Oleh: Simon Jones (di Tashkent)
Minggu, 31 Juli 2005
Sumber: www.axisoflogic.com

Tragedi tanpa akhir di Uzbekistan – represi yang tak kunjung padam terhadap Muslim selama 15 tahun (well, menjadikannya seabad) – telah mencapai kebuntuan kritis. Dengan pembantaian sampai 1.000 orang tak bersalah di Andijan, suasana di negeri tersebut berlawanan dengan Karimov: tak ada jalan keluar elegan bagi penyeimbang ketamakan klan yang dulu lihai ini, yang sama sekali tidak diperlembut oleh dasar prinsip Islam tentang keadilan sosial dan layanan publik.

Tapi Karimov dan Uzbekistan tidak sendirian. Analisis terbaru atas Tunisia (lihat Le Monde 6/5) menggambarkan kemiskinan dan kekacauan di bawah diktator Ben Ali yang represif, sekuler, dan pro-AS, dengan demokrasinya, pelarangannya terhadap semua partai Islam, penghalangan Islam secara umum, dan, di atas semua itu, ketakutan untuk membuat kritik paling lembut sekalipun. Kita bisa mengatakan hal yang kurang-lebih sama untuk Mesir, Aljazair, Maroko, Yordania, Suriah, Arab Saudi. Lalu ada keadaan memalukan seperti Dubai, yang tengah membangun replika kepulauan dunia berteknologi tinggi dan bergaya Disney untuk orang-orang superkaya, atau Emirat, yang mengimpor wanita Rusia dan Uzbek sebagai budak seks. Sangat sulit untuk menemukan negara Muslim yang mencerminkan keadilan sosial Al-Qur’an yang tegas. Juga, sangat sulit untuk menemukan negara Muslim yang bukan klien AS. Malaysia dan Iran terlintas dalam pikiran, dan dengan cara mereka yang sangat berbeda, mereka menawarkan suatu harapan.

Dalam pidatonya tanggal 4 Juli tahun ini, Presiden George Bush menyambut era baru demokrasi, hasil pertempuran AS “dari Bunker Hill sampai Baghdad”. Kesampingkan saja Bunker Hill dan apa yang tersisa dari Revolusi Amerika, kita sudah dapat melihat demokrasi yang AS bawa ke Baghdad dan Kabul – demokrasi di mana orang hidup iri pada orang mati, yang jumlahnya semakin banyak seiring berlalunya hari. Bukan. Semestinya teriakan itu adalah: ‘Dari Baghdad Sampai Bishkek, Waktu Kekhalifahan Telah Tiba’. Dan ironisnya, meski Karimov secara keras menyatakan diri sebagai penentang terbesarnya, dia tanpa sadar merupakan salah satu aset terbesarnya, dengan terus-menerus meningkatkan momok [kekhalifahan] dalam justifikasi penyiksaan Muslim Uzbek. Ironi: sebelumnya belum pernah dunia Muslim begitu diperbudak kepada negara dan pemimpin kufur (anti-Islam), dan belum pernah begitu dihancurkan dan dipandang hina oleh mereka. Meski media barat membangun fantasi sebaliknya, ini merupakan realita tragis dan menyedihkan.

Kontribusi Karimov Terhadap Kekhalifahan

Hubungan Karimov dengan Islam sangat rumit. Pada 1990, saat dia berkampanye dalam satu-satunya pemilu presiden yang relatif bebas di Uzbekistan, dia berpidato di depan 40.000 hadirin peserta pertemuan Islam yang diorganisir oleh gerakan keagamaan Adolat (Keadilan) di Namangan, bahkan berdoa di atas panggung, membuat para demonstran gembira. Dia berjanji kepada pemimpin karismatik gerakan itu, Tahir Yuldashev, yang kemudian menjadi pendiri Islamic Movement of Uzbekistan, bahwa dirinya akan membangun banyak masjid dan membiarkan Islam berkembang, dan bahwa “harus dibuka jalan untuk bersahabat dengan dan mendapat pertolongan dari Afghanistan, Pakistan, Iran, dan Turki, agar kita dapat menjadi negara Islam bersatu”.[1]

Pada waktu yang sama, setelah mengamankan pemilunya, Karimov juga berjanji kepada rival nasionalis sekulernya, Mahammad Salih dari partai Erk, yang telah menjadi tokoh dihormati kedua, bahwa dirinya akan menjadi pemimpin nasionalis kuat dan mengizinkan berkembangnya demokrasi sekuler. Rupanya, dia berhasil meyakinkan mereka sebab keduanya ikut serta dan awalnya mendukung dia. Tentu saja, dia mengingkari dua janji berlawanan ini dan kemudian mengeluarkan hukuman mati terhadap dua rivalnya. (Yuldashev yang heroik mati-matian berjuang menggulingkan Karimov; Salih yang lihai hidup nyaman di Norwegia dan baru-baru ini bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS, Condoleeza Rice.)

