Menghadapi Supremasi Barat

Oleh: M.D. Nalapat (Komentator Outside View United Press International dan juga direktur School of Geopolitics di Manipal Academy of Higher Education, India)
New Delhi, 13 Februari 2007
Sumber: www.spacewar.com

Menteri luar negeri tiga raksasa daratan Asia – Rusia, China, dan India – akan bertemu 14 Februari (2007) di New Delhi untuk memajukan proposal lama yakni Trilateral Global Alliance yang efektifnya akan mengeluarkan Barat dari kedudukan superior di Asia, dan selanjutnya mencapai maksud yang sama di Afrika dan Amerika Selatan.

Walaupun saat ini hanya bersinar di mata para ahli geopolitik, TGA sudah membuat cukup kemajuan dalam dua tahun belakangan dan mengindikasikan bahwa dalam tiga minggu ke depan kerangka perjanjian bisa ditandatangani oleh tiga kepala pemerintahan yang akan mengkodifikasi prinsip dan tujuan kemitraan ini yang dimaksudkan untuk membatasi kekuatan Barat.

Menarik untuk dicatat bahwa adidaya-adidaya Eropa semuanya meraih keuntungan istimewa di seluruh dunia bukan lewat kerjasama damai, melainkan lewat penaklukan. Inilah barangkali mengapa prajurit, pelaut, dan pilot memainkan peran lebih besar dalam “diplomasi” Barat ketimbang diplomatnya.

Australia, contohnya, kini bergandengan tangan dengan Selandia Baru dalam mengirim pasukan bersenjata ke negara-negara kepulauan kecil di dekat mereka, dalam rangka memaksakan kehendak mereka pada masyarakat di sana. Australia begitu mendominasi, sehingga para pemimpin Timor Leste pun – penerima dana besar dan bantuan lain dari Canberra dalam pertempuran panjangnya melawan Indonesia – kini berupaya menjauhkan diri dari negara yang rupanya bertekad menguasai teritorinya melalui senjata.

Di Afrika, ada lusinan kasus intervensi bersenjata oleh Prancis, biasanya untuk melindungi elit-elit lokal boneka Prancis dari pertanggungjawaban dan kehilangan kekuasaan. Di Venezuela, bukan rahasia bahwa Washington mengulangi metode pemberesan mantan Presiden Salvador Allende di Chile – berusaha memakai mitra lokal untuk memaksakan pemecatan Presiden Hugo Chavez, yang berupaya melemahkan pengaruh elit-elit Eropanis yang selama berabad-abad telah menghabiskan hampir 90 persen kekayaan benua (Amerika) dan mereka hanya berjumlah kurang dari 10 persen populasi.

Demikian halnya di Irak, pasukan AS dan Inggris bahkan rutin menangkapi para menteri pemerintahan terpilih Irak serta diplomat yang semestinya dilindungi dari tindakan sewenang-wenang semacam itu menurut hukum dan praktek internasional. Dunia Barat, selama lima abad terakhir sampai sekarang, mengandalkan taring dan cakar untuk menciptakan dan mempertahankan supremasinya. Kondisi ini tak bisa diterima oleh Moskow dan Beijing, dan pada gilirannya, oleh New Delhi juga.

Walaupun masyarakat Rusia berparas “Eropa”, faktanya mereka terpisah secara budaya dari Eropa. Mereka memiliki mindset, tradisi, dan nilainya sendiri, dan karenanya akan selalu ditentang, diam-diam ataupun terang-terangan, oleh adidaya-adidaya benua Eropa seperti Jerman dan Prancis, yang menganggap bahwa Rusia bukan hanya berbeda, tapi juga berpotensi membayangi keduanya, seandainya Moskow diterima masuk Uni Eropa.

Setelah bertahun-tahun berusaha menjadi “bangsa Eropa yang baik” dengan meninggalkan warisan Rusia mereka – sebuah proses yang dimulai oleh Mikhail Gorbachev dan berlangsung hingga kepresidenan Putin – para pemimpin Rusia akhirnya menyadari bahwa kekuatan-kekuatan besar benua Eropa sama sekali tak berniat memberi kesetaraan, apalagi keunggulan, kepada Moskow. Oleh sebab itu, Presiden Vladimir Putin fokus pada Asia selain Eropa, dan hasilnya jauh lebih baik daripada beberapa upaya gagalnya dalam integrasi dengan Eropa. Ini membuka jalan untuk aliansi India-China-Rusia.

