25 Maret 2010
Sumber: www.pravdareport.com

Beberapa pakar percaya bahwa Perang Dunia III akan dimulai 100 tahun setelah perang dunia sebelumnya dan akan memakan korban ratusan juta orang. Beberapa ilmuwan berpikir bahwa perang tersebut sudah berlangsung, sedang menyelesaikan tahap pertamanya.

Konstantin Sivkov, Vice-President pertama Academy for Geopolitical Issues, mengembangkan konsep ilmiah mengenai alasan, tahap, dan kerangka waktu Perang Dunia II. Dia berbagi ramalannya dengan Svobodnaya Pressa.

Sivkov percaya bahwa planet Bumi telah mengalami krisis peradaban secara global. Krisis itu disebabkan oleh beberapa ketidakseimbangan, yakni: 1) konflik antara pertumbuhan produksi/konsumi dan ketersediaan sumber daya; 2) konflik antara negara berkembang yang “miskin” dan negara industri maju yang “kaya”, antara negara dan elit transnasional; 3) konflik antara pasar bebas berkekuatan uang namun tak berjiwa dan akar-akar spiritual berbagai peradaban, meliputi Ortodoks, Muslim, Buddha, dan lainnya.

“Analisis atas solusi potensial untuk ketidakseimbangan dan konflik ini menunjukkan bahwa mereka bersifat antagonistik (berlawanan), dan krisis ini tidak bisa dipecahkan tanpa pelanggaran signifikan terhadap kepentingan beberapa subjek geopolitik besar. Ini artinya partisipasi kekuatan militer tidak terhindarkan. Mempertimbangkan sifat global krisis ini, kita dapat berasumsi bahwa partisipasi militer akan bersifat global pula,” Sivkov meyakini.

Dia memprediksi bahwa Perang Dunia III akan bersifat koalisi. Negara-negara akan membentuk koalisi berdasarkan loyalitas mereka kepada salah satu dari dua model tatanan dunia.

Model pertama adalah “dunia peradaban hirarki”. Segelintir pihak terpilih mengeksploitasi seluruh manusia secara brutal. Model kedua adalah “peradaban saling mendukung” atau “peradaban harmoni”.

“Dengan kata lain, perang ini akan berkecamuk untuk menentukan basis spiritual tatanan dunia baru. Apakah akan berbasis individualisme, keegoisan, dan penindasan, atau [berbasis] komunitas, memiliki kepentingan bersama untuk bertahan dan berkembang dan saling mendukung. Inilah perbedaan utama antara perang mendatang dan perang terdahulu yang digenderangkan untuk membagi-bagi perekonomian.”

Dua koalisi sudah eksis. Yang pertama adalah aliansi negara industri maju yang diwakili oleh peradaban Barat. Fondasi spiritual koalisi ini didasarkan pada individualisme dan penguasaan materi yang menghasilkan kekuatan uang. Inti militer dan politik koalisi ini diwakili oleh blok NATO. Koalisi kedua meliputi negara-negara ortodoks, Islam, dan peradaban lainnya yang didasarkan pada penguasaan spiritual di atas penguasaan materi. Koalisi ini menaruh perhatian pada tatanan dunia multipolar. Tapi, jangankan kebutuhan akan kesatuan politik atau militer, negara-negara ini belum menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan geopolitik bersama.

Negara-negara yang bukan bagian peradaban Barat tidak siap untuk berkonfrontasi militer dari segi organisasi maupun kesiapan teknis. Di sisi lain, koalisi ini punya mayoritas orang dan memiliki sumber daya yang banyak dan teritori yang luas. Ini sangat memperbesar peluang mereka untuk memenangkan perang panjang dan menyediakan situasi menguntungkan untuk melawan agresor selama tahap-tahap awal perang. Keunggulan potensial lainnya adalah bahwa serangan simultan ke semua arah hampir mustahil. Ini menghasilkan cadangan waktu untuk konsolidasi negara-negara ke dalam koalisi anti-imperialistik. Terdapat kemungkinan untuk mendukung negara yang akan menjadi korban pertama agresor,” kata Sivkov.

Ilmuwan ini yakin bahwa perang tersebut sedang berlangsung. Sampai sekarang itu ada dalam tahap yang relatif damai.

“Tahap pertama yang boleh kita sebut ‘upaya resolusi krisis secara damai’ sedang mendekati akhir. Pertemuan G20 yang berlangsung saat ini jelas-jelas tidak membawakan hasil. Provokasi Imedi dan Helsingin Sanomat menandai permulaan tahap kedua, yang boleh kita sebut ‘periode ancaman sebelum permulaan perang dunia’. Selama tahap ini, peradaban Barat telah memulai persiapan untuk perang lokal dan konflik bersenjata memperebutkan sumber daya. Aksi utama di tahap ini adalah operasi informasi dan aksi di bidang ekonomi yang bisa mengambil beraneka bentuk, dari sanksi ekonomi sampai serangan teroris terhadap fasilitas industri, serta beragam aktivitas Pasukan Khusus,” kata Sivkov.

Dalam beberapa tahun, tahap ketiga akan dimulai, tahap ‘perang terbatas’, yang selanjutnya akan menjadi perang dunia skala penuh dengan pengerahan semua tipe senjata.

Satu-satunya faktor penghalang saat ini adalah potensi nuklir Rusia. Menurut ramalan ilmuwan tersebut, Barat akan mencoba mengambil perisai nuklir Rusia.

“Pertimbangkan situasi di Rusia, di mana pilar kelima Barat tersebut mempengaruhi keputusan di sektor pertahanan Rusia secara signifikan, khususnya arah yang akan diambil oleh angkatan bersenjata Rusia, kita bisa menduga akan adanya bentuk kontrak SNF yang akan mencabut perisai nuklir Rusia. Tentu saja, itu akan disajikan dengan kemasan indah yaitu memperjuangkan dunia bebas senjata nuklir. Rusia mungkin menantikan penyingkiran potensi nuklirnya selama tahap-tahap awal perang dunia (serangan teroris terorganisir, dan lain-lain) seiring transisi lanjutan koalisi anti-imperialistik menuju pemakaian terbatas senjata nuklir, yang akan memberinya kemenangan dalam perang,” Sivkov menyatakan.

Dia percaya bahwa agresor tidak akan terhenti oleh kemungkinan matinya ratusan juta orang.

“Sejarah menunjukkan bahwa elit peradaban “egois” tidak terhenti oleh pengorbanan manusia jika terdapat jaminan bahwa manusia sendiri dapat bertahan di bunker-bunker. Analisis memperlihatkan bahwa jika perang dunia baru digenderangkan, itu akan menghabisi mayoritas populasi dunia, seluruh benua, samudera, dan lautan. Lebih dari 100 juta orang akan berpartisipasi dalam perang ini. Total kehilangan penduduk mungkin melebihi beberapa ratus juta orang. Oleh karenanya, semua orang jujur di Bumi ini, termasuk mereka yang membentuk koalisi ‘egois’, harus melakukan segala hal yang mereka mampu untuk mencegah itu terjadi. Untuk itu, kita harus meredakan ketamakan para gembong sektor finansial nasional dan transnasional dengan kekuatan hukum atau metode lain. Kita harus menghentikan politisi mereka yang ambisius, tamak, tak tahu malu, dan terkadang bodoh. Ini hanya bisa dilakukan atas dasar upaya konsolidasi internasional,” ringkas sang pakar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s