Pilihan AS

Karena AS mau tak mau memilih untuk mengadakan operasi beludru CIA lainnya, apa saja pilihannya? Kemungkinannya adalah menekan agar diizinkannya operasi legal satu-satunya partai nasionalis pro-AS pro-pasar, Birlik, yang dipimpin oleh Pulatov (hidup dalam pengasingan di AS), dan Erk, yang dipimpin oleh Salih (hidup dalam pengasingan di Norwegia), plus partai Free Peasants pimpinan Hidoyatova dan Party of Agrarians and Entrepreneurs pimpinan Umarov. [Update: para pemimpin bisnis yang terasosiasi dengan oposisi tak resmi, ‘Sunshine Coalition’, kini sedang disiksa dan beberapa lari dari negeri tersebut. Salah seorang putra Umarov, Guliambek, diracun tapi masih bertahan hidup; yang lainnya, Sardorbek, lari ke luar negeri.] Baru-baru ini Congress of Democratic Uzbekistan didirikan di AS oleh orang-orang ini dan pembangkang Uzbek lainnya yang disponsori AS, menyatukan anak-anak kesayangannya dalam satu kekuatan oposisi yang menyenangkan dan benar secara politik, mirip Kongres Nasional Irak-nya Chalabi.

Pendek kata, citra terbalik partai-partai independen gadungan diatur oleh Karimov untuk memberi kemiripan demokrasi (National Democratic, Patriots, dan lain-lain). Tak ada sepatah katapun tentang pengorganisiran partai keagamaan atau kebebasan lebih besar untuk Muslim, dan sudah pasti tak ada niat untuk mempromosikan kesatuan Muslim.

Stalin Tanpa Sosialisme

Dengan mengutuk ide Islam sebagai prinsip formatif masyarakat Uzbek, Karimov mengambil petunjuk dari diktator terdahulu yang memerintah Uzbekistan. Gaya dan metodenya sangat mirip dengan Stalin dalam segala hal kecuali perhatian Stalin terhadap standar ekonomi dasar untuk rakyat. Tak ada jaring jaminan sosial lagi, dan Karimov kelihatannya tak bisa memahami bahwa pengagungan dirinya dan penghinaan berdarah dingin terhadap rakyatnya merupakan rivalnya, bahwa kekerasan kini akan meningkat sampai mencapai krisis total, termasuk isolasi internasional dan barangkali intervensi.

Karena Stalin dapat mengarah kepada pencapaian sosialis solid dalam pemerintahan bengisnya (‘Islam tanpa Allah’), dan karena dia mempunyai kendali atas teritori yang besar, kekuasaannya aman sepanjang peralatan terornya lengkap. Sehingga, gerakan tahun 1920-1930an untuk mendirikan Turkistan bersatu bisa dengan mudah diberangus dan betul-betul dilupakan karena USSR mengkonsolidasi diri sebagai sebuah sistem politik tanpa perbatasan internal yang berarti, dan Turkistan kuno dipecah menjadi ‘republik-republik’ Asia Tengah yang disfungsi dan berkompetisi. Lebih jauh, tekanan untuk pendirian kekhalifahan era modern saat itu belum begitu besar, di mana semua Muslim bisa berinteraksi dalam pekerjaan dan budaya, dan di mana kebutuhan sosial dasar terpenuhi.

Logika Kekhalifahan

‘Kekhalifahan’? Ya! Dengan terlebih dahulu menjanjikan ide tersebut, dan kemudian secara kejam memberangus amal Islam standar, jangankan pengusungan kekhalifahan yang tergesa-gesa, Tuan Karimov telah membuat dirinya tertawan olehnya dan, seperti Lady Macbeth, harus berulangkali mencuci tangan berdarah-darahnya dari kesalahan intrik politiknya. Dengan terus-menerus berbicara tentang Hizbut Tahrir dan programnya yang berusaha membangkitkan kembali kesatuan politik Muslim, dia hanya menyediakan legitimasi lebih besar terhadap ide tersebut. Fitur unik wilayah dunia Muslim ini adalah bahwa ia telah merasakan sosialisme dan kapitalisme dan mengetahui langsung kelemahan keduanya, sehingga secara singkat argumennya adalah, mengurai kata-kata Lenin, “Kekhalifahan abad 21 = komunisme + Al-Qur’an”.

