Gerakan Islam Secara Diam-diam Untuk Merestorasi Kekhalifahan

Oleh: Jerold Aust
16 Juni 2006
Sumber: www.ucg.org)

Ramalan Bibel mengungkap bahwa penguasa yang berpengaruh signifikan atas masyarakat yang mendiami teritori sekitar Tanah Suci, barangkali konfederasi Muslim modern, akan menyerang “raja Utara”—versi modern kekaisaran Romawi kuno (Daniel 11: 40).

Di masa lampau, konfederasi Muslim terbesar dipimpin oleh seorang khalifah, pemimpin seluruh Muslim. Kata “khalifah” adalah bentuk Inggris dari istilah Arab “kalifa”, yang artinya suksesor. Institusi kekuasaan khalifah disebut kekhalifahan.

Kekhalifahan awal didirikan pada 632 M setelah kematian pendiri Islam, Muhammad; karenanya ini merupakan jabatan “suksesor” Muhammad. Jika pembangkitan kekhalifahan mengemuka hari ini, itu bisa membanggakan 1,5 miliar Muslim di seluruh dunia—menyediakan kesatuan seluruh Muslim di bawah satu pemimpin untuk menyingkirkan kebangsaan dan kesukuan Islam.

Hizbut Tahrir, Partai Pembebasan, sedang bekerja untuk merestorasi kekhalifahan. Didirikan di Yerusalem oleh seorang hakim Arab pada tahun 1953, gerakan ini mengajarkan Muslim untuk berhenti menjadi budak manusia dan agar menjadi hamba Allah semata—secara damai.

“Para aktivisnya hendak meyakinkan pemimpin politik dan militer Muslim bahwa pendirian kembali Kekhalifahan adalah tugas Islami mereka” (James Brandon, The Christian Science Monitor, 10 Mei 2006). Gerakan tersebut bersifat diam-diam sebab banyak pemerintahan Islam memandang kekhalifahan sebagai ancaman terhadap kekuasaan mereka.

Stephen Ulph, rekan senior di Jamestown Foundation, mengatakan, “Kekhalifahan merupakan titik temu antara Islamis radikal dan moderat. Ide pemerintahan berbasis Kekhalifahan mempunyai asal-usul historis dan legitimasi Islami yang tidak dimiliki oleh sistem pemerintahan Barat” (ibid).

Dapat dimengerti, Islam modern kelihatannya tidak menunjukkan hasrat untuk merestorasi kekhalifahan. Ia juga diperbelit dengan bentuk Islam yang lebih relijius-sektarian sebagaimana dipraktekkan di negara-negara Islam. Media modern, dalam menghadapi Muslim sektarian hari ini, cenderung melaporkan model Islam mutakhir seolah-olah itu selalu eksis sejak dahulu.

Bagaimanapun, model Islam modern sungguh berbeda dari sistem kekhalifahan. Kekhalifahan adalah sistem terdesentralisasi (yang menjadi sebab panjang umurnya), sedangkan variasi Islam modern, selama seabad terakhir, lebih dikendalikan secara terpusat. Sejarah mengindikasikan bahwa kekhalifahan terdesentralisasi mempunyai kekuasaan lebih besar atas lebih banyak orang dibanding negara Islam manapun hari ini.

Salah satu contoh teranyar dan terbaik adalah Kekhalifahan Utsmani (Kekaisaran). Ia bertahan selama sekitar 634 tahun (1290-1924). Kekhalifahan terdesentralisasi lainnya adalah Kekhalifahan Abbasiyah (750-1258), berpusat di Baghdad, Irak. Secara umum ia berjalan damai dan stabil selama lebih dari 500 tahun.

Selama masa itu, seni Islam tumbuh subur, elemen utama hukum Syariah berkembang, dan aliran-aliran penting filsafat dan pemikiran keagamaan berdiri. Pada saat itulah genggaman eksklusif Arab terhadap Islam akhirnya putus dan semua Muslim jadi setara.

Walaupun beberapa Muslim modern sangat ingin kebangkitan kekhalifahan tidak dibatasi oleh perbatasan nasional, tak ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa itu akan tetap terdesentralisasi. Mungkin saja seorang khalifah bisa masuk ke dalam kekuasaan sebagai pemimpin yang damai dan kemudian menjadi militan yang lebih bersifat kawasan, yang akan cocok dengan deskripsi “raja Selatan” akhir zaman yang agresif yang diramalkan dalam Daniel 11: 40.

Tentu saja, tidak ada cara pasti untuk menetapkan bagaimana raja Selatan akan muncul. Tapi jelas bahwa lebih dari 50 tahun belakangan banyak pemimpin Arab, mengklaim bertindak di bawah bendera Islam, telah berupaya menggembleng Muslim di bawah kepemimpinan mereka. Saddam Hussein menganggap dirinya sebagai suksesor raja Babilonia kuno, Nebukadnezar. Yang lainnya memandang diri mereka sebagai pemimpin agung Timur Tengah, termasuk Gamal Abdul Nasser dari Mesir dan Muammar Gadhafi dari Libya.

Adalah fakta sejarah pula bahwa kekhalifahan telah melangkah jauh lebih baik dalam mempertahankan kesatuan Islam dibanding kepemimpinan Muslim tipe manapun selama 1.000 tahun terakhir. Sulit sekali menyangkal kekhalifahan yang berlangsung 500 tahun. Kunci pengaruh luas kekhalifahan terletak pada kekuasaan terdesentralisasi, memungkinkan semua Muslim, tak peduli ras atau kebangsaannya, untuk ikut berperan.

Gerakan modern untuk merestorasi kekhalifahan Islam sedang tumbuh diam-diam di seluruh Timur Tengah. Seandainya berhasil, ia mungkin bisa mendesentralisasi kekuasaan atas Muslim mulai dari Maroko sampai Indonesia—sekurangnya 1,5 miliar pemeluk Islam. Itu akan mengubah lingkup kekuasaan dan pengaruh Islam secara dramatis di dunia hari ini.

Tentu saja, tidak semua kemungkinan menjadi kenyataan. Tapi akar pergeseran besar dalam kekuasaan di masa lampau seringkali muncul jauh sebelum menjadi kenyataan. Untuk memahami bagaimana konflik yang diramalkan antara raja Selatan dan raja Utara bisa mempengaruhi kehidupan Anda, pesan, baca online, atau download booklet gratis kami, The Middle East in Bible Prophecy.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s