Oleh: Rick Rozoff
Sumber: www.unitedstatesofislam.com

Tahun lalu komandan African Command (AFRICOM) AS, Jenderal William Ward, mengatakan Pentagon memiliki kemitraan militer dengan 35 dari 53 negara di benua tersebut, “merepresentasikan hubungan AS yang membentang di benua itu.”[1]

Angka tersebut telah bertambah untuk sementara.

Sebagai komando militer regional pertama di luar negeri yang didirikan oleh Washington pada abad ini, yang pertama sejak akhir Perang Dingin, dan yang pertama dalam 25 tahun, pengaktifan AFRICOM ini, mulanya di bawah sayap European Command AS pada 1 Oktober 2007, lalu menjadi entitas terpisah setahun kemudian, menegaskan nilai geostrategis Afrika dalam rencana militer, politik, dan ekonomi internasional AS.

Wilayah tanggungjawab African Command mencakup lebih banyak negara – yakni 53, semua negara Afrika kecuali Mesir (yang tetap dalam Central Command AS) dan Sahrawi Arab Democratic Republic (Sahara Barat) (yang merupakan anggota Uni Afrika tapi diakui oleh AS dan sekutu-sekutu NATO-nya sebagai bagian Maroko, yang menaklukkannya tahun 1975) – daripada jumlah anggota dalam Unified Combatant Command Pentagon lain: European Command, Central Command, Pacific Command, Southern Command, dan Northern Command (didirikan tahun 2002).

AS sendirian mengurus komando-komando militer regional multi-tugas di semua wilayah dunia, sebuah proses yang dimulai setelah Perang Dunia II begitu Amerika mengejar takdir nyata abad 20 yang ditetapkannya sendiri yaitu sebagai adidaya militer global pertama dalam sejarah.

Sebelum 1 Oktober 2008, Afrika berada dalam wilayah tanggungjawab European Command, dengan semua negara Afrika yang ditugaskan padanya kecuali Mesir, Seychelles, dan negara-negara Tanduk Afrika (Djibouti, Eritrea, Ethiopia, Kenya, Somalia, dan Sudan) yang diawasi oleh Central Command, dan tiga negara pulau (Comoros, Madagaskar, Mauritius) dan satu [pulau] milik Prancis di lepas pantai timur benua (Reunion) yang ditempatkan di bawah Pacific Command.

Sebulan sebelum AFRICOM memulai inkubasi setahunnya di bawah European Command pada 2007, Deputi Kepala Kebijakan di bawah Menteri Pertahanan, Ryan Henry, mengatakan, “Daripada [membiarkan] tiga komandan berlainan menempatkan Afrika sebagai prioritas ketiga atau keempat, akan ada satu komandan yang menempatkannya sebagai prioritas atas.”[2]

Pejabat Pentagon tersebut juga mengungkap bahwa African Command “akan meliputi satu markas pusat kecil plus lima ‘tim integrasi regional’ yang disebar ke seantero benua tersebut” dan bahwa “AFRICOM akan bekerja erat dengan Uni Eropa dan NATO”, khususnya Prancis, anggota keduanya, yang “tertarik mengembangkan angkatan cadangan (standby force) Afrika”.[3]

Pejabat Departemen Pertahanan tersebut mengidentifikasi semua komponen kunci peran African Command dan menunjukkan apa yang telah berlangsung dalam hampir tiga tahun ini: Dengan memasukkan negara-negara yang dulunya berada dalam wilayah tanggungjawab tiga komando Pentagon ke dalam satu komando terpadu, AS akan membagi benua terpadat kedua di dunia tersebut menjadi lima distrik militer, masing-masing dengan African Standby Force multinasional yang dilatih oleh angkatan militer AS, NATO, dan Uni Eropa.

Lalu di bulan yang sama, Pentagon mengkonfirmasikan bocoran sebelumnya bahwa AFRICOM akan menyebar tim-tim integrasi regional “ke bagian utara, timur, selatan, tengah, barat benua itu, mencerminkan lima komunitas ekonomi regional Uni Afrika…”

Website Defense News merinci pembagian geografis yang digambarkan dalam dokumen singkat Departemen Pertahanan yang diterbitkan bulan itu:

“Tim satu akan memiliki tanggungjawab atas jalur utara dari Mauritania sampai Libya; tim kedua akan beroperasi di blok negara-negara Afrika timur (Sudan, Ethiopia, Somalia, Uganda, Kenya, Madagaskar, dan Tanzania); tim ketiga akan menjalankan aktivitas di blok besar selatan yang mencakup Afrika Selatan, Zimbabwe, dan Angola… Tim keempat akan berkonsentrasi pada kelompok negara-negara Afrika tengah seperti Republik Demokratik Kongo, Chad, dan Kongo (Brazzaville); tim kelima akan fokus pada blok barat yang meliputi Nigeria, Liberia, Sierra Leone, Niger, dan Sahara Barat, menurut dokumen singkat itu.”[4]