Penjelasan Islam mengambil bentuk berikut:
Muslim mendasarkan identitasnya pertama-tama dan terutama kepada Islam, dan, Islam sebagai agama universal, mereka tentu saja akan mengatasi nasionalisme kafir dan bekerjasama untuk merealisasikan negara ideal, berbasis program Al-Qur’an yang rinci dan luar biasa ketat. Konsep dasar nasionalisme adalah konsep barat dan menjadi kekuatan politik utama baru-baru ini saja, dengan kemenangan kapitalisme dan kenaikan sekulerisme di abad 19. Ia mencapai bentuk paling jahatnya di Nazi Jerman dan hari ini di Israel. Ia harus dibuang demi kesatuan semua Muslim, menolak rezim-rezim nasionalis yang disponsori oleh imperialisme – dahulu Inggris dan kini Amerika – untuk membuat Muslim tetap terpecah.

Politik ini, dahulu dicabut dari seluruh dunia Muslim, tentu saja akan membuat semua negara Muslim bekerjasama. Ya, Tuan Karimov, itulah yang dimaksud dengan kekhalifahan menyeramkan. Memangnya apa yang salah dengan itu? Mengapa negara-negara Muslim tidak boleh menanggalkan penguasa barat mereka dan mempergunakan kekuatan besar mereka untuk memerangi sumber terorisme sesungguhnya – ASrael dan pengkhianat sekuler bayaran seperti dirimu?

Sejarah Kekhalifahan

Kekhalifahan merujuk pada perkembangan besar pertama Islam dan penyebaran pesatnya hingga membentuk kerajaan hebat berbasis spiritual dengan berbagai pusatnya dari abad 7 sampai 14 di Timur Tengah dan Asia Tengah. Khalifah adalah pemimpin Umat (masyarakat Muslim). Kata “khalifah” merupakan kata Arab untuk pengurusan alam dan keluarga, kewajiban kunci semua Muslim (berlawanan dengan “penguasaan alam”-nya Perjanjian Lama). Kekhalifahan tak dapat disangsikan jauh lebih beradab dibanding Eropa feodal, meski mengalami serangan yang hampir mematikan dari bangsa Mongol (yang BUKAN Muslim) dan bangsa Eropa di abad 10 sampai 12.

Sesaat di abad 8, Kekristenan bahkan sepertinya akan berekonsiliasi dengan monoteisme teranyar ini, tapi Roma memberangus para revisionisnya dan pada akhirnya Pasukan Salib pembawa malapetaka mengembalikan dunia Kristen ribuan tahun ke masa silam (persis sebagaimana Prajurit Salib modern, Bush, memastikan bahwa tak boleh ada kompromi dengan dunia Muslim). Baru setelah kenaikan kapitalisme dan imperialisme-lah Kekhalifahan Utsmani ditundukkan oleh kekuatan sekuler materialis dan dihancurkan oleh para pemenang Perang Dunia I, di mana barang rampasan tersebut dibagi-bagi di antara kerajaan Yahudi-Kristen Inggris, Prancis, dan kemudian AS dan Israel.

Realitanya, perang mutakhir melawan Islam dimulai di akhir abad 19 dan telah berlanjut sejak saat itu. Sementara kebudayaan Yahudi dan Kristen memeluk materialisme kapitalisme tak berjiwa, Islam tetap dan masih tak sudi mereformasi dirinya agar cocok dengan kebutuhan Mammon. Namun, serangan gencar kekuatan kapitalis dan Uni Soviet telah meminta korban di dunia Muslim, mendirikan negara-negara kecil dan lunak dengan pemerintahan sekuler yang kini dikuasai oleh AS. Sasarannya adalah terus me-westernisasi masyarakat Muslim, lewat godaan atau jika perlu lewat paksaan, untuk membuat mereka bersedia menerima imperialisme AS (sebut saja ASrael). Tapi perhitungan akhir belum masuk.

