Oleh: Jeremy Warner
16 Januari 2012
Sumber: www.telegraph.co.uk

Negara-negara berperingkat kredit AAA menjadi spesies terancam punah.

Kesatuan moneter, puncak kejayaan proyek Eropa yang diidamkan, tak bisa bekerja di bawah kerangka sekarang atau sejenisnya.

Sebelum krisis, negara-negara termaju membanggakan stempel restu eksternal nomor wahid ini. Kelirunya, sebagaimana kita ketahui, juga ada ribuan produk terstruktur yang sama-sama digembirakan oleh lembaga-lembaga pemeringkat.

Banyak dari produk-produk terstruktur itu segera menjadi sampah dalam kegentingan kredit, dan dengan penurunan peringkat Prancis minggu lalu, jumlah negara berperingkat atas telah menyusut menjadi 14 saja.

Dari empat anggota zona euro yang masih termasuk dalam klub eksklusif debitor “bebas resiko” ini, tiga berada dalam pengawasan negatif.

Komentator Prancis jengkel sejak diberi peringatan awal tentang penurunan peringkat tersebut.

Jika Prancis bisa begitu mudah melambung ke neraca publik ketika krisis meletus, mengapa Inggris tidak, dengan jumlah utang nasional serupa, defisit lebih besar, tingkat produktivitas buruh lebih rendah, dan utang pribadi jauh lebih tinggi, yang terakhir ini telah mengajari kita dalam tiga tahun belakangan?

Jawabannya, seandainya para pemimpin Eropa mau mendengarkan, adalah bahwa Prancis menggunakan euro, sehingga dinamika utangnya terasa jauh lebih problematis, sedangkan Inggris tidak.

Dalam penurunan peringkat Jumat lalu, Standard & Poor menguraikannya. Menyatakan pendarahannya serius, S&P berkata bahwa aksi kebijakan di zona euro telah jauh dari apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikan krisis.

Terlebih lagi, aksi yang diambil “hanya didasarkan pada pengenalan sumber krisis secara parsial: bahwa kekacauan finansial saat ini berasal utamanya dari pemborosan fiskal di negara-negara pinggir zona euro.”

Menyatakan kembali hal yang sudah jelas bagi semua orang kecuali para pemimpin zona euro, S&P mendiagnosa persoalan ini jauh lebih sebagai “konsekuensi meningkatnya ketidakseimbangan eksternal dan perbedaan daya saing antara negara-negara pusat dan “negara-negara pinggir” zona euro.

“Sebuah proses reformasi berdasarkan pilar penghematan fiskal semata,” simpul S&P, “beresiko merusak diri sendiri, sementara permintaan domestik jatuh sejalan dengan naiknya kecemasan konsumen mengenai keamanan pekerjaan dan pendapatan bersih, mengikis penerimaan pajak negara.”

Memang begitu. Jika Anda salah mendiagnosa persoalan, kemungkinan besar Anda akan membuat resep penanganan yang salah.

Saya sudah berpikir lama dan keras mengapa Eropa begitu keras kepala mengenai krisis yang dihadapinya. Awalnya, saya tergoda menyatakan kelemahan ini disebabkan oleh ketiadaan kekuatan intelektual. Ekonomi, kata lelucon kuno, bukan ilmu roket; seandainya demikian, orang Jerman akan jauh lebih baik dalam bidang ekonomi.

Tapi sebetulnya ada beberapa ekonom Jerman yang sangat baik yang memahami seutuhnya persoalan ini; tidak, lebih buruk dari itu. Sebetulnya ini adalah soal penolakan menghadapi kenyataan – bahwa kesatuan moneter, puncak kejayaan proyek Eropa yang diidamkan, tak bisa bekerja di bawah kerangka sekarang atau sejenisnya.

Para pemimpin Eropa tak mau mendengar ini. Mereka masih berpegang teguh pada keyakinan bahwa kesatuan moneter negara-negara yang berdaulat secara fiskal dapat, asalkan setiap orang memegang disiplin fiskal, dijadikan mesin pertumbuhan yang berfungsi dan bertransformasi.

Peristiwa-peristiwa menunjukkan tanpa ragu bahwa itu tidak mungkin. Sebelum tanggungjawab kolektif atas utang kawasan dipikul, mengimplikasikan transfer tanggungjawab secara signifikan dari negara pinggir ke negara pusat, krisis ini takkan pergi.

