Afghanistan – Patahan Geopolitik

Diolah oleh staf ISN
5 Desember 2011
Sumber: www.isn.ethz.ch

Jauh sebelum zaman penjajahan, sejarah Afghanistan telah ditetapkan secara geopolitik, mulanya sebagai zona penyangga (buffer zone) antara kekaisaran-kekaisaran yang saling memperolok, lalu sebagai titik benturan antara kekuatan-kekuatan global yang bersaing. Artikel ini memeriksa nasib geopolitik negeri tersebut di masa lalu, masa kini, dan barangkali masa depan.

Persia Raya dan Afghanistan di awal Great Game tahun 1814

Apakah Afghanistan bagian dari Timur Tengah, sebagaimana dinyatakan oleh sistem klasifikasi Digital Library kami, atau mestikah kita menaruhnya di Asia Selatan atau bahkan Asia Tengah? Well, menurut pakar Afghanistan, Kristian Berg Harpviken, direktur Peace Research Institute Oslo (PRIO), jawabannya “bukan ketiganya”. Sebagai salah satu patahan geopolitik nyata di dunia, wilayah yang dikenal sebagai Afghanistan ini secara historis berada di antara kawasan-kawasan tersebut. Namun status tak mengenakkan ini bukan berarti Afghanistan terisolasi dari mereka. Faktanya sebaliknya. Afghanistan telah (dan terus) menjadi “taman bermain” terbuka atau proksi bagi berbagai aktor luar, dekat maupun jauh.

Menjadi taman bermain tidaklah selalu buruk. Status Afghanistan sebagai zona penyangga yang banyak diganggu antara India di bawah Inggris dan Kekaisaran Rusia, sebagaimana dideskripsikan oleh ahli geografi Keith McLachlan, sebetulnya membantu memperkuat perasaan dirinya sebagai bangsa merdeka. Namun belakangan campur tangan asing, terutama sejak invasi Soviet tahun 1979, telah menimbulkan akibat yang lebih familiar – memburuknya ketegangan etnis dan budaya, merajalelanya panglima perang, penyelundupan narkoba, dan lain-lain. Bagaimanapun, yang kita saksikan di Afghanistan adalah patahan geopolitik klasik di mana saat ini sekurangnya delapan aktor eksternal berdesak-desakan berebut pengaruh dan kedudukan dalam Great Game versi abad 21. Sebagian dari rebutan ini terbuka, sebagaimana dalam kasus Pakistan, sebagiannya tidak, sebagaimana dalam kasus perang proksi antara Arab Saudi dan Iran. Pertempuran kecil yang terkadang mematikan ini tidak berarti bahwa bangsa Afghan adalah mainan takdir seperti boneka. Sebagaimana diuraikan oleh McLachlan dalam Afghanistan: The Geopolitics of a Buffer State, dan baru-baru ini oleh Harpviken dalam Afghanistan in a Neighbourhood Perspective, para pemimpin Afghan memang memiliki tingkat peluang bermacam-macam dalam keadaan sekarang. Terlepas dari beban sejarah geopolitik di wilayah ini, geografi bukanlah nasib menurut kenyataan demikian.

Negara Penyangga Klasik

Keith McLachlan mengingatkan bahwa Afghanistan dalam bentuknya yang sekarang muncul di abad 19. Pemerintahan Inggris maupun Rusia sepakat bahwa demi menghindari konfrontasi militer di wilayah tersebut, mereka memerlukan kedalaman strategi timbal-balik. Perbatasan katup pengaman geografis ini kemudian ditetapkan sepanjang Sungai Amu Darya di utara dan Garis Durand di selatan dan timur. (Garis ini, secara kebetulan, sudah memperoleh reputasi pantas sebagai contoh lain pembuatan peta lugu oleh para penjajah berpikiran geometris abad 19. Bahwa perbatasan ini terbukti hampir acuh-tak-acuh dengan distribusi suku dan etnis di wilayah tersebut, hal ini kini sudah melegenda.)

Terlepas dari garis-garis yang dibuat, yang mungkin bagamanapun juga tepat, Afghanistan terbukti merupakan penyangga ideal antara kekaisaran-kekaisaran yang sedang berekspansi. Terkurung dan terbagi oleh Hindu Kush (di arah timur-barat dan utara-selatan), ia juga memiliki jaringan transportasi belum berkembang yang oleh Inggris ataupun pemimpin Afghan tak ingin dikembangkan. (Inggris abai membangun jalan-jalan, demi mencegah Rusia bergerak mudah ke selatan, sementara para pemimpin Afghan sengaja berusaha menggunakan isolasi sebagai cara mempertahankan kemerdekaan mereka.) Pola ini berlanjut hingga Perang Dingin, meski Amerikan dan Soviet berupaya membangun rel kereta dan bentuk-bentuk infrastruktur lainnya. Sebagaimana dicatat McLachlan, “sistem transportasi yang dilemahkan berlangsung untuk tujuan politik dan juga ekonomi.”