Kelima area dapat disamakan dengan Komunitas Ekonomi Regional utama Afrika, yang dimulai di utara benua tersebut:

  • Arab Maghreb Union: Aljazair, Libya, Mauritania, Maroko, dan Tunisia.
  • East African Community (EAC): Burundi, Kenya, Rwanda, Tanzania, dan Uganda.
  • Economic Community of West African States (ECOWAS): Benin, Burkina Faso, Cape Verde, Pantai Gading, Gambia, Ghana, Guinea-Bissau, Liberia, Mali, Nigeria, Senegal, Sierra Leone, dan Togo.
  • Economic Community of Central African States (ECCAS): Angola, Burundi, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Chad, Republik Kongo (Brazzaville), Republik Demokratik Kongo (Kinshasa), Guinea Khatulistiwa, Rwanda, dan Sao Tome and Principe.
  • Southern Africa Development Community: Angola, Bostwana, Republik Demokratik Kongo, Lesotho, Madagaskar, Malawi, Mauritius, Mozambique, Namibia, Seychelles, Afrika Selatan, Swaziland, Tanzania, Zambia, dan Zimbabwe.

Timurlaut jauh Afrika, di dan dekat Tanduk Afrika, memiliki kategorinya sendiri, setelah lama dibawahi oleh Combined Joint Task Force-Horn of Africa (CJTF-HOA) yang bermarkas di Djibouti di mana Pentagon menempatkan kira-kira 2.000 personil dari keempat cabang angkatan bersenjata. Wilayah operasi CJTF-HOA mencakup negara-negara Afrika yakni Djibouti, Ethiopia, Eritrea, Kenya, Seychelles, Somalia, Sudan Tanzania, dan Uganda, serta Yaman di Jazirah Arab. Selain Seychelles, CJTF-HOA sedang memperluas lingkupnya hingga mencakup Comors, Mauritius, dan Madagaskar di Samudera India.

Tiga tahun lalu diberitakan bahwa Pentagon sudah “menyepakati akses ke pangkalan-pangkalan udara dan pelabuhan-pelabuhan di Afrika dan fasilitas bare-bones yang dikelola oleh pasukan keamanan setempat di Gabon, Kenya, Mali, Maroko, Namibia, Sao Tome and Principe, Senegal, Tunisia, Uganda, dan Zambia.”[5] Dengan kata lain, di utara, timur, barat, tengah, dan selatan Afrika.

AS telah mengurus pangkalan militernya di Djibouti, Kamp Lemonnier, sejak 2003, mendirikan fasilitas pengawasan angkatan laut di Seychelles musim gugur lalu, dan memiliki akses ke barak-barak pangkalan dan forward site di Kenya, Ethiopia, Maroko, Mali, Rwanda, dan negara-negara lain di seantero benua itu.

AFRICOM, sebagaimana dicatat di atas, berencana membangun markas pusat di benua tersebut – markasnya saat ini masih di Stuttgart, Jerman, walaupun Kamp Lemonnier di Djibouti berfungsi secara de facto sebagai markas di Afrika – beserta lima pos satelit regional di utara, selatan, timur, barat, dan tengah Afrika.

African Standby Force, ditilik dari namanya, semestinya berada di bawah kendali Uni Afrika, tapi pasukannya dilatih dan diarahkan oleh AS, NATO, dan sayap militer Uni Afrika.

Website African Standby Force (ASF) memuat link-link ke situs-situs berikut [maaf linknya tak tersimpan oleh situs unitedstatesofislam—penj]:

  • Markas Pusat ASF (Addis Ababa)
  • Timur
  • Barat
  • Selatan
  • Tengah
  • Utara [6]

Sekretariat Uni Afrika, Komisi Uni Afrika, bermarkas di Addis Ababa, Ethiopia.

Ethiopia juga merupakan salah satu dari negara-negara – yang lainnya adalah Liberia dan Maroko – yang dibahas sebagai lokasi potensial untuk menjadi markas utama AFRICOM di benua itu.

African Standby Force – Dilatih oleh Pasukan Khusus AS, Dibentuk Meniru Pasukan Serang NATO

Masing-masing dari lima unit geografis di atas adalah untuk menyuplai kesatuan hingga seukuran brigade (4.500-5.000 tentara menurut standar NATO) untuk African Standby Force yang diproyeksikan diluncurkan tahun ini.

