Kembalinya Utsmani

Oleh: Rohan Joshi
Sumber: Pragati – The Indian National Interest Review, Juli 2010, hal. 3-4

Pada Mei 2010, penyergapan Israel atas kapal Gaza Freedom Flotilla, yang diorganisir oleh Free Gaza Movement dan Insan Hak ve Hurriyetleri ve Insani Yardim Vakfi (IHH, asal Turki), mengakibatkan kematian 8 warga negara Turki. Sesudah insiden itu, Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, menarik duta besar negaranya untuk Israel, bersumpah meninjau ulang jalinan bilateral dan menuduh Israel melakukan “terorisme negara”. Dengan insiden ini, hubungan Israel dengan Turki, yang selama ini berjalan goyah, jatuh ke titik rendah yang baru.

Saat Justice and Development Party (AKP) naik ke tampuk kekuasaan di Turki pada 2003, banyak pengamat memandang ini sebagai kemenangan konservatisme sosial (baca Islam) atas ideologi sekuler-nasionalis Kemalistik Republican People’s Party (CHP). Sejak kenaikan AKP ke dalam kekuasaan, kebijakan domestik dan internasional Turki mengalami transformasi. Ketegangan antara Turki dan AS meningkat, terutama soal kamp teror Kurdi di Irak dan genosida atas bangsa Armenia oleh militer Utsmani pada 1915. Baru-baru ini, Turki, bersama Brazil, memperantarai kesepakatan dengan Iran terkait kebuntuan nuklir, yang menggusarkan AS. Hubungan Turki dengan Israel telah amat memburuk. Tn. Erdogan berselisih dengan Shimon Perez, presiden Israel, dalam World Economic Forum di Davos, Swiss, di mana dia menyebut operasi militer Israel di Gaza sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan” sebelum dia marah-marah dalam debat tersebut.

Transformasi bertahap Turki telah menimbulkan kerisauan akan kemunculan Turki yang “Menatap Timur”, berupaya memutus belenggu “keanggotaan junior”-nya di kongres Barat dan mengambil kedudukan sebagai pemimpin di dunia Muslim. Ini mengharuskan penyusunan kembali identitas dan kepentingan nasional Turki, dan, konsekuensinya, pelepasan prinsip-prinsip Kemalis yang telah memandu Turki sejak kelahirannya. Kredit atas reorientasi Turki diatributkan kepada Menteri Luar Negeri Ahmet Davutoglu, seorang akademisi dan orang-luar AKP. Dikenal sebagai “Kissinger-nya Turki”, Tn. Davutoglu telah bekerja mengubah apa yang dahulu merupakan kebijakan luar negeri status quo menjadi kebijakan yang berusaha menempatkan Turki di jantung dunia Muslim. Dalam buku seminalnya, Strategic Depth, Tn. Davutoglu berargumen bahwa nilai sebuah negara dalam politik dunia didasarkan atas lokasi geostrategis dan kedalaman sejarahnya. Turki uniknya diberkahi dengan kedua hal tersebut, dengan penguasaannya atas Selat Bosphorus dan sebagai suksesor Kerajaan Utsmani.

“Neo-Utsmanisme” Tn. Davutoglu berusaha memanfaatkan keuntungan-keuntungan ini untuk mempromosikan visi Turki sebagai superpower Muslim. Berada di dunia Muslim, terdapat indikasi bahwa kepemimpinan Turki mempunyai dukungan populer. Baru-baru ini sebuah artikel dalam surat kabar Arab, al-Madina, memperlihatkan bahwa posisi Turki dan hubungannya dengan negara-negara non-Arab bisa efektif dalam memperjuangkan perkara dunia Muslim. Demikian halnya, dalam surat kabar Pakistan, Roznama Ausaf, Sarfaraz Syed menyambut Turki sebagai satu-satunya negara yang berani menghadapi Israel dan mencela ketidakgiatan Pakistan, meski Pakistan merupakan satu-satunya pemilik nuklir di dunia Muslim. Meski terdapat dukungan suara, tidak semua negara Muslim bersedia menyambut pengaruh Turki. Arab Saudi, meski saat ini tidak dalam posisi berlawanan perihal Turki, takkan senang mengizinkan kekuatan lain—apalagi kekuatan Muslim non-Arab—memperluas pengaruh ke dalam lingkup pengaruhnya.

