Oleh: Crafty Rini Putri
Selasa, 22 Februari 2011
Sumber: www.dakwahkampus.com

Amerika telah bangkrut. Max Keiser, seorang analis pasar di Paris berpendapat, “Esensinya, riwayat Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi global sudah tamat.” Pertahanan ekonomi AS semakin hari semakin melemah, menyisakan penderitaan dan bahkan cemoohan oleh bangsanya sendiri. Padahal sebuah negara ditopang kuat oleh sistem ekonominya. Bila sistem ekonominya melapuk, maka pertanda tak lama lagi negaranya pun akan hancur.

Perekonomian AS telah kacau, menuju ambang kehancuran. Hal ini dibuktikan dengan berjatuhannya lembaga-lembaga sekuritas yang berpengaruh kepada pemutusan hubungan kerja yang bisa menambah beban pemerintah AS sendiri. Yakni bangkrutnya perusahaan jasa sekuritas Lehman Brothers. Lembaga sekuritas ini mengalami pailit, dan tidak dapat memenuhi kewajibannya membayar utang sebesar 635 milyar dolar. Kejatuhan lembaga sekuritas Lehman Brothers ini mengisyaratkan bahwa Amerika benar-benar di ujung kebangkrutan.

Dampak paling nyata dari bangkrutnya Lehman Brothers adalah meningkatnya jumlah pengangguran di AS, bahkan di berbagai belahan dunia. Di seluruh dunia, jumlah pegawai jaringan perusahaan Lehman Brothers mencapai 25.000 orang. Pada bulan Agustus 2008, Lehman sudah mengumumkan akan memecat 5 persen dari jumlah pegawainya atau sekitar 1.500 orang.

Setelah Lehman Brothers, kebangkrutan masih menghantui perusahaan-perusahaan di Wall Street. Apalagi sejumlah perusahaan finansial yang selama ini dipercaya kuat juga mengalami kesulitan keuangan. Perusahaan pesaing Lehman, Merrill Lynch misalnya, sudah diambil oleh pemerintah AS. Perusahaan raksasa lainnya, American International Group (AIG)–salah satu perusahaan asuransi terbesar di dunia-saat ini juga sedang mencari pinjaman sebesar 40 milyar dollar.

Secara psikologis, ini menambah tingkat kestressan dan ketidakpercayan rakyat AS kepada lembaga keuangan dan pemerintah. Seperti yang disampaikan oleh Israel Adelman, seorang trader dari perusahaan Fordham Financials di Wall Street, “Orang-orang di pemerintahan tidak paham apa yang dialami rata-rata rakyat Amerika. Mereka (rakyat Amerika ) saat ini dalam kondisi sangat tertekan. Rumah-rumah mereka sudah tidak ada harganya lagi, mereka terlilit hutang kartu kredit.” Kerapuhan perekonomian AS yang ditandai dengan bangkrutnya perusahaan-perusahaan besarnya ini membuat AS beserta rakyatnya semakin terpuruk. Allister Heath, editor surat kabar finansial London’s City A.M mengatakan bahwa ketika bank-bank besar seperti Lehman mengalami kebangkrutan, yang terkena dampaknya juga masyarakat kecil, termasuk para pensiunan yang mempercayakan uang pensiunnya diinvestasikan di bursa-bursa saham yang kebanyakan ditanamkan di sektor perbankan. Selain itu, kata Heath, ribuan orang juga akan menjadi pengangguran.

Menarik ungkapan lanjutan dari Max Keiser berikut, “Skenario kiamat ini hanya akan terjadi di AS dan Inggris, di mana masyarakatnya hidup dari uang pinjaman dari generasi ke generasi.” Bila kita tengok bagaimana perang Irak menyebabkan harga minyak melambung, meningginya utang negara dan memperparah krisis ekonomi AS. Pada 2003 ketika mulai menginvasi Irak, AS memangkas anggaran Afghanistan dari US$ 20 miliar pada 2002 menjadi US$ 14,7 miliar. Kemudian menggelontorkan US$53 miliar untuk Irak. Sudah jelas, perang ini menimbun utang negara. Hasilnya, dana perang sepenuhnya dari pinjaman. Pada Maret 2003, utang negara AS mencapai US$ 6,4 triliun.