Dua hari sebelum African Command didirikan pada 1 Oktober 2007, suratkabar angkatan bersenjata Amerika, Stars and Stripes, memberitakan bahwa “Komando tersebut, yang dijadwalkan beroperasi minggu ini, akan memfokuskan sebagian besar aktivitasnya pada membantu membangun calon African Standby Force. Diharapkan, pasukan ini, diorganisir oleh Uni Afrika (UA) yang bermarkas di Ethiopia, akan siap pada 2010. Ia akan terdiri dari lima brigade multinasional yang bermarkas di benua raksasa tersebut. Setiap brigade akan melaksanakan misi di kawasannya, seperti menjaga perdamaian saat dibutuhkan. Jenderal William E. Ward, yang dinominasikan menjadi komandan pertama AFRICOM, minggu lalu mengatakan kepada Senat AS secara tertulis bahwa pasukan AS akan membantu brigade-brigade itu lahir.”

Ward, sebelumnya kepala Stabilization Force (SFOR) NATO di Bosnia pada 1996, mengucapkan dalam kata-katanya sendiri, “AFRICOM akan menerima sokongan pengembangan infrastruktur komando dan kendali dan dukungan perwira penghubung. Itu akan terus menyediakan sumberdaya mentor militer untuk pelatihan penjagaan perdamaian, dan mengembangkan pendekatan baru untuk mendukung Uni Afrika dan African Standby Force.”[7]

Februari ini, website NATO merinci peranan blok militer Atlantik Utara tersebut dalam menyempurnakan upaya AFRICOM untuk membangun African Standby Force:

“NATO mulai memberikan dukungan untuk Misi Uni Afrika pada Mei 2005 berdasarkan permintaan dari Uni Afrika. Negara-negara NATO mendukung Misi Uni Afrika di Sudan (AMIS) dengan menyediakan sistem pengangkutan udara untuk 32.300 personil… NATO terus mendukung Misi Uni Afrika di Somalia (AMISOM) melalui penyediaan sistem pengangkutan laut dan udara yang strategis untuk AMISOM Troop Contributing Nations atas permintaan. Dukungan sistem pengangkutan udara terakhir diberikan bulan Juni 2008 saat NATO mengangkut batalion penjaga perdamaian asal Burundi ke Mogadishu. Joint Command Lisbon adalah petunjuk operasional perjanjian NATO/UA, dan memiliki Perwira Militer Penghubung Senior di Markas Pusat UA di Addis Ababa, Ethiopia. NATO juga mendukung gedung tampung staf melalui penyediaan tempat-tempat dalam kursus pelatihan NATO untuk staf UA yang mendukung AMISOM, dan dukungan untuk operasionalisasi African Standby Force – visi Uni Afrika untuk [membangun] aparat keamanan jaga di benua itu yang mirip dengan NATO Response Force.”[8]

NATO Response Force (NRF) menyelesaikan apa yang saat itu disebut sebagai validasi akhirnya dalam dua minggu, 7.000 pasukan militer Steadfast Jaguar berlatih di negara pulau Cape Verde pada 2006.

Afrika adalah tempat ujicoba untuk NRF dan NRF adalah model untuk African Standby Force:

“Sejak Juni 2007, NATO telah membantu Misi UA di Somalia (AMISOM) dengan menyediakan dukungan sistem pengangkutan udara untuk pasukan penjaga perdamaian UA. Dukungan ini disahkan sampai Februai 2009 dan Sekutu siap mempertimbangkan permintaan baru dari UA. NATO juga terus bekerjasama dengan AU dalam mengidentifikasi bidang-bidang selanjutnya di mana NATO bisa mendukung African Standby Force.”[9]

“NATO juga menyediakan, atas permintaan UA, kesempatan pelatihan dan gedung tampung demi kemampuan jangka panjang pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika, khususnya African Standby Force.”[10]

Sejak perjanjian Berlin Plus antara NATO dan Uni Eropa pada 2008, komponen militer kedua organisasi tersebut tak hanya saling meliputi dan melengkapi, tapi juga terintegrasi pada level lebih tinggi secara kualitatif untuk misi-misi luar negeri seperti yang di Afrika dan lepas pantainya.

Tiga tahun silam Jenderal Henri Bentegeat (Prancis), kala itu Kepala Komisi Militer Uni Afrika, bertemu dengan menteri-menteri pertahanan UE di Jerman, mengeluarkan komentar berikut: “Dorongan Uni Eropa untuk peran militer yang lebih kuat di kancah global meliputi peningkatan hubungan dengan PBB, NATO, dan Uni Afrika… Selain misi militer tahun lalu di Kongo dan bantuan logistik untuk pasukan Uni Afrika di Darfur,” kata Bentegeat, “UE ingin membantu program ambisius UA untuk membentuk angkatan cadangan untuk misi penjagaan perdamaian.”[11]

Bahkan sebelum AFRICOM dihidupkan sebagai komando militer terpisah pada musim gugur 2008, European Command AS menjalankan latihan militer multinasional skala besar di berbagai kawasan Afrika untuk melatih unit-unit untuk lima brigade regional yang akan membentuk African Standby Force terpadu.