Tapi apakah para pemimpin Afghan masa itu tak punya pilihan selain menerima peran penyangga geopolitik yang dikenakan pada mereka? Tak mengejutkan, ada perpecahan pendapat soal poin ini. Satu aliran pemikiran berargumen bahwa Afghanistan memang berada di di bawah kekuasaan dua kekaisaran yang hampir berbenturan, sementara pemikiran lain mengklaim bahwa para pemimpin Afghan sengaja memilih isolasi sebagai kebijakan yang paling melayani kepentingan masyarakat mereka. Faktanya, kedua argumen ini – tekanan domestik dan itikad domestik – tidak harus saling bertentangan. Tapi yang jelas, peran geopolitik Afghanistan sebagai zona penyangga sepertinya melayani kepentingan lokal dengan relatif baik, terutama bila dibandingkan dengan keadaan kemudian. Memang, dalam hal ini kalimat penutup McLachland sangat masuk akal untuk situasi hari ini: “Signifikansi strategis [Afghanistan] adalah sebagai zona negatif di mana kekuatan-kekuatan eksternal berintrik tapi merasa kesulitan menanam pengaruh. Dalam pengertian tersebut, Afghanistan mungkin kehilangan reputasi meragukan sebagai negara penyangga dalam konteks “great game” Inggris-Rusia, tapi kini mungkin terjebak dalam kondisi stagnasi di mana ia masih memisahkan masyarakat internasional ketimbang menyatukannya.” (hal. 94)

Penyekat yang Terjebak di Antara Konflik Regional

Pandangan McLachlan kontras dengan banyak kaum optimis kontemporer yang mencoba, dan tetap mencoba, memasukkan Afghanistan ke dalam skema kerjasama regional yang lebih luas. Skema ini meliputi 1) menjadikan Afghanistan sebagai “jembatan energi” antara Asia Tengah yang kaya energi dan Asia Selatan yang miskin energi, 2) membangun kembali peran historisnya sebagai pusat transportasi dan perdagangan regional, 3) secara politik menjalinkan nasibnya dengan Timur Tengah Raya, dan dengan demikian mengakhiri statusnya sebagai patahan geopolitik. Betapapun skema ini terdengar menggoda, Kristian Harpviken tidak memeluk visi sesama kaum optimis. Dia berargumen bahwa Afghanistan adalah “penyekat” sempurna yang terjebak di antara berbagai sistem negara di kawasan, masing-masing dengan dinamika kuatnya sendiri.” Untuk mendukung argumennya, McLachlan menerapkan pendekatan kompleks keamanan regional yang dikembangkan oleh Barry Buzan dan Ole Waever (lihat Regions and Powers: The Structure of International Security, 2003) untuk memahami dinamika ini di Asia Selatan, Teluk Persia, dan Asia Tengah.

Harpviken, sebaliknya, mengakui bahwa dengan diluncurkannya strategi dual Afghanistan-Pakistan oleh Presiden AS Obama pada 2009, kebanyakan pembuat kebijakan dan analis mengakui pentingnya mempertimbangkan konteks “pihak-pihak yang melangkah ganda di kawasan itu” dalam menangani Afghanistan. Sialnya, pendekatan regional ini belum membuahkan hasil substansial. Mengapa demikian? Well, Harpviken menduga para pembuat kebijakan belum memakai bentuk analisis yang tepat untuk menginformasikan strategi mereka. (Dalam konteks ini, PRIO telah memulai sebuah proyek riset empat bagian bernama Afghanistan in a Neighbourhood Perspective. Paper Harpviken menyediakan dasar dan akan ditambah oleh tiga studi kawasan lainnya yang dilukiskan pada peta berikut. South Asia and Afghanistan karya Shahrbanou Tadjbakhsh sudah dipublikasikan; dua paper sisanya mengenai kawasan Teluk Persia dan Asia Tengah segera terbit.)