Panarin, mantan juru bicara di Badan Luar Angkasa Federal Rusia dan mantan pengamat agen rahasia KGB, memperkirakan AS akan hancur dan pecah menjadi enam negara berbeda pada tahun 2010. “Ada kemungkinan besar bahwa AS akan runtuh pada 2010,” kata Panarin kepada mahasiswa, guru besar, dan diplomat di Akademi Diplomat Kementrian Luar Negeri Rusia, Moskow, Selasa 3 Maret 2009. Dengan kata lain, nasib AS kurang lebih akan sama dengan Uni Soviet yang hancur tahun 1991 dan terpecah menjadi beberapa negara.

Uni soviet yang mengusung komunisme memang telah runtuh. Amerika Serikat sampai detik ini masih menyandang gelar Sang adidaya dengan ideologi kapitalis-sekularistiknya. AS muncul sebagai satu-satunya negara super power dunia memimpin sekutu-sekutunya dari Eropa Barat, Australia, Jepang, dan Korea Selatan. Dengan kekuatan militer, politik, ekonomi, dan budaya yang dimilikinya, Amerika tampil mengangkangi segala negara dan lembaga di dunia, tak terkecuali PBB. Dengan leluasa, Amerika bisa melanggar peraturan PBB, tanpa ada seorang pun dan sebuah negara pun yang bisa mencegah dan menghukumnya.

Francis Fukuyama menyebut ini sebagai sebuah akhir dari evolusi sejarah. Menurutnya, perjalanan sejarah, kini telah berakhir dengan kemenangan demokrasi sebagai ideologi politik dan kapitalisme liberal sebagai ideologi ekonomi. Namun, klaim Fukuyama ini ternyata banyak ditentang oleh para ilmuwan dan tokoh barat sendiri.

Cengkeraman-cengkeraman AS di negeri-negeri yang pernah didominasinya pun kini mulai melemah. AS menghadapi tantangan dari China dan Rusia dalam penguasaan minyak di Timur Tengah. Bahkan Rusia menantang AS secara terbuka dengan mengibarkan benderanya di dataran es antartika. Rusia kembali merebut status keadidayaannya dengan menguasai kembali Kazakhstan dan Uzbekistan dari pengaruh AS dan menghentikan tiga revolusi di negara-negara Asia Tengah. Bangkitnya Rusia menimbulkan tantangan serius terhadap AS, karena Rusia memiliki sumber daya energi yang bisa digunakan untuk menyandera Eropa. Inggris mengambil kebijakan membangun manuver politik kerjasama dengan AS ketimbang persaingan secara langsung. Meski dengannya Inggris sering membuat AS frustasi dalam usahanya mendominasi Eropa. Meski hanya sebuah kekuatan lokal, Cina adalah salah satu negara yang bersaing melawan AS dan memiliki pengaruh yang cukup penting. Disamping banyaknya rongrongan dari negara kuat lainnya, pemikir AS dan pembuat kebijakan di dunia Barat masih terus mengutip tuntutan terhadap tegaknya Syari’ah di dunia Islam sebagai bentuk ancaman jangka panjang yang akan dihadapi oleh AS. Bernard Lewis dan Samuel Huntington memandang bahwa ‘clash of civilizations’ benturan peradaban (baca: pertarungan antara kebenaran dan kebatilan) akan tetap berlangsung. Setelah komunisme runtuh, musuh Barat berikutnya adalah Islam.