Bermula tahun 2006, European Command AS (dan kemudian African Command) telah menjalankan latihan interoperabilitas komunikasi multinasional tahunan Africa Endeavor – seringkali di negara-negara di Teluk Guinea yang strategis – dengan partisipasi angkatan bersenjata Afrika, NATO, dan negara-negara Uni Eropa. Africa Endeavor 2007 diadakan di Ghana dan negara-negara yang ikut serta adalah AS, Aljazair, Angola, Belgia, Botswana, Burkina Faso, Burundi, Kamerun, Cape Verde, Chad, Gambia, Lesotho, Mali, Maroko, Namibia, Niger, Nigeria, Senegal, Afrika Selatan, Swedia, Uganda, dan Zambia. Latihan tersebut diselenggarakan bersama oleh European Command AS, Central Command AS, dan African Command AS yang baru lahir.

“AE (African Endeavor) memupuk kolaborasi yang lebih baik dalam Perang Global melawan Terorisme dan mendukung penyebaran pasukan penjaga perdamaian di Sudan dan Somalia. Lebih jauh, AE membantu membentuk jalinan komunikasi kritis untuk meningkatkan perkembangan African Standby Force dalam sistem komando, kendali, komunikasi, dan informasi (C3IS) dan memperkuat hubungan nasional, regional, kontinental, dan mitra…”[12]

Africa Endeavor 2008 diadakan di Nigeria dan mencakup personil militer dari 22 negara Afrika dan Eropa dan juga AS.

“Selama jalannya latihan, negara-negara dan organisasi peserta juga meneruskan upaya mereka untuk mengembangkan praktek dan prosedur standar untuk Uni Afrika dan African Standby Force-nya.”[13]

Pada 2005, AS meluncurkan latihan militer multinasional Flintlock rutin pertamanya untuk menginisiasi dan memperluas Trans-Sahara Counter-Terrorism Initiative (TSCTI), yang dibentuk di tahun yang sama, untuk melatih angkatan militer Aljazair, Chad, Mali, Mauritania, Niger, Senegal, Maroko, Nigeria, dan Tunisia. Sekutu-sekutu NATO Washington yakni Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, dan Spanyol juga terlibat dalam Trans-Sahara Counter-Terrorism Initiative.

Latihan tersebut diselenggarakan oleh Komando Operasi Khusus Eropa-nya AS. (Pada 2007, NATO mengumumkan bahwa Special Operations Coordination Center-nya akan bermarkas di barak Kelley di pangkalan AS di Stuttgart di mana markas pusat AFRICOM berlokasi.

Sebuah keterangan tentang operasi pembuka di tahun 2005 itu membocorkan bahwa “Pemerintah AS dikabarkan berencana membelanjakan $500 juta dalam lima tahun untuk menjadikan Gurun Sahara sebagai front baru yang luas dalam perangnya melawan terorisme… Dalam fase pertama program tersebut, dijuluki sebagai Operasi Flintlock, 700 personil Pasukan Khusus AS dan 2.100 prajurit dari sembilan negara Afrika Utara dan Barat berpartisipasi.”[14]

Operasi Flintlock 22 hari tahun 2010 ini, diluncurkan 2 Mei, mencakup 200 personil Pasukan Khusus AS dan 150 rekan [sesama Pasukan Khusus] dari Inggris, Belgia, Prancis, Belanda, dan Spanyol.

“Sasaran Flintlock 10 ini adalah mengembangkan interoperabilitas militer… Berpusat di Ouagadougou, Burkina Faso, tapi pelatihan taktik dijalankan di Senegal, Mali, Mauritania, dan Nigeria, Flintlok 10 akan dimulai 2 Mei dan berakhir 23 Mei 2010… Flintlock 10 mengandalkan keberhasilan dan pelajaran yang diperoleh dalam latihan-latihan Flintlock terdahulu, yang dilaksanakan untuk membangun dan mengembangkan hubungan regional dan sinkronisasi upaya di antara militer-militer kawasan Trans-Sahara. Latihan ini akan dilakukan dalam konteks Trans-Sahara Counter-Terrorism Partnership (TSCTP). Didukung oleh African Command AS (USAFRICOM) dan Special Operations Command (SOCAFRICA), latihan ini akan menyediakan kesempatan pelatihan militer…”[15]

Baru-baru ini AFRICOM mengumumkan bahwa Komando Operasi Khusus Afrika “akan mendapat kendali atas Joint Special Operations Task Force-Trans Sahara (JSOTF-TS) dan Special Operations and Control Element – Horn of Africa (SOCCE-HOA),”[16] untuk memusatkan kegiatan pasukan-pasukan khusus di Afrika.

