Oleh: Deborah Orr
Jumat, 16 Desember 2011
Sumber: www.guardian.co.uk

Kecemasan akan keambrukan tak terdugalah yang menjaga sisa-sisa ambisi besar UE tetap hidup.

Meski memveto, Cameron masih seperti semua pemimpin Eropa lainnya

Ada momen-momen – biasanya ketika berada di tempat keramaian yang didominasi layar raksasa yang menyorotkan gambar-gambar kegelisahan masyarakat, kejatuhan pasar, atau Christine Lagarde, presiden IMF, yang bernyanyi bahwa dunia beresiko terjerembab ke dalam kemerosotan ala tahun 1930-an – di mana saya merasa seolah sedang hidup di masa depan yang pernah saya saksikan saat kecil dalam film-film semisal Bladerunner. Dunia manusia, di zaman tersebut, terasa rapuh dan asing, tempat di mana teknologi kita yang mengagumkan tak berbuat banyak selain memperbaharui, dalam tontonan yang hidup dan menyilaukan, keturunan manusia yang mengerikan dan tak terhentikan hingga kacau-balau.

Tapi di zaman lain, hidup di ibukota Inggris yang makmur, saya lebih tergoncang lagi oleh tingginya taraf hidup orang-orang pencari kesenangan. Masing-masing sosok memiliki cerita berbeda, toko-toko tampak dipadati orang yang berbelanja, restoran dipadati orang yang makan, dan teater dipadati orang yang masih punya banyak uang untuk dihabiskan untuk sekadar bersenang-senang. Makan, minum, dan bersukarialah, sebab kelak kita akan mati.

Sulit sekali memutuskan apakah segala bukti kegembiraan London di tengah perubahan besar ini menyenangkan atau menakutkan. Di satu sisi, itu menenteramkan – kehidupan berjalan, uang berpindah tangan, ekonomi riil bertahan – budaya maju dan canggih kita tentu terlalu besar, terlalu lumrah, terlalu kuat untuk ambruk. Di sisi lain, itu menjijikkan. Di tengah berlanjutnya kemakmuran, para pegawai mengambil pinjaman memeras di hari gajian untuk membuat makanan tersaji di meja, parlemen memajukan legislasi yang dirancang untuk menghilangkan tunjangan anak cacat, dan Theresa May, menteri dalam negeri, tidak sependapat bahwa perasaan terasing dari mainstream masyarakat adalah sah atau bisa dimaklumi. Di kampung halaman di Motherwell, Skotlandia, tak ada layar raksasa yang menyampaikan kabar buruk, dan tak ada pesta ria besar yang menawarkan lagu pengiring.

Bagi kebanyakan kita, faktanya berkebalikan dengan klaim May saat dia mengemukakan bualan tak masuk akal mengenai kerusuhan musim panas lalu. Kegagalan merasakan keterasingan ternyata jauh lebih mengejutkan, di sebuah negara yang begitu terpolarisasi, yang begitu tak mampu berbagi kekayaannya, atau bahkan kebijaksanaannya, dengan sekadar kemoderatan, semacam kepedulian untuk mempromosikan rasa kepaduan sosial, rasa memiliki. Tapi semua tekanan politik dan ekonomi menuntut kita menjauhi harapan akan kesejahteraan sosial, bahwa, terlepas dari semua bukti adanya kekayaan pribadi yang masif dan terpusat [di kalangan tertentu], solusinya adalah mentransfer lebih banyak uang lagi dari wilayah publik ke wilayah pribadi, kali ini dengan melempar miliaran [pound] ke zona euro, untuk menyumbat luka krisis yang berketerusan dengan pembalut berdarah berupa uang tunai. Sang wanita pimpinan IMF, yang memperingatkan kita bahwa tanpa langkah tersebut kita akan menderita, tidak memiliki mandat.

Menggelikan, penolakan David Cameron untuk menandatangani sebuah pakta yang materinya memang ngawur dianggap signifikan secara politik. Mendadak, di Inggris, dia dianggap berkedudukan kuat. Dua poling menempatkan partainya di atas, dan mitra koalisinya yang penggandrung Eropa begitu ketakutan disapubersih dalam pemilu sehingga, menurut spekulasi, mereka semua berdiri di antara Cameron dan mayoritas pemilih yang amat dia harapkan. Mungkin secara formal dia telah mengisolasi dirinya sendiri, dan Inggris Raya, di Eropa. Tapi dalam hal-hal yang penting, dia masih sama seperti semua pemimpin Eropa lainnya. Dia sangat ingin krisis zona eropa “diselesaikan”, tapi tidak begitu tertarik untuk mengeluarkan uang yang akan menyelesaikannya. Para politisi, beserta pakta-paktanya, telah dibuat kecil, dan hampir tak relevan, oleh kediktatoran uang yang lalim dan mempertahankan diri.

