Oleh: Umar Fadhilah MM (pengurus DPD I HTI Jabar)
Sumber: Tribun Jabar, Minggu 19 Juni 2011, hal. 1 & 11

Suatu negara yang hendak menyusun anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) ternyata harus mengikuti suatu prinsip atau kaidah tertentu yang sesuai dengan paham ekonomi yang dianutnya. Negara yang menganut paham ekonomi kapitalisme (konvensional), dalam menyusun APBN-nya, tentu akan sangat berbeda dengan negara yang menganut sistem ekonomi Islam. Pembahasan berikutnya adalah bagaimana kebijakan anggaran belanja negara itu akan ditetapkan, khususnya pada negara Khilafah yang menganut sistem ekonomi Islam.

Sekilas APBN Konvensional

APBN dari suatu negara yang menganut paham ekonomi kapitalisme (konvensional) akan memiliki konsep penyusunan yang khas, menggunakan kaidah-kaidah tertentu yang telah digariskan. Konsep itu dapat diketahui dengan melihat dua unsur utama penyusunnya, yaitu dari mana sumber utama penerimaannya dan untuk apa pengeluarannya (belanjanya). Selain itu, pemerintah dalam menyusun APBN-nya juga harus mendapat persetujuan dari DPR, untuk selanjutnya akan ditetapkan sebagai anggaran belanja selama satu tahun, yang biasa dikenal sebagai tahun fiskal.

Menurut paham ekonomi kapitalisme, sumber utama pendapatan negara hanyalah berasal dari pajak yang dipungut dari rakyatnya. Pengeluaran (belanja) utamanya hanyalah untuk membiayai kebutuhannya sendiri, seperti administrasi negara, operasi departemen pemerintah, dan pertahanan keamanan. Di samping itu, belanjanya juga akan digunakan untuk membiayai berbagai kepentingan pembangunan fasilitas umum, seperti membangun jalan, jembatan, waduk, sekolah, dan rumah sakit. Dalam menyusun APBN-nya, pemerintah harus selalu merujuk pada prinsip anggaran berimbang. Artinya, belanja yang dikeluarkan oleh pemerintah harus seimbang (sebesar) dengan penerimaan dari pajak yang berasal dari rakyatnya.

Jika pemerintah harus mengeluarkan belanja yang besarnya melebihi sumber penerimaannya, inilah yang akan disebut sebagai anggaran defisit atau biasa dikenal dengan sebutan defisit fiskal.

Jika anggaran pemerintah mengalami defisit, biasanya akan ditutup dengan salah satu dari empat cara: (1) Penjualan obligasi (surat utang negara). (2) Pinjaman dari bank sentral dengan cara mencetak uang baru. (3) Pinjaman di pasar uang atau modal di dalam negeri atau luar negeri. (4) Pinjaman atau bantuan resmi dari pemerintah negara-negara donor.

Dari penjelasan singkat di atas kita dapat memahami, jika pemerintah harus menetapkan anggran defisit, dari keempat sumber dana untuk menutupi kekurangan anggarannya, sesungguhnya hanya bermuara pada suatu kata, yaitu utang!

Jika APBN memiliki beban utang, siapa yang berkewajiban untuk membayar angsuran utang pokoknya ditambah dengan bunganya (ribanya)? Jawabnya tidak lain adalah rakyat! Melalui apa? Melalui beban pajak yang akan senantiasa dinaikkan besarannya; atau dengan memperbanyak jenis-jenis pajaknya!

Inilah buah simalakama dari sistem APBN konvensional. Jika negara menetapkan anggaran defisit untuk menyelamatkan ekonomi rakyatnya, dalam jangka panjang justru akan membebani rakyatnya. Namun, jika pemerintah tidak mau memberi bantuan kepada rakyatnya, tentu ekonomi rakyat akan semakin terpuruk. Mana kebijakan yang harus dipilih? Inilah lingkaran setan dari ekonomi kapitalisme, yang tidak pernah akan berujung pangkal.

Sekilas APBN Negara Khilafah

Bagaimana dengan konsep penyusunan APBN di negara Khilafah? Tentu prinsip dasar dan kaidah-kaidah penyusunan sangat berbeda dengan prinsip penyusunan APBN dalam ekonomi konvensional. Perbedaan prinsip yang paling mendasar antara APBN konvensional dan APBN Khilafah adalah menyangkut sumber-sumber utama pendapatannya maupun alokasi pembelanjaannya. Sumber-sumber penerimaaan negara Khilafah, yang lebih dikenal denagan sebutan Kas Baitul Mal, sama sekali tidak mengandalkan dari sektor pajak. Bahkan negara sedapat mungkin tidak memungut pajak dari rakyatnya.