Adapun China, Mao Zedong – yang di bawah kepemimpinannya China “berdiri tegak” pada 1949 setelah berabad-abad membudak – maupun Deng Xiaoping paham bahwa hubungan dengan dunia Barat hanya boleh bersifat taktis dan sementara, dan bahwa akhirnya benturan kepentingan akan mengarah pada ketegangan. Namun ada pihak-pihak yang berupaya menciptakan kemitraan adil dengan Barat, khususnya AS, sebagaimana usaha Putin dalam tahun-tahun pertama kekuasaannya. Hari ini, kepemimpinan kuat Presiden Hu Jintao telah jelas-jelas mengakui bahwa (a) China harus mengandalkan kekuatannya sendiri terlebih dahulu dan (b) cara terbaik mengembangkan kekuatan ini adalah melalui kemitraan dengan India dan Rusia.

Dalam putaran berikutnya, Iran dan Indonesia akan masuk sebagai mitra dalam TGA, diikuti oleh beberapa negara kunci di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Korea bersatu dan bersenjata nuklir. TGA akan mempunyai keanggotaan Asia, tapi pengaruhnya global, bahkan di Tahap I, di mana anggotanya hanya Rusia, China, dan India. Tahap II akan menyaksikan masuknya kekuatan Asia lainnya, sedangkan Tahap III akan menyaksikan masuknya negara-negara terpilih di Amerika Selatan seperti Brazil dan di Afrika seperti Nigeria dan Afrika Selatan.

Perubahan sikap para pemimpin China dan Rusia terhadap dunia Barat adalah mesin pendorong kemitraan ini. Adapun India, setelah enam dekade menjalankan kebijakan luar negeri yang independen dari Barat, kini sebuah tim yang mirip dengan tim Boris Yeltsin sedang bertugas di New Delhi, dan bagi mereka satu-satunya jalur yang diperlukan adalah mengakomodasi tuntutan Barat.

China mengalami fase semacam itu sewaktu periode Jiang Zemin, sedangkan periode serupa di Rusia berlangsung dari tahun 1985 sampai 2003. Tahun itu Moskow sadar bahwa kebijakan adidaya-adidaya benua Eropa adalah memangkas hubungan dan lingkup pengaruh Rusia, agar Moskow akhirnya menjadi tak penting di Eropa seperti Belgia, negara yang sering dibandingkan dengannya dari segi ekonomi.

Kenyataannya, Rusia memiliki satu hal – nuklir dan gudang misilnya – yang memberinya bobot lebih besar daripada gabungan Jerman, Prancis, dan Italia. Hal yang sama berlaku untuk China. India sejauh ini relatif kerdil di bidang strategis, walaupun landasan sains negara tersebut cukup kuat untuk menutup celah ini dalam enam hingga tujuh tahun, seandainya para pemimpin politik memutuskan mengambil jalur ini.

Sejak pertengahan 1990-an, beberapa pihak dalam pembuatan strategi India – termasuk saya (penulis) – percaya bahwa dunia Barat akan berpandangan jauh dan menjadikan India sebagai mitra setara. Namun banyak pihak kini membelok pada pandangan bahwa dunia Barat masih memandang India seperti pandangan Inggris di masa lalu, yakni sebagai kekuatan kedua yang cukup dipuaskan dengan remah-remah.

Penolakan aliansi Barat untuk mengakui kesetaraan China, Rusia, dan India dengan mereka adalah dasar bahwa kemungkinan besar pada tahun-tahun mendatang kita akan menyaksikan lahirnya aliansi global India-China-Rusia yang akan segera menjadi faktor geopolitik terbesar di Asia, lalu di Afrika dan Amerika Selatan.

Masa depan ini mungkin sedang dalam proses pewujudan ketika menteri luar negeri ketiga negara yang menyusun 40 persen populasi dunia bertemu di New Delhi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s