Ketika mempertimbangkan dinamika keamanan regional di Asia Selatan, tulis Harpviken, jelas kawasan itu didominasi konflik India dan Pakistan. Argumen ini cukup familiar – Pakistan mencemaskan kepungan strategis oleh India jika pemerintahan Afghan terlalu condong pada New Delhi, sementara India khawatir Pakistan menggunakan Afghanistan sebagai area pentas dan “pintu belakang” strategis yang nyaman. Selain itu, ada beberapa isu besar lain yang belum terpecahkan, termasuk penggambaran perbatasan final dan integrasi final suku Pashtun. Dalam hal integrasi suku Pashtun, Islamabad sudah lama khawatir kehilangan teritori Pashtun, baik kepada Afghanistan ataupun negara Pashtun yang baru dan merdeka. Akibat dari persoalan ini, hubungan dengan bekas kelompok-kelompok Aliansi Utara terus dipertahankan oleh India, sebagaimana penetrasi ekonominya secara umum ke Afghanistan. Tap perlu dikatakan, pelanggaran batas ini menyulut permusuhan dan langkah tandingan dari Islamabad.

Adapun kawasan Teluk Persia, nasibnya dalam masa depan geopolitik wilayah tersebut kurang jelas. Sebelum Perang Irak 2003, keseimbangan dinamika kekuasaan lokal eksis antara Iran, Irak, dan Arab Saudi. Salah satu konsekuensi besar Perang Irak yang tak terantisipasi adalah bahwa keseimbangan sistem kekuasaan ini runtuh, meninggalkan persaingan sengit dan lumayan terbuka antara Arab Saudi untuk memperebutkan kepemimpinan di dunia Islam. Maknanya bagi Afghanistan adalah terjadinya perang proksi tingkat rendah di dalam perbatasannya. Sementara Arab Saudi memelihara hubungan erat dengan Pakistan dan karenanya juga mendukung Taliban, antipati Iran terhadap ketiga lawan ini sangat mendalam. Menariknya, dinamika di Afghanistan demikian tinggi, sampai-sampai AS dan Iran sebetulnya memiliki kepentingan strategis yang saling melengkapi, termasuk meminimalisir efek negatif perdagangan opium. Sialnya, bidang-bidang potensial untuk kerjasama ini dikalahkan oleh ketidaksukaan AS dan Barat pada program nuklir Iran.

Terakhir, ketika dibandingkan dengan kedua kawasan yang baru saja dibahas singkat, dinamika keamanan di Asia Tengah kemungkinan besar memiliki efek paling kurang mengganggu terhadap situasi di Afghanistan. Uzbekistan dan Kazakhstan adalah dua negara yang bercita-cita menjadi pemimpin regional, tulis Harpviken, tapi persaingan mereka kemungkinan besar bermain dalam hubungan mereka dengan Rusia dan China, dan tidak begitu besar dalam hubungan dengan Afghanistan. Meski begitu, Rusia, yang masih menganggap Asia Tengah sebagai bagian dari lingkup pengaruhnya, tetap waspada terhadap kehadiran AS bukan cuma di Afghanistan, tapi juga di bekas-bekas republiknya.

Tapi meningkatnya kehadiran China di Afghanistan berpotensi mengubah argumen Harpviken bahwa Afghanistan pada esensinya adalah “penyekat” terkurung di antara dinamika Asia Selatan dan Tengah. Untuk memenuhi tumbuhnya tuntutan akan sumberdaya alam, China terus berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur dan pengembangan Afghanistan. Pada 2007, contohnya, Jiangxi Copper Co. dan Metallurgical Corp dari China mengalahkan pesaing asal Rusia dan Amerika dalam mengamankan kontrak $3,5 miliar untuk mengembangkan tambang tembaga Anyak. Perusahaan-perusahaan China juga berpartisipasi dalam konstruksi proyek irigas Parwan, serta pembangunan rel dan jalan di seluruh penjuru Afghanistan. Proyek-proyek demikian telah melahirkan spekulasi bahwa China sedang berupaya membangkitkan Jalur Sutra kuno. Kunci pembangunan kembali rute dagang ini adalah zona ekonomi khusus di Koridor Wakhan, yang menghubungkan Afghanistan dengan provinsi Xinjiang China.

China juga berharap pembangunan kembali Koridor Wakhan akan memperkuat keterhubungan antara Pakistan, Afghanistan, Republik-republik Asia Tengah, dan Teluk Persia. Satu proyek menonjol yang saat ini dipertimbangkan adalah konstruksi rel kereta dari Xinjiang melintasi Tajikistan dan Afghanistan sebelum berakhir di pelabuhan Gwadar Pakistan. Investasi Beijing senilai $1,6 miliar dalam pengembangan Pelabuhan Gwadar berpotensi memungkinkan China mengangkut energi dari Timur Tengah menyeberangi Asia Selatan dan Tengah. Pada waktunya, pelabuhan itu bisa pula memungkinkan China memproyeksikan kekuatan militer untuk melindungi pasokan energinya.