Sumber-sumber utama penerimaan Kas Baitul Mal seluruhnya telah digariskan oleh syariah Islam. Paling tidak ada tiga sumber utama, yaitu (a) Sektor kepemilikan individu, seperti: sedekah, hibah, zakat, dsb. (b) Sektor kepemilikan umum, seperti pertambangan, minyak bumi, gas, batubara, kehutanan, dsb dan (c) Sektor kepemilikan negara, seperti jizyah, kharaj, ghanimah, fa’I, ‘usyur, dsb.

Jika sumber utama penerimaan negara sudah jelas, yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana dengan ketentuan pembelanjaannya?

Konsep dan Kaidah Pembelanjaan

Seorang kepala negara (Khalifah) dalam negara Khilafah memiliki kewenangan penuh untuk menetapkan anggaran belanjanya tanpa harus meminta persetujuan Majelis Umat (atau DPR dalam sistem ekonomi kapitalisme). Penyusunan anggaran belanja negara Khilafah juga tidak terikat dengan tahun fiskal sebagaimana dikenal dalam sistem ekonomi kapitalisme. Khalifah hanya tunduk pada garis-garis atau kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh syariat Islam.

Khalifah memiliki kewenangan penuh untuk mengatur pos-pos pengeluarannya, dan besaran dana yang harus dialokasikan, dengan mengacu pada prinsip kemaslahatan dan keadilan bagi seluruh rakyatnya, berdasarkan pada ketentuan yang telah digariskan oleh syariah Islam, agar jangan sampai harta itu berputar di kalangan orang-orang kaya saja (QS al-Hasyr [59]: 7). Wallahu A’lam.

Advertisements

4 thoughts on “APBN Khilafah

  1. Di era modern ini, suatu sistem pemerintahan akan berjalan jika didukung rakyat. Pemaksaan sistem negara dari kelompok elit tidak akan bertahan lama jika tidak didukung rakyat.

    Kalau memang khilafah merupakan sistem yg baik, para pendukungnya harus menjelaskan secara detil bagaimana pelaksanaannya kelak, bukan cuma jargon2 indah tanpa detil atau nostalgia masa lalu. Bila unggul, pasti rakyat mendukung.

    Untuk melihat khilafah dalam sejarah, bisa berkunjung ke tulisan berikut:
    Khilafah. Negara Islam Dalam Sejarah

  2. Sorry jawabannya lama.

    Tentu saja kami punya platform. Bukankah semua materi dan pelajaran yang terkandung dalam al-Qur’an, sunnah, dan kitab fiqih adalah platform yang nyata. Sumber-sumber ini memuat platform politik, ekonomi, hukum, hubungan sosial, dsb. Semua diatur lengkap. Tidakkah Anda kagum pada kitab-kitab fiqih. Semua hal dibahas. Dari yang kecil sampai besar. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Semua dirujuk dari al-Qur’an dan sunnah. Adakah demokrasi melahirkan sistem hubungan keluarga, antartetangga, antarindividu, padahal inilah salah satu fondasi kokohnya negara. Seandainya Islam cuma aturan moral, bukan aturan syariat, al-Quran takkan memuat hukum pidana bagi pelanggaran kejahatan tertentu. Ia cukup akan mengatakan bahwa hukumannya kelak menanti di akhirat. Begitu pula dalam hadits dan sunnah.

    Mungkin Anda tak menganggapnya sebagai platform, sebab kita memang berbeda sudut pandang dan alam pikiran. Saya menyatakan syariat Islam dan kekhalifahan sebagai sistem komprehensif, dan ini bukan berdasarkan pendapat saya pribadi yang bodoh dan hina ini. Saya sekadar merujuk al-Qur’an dan sunnah. Seandainya al- Qur’an dan sunnah tidak memerintahkan, tentu saya takkan mati-matian membela ide ini. Seandainya Allah menyuruh penganut Islam yang sempurna ini untuk bertapa di gunung-gunung, saya akan lakukan. Semua semata berdasarkan perintah Dia. Dia adalah Maharaja, Mahatuan. Kita bersandar pada Kebijaksanaan-Nya, Kemurahan- Nya. Hanya Dia yang Mahatahu.