Titik Nadir Kini dan Kelahiran Kembali

Islam telah menunjukkan daya lenting luar biasa dalam menghadapi serangan tak kunjung padam ini, yang meningkat secara eksponensial sejak keruntuhan Uni Soviet, atau justru akibat keruntuhan Uni Soviet, dan pukulan yang ditimbulkan oleh keruntuhan tersebut kepada orang kiri di Barat. Sejak saat itu proyek imperial ASrael melaju cepat, menyisakan Muslim (plus komunis Kuba dan Bolivarian Venezuela) sebagai satu-satunya kekuatan penyeimbang yang signifikan.

“Kemenangan Islam kemungkinan besar akan tiba setelah terjadi krisis parah – sosial, ekonomi, dan ekologi – yang membawa pada penggulingan rezim kafir oleh militer [Uzbekistan sepertinya contoh paling bagus] dan lewat kudeta yang mengusulkan sistem pro-Islam untuk menstabilisasi masyarakat yang ambruk dan menderita keruntuhan ekonomi.” Pikirkan Nasser atau Chavez.

Terdapat kemungkinan lain bahwa tatanan internasional akan segera kolaps, bersama dengan dolar AS sebagai mata uang dunia dan fiat money buatan bank, dengan atau tanpa kartu liar ‘minyak puncak’. Jadi skenario ini tidak dibuat-buat sebagaimana bayangan Anda. Pertimbangkan lagi dinar emas Iran dan Malaysia saat dolar terus tenggelam. Betapa lucu, penyeimbang fisik kapitalisme, minyak, ditemukan utamanya di negara-negara Muslim, bersama dengan penyeimbang spiritualnya – larangan Islam terhadap fiat money dan riba serta pembatasan (bijak) lainnya dalam aktivitas ekonomi. Betapa lucu, dunia Muslim memegang semua kunci untuk penyelamatan ekonomi dunia ini.

Marx tak diragukan lagi akan ketawa-ketawa seandainya dia diberitahu bahwa, “Ya, kapitalisme dunia akan kolaps, begitu juga sosialisme, dan Islam kuno-lah yang akan bertahan untuk membangun kembali hubungan ekonomi yang dibangun di atas prinsip pengurusan alam, keadilan sosial, standar emas, dan shalat.”

Asia Tengah Sebagai Mata Rantai Krusial dalam Logika Kekhalifahan

Sebagaimana gagalnya upaya sekuler pan-Arabisme oleh Gaddafi, Nasser, dan Hussein, main-main Kemal Ataturk dengan nasionalisme pan-Turki di Asia Tengah runtuh lantaran Soviet memperkuat cengkramannya pada tahun 1920-an dan mengganti Islam, sebagai kekuatan pengikat, dengan sosialisme. Namun, dengan runtuhnya Uni Soviet, desakan atau keinginan untuk persatuan semua negara Muslim Asia Tengah semacam itu jauh lebih kuat, dan seiring kebangkitan Islam di negaranya, Turki bisa melepaskan kekaguman terhadap Eropa sekuler dan berbalik merangkul dunia Islam di timur. Satu-satunya solusi untuk permasalahan “Kurdi” adalah mendasarkan masyarakat pada satu penyebut bersama: Islam. Afghanistan dan Irak, dengan pemerintahannya yang dikendalikan oleh AS, telah merumuskan konstitusi berlandaskan hukum Islam dan Irak sudah mulai bekerja erat dengan Iran. Satu-satunya cara untuk menjaga kesatuan Irak dan mengakhiri perpecahan di Afghanistan adalah (izinkan saya menyebut mantra ini) menarik satu penyebut bersama: Islam.

Nasionalisme palsu yang dipromosikan oleh para pemimpin Asia Tengah untuk mengamankan kekuasaan dan pencurian negara yang mereka lakukan menyiratkan bahwa mereka semua adalah orang-orang terbelakang yang menyedihkan, tak mampu menciptakan ruang ekonomi bersama yang berarti. Perbatasan, visa, bea cukai, dan lain-lain semuanya dipakai untuk mengisi kantung pejabat korup, menghalangi kebangkitan ekonomi. Manuver gamblang Eropa, ASrael, China, dan Rusia di Asia Tengah, masing-masing dengan agenda anti-Muslim dan anti-Asia Tengahnya sendiri, membuat persatuan Asia Tengah menjadi urgen.