Upaya-upaya untuk membentuk brigade African Standby Force di utara Afrika mengalami hambatan karena beberapa alasan. Mesir bukanlah anggota Maghreb Union dan juga tidak berada dalam wilayah tanggungjawab AFRICOM. Libya adalah salah satu penentang AFRICOM yang paling vokal. Terdapat sisa ketegangan antara Aljazair dan Maroko soal Sahara Barat, yang diakui oleh Aljazair sebagai negara merdeka. Tapi Aljazair, Mesir, Mauritania, Maroko, dan Tunisia semuanya merupakan anggota program kemitraan Mediterannean Dialogue NATO.

Rencana AFRICOM untuk kesatuan intervensi militer regional berkembang lebih menyenangkan di timur, barat, dan selatan. Pada Juni 2008, Economic Community of West African States (ECOWAS) menjalankan latihan militer, Jigui 2008, di Mali bersama lima negara anggotanya, dan “untuk pertama kalinya, latihan angkatan kawasan melibatkan Uni Afrika, Southern Africa Development Community (SADC), Standby High Readiness Brigade (SHIRBRIG) multinasional yang bermarkas di Denmark, dan Eastern African Standby Force (EASTBRIG) yang bermarkas di Ethiopia.

“Semua latihan itu didukung oleh pemerintah-pemerintah tuan rumah serta Prancis, Denmark, Kanada, Jerman, Belanda, Inggris, AS, dan Uni Eropa. Jigui 2008 konsisten dengan program-program pelatihan ECOWAS sebelumnya dan berada dalam kerangka kerja African Union Standby Force, yang berusaha untuk sudah memiliki satu pasukan pada 2010 di setiap Regional Economic Communities (REC) di Afrika. Target ECOWAS adalah membentuk Gugus Tugas 2.770 personil dari 6.500 prajurit angkatan kawasan yang akan tersedia di bawah kendali UA.”[17]

Setahun sebelumnya, Senegal mengadakan latihan militer dengan beberapa negara Afrika Barat lain – Burkina Faso, Gambia, Guinea Bissau, Republik Guinea (Conraky), dan Mali – untuk “mengujicoba kemampuan penyebaran (pasukan)” di mana pesawat, kendaraan, dan kapal militernya disediakan oleh Prancis “sebelum rencana pembentukan angkatan cadangan ECOWAS”.

Negara-negara peserta dilatih untuk “membentuk batalion barat pasukan intervensi 6.500 personil yang ingin ECOWAS dirikan pada 2010. Kepala angkatan darat negara-negara anggota ECOWAS sepakat pada Juni 2004 untuk membentuk pasukan permanen 6.500 personil, termasuk 1.500 personil unit reaksi cepat dan kuat untuk misi penyelesaian masalah.”[18]

Jigui 2009 diadakan di Burkina Faso dengan partisipasi Tentara AS di Afrika, komponen tentara AFRICOM yang berbasis di Vicenza, Italia.

Bulan lalu ECOWAS mengadakan pelatihan lapangan di Benin, Exercise Cohesion Benin 2010, yang “bertujuan mengevaluasi kesiapan operasional dan logistik Batalion Timur ESF, yang merupakan bagian dari persiapan menyeluruh untuk operasionalisasi African Standby Force pada Desember 2010.”[19]

Oktober tahun lalu, pers Kenya memberitakan keterlibatan Barat dalam membangun brigade African Standby Force di ujung timur Afrika:

“Perwira Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia akan membantu kawasan tersebut dalam proses pendirian angkatan militer terpadu untuk mengatasi konflik di benua itu. Setelah berfungsi, East African Standby Brigade (EASBRIG) akan disebar ke pusat-pusat kekacauan dalam 14 hari setelah chaos meletus, untuk mengembalikan ketertiban… Brigade tersebut akan memiliki pasukan dari 14 negara. Pakar dari negara-negara Eropa berpangkalan di markas pusat EASBRIG, di Defence Staff College di Karen, Nairobi. Wakil Kepala Staf Umum Julius Karangi mengatakan bahwa pakar-pakar asing akan membantu mempercepat proses pembentukan brigade cadangan itu.”[20]

EASBRIG terdiri dari pasukan dari Burundi, Comoros, Djibouti, Eritrea, Ethiopia, Kenya, Madagaskar, Mauritius, Rwanda, Seychelles, Somalia, Sudan, Tanzania, dan Uganda, dan melalui Mekanisme Koordinasi Eastern African Standby Brigade sedang mengarah ke penggabungan sayap timur African Standby Force.