    Anda boleh menganggap demokrasi sebagai sistem final dalam sejarah manusia, terserah Anda. Semua manusia boleh beranggapan demikian. Tapi itu takkan menggeser, satu nanometer pun, keyakinan saya bahwa hukum Allah adalah satu-satunya hukum acuan. Tak ada yang lain.

    Anda mungkin bertanya, “Jadi apa kalian melakukan langkah nyata?” Saya jawab, “Sedikit demi sedikit, muslim pemegang keyakinan ini mengambil langkah nyata.” Bagaimana kalau saya katakan, mereka sedang mempersiapkan generasi emas hingga lima keturunan mendatang untuk mendirikan dan menopang peradaban agung ini. Apa yang Anda persiapkan untuk menopang dan mencegah keruntuhan demokrasi “modern” yang bias dan anarkis. Saya yakin, pendiri dan penggagas demokrasi tidak berpikir untuk melahirkan generasi mulia demi mempertahankan demokrasinya. Mereka lebih mengutamakan kekuasaan bagaimanapun caranya, lalu melestarikannya lewat uang dan kebijakan zalim berbungkus kesetaraan, suara rakyat, dan suara (belian) media.

    Silakan Anda boleh menganggap demokrasi sebagai sistem yang bagus, tapi, jika Anda seorang Muslim, jangan meyakini bahwa demokrasi lebih bagus dari agama. Sebab itu akan menggelincirkan Anda kepada kekafiran dan kemusyrikan. 100% kerusakan di muka bumi disebabkan oleh pembangkangan terhadap agama.

    Saya ingin tanya, jika produk demokrasi bertentangan dengan agama, mana yang akan Anda pilih? Misal, jika seluruh orang di parlemen mengesahkan hukum pembolehan homoseksualisme, apa Anda mendukungnya? Apa jika kelak putera dan puteri Anda memilih untuk menjadi gay atau lesbian, Anda mengizinkannya? Dalam demokrasi semua dimungkinkan asal banyak orang mendukungnya, tak peduli orang itu bermoral atau tidak, tak peduli produk hukumnya bertentangan dengan norma atau tidak. Tengok saja Belanda. Di sana, kita orangtua tak lagi bisa melarang anak kita memilih menjadi gay atau lesbian, bukan begitu kasarnya? Terserah. Kita mau menjadi beradab atau biadab. Tapi jangan sesatkan banyak manusia yang di dalam hatinya masih ada kecenderungan untuk kebaikan.

    Mari kita bersama-sama mempersiapkan generasi dan keturunan masing-masing, generasi Anda yang menopang dan menyempurnakan demokrasi dan generasi kami yang mengikuti seruan Allah dan teladan Nabi dan para sahabat untuk mewujudkan kehidupan yang diridhai-Nya. Kami mengharapkan akhir yang baik dengan mengikuti perintah- Nya. Didik generasi Anda dengan demokrasi seutuhnya, sementara kami didik generasi kami dengan Islam seutuhnya.

    Sekiranya demokrasi itu baik, maka kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Tapi baik-buruknya demokrasi akan kita ketahui dalam perjalanan ke depan kelak, ketika akibat-akibat buruk keliaran demokrasi menemukan bentuk- bentuk puncaknya, di mana tatanan manusia runtuh ke derajat terendah. Kita mungkin takkan menyaksikan masa puncaknya, tapi generasi Anda dan generasi saya akan menyaksikannya dengan mata telanjang.