Menariknya, dalam kondisi kekacauan politik saat ini, Kirgistan, dengan ‘revolusi tulip’-nya, maupun Uzbekistan, dengan diktator bengisnya yang pro-AS (ups, anti-AS), sedang berusaha menutup pangkalan AS, menyiratkan adanya logika kuat untuk menentang hegemoni AS, meskipun tanpa persatuan tadi. Ironisnya, penindasan terhadap Islam di seluruh kawasan itu hanya menambah bahan bakar terhadap keinginan untuk membangun kembali masyarakat tanpa Big Brother yang memaksakan fantasi sekuler mereka.

Sekali partai-partai berbasis Islam seperti Hizbut Tahrir diperbolehkan berorganisasi secara terbuka, warga negara yang jujur akan mampu mengkritisi kekacauan menakutkan di sana. Seperti inilah seharusnya demokrasi. Ini juga akan mengosongkan penjara dari ribuan Muslim saleh di Uzbekistan. Memangnya kenapa jika sebuah partai Islam naik ke tampuk kekuasaan dan Asia Tengah menjadi Turkistan raya? Memangnya kenapa jika para wanita mengenakan selendang kepala? Saya kira warga Rusia setempat akan jauh lebih baik daripada berada di bawah klan mafia dan momok kekerasan pejabat atau oposisi. Tentu saja, ini artinya prostitusi dan penjualan alkohol terbatas akan turun drastis. Dan perpindahan besar dari budaya sampah Amerika yang membanjiri siaran TV dan radio di sana. Cuma kehilangan kecil.

Skenario Jangka Panjang

Semestinya fokus politik Asia Tengah adalah menyatukan 60 juta lebih orang Asia Tengah, dengan kekayaan sumber daya dan kedekatan etnis mereka, sebagai sebuah blok politik dan ekonomi untuk menentang beraneka agenda imperial, untuk menjamin martabat dan penghidupan mayoritas warga Muslim Turki yang tinggal di sana. Gabungkan dengan 70 juta rakyat Turki, 70 juta rakyat Iran, 140 juta rakyat Pakistan, dan Timur Tengah, dan kita bisa melihat sebuah superpower kedua di bawah China, berlandaskan keadilan sosial, bukan ketamakan dan kekerasan.

Ini akan menjadi langkah pertama dalam menyatukan semua Muslim dari Maroko sampai Filipina. Sekali negara-negara Asia Tengah melepaskan diri dari penindasan imperial barat, termasuk ‘teman’ lama mereka, Rusia, lalu bergabung dengan sepupu Turki mereka, model mereka akan menginspirasi Arab di sebelah barat dan Asia di sebelah timur. Sementara dahulu Kekhalifahan memancar dari Mekkah, kini itu akan diperbaharui dari rumah renaissance Islam di zaman pertengahan, rumahnya Biruni, Ibnu Sina, dan Ulugbek.

Ya, waktu untuk menyusun kembali Kekhalifahan, menyatukan Muslim di seluruh Timur Tengah dan Asia Tengah, telah tiba. Penunggangan bebas yang dijalankan imperialisme Inggris dan AS (dan Uni Soviet), melatih dan menopang para pemimpin politik sekuler (fasih berbahasa Inggris dan Rusia serta dilatih di Inggris, AS, atau Moskow), sudah berakhir. Uni Soviet memaksa terlalu jauh dalam berusaha menggabungkan Afghanistan ke dalam kelompok sosialis, dan AS telah berbuat lebih baik (atau lebih buruk) dengan invasinya atas Afghanistan dan Irak, dan upayanya terhadap negara Muslim bermasalah lainnya tidak berjalan baik. Uzbekistan adalah contoh terbaik.

Tak ada jalan keluar kecuali berpaling kepada Islam sebagai satu-satunya kekuatan yang sanggup mengatasi ketamakan dan kejahatan hebat politik sekuler. Ini bukan jalan yang mudah. Imperialisme tidak akan menyerah tanpa bertarung, dan sebagaimana dahulu trampil membantu dalam menghancurkan Uni Soviet, kini ia tengah bekerja keras meruntuhkan alternatif Islam. Kita hanya bisa berterima kasih kepada Allah (dan mungkin kepada simpatisan Komunis yang Katolik dan sekuler di Amerika Latin) bahwa masih ada cahaya di ujung terowongan yang gelap dan panjang ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s