Kita paham mengapa keengganan mem-bailout Eropa begitu tersebar luas. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa zona eropa gagal sejak awal. Kegagalan sudah sepantasnya datang, dan meniupkan nyawa ke dalam sistem yang senantiasa disfungsi sama saja dengan membuang-buang uang. Pakta yang menuntut penyatuan fiskal dapat dipandang sebagai penyerahan diri kepada aturan ekonomi [pasar]. Cameron memang menyebutkan alasan-alasan aturan negaranya untuk menolak pakta tersebut. Tapi penolakannya akan bermakna seandainya disampaikan sebagai pendirian terakhir melawan keruntuhan demokrasi nasional, dan [melawan] dominasi finansial internasional berkepanjangan yang kejam dan tak berperasaan. (Nyatanya, Cameron berargumen bahwa jika [kelompok] finansial berkuasa, maka Inggris Raya harus tetap menjadi pelayan terbaiknya, berlawanan dengan semestinya.)

Asumsinya adalah bahwa zona euro “terlalu besar untuk gagal”, sebagaimana perbankan dahulu. Akankah zona euro, seperti perbankan, terang-terangan melanjutkan kebiasaan buruknya, kontradiksi parahnya, jika uang untuk mem-bailout bisa diperoleh? Kenyataan pahitnya adalah bahwa ia telah gagal, dan hanya kecemasan akan keambrukan tak terdugalah yang menjaga sisa-sisa ambisi besar UE tetap hidup. Masalahnya, Eropa, secara politik dan juga ekonomi, memang ide bagus, tapi dalam prakteknya selalu dikompromikan. Bahkan akuntabilitas demokrasinya dibuat-buat. Pemilihan anggota parlemen Eropa lebih mirip pemilihan pelayan publik ketimbang politisi. Anggota parlemen yang high-profile hanyalah orang-orang yang mendapat kursi demi menentang eksistensi UE.

Adapun untuk [posisi] kepala negara yang membuat keputusan politik, orang-orang daftar atas yang tak terpilih lebih banyak daripada yang sesuai atau diterima [pasar]. Sedangkan para teknokrat selalu diterima. Cameron memang telah memilih keluar dari pembicaraan pakta Cannes. Tapi, ternyata, “orang-orang”-nya masih ada di sana, masih melemparkan [ide] jelek mereka, dalam mencari rumusan yang akan meredakan “pasar”. Defisit demokrasi di Eropa senantiasa problematis, dan kini berjalan terhuyung dan absurd. Ini bukan Eropa yang kita harapkan. Saya selalu meyakini cita-cita Eropa. Tapi sulit sekali mengidentifikasi, dalam kekacauan sekarang, keberadaan ekspresi sejati cita-cita tersebut.

Di tengah segala kerisauan dan kecemasan akan besarnya tugas menyangga Eropa, ada perasaan mengganjal bahwa jika institusi ini memang terlalu besar, terlalu dominan, terlalu luas untuk gagal, maka ia juga terlalu besar, terlalu berat, terlalu kuat untuk sukses. Bagaimana bisa sesuatu yang begitu signifikan dan tak tersentuh [seperti Uni Eropa] dikendalikan? Adakah institusi lain yang memiliki kekuasaan untuk mengekang raksasa sebesar itu? IMF? Memangnya siapa yang menginginkan [IMF] mengatur dunia [bukankah Eropa]?

Mereka punya daya tarik fisiknya sendiri, institusi-institusi besar ini, rupanya, massa mereka mendikte pengaruh kuat, berkat dominasi, kerakusan akan dana, kerakusan akan penyembahan, tak akuntabel, tak terukur. Mereka…terlalu besar. Terlalu besar untuk dipaksa membayar kegagalan mereka sendiri, terlalu besar untuk dipaksa menerima konsekuensi klausa kecil, klausa remeh dan mudah diabaikan, yang memberitahu mereka bahwa mereka harus menanggungnya sendiri bilamana resikonya menampar wajah mereka. Sekarang saatnya memilih antara akuntabilitas demokrasi, atau aturan pasar. Krisis ini telah membuat jelas satu hal: kita tak bisa mengambil dua-duanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s