Sumber: islamicsystem.blogspot.com

Uni Eropa, dahulu didambakan oleh para elit Eropa sebagai rival hegemoni global AS, sedang berjalan goyah di jurang perpecahan. Tiga peristiwa mutakhir telah berpadu melepaskan kekuatan nasionalistis tak tertahankan yang menderu Uni Eropa menuju momen sesungguhnya yang menggoncangkan dunia.

Kegagalan Eropa untuk menghasilkan respon tahan lama terhadap krisis debu vulkanis yang sementara waktu menghalangi penerbangan di seantero benua itu, menyingkap retakan dalam di antara negara-negara Eropa, sewaktu pemerintahan nasional mengabaikan instruksi UE dan bergulat menyelamatkan maskapai penerbangan mereka yang kekurangan dana.

Yang juga tak berperasaan adalah reaksi ragu-ragu Eropa terhadap penalangan (bailout) Yunani dan penyelamatan Euro. Pada saat pemimpin-pemimpin Eropa mengerahkan cukup kekuatan untuk mengatasi kemarahan publik dan mengumpulkan paket bantuan untuk Yunani, pasar-pasar uang yang ditopang oleh vulture AS (hedge fund dan lembaga penilai kredit) memangsa PIGS yang lemah (PIGS: Portugal, Ireland, Greece, and Spain). Portugal dan Spanyol kini membangkitkan kemarahan para spekulan. Tapi ini bukan akhir krisis atau penyebab sebagaimana diharapkan oleh beberapa pakar. Seolah ini tak cukup buruk, Angela Merkel, Kanselir Jerman yang menderita kemerosotan hebat dalam pemilu regional, mengambil langkah tak biasa berupa pelarangan short-selling (perdagangan jangka pendek) yang pada gilirannya memperburuk keadaan Eropa. Gerakan unilateral tersebut sangat mengejutkan seluruh Eropa dan menyingkap keterpecahan nasionalistis yang dalam yang dengan cepat berkontribusi pada pengikisan kekuasaan di jantung Uni Eropa.

Ini jelas terlihat dalam sebuah konferensi pers yang diadakan secara tergesa-gesa, di mana Presiden Eropa tak dikenal, Herman van Rompuy, menutupi keretakan yang meliputi sebagian besar benua itu dan malah menjanjikan persatuan. Dukungan terhadap persatuan dari elit Eropa lucunya digantikan oleh sentimen luas yang diungkapkan masyarakatnya. Tapi di titik genting ini, terdapat pelajaran penting yang harus diambil oleh Eropa maupun Muslim.

Uni Eropa, eksperimen raksasa dalam teknik sosial dan ekonomi, merupakan kegagalan monumental dan akan segera mengalami nasib akhirnya. Negara bangsa menang atas uni, keadaan yang harus diterima dalam kosakata rakyat Eropa. Eksperimen UE merupakan upaya berani beberapa negara Eropa untuk mengakhiri keterpecahan dan peperangan yang berlangsung berabad-abad. Tapi setelah 40 tahun mencoba menciptakan sebuah negara pasca-modern, UE telah berdisintegrasi menjadi sekumpulan negara pra-modern (negara bangsa), di mana negara-negara kuat seperti Inggris, Prancis, dan Jerman bercekcok soal masa depan Eropa. Ini adalah hasil yang sudah diprediksikan.

Benua Eropa terbelit oleh perbedaan budaya, perpecahan agama, dan persaingan hebat di antara negara-negara kuat. Sejarah Eropa jelas-jelas memperlihatkan bahwa sangat sedikit kemungkinan untuk mempersatukan Eropa selain ancaman luar. Di abad 17, majunya pasukan Utsmani ke gerbang Wina cepat memacu negara-negara Eropa untuk mengesampingkan perbedaan, namun itu berlanjut kemudian. Di abad 20, ancaman dari Uni Soviet, dan selanjutnya dari hegemoni global AS, memaksa Eropa untuk bergabung dalam bentuk uni. Lebih sering, persatuan negara-negara Eropa merupakan urusan temporer dan dipergunakan oleh beberapa negara untuk menguatkan diri kembali setelah mengalami porak-poranda akibat perang. Tapi segera setelah ancaman eksternal melemah, dalam hal ini kedudukan AS di dunia, Eropa kembali ke kondisi perpecahan.

Kontrasnya, nasionalisme yang menghancurkan struktur sosial Uni Eropa sedang surut di banyak dunia Muslim. Hari ini konsep ummah telah menggantikan nasionalisme dan menjadi kekuatan penyatu bagi Muslim di seluruh dunia. Muslim dari Maroko sampai Indonesia cepat-cepat menemukan bahwa mereka mempunyai lebih banyak persamaan dengan visi persaudaraan Islam daripada identitas mereka saat ini yang dibatasi oleh perbatasan [nasional] buatan. Keadaan buruk Muslim di Palestina, Chechnya, Kashmir, Irak, dan Afghanistan tak lagi dipandang sebagai persoalan sempit, melainkan sebagai persoalan Islam yang pasti mempunyai solusi Islami.

Lagipula, negara-bangsa di dunia Islam saat ini sangatlah asing bagi Muslim. Itu tidak memiliki contoh dalam sejarah Islam dan juga bukan produk yurisprudensi Islam. Negara-bangsa dipaksakan kepada Muslim oleh kekuatan barat untuk mencegah pendirian kembali Kekhalifahan. Sebagaimana terlihat, masyarakat Muslim tak pernah betul-betul mengungkapkan loyalitas mereka kepada negara buatan ini dan harus diatur lewat tirani. Kini, hanya soal waktu sebelum rezim-rezim teror ini ditumbangkan dan sebuah Kekhalifahan global didirikan di atas reruntuhannya.

Para penguasa dunia Muslim tidak buta akan kenyataan ini; mereka bahkan menentangnya. Para penguasa ini terus-menerus berpidato bahwa Muslim tak pernah bisa disatukan dan bahwa pendirian Kekhalifahan merupakan alam masa lalu.

Paradoksnya, negara-bangsa yang dibuat untuk menghapus kesatuan politik Muslim telah menjadi kendaraan perubahan. Kelemahannya telah mendorong Muslim di seluruh dunia untuk membuang Eropa dan AS sebagai model negara, dan untuk menggandakan upaya dalam mendirikan kembali Kekhalifahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s