East African Standby Brigade akan bermarkas pusat di Kenya, dan November lalu sebuah pelatihan lapangan diadakan untuk itu di Djibouti di mana terdapat pangkalan militer utama AS di Afrika dan terdapat pasukan terbanyak Prancis di luar negeri. Sumber berita Rwanda menuliskannya berbulan-bulan kemudian: “Latihan bersejarah itu mengerahkan kira-kira 1.500 pasukan, polisi, dan staf sipil dari 10 negara yang bekerja berdampingan untuk pertama kalinya.”[21]

Lokasi paling dekat untuk digunakan oleh East African Standby Brigade adalah Somalia, di mana negara-negara anggota yakni Ethiopia, Rwanda, Burundi, Uganda, dan Kenya sudah terlibat. EASBRIG juga akan tersedia untuk operasi-operasi di Sudan, Kongo, dan Republik Afrika Tengah serta Eritrea. Maret tahun lalu kepala AFRICOM Jenderal William Ward “menyebutkan tiga wilayah konflik terkini di benua tersebut, meliputi perselisihan perbatasan antara Eritrea dan Djibouti di Tanduk Afrika dan di Afrika Utara dengan Sahara Barat, dan bentrokan di Republik Demokratik Kongo.”

Berbicara tentang komando yang dikepalainya, Ward menambahkan, “AS sanggup memberi bantuan kepada Uganda, Rwanda, dan Kongo, dan hingga taraf agak kurang…kepada Republik Afrika Tengah.”[22]

Uni Eropa, yang sudah terlibat dalam operasi angkatan laut pertama dalam sejarahnya (European Union Naval Force di Somalia – Operasi Atlanta) di Tanduk Afrika, telah menyebar misi militer ke Uganda untuk melatih 2.000 pasukan Somalia untuk mempertahankan Pemerintahan Federal Transisional yang didukung Barat.

Africa Partnership Station – Kapal Perang AS Mempatroli Pantai Afrika

Dalam tahun-tahun terakhir Angkatan Laut AS di Eropa-Afrika telah mengembangkan Africa Partnership Station (APS) sebagai komponen angkatan laut AFRICOM. Pengerahan pertamanya adalah ke Guinea Khatulistiwa, Gabon, Senegal, Sao Tome and Principe, dan Togo, semuanya di Teluk Guinea kecuali Senegal yang terletak di utara teluk tersebut.

Pada tahun yang sama, 2007, Standing Maritime Group 1 NATO, dengan satu kapal perang masing-masing dari Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Portugal, dan AS, memulai pelayaran mengelilingi Afrika dan berhenti di Teluk Guinea dan berakhir dengan “latihan di Samudera India, lepas pantai Somalia…”[23]

Saat itu Laksamana Henry Ulrich, komandan Angkatan Laut AS di Eropa, mengatakan, “Konsep Global Fleet Station ‘terjalin erat’ dengan tugas yang diberikan oleh African Command AS yang masih sedang berkembang,”[24] dan kemudian mengumumkan keberangkatan USS Fort McHenry dan High Speed Vessel Swift untuk pengerahan selama delapan bulan ke Teluk Guinea pada November 2007 sebagai bagian dari program Global Fleet Station Angkatan Laut. Africa Partnership Station merupakan salah satu dari beberapa Global Fleet Station yang belakangan ini dibangun oleh AS, yang lainnya ditetapkan di Laut Karibia dan Oseania. “Menurut Angkatan Laut, sebagai kapal yang mendarat di dermaga, Fort McHenry dirancang untuk membantu personil AS memasuki ‘pantai musuh’.”[25]

Phil Greene, direktur Strategy and Policy Resources and Transformation untuk Angkatan Laut AS di Eropa, menambahkan bahwa USS Fort McHenry akan memiliki staf multinasional, “bermitra dengan negara-negara seperti Prancis, Inggris, Spanyol, Portugal, dan lainnya yang memiliki kepentingan meningkatkan keamanan maritim di kawasan itu.”[26]

Nyatanya USS Fort McHenry pertama-tama tiba di Spanyol “untuk memuat penumpang dari beberapa mitra Eropa – di antaranya Spanyol, Inggris, Portugal, dan Jerman – sebelum menuju Teluk Guinea,” di mana itu digabungkan dengan High Speed Vessel Swift untuk “mengangkut mahasiswa dan pelatih selama kunjungan ke Senegal, Liberia, Ghana, Kamerun, Gabon, dan Sao Tome and Principe.”[27]

Pada 2007, kapal-kapal perang AS mengunjungi Mozambik untuk pertama kalinya dalam 33 tahun dan Tanzania untuk pertama kalinya dalam 40 tahun.

Sebagai bagian dari kunjungan pelabuhan Africa Partnership Station tahun lalu, kapal rudal penghancur, Arleigh Burke, berkeliling ke Djibouti, Kenya, Mauritius, Tanzania, dan Afrika Selatan, dalam seminggu terakhir latihan gabungan dengan salah satu kapal perang AS tersebut.

