannya bergerak lebih terang-terangan dengan melekatkan label samar “ideologi jahat” pada Kekhalifahan. Namun, sebagaimana terhadap Komunisme, kebijakan Barat perlu lebih tegas dalam mendefinisikan Islam sebagai ancaman utama. Penyangkalan terus-menerus di Washington dan Eropa mengenai konflik dengan Islam hanya menghasilkan semakin banyak kebingungan, frustasi, dan kontradiksi di lingkungan kebijakan dan akademis yang menyadari ketidakserasian antara kedua doktrin.

Posisi dunia Islam, di sisi lain, tidak menderita kebingungan semacam itu. Kebijakan Barat jelas-jelas dianggap mengarah langsung kepada Islam dan menghalangi Kekhalifahan di jantung Timur Tengah, sebagaimana dilihat dari invasi Amerika atas Irak dan penolakan untuk menerima Islam sebagai sumber tunggal legislasi Irak dan Kekhalifahan sebagai struktur politiknya.

Esensi jihad global dan respon Barat terhadapnya lewat Perang Melawan Teror telah menjauhkannya dari penyebab pokok dan dinamika sentimen anti-Barat di dunia Islam. Jihad global merupakan respon frustasi dan bermutasi terhadap kebijakan Barat menyokong rezim-rezim yang menyiksa warga negaranya dan menghalangi gerakan Islam dalam cita-citanya mendirikan Kekhalifahan.

Washington dan Eropa hanya menipu diri mereka sendiri jika mereka berpikir dapat menentramkan hati masyarakatnya bahwa gerakan Islam akan segera lenyap berkat Perang Melawan Teror dan invasi Irak. Atau bahwa dunia Islam akan menuruti mereka dengan pandangan neo-kolonial yang direvisi. Konstituen politik gerakan Islam semakin menguat, sementara elemen jihad menaikkan taruhan dengan memperpanjang dan memperluas serangan terhadap masyarakat Barat.

Amerika dan khususnya Eropa membantu perkembangan cukup banyak Muslim yang mempunyai hubungan kuat dengan gerakan Islam global dan mendukung pendirian kembali Kekhalifahan sebagai tujuan serius. Fenomena ini menjadi tanda kegagalan Barat untuk memperoleh kepemimpinan doktrin atas Muslim di dunianya sendiri. Situasi ini hanya akan menguat lantaran gerakan Islam menjalankan terus panggilan globalnya.

Benturan doktrin antara Islam dan peradaban Barat lebih tua dari deklarasi perang asimetris antara Barat dan gerakan Islam dan akan berlanjut selama bergenerasi-generasi mendatang. Perang melawan teror, di sisi lain, tidak mempunyai ujung. Perluasan perjuangan jihad global dari [perlawanan terhadap] rezim-rezim di dunia Islam menjadi penyerangan target di Barat akan berhenti dengan kelahiran Kekhalifahan. Konflik itu kemudian akan berubah menjadi lebih konvensional.

Kebijakan untuk menyerang ide Kekhalifahan dengan mengaitkannya dengan kekerasan politik gerakan jihad tidak mampu mengeliminasi otoritas Qur’ani-nya. Dunia Islam mungkin tidak sepenuhnya setuju dengan metode bersenjata gerakan jihad, tapi pertalian Kekhalifahan dengan Al-Qur’an tidak diperselisihkan. Aspek politik dan non-kekerasan gerakan Islam, dianggap sebagai alat hebat dalam membangkitkan ide Kekhalifahan, mempunyai daya tarik lebih luas dan lebih dalam. Praktisnya, serangan terhadap Kekhalifahan dianggap sebagai serangan terhadap Islam.

Transformasi fundamental perlu terjadi di lingkungan kebijakan dan akademis Barat menyangkut Islam. Diskursus Barat perlu bergerak ke luar posisi dogmatis yang berupaya membentuk ulang Islam berdasarkan ajaran peradaban Barat tanpa otoritas Qur’ani. Upaya ini telah gagal di dunia Islam. Kecanduan mengaitkan Kekhalifahan dan memandang Islam radikal lewat prisma “perang melawan teror” telah mengaburkan realita untuk memahami dinamika kebangkitan Islam. Perlu ada apresiasi jernih bahwa Al-Qur’an merupakan reaktor nuklir dunia Islam yang menyediakan energi untuk restorasi Kekhalifahan dan tantangannya terhadap tatanan global. Barat tak punya opsi selain menerima keniscayaan Kekhalifahan dan merumuskan posisi yang jelas, nyata, dan eksplisit, yang mengenali ketidakserasian doktrinnya, terhadap Islam. Seiring meningkatnya keberhasilan kelompok-kelompok Islam dalam meningkatkan pengumpulan suara dari masyarakat, dunia Islam tampaknya telah mengambil sikap terhadap Barat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s