Perbedaan yang mendasar antara ideologi, sejarah, dan karakteristik peradaban Islam dengan Barat, merupakan penyebab utama ditempatkannya Islam sebagai ‘musuh’ peradaban Barat. Lembaga Intelejen AS, NIC (National Intelligence Council’s) memperkirakan bahwa Islam dengan Kekhilafahannya akan bangkit sekitar tahun 2020. Ini dirilis dalam sebuah laporan yang berjudul Mapping the Global Future dikeluarkan pada Desember 2004. NIC sendiri dibiayai oleh Pemerintah Amerika Serikat khusus untuk melakukan penelitian dan riset yang bertujuan memprediksi masa depan perpolitikan dan ekonomi dunia, tujuan utamanya adalah agar Amerika Serikat bisa membuat strategi tepat sejak dini untuk menghadapi masa depan. Bahkan NIC memprediksi bahwa ada 4 negara muslim non Arab yaitu Turki, Iran, Pakistan dan Indonesia akan mengambil alih peta perpolitikan dunia, jadi intinya bahwa Khilafah kemungkinan besar akan berdiri dan menyatukan ke 4 negara muslim tersebut.

Seorang Ilmuwan dan dekan di Akademi Diplomat Rusia, Igor Panarin, mangatakan bahwa Amerika Serikat akan jatuh tahun 2010, “terdapat kecenderungan sangat tinggi bahwa keruntuhan AS akan terjadi pada 2010,” kata Panarin kepada puluhan mahasiswa, professor, dan diplomat bertempat di Diplomatic Academy, Rabu, 4 Maret 2009.

Tak seberapa lama Amerika dapat bertahan dan akan segera menuju ke jurang kehancuran. Karena sistem kapitalisme yang menjadi dasar ideologi global telah menunjukkan kerapuhannya. Kebangkrutan Amerika ini disebabkan oleh sistem dan ideologi yang rusak dan bathil. Semua yang rusak dan bathil itu, pasti akan menghancurkan dirinya. Senada dengan ungkapan Prof. Michael Sabino, profesor bisnis dari St. Jonh’s University, “mereka mendapatkan tuah (akibat) dari kerakusan sendiri, yang sangat berlebihan dalam mencari untung, tanpa mempertimbangkan resiko.” Ini bukti nyata kegagalan sistem kapitalis-materialistik. Ekonomi kapitalis hanyalah menghisap dan merampok baik sektor materiil maupun non materiil. Secara materiil, kekayaan dikuras habis-habisan dengan mengorbankan rakyat kecil dan secara non materiil, budaya maupun etika kehidupan bangsanya rusak.

Inilah kenyataan bahwa Amerika Serikat memang telah diprediksikan hancur dan akan digantikan oleh sebuah ideologi baru. Seperti yang disebutkan dalam buku berjudul “Menanti Kehancuran Amerika dan Eropa” yang ditulis oleh Abu Fatiah Al Adnani, bahwa seluruh persyaratan untuk terjadinya sebuah kehancuran total telah terpenuhi oleh negeri adidaya itu; ekonomi, politik, militer, sosial, demografi, moralitas. Fakta-fakta telah berbicara, menunjukkan secara jelas dan rinci tentang kondisi proses kerusakan yang tengah dihadapi oleh Amerika dan sekutu-sekutunya dalam segala lini kehidupan.

Selayaknya ini menjadi semangat tersendiri bagi kaum muslimin untuk bersegera mempercepat keruntuhan Amerika beserta ideologinya dengan memperjuangkan ideologi tandingan yang akan memimpin dunia. Islam, dalam bingkai Daulah Islam bukanlah sebuah khayalan/utopis. Bahkan para pakar dan analis di Barat menyakini kekuatan Islam yang kelak akan mengambil kepemimpinan dunia. Hal ini pun telah terbukti dalam pentas sejarah selama 13 abad. Keberadaan Daulah Islam merupakan sebuah kenyataan di masa lalu dan akan menjadi kenyataan pula di masa depan, tidak akan lama lagi. Sebab, faktor-faktor yang mendukung perwujudannya sudah semakin dekat dan kuat. Secara pasti, Islam akan mampu memenangkan benturan peradaban melawan Negara super power kebatilan itu. Inilah wa’dullah (janji Allah).

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS. Al-Fath (48) : 27)

Advertisements

One thought on “Menanti Detik-detik Keruntuhan Amerika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s