Pada Februari 2009, “untuk pertama kalinya Angkatan Laut AS menempatkan kapal perang di setiap sisi benua Afrika sebagai bagian dari proses misi pengajaran Africa Partnership Station bersama negara-negara Afrika.”[28] Yakni, pergata (kapal pengawal angkatan laut—penj) di Mozambik, Kenya, dan Tanzania dan dermaga transport amfibi di Senegal.

Sebulan sebelumnya, pergata AS menjadi kapal perang Angkatan Laut pertama yang menjangkar di lepas kota utama Bata (Guinea Khatulistiwa) “sebagai bagian dari inisiatif Africa Partnership Station Angkatan Laut AS,” setelah kunjungan ke Cape Verde, Senegal, Benin, dan Sierra Leone dalam perjalanannya ke Tanzania dan Kenya.

Kuasa usaha AS di Guinea Khatulistiwa dikutip mengemukakan alasan kunjungan itu: “Ini merupakan produsen minyak dan gas terbesar ketiga di sub-Sahara Afrika, dengan jejak investasi asing signifikan…”[29]

Pengerahan pertama APS ke Teluk Guinea pada Oktober 2007 dan pembentangan A Cooperative Strategy for 21st Century Seapower yang secara kebetulan terjadi di tahun yang sama mengisyaratkan komitmen kuat Amerika untuk meningkatkan kemampuan kelautan AS… APS adalah pangkalan laut Global Fleet Station (GFS) yang dirancang untuk membantu komunitas maritim Teluk Guinea dalam mengembangkan tata-kelola maritim yang lebih baik… Global Fleet Station, yang terlahir dari kebutuhan akan pembentukan militer dan operasi stabilitas, terbukti merupakan konsep untuk misi ini di wilayah-wilayah seperti Teluk Guinea dan basin Karibia.”[30]

Saat ini AFRICOM sedang memimpin latihan maritim kontra pemberontakan bernama Phoenix Express 2010 di Laut Mediterania bersama Maroko dan Senegal di antara negara Afrika lainnya.

Bersamaan dengan Operasi Active Endeavor NATO selama hampir sembilan tahun di Mediterania yang mempatroli pantai utara Afrika dari Terusan Suez sampai Selat Gibraltar, Angkatan Laut AS kini rutin mengelilingi garis pantai Afrika dari pertemuan Mediterania dan Samudera India sampai ke Teluk Guinea kaya minyak yang strategis dan terus ke selatan menuju Cape Town, lalu ke utara lagi sepanjang pantai Samudera India menuju Laut Merah. Afrika dikepung oleh kapal perang AS dan NATO.

Pentagon Membangun Perwakilan Angkatan Darat Untuk Mengontrol Setiap Kawasan Afrika
Di daratan, Pentagon telah mentransformasi angkatan bersenjata Liberia, Rwanda, Uganda, dan Ethiopia menjadi perwakilan militer di kedua ujung benua itu. Sejak 2006, “inisiatif yang dipimpin Departemen Luar Negeri AS telah…sepenuhnya membangun kembali militer di Liberia,” menurut AFRICOM.[31]

Oktober lalu, komandan Angkatan Darat AS di Afrika, Mayor Jenderal William B. Garrett III, mengunjungi Rwanda (yang militernya adalah proksi AS dan Inggris) dan “menekankan bahwa tentara AS tertarik memperkuat kerjasamanya dengan Angkatan Pertahanan Rwanda (RDF)”. Garrett menegaskan bahwa AS siap mengirim lebih banyak penasehat dan pelatih untuk tentara Rwanda dan menambahkan, “Demikian pula, kami berharap Angkatan Pertahanan Rwanda juga dapat berpartisipasi dalam latihan kami. Jadi kami berharap meningkatkan kerjasama antara AS dan Angkatan Pertahanan Rwanda.”[32]

Di awal tahun, Jenderal AFRICOM, William Ward, juga mengunjungi Rwanda, di mana dia “bertemu para pemimpin pertahanan Rwanda dan menyaksikan pertunjukan kemampuan Angkatan Pertahanan Rwanda (RDF) dalam kunjungan dua hari, 20-21 April 2009.”[33]

Akhir tahun lalu, Ward mengunjungi Maroko, mitra militer AS selama beberapa dekade, di mana dia berkunjung dua kali pada tahun sebelumnya, dan “membahas kerjasama militer bilateral dan peluang untuk memperkuat kemitraan antara Angkatan Bersenjata Kerajaan dan Angkatan Darat AS.’

Baru-baru ini Marinir AS melatih pasukan Maroko di Spanyol sebelum latihan angkatan laut 12 negara di Laut Mediterania.

28 April ini Ward berkunjung ketiga kalinya ke Bostwana, “di mana dia membahas proses upaya keamanan regional dan potensi aktivitas antar militer dengan BDF (Angkatan Pertahanan Botswana) di masa mendatang… BDF dan militer AS melaksanakan 40 kegiatan bersama pada 2010.”