    Kalau mau tahu detil teknis implementasinya, Anda bisa berkunjung ke kantor HTI atau Majelis Mujahidin, atau FPI, atau organisasi Muslim lainnya, dan berdialog dengan mereka. Mereka semua sudah menyusun kodifikasi hukum dan segala tetek-bengeknya. Apa Anda pikir mereka cuma berteriak-teriak? Mereka membaca semua detil- detil kitab kuning dan fiqih dan ijtihad masa lampau tentang aturan hidup. Seandainya media massa mau secara terbuka menyediakan ruang bagi ide ini, tentu semua ini takkan menjadi jargon belaka. Akan ada dialog terbuka dan jujur. Media justru mempromosikan kapitalisme liberal dengan berbagai bungkus, padahal di lain waktu berbicara tentang pentingnya Pancasila dan UUD 45. Media massa lebih suka membenturkan demokrasi liberal dan sosialisme otoriter sambil bersikap mendua, hipokrit. Iya kan? Kita harus akui itu? Atau mengharmoniskan demokrasi liberal dengan demokrasi terpimpin (Pancasila dan UUD 45). Terkadang saya juga bingung, apa TNI yang gagah itu tahu bahwa NKRI dengan Pancasila dan UUD 45-nya sedang dilucuti oleh kekuatan tak bersenjata, oleh orang-orang parlemen dan pemerintahan, padahal TNI diperintahkan untuk menjaga dan mempertahankan NKRI dan nilai Pancasila dan UUD 45? Apa yang akan dilakukan TNI kelak ketika mereka mendapati Pancasila dan UUD 45 yang lama sudah diganti dengan demokrasi kapitalis. Bungkusnya masih Pancasila dan UUD 45 tapi isinya kapitalisme.

    Semua ide dan pelaksanaan selalu diawali dengan propaganda, tapi bukan berarti tak ada blueprint. Apa Anda pikir Muhammad saw langsung meneriakkan pendirian negara Islam saat memulai dakwahnya? Tidak. Kita pertama- tama memperkenalkannya dan mengakrabkannya dengan telinga masyarakat. Nostalgia masa lalu? Huh, sekali lagi, seandainya Allah dalam al-Qur’an tidak mengatakan agar mengikuti jejak Muhammad saw dan orang-orang shalih, tentu kita generasi muslim akhir zaman ini takkan bersusah-payah berusaha menapakinya. Semua ini tak lain karena kita diperintahkan oleh-Nya. Adakah teladan terbaik di jagat raya ini selain Muhammad saw? Jika bukan Muslim yang mengikuti aturan Islam, al-Qur’an dan Sunnah, siapa lagi?

    Saya yakin, 70% Muslim di dunia ini mungkin hanya mengenal 20% dari keseluruhan ajaran Islam. Kita hanya mengenal shalat dan ritual ibadah lainnya. Kita tak diceritakan tentang bagaimana Muhammad menjalani kehidupan sehari-harinya sampai detil-detilnya yang mengagumkan. Jika kita diajari ini, kaum Muslim insya Allah akan memiliki kualitas pribadi yang unggul. Mengapa ini terjadi? Karena negara sekuler tak menghendaki agama menjadi acuan berperilaku dan berhukum. Muslim dibiarkan mengenal shalat saja. Tanpa hukum dan etika Islam.

    Boleh saya tanya? Pernahkah Anda sedetik saja, memiliki kebanggaan akan Dzat Allah, Nama Allah? Dialah Pencipta segalanya. Dialah Tuanku.

    Wallahu a’lam bisshowab.

    1. Terima kasih tanggapannya, saya komentari beberapa hal:

      Islam lengkap, karena semuanya sudah diatur Qur’an, Hadits dan Fiqh. Bagi saya itu Ilusi
      Aturan kenegaraan Islam ber-evolusi dari pemerintahan sambilan sederhana ala nabi (tidak ada birokrasi & tentara profesional yang digaji negara) berkembang ke sistem imperium dgn segala macam kementrian dan qanun untuk mengatur negara.

      Dalam sejarah khilafah, tidak ada yg statis. Sistem era Nabi berbeda dgn era Usmaniyah di Turki. Sistem era nabi jauh dari lengkap dan para fuqoha pada tiap periode melakukan ijtihad untuk melengkapinya. Anda bisa lihat dari kayanya hukum negara yg ditinggalkan para fuquha yang lebih banyak dari Qur’an dan Hadits sendiri.

      Problemnya ketika mereka sampai pada titik dimana para fuqoha sudah menambal semua celah yang ditinggalkan Qur’an dan Hadits. Mereka bilang karena semua sudah diatur, mempertanyakan aturan fiqh sama dengan mempertanyakan Islam, karena fiqh diturunkan dari Qur’an dan Hadits.

      Mereka lupa fiqh adalah tafsiran ulama terhadap Qur’an dan Hadits menghadapi kondisi real. Ketika kondisi real berubah, tentunya fiqh bisa dipertanyakan.

