Pusat Kekuatan Dunia Sedang Bergeser ke Asia

Oleh: Rebecca Pearsey (Koresponden United Press International)
Beijing, 13 Februari 2007
Sumber: www.spacewar.com

Begitu Yang Liwei memasuki kapal antariksanya di tengah-tengah Gurun Gobi dini pagi tahun 2003, dunia bersiap menyaksikan ekor kapal antariksa milik China itu menyorot di langit. China sedang membuat pernyataan kepada dunia. Dan kini bukan cuma kapal antariksa China yang menarik perhatian kita.

Asia sedang naik ke puncak dan itu tak diragukan; tahun 2020, jika kita menyusutkan 7,8 miliar penduduk dunia (menurut prediksi) menjadi 100 orang perwakilan, 56 orang akan berasal dari Asia, 16 dari Afrika, 13 dari Amerika Utara (4 orangnya dari AS), 7 dari Eropa Timur, 5 dari Eropa Barat, dan 3 dari Timur Tengah.

“Secara keseluruhan, pusat daya tarik strategis sedang bergeser ke Asia,” kata mantan Deputi Menteri Luar Negeri AS, Richard Armitage, dalam sebuah pidato di International Leadership Conference pekan ini. Armitage menguraikan bahwa enam dari sepuluh kekuatan militer terbesar dunia, meliputi AS, berada di Asia. Lima dari sepuluh negara ber-PDB teratas berada di Asia.

Dalam hal aliansi global, Armitage menyusun tujuh kepastian:

  • Pertama, globalisasi tak bisa dihindari.
  • Kedua, perekonomian dunia sedang mulai tumbuh.
  • Ketiga, ketersediaan minyak cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
  • Keempat, kebangkitan dan perkembangan China tak terelakkan.
  • Kelima, seluruh barat dan Jepang sedang menua.
  • Keenam, tren urbanisasi akan berlanjut.
  • Ketujuh, AS akan terus menjadi negara penting untuk 15 tahun ke depan.

Lebih dari 40 perwakilan dan pembuat kebijakan dari dunia industri, akademi, agama, dan pemerintahan menghadiri pidato konferensi Senin malam tersebut. Mereka terbang dari Korea, Jepang, China, Rusia, Mongol, dan AS, untuk membahas Perdamaian dan Keamanan di Asia Timurlaut: Menuju Aliansi Global.

Menurut Armitage, AS harus mulai memberi perhatian pada negara-negara Asia yang sedang bangkit. Dalam empat puluh tahun terakhir, China maju di banyak bidang, dan akan memuncak saat mereka menjadi tuan rumah Olimpiade 2008. “Secara keseluruhan, kita lihat China sedang bersiap mengambil tempat di pentas dan itu pantas,” kata Armitage. “Saya berani berargumen bahwa kebangkitan dan perkembangan China akan sepenting kebangkitan Jerman Bersatu di abad 19 dan mungkin menyaingi signifikansi AS sebagai kekuatan abad 20.”

China sedang tumbuh, tapi Armitage mencatat bahwa itu perlu pengujian. “Saat kita menatap China dari sudut pandang Amerika, terdapat gambaran campuran. Di satu sisi, kita mendapat banyak pertolongan, dan di sisi lain ada beberapa pertanyaan,” ujar Armitage. Dia mengakui bahwa meski sebagian besar rekan China adalah untuk kepentingan energi, ada sesuatu yang harus dikatakan tentang teman sepergaulannya. Negara-negara di antaranya misalnya Zimbabwe, Sudan, dan Venezuela memberi AS alasan untuk waspada terhadap China. Di atas semua itu, China akan harus memelihara stabilitas di dalam negeri. “Kita ingin mereka keluar dengan sukses,” kata Armitage, “Kita tak butuh China yang kacau, tak satupun dari kita ingin itu.”

Selain komentarnya tentang China, Armitage menekankan kebutuhan AS akan hubungan yang sehat dengan Jepang. “Bagi seorang Amerika di masa kini, tak ada hubungan yang lebih penting daripada dengan Jepang.” Dia memuji status Jepang, menyatakan bahwa Jepang adalah negara terbesar kedua di dunia, penyumbang terbesar kedua untuk institusi-institusi di seluruh dunia, dan negara kedua setelah AS sebagai penyumbang pengembangan luar negeri.

Walaupun Armitage berkata bahwa semua alasan tersebut penting, kebutuhan kita akan hubungan dengan Jepang lebih besar dari itu. “Alasan mengapa Jepang begitu penting bagi AS adalah karena pemerintah Jepang mencerminkan mayoritas warganegaranya, yang memungkinkan kita menggunakan pangkalan di Jepang, memungkinkan kita mempengaruhi kerjasama keamanan di seluruh Asia,” kata Armitage. Posisi dan kebijakan Jepang adalah kunci bagi dunia.

Dan menurut Armitage, Rusia akan memainkan peran kunci di Asia, sebab ia bukan Cuma kaya energi tapi juga sumber daya lain yang tak dimiliki sebagian besar Asia. “Dalan jangka panjang Anda pasti terheran sebuah negara kaya sumber daya dan rendah populasi seperti Rusia menopang negara miskin sumber daya dan padat populasi seperti China,” kata Armitage. “Dalam jangka panjang saya berpandangan bahwa federasi Rusia akan menatap barat dan terus berkembang dengan pandangan kebaratan yang umum.”

Namun, dia mencatat bahwa transformasi menuju demokrasi bersama sekutu-sekutu ini takkan terjadi dengan cepat. “Ini proses panjang dan saya yakin kebanyakan kita tidak tahu berapa lama untuk keluar dari komunisme berumur 70 tahun dan diharapkan berganti dalam semalam,” kata Armitage.

Dari semua hubungan luar negeri yang disentuh dalam pidatonya, Armitage menyentuh Korea dengan perhatian tinggi. “Hubungan kita dengan Republik Korea adalah salah satu yang paling sulit dipelihara,” kata Armitage, membuka komentarnya tentang sejarah sulit AS dengan Republik Korea. Menurut Armitage, hubungan buruk AS dengan Korea berlangsung sejak Daniel Boone mengambilalih pasar ginseng mereka.

Saat itu tahun 1882, AS menandatangani memorandum Taft-Katsura, sebuah pakta yang tak diketahui oleh kebanyakan warganegara AS, tapi diketahui dengan baik oleh orang Korea. “Saya bertaruh setiap teman Korea kita mengetahuinya, sebab dalam semalam, di kegelapan malam, tanpa memberitahu sekutu kita (kerajaan Korea), kita mengakui kedaulatan Jepang atas Korea sebagai ganti pencabutan klaim Jepang atas Hawaii dan Filipina,” kata Armitage.

Bertahun-tahun kemudian, di masa penyerahan diri Inggris terhadap Jepang, dua kolonel Amerika mengambil peta wisatawan Korea dan menggambar garis ke bawah sampai tengah tanpa memikirkan ciri geografis, misalnya terusan. Hubungan dengan Korea tak pernah baik, demikian pula di masa mendatang. Ada sejumlah ketidakpercayaan, sebab setiap kali mereka berbalik [untuk memperbaiki hubungan], kita bergandengan dengan Jepang,” kata Armitage.

Signifikansi Asia sedang menanjak melalui banyak negara dan meski tidak tampak demikian, AS menyadarinya. Menurut Armitage, mata kita terpaku di tempat lain: “Persoalan Amerika adalah bahwa kita terlalu terlibat secara taktis di Timur Tengah sehingga sampai taraf tertentu kita cenderung melalaikan kepentingan strategis jangka panjang kita di Asia.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s