Keesokan harinya kepala AFRICOM melakukan kunjungan pertamanya ke Namibia di mana “dia bertemu para pejabat Angkatan Pertahanan Nasional untuk membahas potensi kerjasama di masa mendatang.”[34]

Pada 27 April, Brigadir Jenderal Silver Kayemba, kepala pelatihan dan operasi untuk Angkatan Pertahanan Rakyat Uganda (UPDF), mengunjungi Washington untuk bertemu Mayor Jenderal William B. Garrett III, komandan Tentara AS di Afrika.

Dalam kesempatan itu Jenderal Uganda tersebut dikutip mengatakan, “Kunjungan ini memperkuat hubungan kami dengan Angkatan Bersenjata AS, terutama Tentara AS di Afrika. Kami sedang menantikan kerjasama lebih erat lagi di masa mendatang.”[35]

Di bawah program Africa Partnership Station, 130 pasukan Security Cooperation Marine Air Ground Task Force sedang melatih angkatan-angkatan militer di Ghana, Liberia, dan Senegal. Komandan marinir yang bertugas, Letnan Kolonel John Golden, mengatakan, “Ini merupakan tahap awal [pasukan] kontra pemberontakan,” aspek dari “pelatihan antar militer di lingkungan sangat keras di wilayah di mana belum ada banyak militer AS dalam 235 tahun ini.”[36]

Sebuah laporan dalam Stars and Stripes pada 2 Mei menyingkap bahwa “Di sebuah pangkalan militer terpencil di kota hutan Kisangani, sebuah tim elit pasukan AS sedang berupaya melatih ulang batalion infantri Kongo.”

Tajuk tersebut menekankan segi kemanusiaan operasi sebagaimana kegiatan AFRICOM umumnya, tapi juga memuat petikan berikut:

“Ada motif ekonomi dan strategi dalam peningkatan keamanan di Kongo, yang kaya akan sumber daya alam seperti kobalt, komponen kunci dalam produksi ponsel dan barang elektronik lain. Negara tersebut menyimpan 80% cadangan kobalt dunia… Sebuah laporan National Defense Stockpile Center kepada Kongres pada April 2009 memperjelas bahwa pemastian akses ke pasar tambang di seluruh dunia merupakan kepentingan vital untuk keamanan nasional.”[37]

AS bukan menyeret hampir semua negara Afrika ke dalam jaringan militernya lantaran altruisme (sifat mementingkan orang lain—penj) atau cemas akan keamanan masyarakat benua itu. Fungsi AFRICOM adalah fungsi kekuatan militer predator: Ancaman dan penggunaan kekerasan bersenjata untuk memperoleh keuntungan ekonomi dan geopolitik.

Catatan Akhir:
[1] Departemen Pertahanan AS, 18 Maret 2009
[2] Agence France-Presse, 12 September 2007
[3] Ibid
[4] Defense News, 20 September 2007
[5] Xinhua News Agency, 28 Mei 2007
[6] www.africa-union.org/root/au/AUC/Departments/PSC/Asf/asf.htm#
[7] Stars and Stripes, 30 September 2007
[8] North Atlantic Treaty Organization, Supreme Headquarters Allied Powers Europe, 24 Februari 2010
[9] North Atlantic Treaty Organization, 11 Maret 2009
[10] North Atlantic Treaty Organization, 18 Februari 2010
[11] Deutsche Presse-Agentur, 28 Februari 2007
[12] European Command AS, 18 April 2007
[13] European Command AS, 29 Juli 2008
[14] United Press International, 28 Desember 2005
[15] African Command AS, 31 Maret 2010
[16] African Command AS, 30 April 2010
[17] Ghana News Agency, 23 Juni 2008
[18] Agence France-Presse, 29 November 2007
[19] Afrique en ligne, 19 April 2010
[20] The Nation, 29 October 2009
[21] The New Times, 4 Mei 2010
[22] Departemen Pertahanan AS, 18 Maret 2009
[23] Business Day (Nigeria), 25 Juli 2007
[24] Stars and Stripes, 14 Juni 2007
[25] Stars and Stripes, 16 Oktober 2007
[26] Stars and Stripes, 14 Juni 2007
[27] American Forces Press Service, 15 Oktober 2007
[28] Stars and Stripes, 1 Februari 2009
[29] Stars and Stripes, 20 Januari 2009
[30] Afrique en ligne, 13 April 2010
[31] African Command AS, 29 April 2010
[32] The New Times, 20 Oktober 2009
[33] African Command AS, 22 April 2009
[34] African Command AS, 1 Mei 2010
[35] African Command AS, 30 April 2010
[36] Marine Corps Times, 3 Mei 2010
[37] Stars and Stripes, 2 Mei 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s