Penurunan peringkat Prancis hanya melukiskan sifat persoalan. Para komentator Prancis bertanya, mengapa Prancis dan bukan Inggris? Ini sangat mudah dijawab. Jangan pikirkan dampak memburuknya persoalan politik, finansial, dan moneter zona euro terhadap Prancis, yang memang cukup buruk; peluang Inggris sendiri untuk mengembalikan sustainabilitas fiskal nyatanya jauh lebih baik daripada Prancis dan sebagian besar anggota mata uang tunggal lainnya.

Sebagaimana diuraikan oleh Michael Saunders dari Citigroup, pembayar pajak di Inggris tidak banyak terkena resiko keharusan menyokong bank-bank dari resiko negara dan keharusan menalangi negara lain, dibanding di Prancis.

Inggris juga berkomitmen melaksanakan program pengurangan defisit yang detil dan luas yang telah diusahakannya, sejauh ini, dengan kedisiplinan ala militer. Ada peluang bahwa ini akan berlanjut.

Terkadang ada rumor bahwa dalam mempelajari model-model demokrasi untuk melihat mana yang ingin diadopsi, China mengidentifikasi Inggris sebagai yang paling cocok sebab memperkenankan pengambilan keputusan eksekutif yang masih efektif dari pusat.

Kita tak bisa memastikan kebenaran cerita ini; mengenai demokrasi, lebih daripada hal lain, pemimpin China masih tak dapat dimengerti. Tapi itu memang ada benarnya. Dibanding Eropa, atau bahkan AS, Inggris telah menunjukkan diri sebagai [negara yang] hampir totalitarian dalam pengambilan keputusan.

Tapi barangkali yang terpenting, fleksibilitas moneter yang diperkenankan oleh kedaulatan mata uang membuat pengurangan fiskal kurang menyakitkan bagi Inggris dibanding dalam [kerangka] mata uang tunggal. Independensi moneter mengandung arti bahwa di Inggris sedikit kemungkinannya menjadi korban perangkap penghematan zona euro – di mana pengurangan fiskal hanya sukses memperburuk defisit sebab menghambat pertumbuhan, mengurangi penerimaan pajak.

Penerapan peringanan kuantitatif (QE) secara luas oleh Bank of England telah berhasil bukan cuma dalam menurunkan beban pembiayaan pemerintah, itu juga membantu mendukung pertumbuhan dan terbukti sungguh efektif untuk konsolidasi fiskal.

Ada banyak resiko terkait mata uang negara – devaluasi dan inflasi adalah yang paling nyata – tapi default (gagal bayar) biasanya tidak termasuk. Jika dorongan mendesak, pemerintah bisa cukup mencetak uang untuk membayar utangnya. Opsi ini tidak terbuka bagi Prancis atau anggota zona euro lainnya.

Alasan mengapa Denmark memiliki imbal hasil surat utang lebih rendah ketimbang Finlandia, meskipun kedua negara memiliki profil ekonomi kurang-lebih sama dan krone Denmark diukur dengan euro, adalah karena Denmark masih dapat mencetak uangnya sendiri. Investor tahu ini, sehingga Denmark tidak banyak tertimpa serangan spekulasi.

Sejauh ini, para pemimpin zona euro gagal menyediakan solusi untuk cacat nyata dalam konstruk mereka. Fasilitas penalangan terlampau kecil untuk menyokong negara-negara yang fiskalnya tertekan, dan jika Bank Sentral Eropa (ECB) mengabaikan kehati-hatian dan memulai QE gaya Anglo-Saxon, itu tetap takkan mengatasi persoalan pokok yakni perbedaan daya saing yang lebar.

Inggris tidak boleh terlibat memajukan dukungan IMF untuk zona euro bilamana tak ada rencana kredibel untuk mengatasi isu-isu ini. Jika ini sekadar isu ketidakcukupan likuiditas, maka sekarang tentu telah diselesaikan, mengingat perluasan neraca bank sentral yang sudah terjadi.

Sayangnya, ini jauh lebih dalam. Penggelontoran lebih banyak uang IMF takkan membantu. Pilihan sentral selalu sama; euro disusun ulang dengan garis-garis yang lebih sustainable, di mana beberapa negara kembali ke mata uangnya, atau kawasan ini harus segera melangkah menuju mutualisasi utang penuh dan kesatuan politik.

Saya tak yakin Eropa siap untuk pilihan kedua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s