Pada Mei 2011, Menteri Pertahanan Pakistan mengumumkan bahwa Islamabad telah meminta agar China juga membangun pangkalan AL di Gawadar. Sambil secara pura-pura difungsikan untuk AL Pakistan, lokasinya memungkinkan People’s Liberation Army Navy (PLAN) memperluas kehadirannya di Samudera India dan lebih. Pangkalan AL China di Gwadar tak diragukan akan menggusarkan New Delhi karena rival geopolitik tradisional telah mengizinkan pihak lain meningkatkan kehadiran militernya begitu dekat dengan garis pantai barat India. Respon India bisa menjurus pada mengintensifkan upaya meningkatkan kekuatan AL, mengakibatkan ketegangan geopolitik mirip dengan yang berkembang di kawasan Asia Pasifik.

Seandainya ini terjadi, Afghanistan bisa melebihi status historisnya sebagai negara “penyangga” geopolitik yang terkurung dan menjadi bagian dari dinamika keamanan regional yang sama sekali berbeda. Sebagai bagian integral dari jaringan energi China, Afghanistan akan terjalin erat dengan konsekuensi geopolitik penempatan PLAN di Gwadar. Sebagai respon, India juga mungkin akan mengintensifkan upayanya memperluas kerjasama politik dan ekonomi dengan Afghanistan. Konsekuensinya, Afghanistan akan menjadi lokasi “great game” China-India yang kentara.

Isolasi Ketimbang Integrasi

Setelah secara luas memeriksa ketiga kompleks keamanan geopolitik yang berbatasan dengan Afghanistan, kesimpulan pendahuluan seperti apa yang bisa ditarik dari analisis kita?

Pertama, tren nyata untuk diawasi, setidaknya menurut Harpviken, adalah tumbuhnya aliansi lintas-kawasan antara Iran, India, dan Rusia; aliansi ini dicurahkan untuk menghadang Taliban, tapi tak harus mendukung inisiatif Barat.

Kedua, diskursus keamanan seputar Asia Selatan, Teluk Persia, serta Asia Tengah tetap terpecah. Ada orang-orang yang beragumen bahwa itu terlalu negara-sentris dan tradisional, tapi karena keberlangsungan rezim tetap merupakan fitur inti wilayah-wilayah ini, ada orang-orang lain yang berargumen – dengan lumayan valid – bahwa pendekatan semacam itu masih cocok.

Ketiga, hubungan keamanan di ketiga kawasan tetap amat stabil, artinya permusuhan dan loyalitas kawasan terus berlangsung. Ini menandakan, setidaknya bagi para analis semisal Harpviken, bahwa pengaruh kekuatan-kekuatan luar terhadap politik di kawasan tersebut sebetulnya agak terbatas. “Bagi negara-negara di kawasan tersebut, respon nyata adalah menunggu negara pengintervensi keluar [dari wilayah mereka],” tulis Harpviken, yang memperkuat poin serupa dari McLachlan bahwa wilayah itu adalah “zona geopolitik negatif di mana negara-negara eksternal berintrik tapi merasa kesulitan menanam pengaruh.”

Terakhir, mengingat dinamika keamanan regional di Asia Selatan, Teluk Persia, dan Asia Tengah berpengaruh di Afghanistan tanpa menghiraukan keinginan atau masukan dari Kabul, tidak mungkinkah para pemimpin Afghan memperoleh jaminan unilateral non-agresi? Ini akan menjauhkan Afghanistan dari konflik-konflik kawasan, kurang-lebih demikian argumen Harpviken, dan pada waktu bersamaan mengurangi kekhawatiran tetangganya akan militerisasi Afghan. Logikanya, atau kira-kira begitu, dinamika keamanan di kawasan-kawasan bertetangga terlampau kompleks dan kontradiktif untuk masuknya Afghanistan secara efektif dalam forum regional atau jaringan keamanan. Implikasinya, mungkin cara terbaik menggapai masa depan geopolitik Afghanistan adalah dengan menjadi negara penyangga lagi. Kebijakan demikian, jika didukung oleh semua tetangganya, akan menguntungkan kebutuhan keamanan Afghanistan serta aktor-aktor berkepentingan di kawasan-kawasan bertetangga.

Bacaan yang Direkomendasikan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s