Lebih jauh, terdapat keberatan terhadap kebijakan “Menatap Timur” Turki. Pertama, meskipun berhasrat memperoleh pengaruh di dunia Muslim, Turki terus mengusahakan integrasi ekonomi dengan Uni Eropa. Bahkan, AKP berbuat lebih banyak dalam mengejar keanggotaan Turki di Uni Eropa dibanding pemerintahan lain di masa lalu. Kedua, pemandangan politik dalam negeri akan memberi suatu jaminan perlawanan terhadap radikalisasi yang dikhawatirkan oleh beberapa pihak di Barat bisa mencengkram Turki. Ini kemungkinan terutama dicapai melalui angkatan bersenjata pro-sekuler di negara tersebut, yang hubungan buruknya dengan AKP dapat memaksa pengambilan tindakan sepihak terhadap pemerintahan (sebagaimana dalam kasus kudeta gagal pada 2004). Radikalisasi ini, jika benar merupakan tujuan AKP, bisa dirintangi lebih jauh jika CHP memperoleh kembali kredibilitas sebagai oposisi efektif. Di bawah kepemimpinan Kemal Kilicdaroglu, yang karisma dan kerendahan hatinya telah membuatnya mendapat julukan “Gandhi Kemal”, CHP bisa menyusun tantangan efektif terhadap AKP.

Reorientasi strategi Turki juga signifikan terhadap negara-negara di luar kawasannya. Ada dua aspek profil Turki yang naik dan menonjol bagi India—stabilitas regional dan jaminan energi. Soal stabilitas regional, Turki secara historis mempunyai ikatan budaya, ideologi, dan militer yang erat dengan Pakistan. Turki menyediakan senjata, peralatan, dan pelatihan bagi angkatan bersenjata Pakistan. Turki datang membantu Islamabad selama perang tahun 1965 dengan India dan memberinya amunisi dalam jumlah signifikan. Sebagai anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI), Turki rutin mendukung cerita Pakistan, menyokong pemungutan suara dan menyuarakan keprihatinan soal “penggunaan kekerasan terhadap rakyat Kashmir”. Tidak dilibatkannya India dalam Istanbul Summit on Afghanistan atas desakan Pakistan juga menegaskan pengaruh yang dinikmati oleh Pakistan di Ankara.

Namun, meski terdapat perbedaan antara India dan Turki, tidak berarti mereka sama sekali tak dapat direkonsiliasikan, atau menghalangi kemajuan jalinan ekonomi dan budaya yang lebih erat. Sebagai dua negara berkembang yang ekonominya tumbuh pesat, potensi untuk peningkatan kerjasama ekonomi antara India dan Turki sangat signifikan. Bahkan, selama kunjungannya ke New Delhi pada November 2008, Tn. Erdogan mengungkapkan komitmennya untuk meningkatkan jalinan ekonomi dengan India, dan mendorong kuat Free Trade Agreement (FTA) and a Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Lokasi strategis Turki memungkinkannya memainkan peranan penting dalam usaha India mendapat jaminan energi. India telah mengungkapkan minatnya dalam proyek jalur pipa MedStream, yang mengurangi resiko keamanan di jalur pipa Iran-Pakistan-India (IPI) atau model-model alternatif yang melintasi Selat Hormuz. Namun, pengerjaan proyek tersebut sebagian besar tergantung pada hubungan stabil antara Turki dan Israel.

Dalam pandangan neo-Utsmanis, Turki berupaya mempererat kerjasama strategis dengan berbagai bangsa dan memanfaatkan lokasi dan sejarahnya untuk muncul sebagai kekuatan regional. Dari sudut pandang India, sangatlah penting untuk mengakui bahwa Ankara akan terus memelihara jalinan eratnya dengan Islamabad, dan bahwa kemungkinan besar perbedaan persepsi dengan India soal Kashmir, Pakistan, dan Afghanistan akan terus ada. Perbedaan ini tidak boleh menghalangi prospek peningkatan hubungan dengan Turki, di mana saling menguntungkan. Harapan dan potensi perdagangan energi antara India dan Turki semestinya menjadi kesempatan bagi India untuk perlahan tapi pasti mengubah cerita soal isu-isu menyangkut keamanan regionalnya di Turki.

Tentang penulis: Rohan Joshi adalah pengulas tetap di The Indian National Interest dan mem-blogging di The Filter Coffee.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s