Kirgistan Bisa Menjadi Pembuka Jalan Untuk Revolusi Islam

Oleh: Paul Goble
Senin, 10 Mei 2010
Sumber: www.eurasiareview.com

Demi memperkuat citra sekulernya di luar negeri, Pemerintah Sementara Kirgistan mengambil pendekatan lepas tangan terhadap isu-isu keagamaan, yang telah membawa pada terbukanya perpecahan antara “kekuatan sekuler dan mayoritas penduduk yang berkecenderungan relijius” dan dapat memercikkan “revolusi Islam”, demikian menurut beberapa analis.

Dalam sebuah komentar di Portal-Credo.ru, Yekaterina Shtolts berargumen bahwa Rosa Otunbayeva dan rezimnya telah menambah bahaya ini dengan berurusan dengan para tertuduh dan tahanan kasus perkelahian masal di kota Nookat tahun 2008 (www.portal-credo.ru/site/?act=comment&id=1744).

Pada Oktober tahun itu, Shtolts menceritakan, sekelompok Muslim bentrok dengan pejabat setempat di hari libur keagamaan Orozo-Ayt (Uraza-Bayram) saat pihak berwenang menolak mengizinkan para peraya mengadakan pertemuan di pusat kota. Alhasil, kurang-lebih 100 orang melemparkan batu ke pasukan militer dan balai kota.

Menyusul bentrokan ini, militer setempat menahan 32 orang, menuduh mereka melibatkan anak di bawah umur dalam tindak kejahatan, kerusuhan masal, pengrusakan properti secara disengaja, dan menyerang pejabat pemerintah. “Hasilnya,” kata analis Moskow tersebut, “semua yang ditangkap diberi masa tahanan yang panjang – 10 sampai 20 tahun kurungan.”

Setelah pemerintahan Bakiyev digulingkan, Pemerintah Sementara setuju untuk mengamnesti orang-orang ini. Aziza Abdirasudolova, kepala Kylym Shamy Human Rights Center, mengatakan bahwa langkah itu tepat karena pejabat Nookat menggunakan kesempatan ini bukan untuk menghukum orang-orang yang terlibat langsung melainkan untuk menangkap mereka yang dicurigai sebagai anggota Hizbut Tahrir.

Akibat dari langkah Pemerintah Sementara tersebut, partai Muslim itu, yang secara resmi menuntut “pendirian kekhalifahan secara damai”, tak hanya mendapatkan kembali beberapa pemimpinnya yang kemungkinan teradikalkan saat dalam penjara tapi juga “lebih dari 100 lainnya”, yang tak akan lagi dikejar di luar negeri.

Menurut Shtolts, “sangat banyak spesialis Islam memandang dan terus memandang peristiwa Nookat” sebagai cermin “ketidakbertanggung-jawaban pejabat setempat”. Salah seorang yang memegang pandangan ini, kata Shtolts, adalah Kadyr Malikov, direktur Religion, Law and Politics Center di Universitas Madrid.

Malikov berkata kepadanya, lanjut Shtolts, bahwa pejabat Nookat bertindak demikian karena “mereka sama sekali tidak mengingat bahwa 98 sampai 99 persen populasi Selatan mendefinisikan diri sebagai Muslim”. Seandainya pihak berwenang mengizinkan keterlibatan kepemimpinan Islam resmi, segalanya mungkin akan berbeda, tapi kekuasaan tidak menghendaki demikian.

Dan akibat langkahnya, para pejabat ini membuat Partai Hizbut Tahrir menjadi pahlawan di mata rakyat, yang mulai, kata cendekiawan berbasis di Madrird itu, sebagai hasil dari peristiwa Nookat, “bersimpati terhadap pemimpin-pemimpin Hizbut Tahrir dan berubah menjadi pendukung potensial” gerakan ini. Pelepasan orang-orang semacam itu hanya akan memperkuat perasaan tersebut.

Akibat kemiskinan dan ketidakmampuan negara Kirgistan dalam membiayai banyak sektor sosial, penduduk mempunyai alasan untuk berpaling ke Hizbut Tahrir. Lembaga bantuan sosial milik pemerintah sama sekali tidak aktif, urai Shtolts, dan partai Muslim itu memenangkan pendukung dengan mengisi celah tersebut dan mungkin dapat berbuat baik dalam pemilu mendatang.

Mencoba untuk menahan Hizbut Tahrir dengan menangkapi atau represi adalah “tidak efektif”, kata Shtolts. Sebaliknya, dia dan Malkov berargumen, pemerintah harus menangani persoalan sosial dan memastikan bahwa pertemuan-pertemuan pro-Pemerintah Sementara tidak ditandai oleh mabuk-mabukan, sesuatu yang tidak pernah ditemukan dalam gerakan Hizbut Tahrir.

Tak pelak lagi, Pemerintah Sementara menyadari pentingnya memperlakukan Muslim, tapi sampai saat ini, tulis Shtolts, Pemerintah “terus menghindari penjalinan kontak dengan kalangan keagamaan, sehingga secara spiritual memutus dirinya dari rakyat. Alhasil, telah terjadi keterbelahan peradaban antara kekuatan sekuler dan mayoritas keagamaan.”

Satu-satunya jalan keluar, Shtolts berargumen, adalah Pemerintah harus membangun ikatan dengan “Islam resmi”, sesuatu yang belum dilakukannya, dan berbuat lebih banyak dalam lingkup sosial, sesuatu yang tak mampu dilakukan Bishkek lantaran kekurangan uang. Tapi jika Pemerintah tidak mengambil langkah ini, pihak lain seperti Hizbut Tahrir atau kelompok yang lebih radikal lagi akan mendapat untung dan rezim berkuasa akan kehilangan dukungan.

Sayangnya, sebagaimana tinjauan M. Nurmagambetov (seorang blogger Kirgistan) hari ini, rezim berkuasa sedang ditekan untuk memoles mandat sekulernya dengan pemerintah asing. Memang, Pemerintah tak punya pilihan selain berbuat demikian jika ingin mendapatkan dana untuk mengurus permasalahan sosial yang sangat hebat di Kirgistan (www.centrasia.ru).

Berdasarkan situasi yang menyedihkan, Pemerintah Sementara akan mengatakan apapun yang perlu dikatakan, tapi sebagaimana terjadi, lanjut Nurmagambetov, “karakter ketidakpuasan rakyat Kirgistan sudah mulai memperoleh dimensi keagamaan”, dan itu berarti “ekstrimisme keagamaan sedang menghantui Kirgistan”.

Dan akibat kelemahan Bishkek, “di sebagian besar wilayah negeri, kelompok fanatik keagamaan yang berusaha memperoleh kekuasaan sedang mendominasi layar”, sebuah situasi yang, juga dinyatakan Nurmagambetov, di masa mendatang “dapat membawa pada revolusi berikutnya”, di mana orang-orang seperti Otunbayeva dan koleganya akan disingkirkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s