      Apa ujungnya?
      # Berhentinya pemikiran bebas, karena semuanya telah diatur agama.
      # Padahal kebebasan berpikir adalah landasan berkembangnya filsafat dan sains
      # Islam tidak lagi melahirkan filosof penting dan ilmuwan. Era dimana ulama dengan antusias menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani digantikan oleh ulama yang berkata: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” Bagi mereka segala sesuatu yg berasal dari luar Islam membahayakan Islam.
      # Mandeknya pemikiran bebas dan menolak sumber pengetahuan baru dari golongan lain menghentikan lahirnya pemikiran baru di Islam.
      # Akibatnya celaka, pemikiran baru dan sains mandek di dunia Islam.

      Apa akibatnya?
      Pada saat barat yang pernah belajar dari Islam maju, khilafah Islam di Turki menjelma menjadi “The Sick Man Of Europe”. Yang dulunya penyumbang kemajuan terpaksa mengimpor hasil kemajuan negara barat. Barang-2 berteknologi diimpor mahal dari negara-2 kristen, pemerintahannya yang bodoh ditipu sana-sini oleh negara-2 lain. Tidak ada ilmu baru muncul di Turki, negaranya menuju kebangkrutan oleh salah urus para bangsawannya. Khilafah kalah secara teknologi, ekonomi, dan politik.

      Perang Dunia I menghasilkan akhir yang mengenaskan bagi khilafah. Khilafah runtuh, wilayahnya yang jauh jadi jarahan negara-negara lain.

      Apa ini konspirasi Kristen atau Yahudi? bukan.
      Bersama runtuhnya Khilafah Turki, runtuh pula 3 Imperium Kristen raksasa. Mereka semuanya sudah berdiri sejak perang salib, dan berakhir mengenaskan di PD I.
      Mereka runtuh oleh sistem baru yang menganggap semua manusia sederajat yaitu komunisme dan demokrasi. Rakyat sudah muak dikendalikan oleh bangsawan/ulama/gereja/agama. Rakyat ingin dipimpin oleh pemimpin yg mereka anggap mampu, dan bisa menggantikannya bila tidak cocok lagi. Rakyat tidak ingin dipimpin oleh pemimpin yang berkuasa seumur hidup (Raja/Kaisar/Tsar/Khalifah) yang menuntut ketundukan mutlak dan tak bisa diganti walau brengsek.

      Demokrasi bukanlah sistem final
      Tidak ada yang namanya sistem ideal. karena manusia terus berkembang. akan tetapi pada saat ini demokrasi adalah pilihan terbaik dari sistem yang ada. Kita tidak perlu mensakralkan Demokrasi sebagaimana mensakralkan Khilafah. Bila ada yang lebih baik, tentu bisa kita ganti.

      Apakah demokrasi sempurna? tentu tidak,
      # Demokrasi berdasarkan pilihan terbanyak dengan menyama-ratakan hak semua orang.
      # Seorang yang mempunyai kemampuan menggalang opini publik (misalnya raja media) bisa saja menang dalam pemilu mengalahkan calon yang lebih baik.
      # Akan tetapi calon yang keterlaluan buruk tidak mungkin bisa lolos lewat demokrasi, karena rakyat bisa tahu dan tak ada yang bisa mengendalikan seluruh rakyat
      # Rakyat bisa belajar dari pilihannya, keburukan pemimpin akan segera dirasakan rakyat. Kebusukan tidak akan bisa disembunyikan selamanya, apalagi di-era twitter, facebook yang tak bisa dikontrol.
      # Demokrasi mempunyai sistem koreksi berkala, pemimpin buruk tidak akan dipilih lagi dalam periode berikutnya. Atau kalaupun terpilih lagi akan ada batasan maksimum ia bisa maju (biasanya 2 periode), jadi kerusakan akibat pemimpin buruk bisa dibatasi.

      Bandingkan dgn khilafah, dimana sekali di baiat, khalifah berkuasa seumur hidup, seburuk apapun dia. Mungkin HTI akan bilang khilafah yg buruk bisa diturunkan, tetapi sayang tidak ada catatan dalam sejarah dimana khilafah diturunkan untuk alasan ini.

