Selamat Datang di Milenium China

Oleh: Martin Jacques
23 Juni 2009
Sumber: www.guardian.co.uk

Model modernitas dangkal kita mengandung arti bahwa kita bukan hanya masih harus memahami bahwa masa depan adalah milik China tapi juga seberapa China.

Terdapat pertumbuhan pengakuan bahwa kebangkitan ekonomi China akan mengubah dunia. Tapi perubahan tersebut masih terlihat dari segi ekonomi saja. Ada asumsi bahwa efek politik dan budaya kebangkitan China takkan sama besar. Ini jelas keliru. Dampak politik dan budayanya akan setidaknya sebesar dampak ekonominya.

Selalu ada ketertundaan dalam hal ini tapi, sebagaimana argumentasi Paul Kennedy dalam bukunya, The Rise and Fall of the Great Powers, kenaikan ekonomi merupakan prakondisi untuk pengaruh politik dan budaya yang lebih luas. Saya menduga alasan pandangan sempit [dalam paragraf pertama di atas] adalah prasangka barat: keyakinan bahwa modernitas kita adalah satu-satunya yang bisa dipahami, bahwa susunan politik dan budaya kita ujung-ujungnya akan diadopsi oleh semua orang. Ini mentalitas amat picik. Modernitas bukan sekadar produk pasar dan teknologi, melainkan dibentuk oleh sejarah dan budaya.

Di dunia di mana banyak negara berkembang sedang mengalami transformasi ekonomi yang pesat, kita menyaksikan kelahiran beragam modernitas. Ide bahwa China, sebuah negara besar dengan sejarah sangat panjang, akan “seperti barat”, kloning kita, adalah ilusi.

Lantas apa beberapa karakteristik kunci modernitas China yang membedakan?

Walaupun China telah menggambarkan diri sebagai negara bangsa selama seabad terakhir, ini sebagian besar hanyalah fenomena permukaan. China sudah eksis dengan perbatasan wilayah modernnya selama lebih dari dua milenium dan sebetulnya selama periode itu memandang dirinya sebagai “negara peradaban”. Baru ketika terlalu lemah untuk menahan adidaya-adidaya barat di awal abad 20-lah akhirnya ia menyetujui penetapan yang asing baginya.

Tapi, kenyataannya China pada esensinya masih sebuah negara peradaban. China memandang dirinya dari segi peradaban ketimbang bangsa; hal-hal yang mendefinisikan rasa “ke-China-an” itu – mulai dari bahasa dan Konfusianisme hingga adat-istiadat dan keluarga – merupakan fungsi-fungsi peradaban ketimbang bangsa; tanggungjawab negara dipandang untuk memelihara kesatuan peradaban China; dan akar rasa superioritas China terletak pada pencapaian peradabannya.

Lebih jauh, jalannya sebuah negara peradaban berbeda secara fundamental dari negara bangsa: China mencakup keragaman besar dan adalah mustahil memelihara kesatuannya tanpa mentoleransi keberagaman ini. Dengan demikian wajar China menyodori Hongkong penyelesaian konstitusional “satu negara, dua sistem”. Keberagaman sistem semacam itu sama sekali takkan bisa diterima oleh negara bangsa. Dunia yang negara-negara besarnya adalah negara peradaban ketimbang negara bangsa akan, pada waktunya, mengubah tekstur hubungan antarnegara secara mendalam.

China sebagai negara peradaban eksis berdampingan dengan sistem “pembayaran upeti”: memang, setelah bertahan selama ribuan tahun, sistem ini baru menghilang sekitar seabad lalu. Ini merupakan sistem amat fleksibel yang meliputi sebagian besar Asia timur, termasuk Jepang dan Korea, dan didasarkan pada dominasi China yang besar secara ekonomi maupun budaya. Sebagai imbalan atas pengakuan superioritas dan keunggulan China – yang secara simbolis diungkapkan dalam pengiriman upeti kepada China – negara-negara diberi berbagai bentuk bantuan dan perlindungan oleh Middle Kingdom tersebut.

Tak lama lagi China akan kembali dominan di kawasan tersebut. Takkan mengejutkan sama sekali jika sebagian karakteristik sistem pembayaran upeti kembali membentuk hubungan antarnegara di kawasan tersebut. Dengan kata lain, kebangkitan China akan memperlemah dan merelatifkan dominasi global sistem Westphalia rancangan Eropa yang berkuasa sampai sekarang ini.

China memiliki pandangan ras yang amat berbeda: 92% dari 1,4 miliar populasinya percaya bahwa diri mereka adalah satu ras, Han. Ini kontras dengan negara-negara padat populasi lainnya di dunia, semisal India, AS, Indonesia, dan Brazil, yang percaya bahwa diri mereka multiras. Sikap China utamanya merupakan produk sejarah panjangnya sebagai negara peradaban, yang menghasilkan sejarah panjang percampuran dan perpaduan ras-ras dan melahirkan rasa identitas China yang kuat.

Ini diperkuat oleh keyakinan poligenisme yang tersebar luas, bahwa China adalah cabang manusia yang terpisah dan tidak memiliki asal-usul yang sama dengan kita semua di Afrika. Rasa superioritas China, karenanya, berakar dalam sikap dan keyakinan biologis dan juga budaya. Konsekuensinya, China tidak punya banyak konsepsi tentang perbedaan, ini nyata dalam sikap mereka terhadap Tibet dan Xinjiang. Sikap ini berumur tua dan akan mempengaruhi persepsi dan perilaku China sebagai kekuatan global.

Negara China dibangun secara berbeda sama sekali daripada negara-negara barat. Tak seperti negara-negara Eropa, selama lebih dari satu milenium China belum pernah bersaing memperebutkan kekuasaan dengan rival semisal gereja, aristokrasi, atau saudagar. Negara ini berdiri di masyarakat, tanpa pesaing ataupun batasan kekuasaan: bukannya bernegosiasi secara kolektif dengan negara, kelompok-kelompok lain justru mencari restu dan keuntungan secara individu.

Lebih jauh, fakta bahwa China modern berawal sejak tahun 221 SM mengandung arti bahwa negara ini telah menikmati sejarah amat panjang. Selama periode tersebut, China secara eksplisit didasarkan pada ide-ide Konfusian yang, untuk ukuran zamannya, sangat maju: tak berlebihan untuk menyatakan bahwa China adalah rumah keterampilan bernegara dan, sampai hari ini, masih amat berbudaya/beradab (walaupun belum pernah bertanggungjawab langsung kepada rakyatnya melainkan kepada perangkat nilai, utamanya untuk Konfusian, dan belakangan komunis.) Dengan kebangkitannya, negara China akan semakin berpengaruh terhadap dunia sebagai model untuk dipahami dan disamai.

Di masa ketika tradisi komunis Eropa meledak ke dalam, hal sebaliknya terjadi di China: berlawanan dengan sangkaan barat setelah peristiwa Lapangan Tiananmen 1989, partai Komunis bukan hanya bertahan tapi juga menemukan ulang dirinya dan, 30 tahun terakhir ini, memimpin transformasi ekonomi paling menakjubkan dalam sejarah manusia. Kita takkan menyaksikan kematiannya dalam waktu dekat; mereka barangkali menikmati prestise lebih besar daripada masa-masa sebelumnya sejak 1949.

Kebangkitan China, karenanya, mengharuskan kita kembali ke isu yang dianggap usai setelah 1989, yakni sifat tradisi komunis. Dalam konteks ini, ketimbang menekankan perbedaannya, saya akan menekankan garis keberlanjutan antara Konfusianisme dan komunisme China. Sesungguhnya, tradisi Konfusian-lah, bukan komunis, yang sampai sekarang tetap lebih berpengaruh dalam membentuk politik dan sikap China kontemporer.

Menurut proyeksi Goldman Sachs, perekonomian China akan menyusul AS pada 2027, dan pada 2050 akan hampir dua kali lipatnya. Ini – bersamaan dengan kebangkitan India terutama – akan mengakhiri era barat, yang berawal sekitar tahun 1800. Sebagai pengganti universalisme barat, kita akan hidup di dunia yang kian tak familiar di mana budaya non-barat, dan utamanya China, akan berpengaruh dominan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s