      Anda menyarankan berkunjung ke HTI, Majelis Mujahidin, atau FPI untuk belajar
      # Pelanggar hukum bukan guru yang baik untuk belajar hukum
      Sebagian besar pimpinan FPI Jakarta dan banyak pemimpin FPI pernah diputus bersalah oleh pengadilan untuk kasus-kasus kekerasan. Bagaimana mungkin saya belajar hukum pada para kriminal tersebut?
      # Yang menghalalkan segala cara bukan guru yang baik.
      Imam Samudra dan para teroris agama semuanya pernah belajar atau berhubungan dengan AB Ba’asyir (yang juga terbukti kriminal). Mereka terbukti menghalalkan segala cara demi tujuannya seperti Fa’i (merampok untuk pendanaan jihad) dan mengebom yg dianggap kepentingan Amerika. Jika sebelum berkuasa mereka sudah menghalalkan segala jalan, bagaimana lagi kalau sudah berkuasa?
      # Yang menang-menangan bukan guru yang baik.
      Di negara bebas, agama ibaratnya seperti komoditi pasar bebas dan masyarakat adalah pembelinya.
      HTI, MM, dan FPI adalah penjaja agama dengan racikan bumbu lama. Ketika ada yang menawarkan racikan baru (Syiah, Ahmadiyah, JIL atau apapun yg berbeda), mereka sewot. Mereka tidak berpromosi lebih giat untuk menjelaskan keunggulan racikannya, melainkan menjelek-jelekkan para pedagang baru tersebut. Bahkan mereka mengancam para pedagang baru tersebut dan calon pembelinya.
      Dalam persaingan yang sehat, para pedagang berlomba-lomba menyajikan yg terbaik, bukan mengancam pembeli atau pedagang lainnya dengan pentungan. Pembeli yang pintar akan memilih racikan yang terbaik, racikan yang buruk mungkin akan dibeli, tetapi lama-lama tidak akan laku dan ditinggalkan.
      Bagaimana mungkin saya mau belajar pada kelompok yang menang-menangan seperti ini?

      1. Bung saya sepakat pada poin yang paling atas. Saya yakin bahwa al-Quran dan Sunnah adalah harga mati tapi situasi zaman membutuhkan penafsiran baru, dan itu perlu ijtihad. Tentu saja Islam bukan agama yang kaku. Hanya saja orang yang berhak dan wajib merumuskan hukum penafsiran baru adalah orang yang kompeten dan lurus, bukan orang sembarangan. Dalam soal ilmu sains dan sejenisnya, saya menganut pandangan bahwa itu tak boleh dihalangi sebelum melampaui batas kewajaran. Sebab mau tak mau sejarah kejayaan sains dan peradaban Islam dimulai dengan menerjemahkan materi yunani, india, mesir kuno yang berisi banyak kemusyrikan. Tentu para pendahulu sudah memperhitungkan manfaat dan mudharatnya.

        Tapi saya tak sepakat tentang ormas2. Jangan sampai keberadaan ormas mempengaruhi kesan terhadap Islam. Sudah cukup saja bung, jika diteruskan ini bisa jatuh ke dalam perdebatan tak berguna dan menjerumuskan pada kebencian. Lebih baik kita saling menghormati pandangan.

        Ada hal yang saya yakini, yaitu bahwa Allah menakdirkan ada kaum militan dan kaum terbuka. Itu menurut saya agar masing-masing pihak menyadari kealpaan dalam memandang persoalan. Kaum terbuka ada untuk mengingatkan kaum militan bahwa kejumudan dan taklid akan membawa kita kepada kebinasaan dan kemunduran. Kaum militan ada untuk mengingatkan kaum terbuka bahwa kebebasan berpikir tanpa batas akan menggiring kita kepada ateisme, amoralitas, dll.

        Saya yakin kita akan menyaksikan kelak akan lahir sebuah generasi pertengahan yang proporsional menimbang persoalan. Sebuah generasi yang dipenuhi KESADARAN iman dan intelektual.

        Sejujurnya bung, kita pasti merasa ada hal yang tak bisa diubah meskipun kita berusaha mengingkari, menolak, dan mengubahnya. Keadaan itu di luar kehendak kita. Inilah yang namanya dunia.

        Kalau merasa materi dan perspektif kami di blog ini tak mengenakkan, anggap saja kami angin lalu. Waktu akan menjawab, mesti bagaimana kehidupan dunia diatur. Kami hanya menjalani peran dan takdir yang sudah ditetapkan bahwa kami harus berpandangan seperti ini. Anda pun silakan berpandangan sendiri.

        Wallahu a’lam bisshowab
        Thanks atas diskusinya bung Judhianto. Wassalaam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s