Oleh: James Fishelson
12 Desember 2007
Sumber: www.sras.org

Kazakhstan mendapat banyak sorotan pers baru-baru ini berkat kesuksesan film lawak Borat. Namun, film itu sangat keliru dalam melukiskan Kazakhstan, kecuali untuk dua hal. Pertama, negeri tersebut sedang dalam konflik regional dengan Uzbekistan. Kedua, menjamurnya pelacur, di segala penjuru Kazakhstan. Negeri itu telah menjadi tujuan imigran yang menjalankan profesi tersebut; para wanita, gadis, dan bahkan beberapa pria membanjir masuk dari negara-negara tetangga dan jauh.[1] Sejak 1979, penemuan ladang Tengiz, sumber minyak besar di bawah Laut Kaspia Utara [2], dan terutama setelah eksploitasi total ladang tersebut dan lainnya selama era pasca Soviet, perekonomian Kazakhstan mengalami booming dan warganya, dalam kegilaan kapitalisme, membelanjakan pemasukan uang secara royal.

Di tempat lain di Asia Tengah, Turkmenistan, sebuah negara relatif kecil dan terisolasi, sebagian besar telah diabaikan oleh media Amerika tapi memiliki cadangan gas alam yang diyakini terbesar keempat di dunia.[3] Mempertimbangkan kekerasan saat ini di Timur Tengah dan naiknya biaya energi, kita mesti mulai memberi semacam perhatian serius pada produksi minyak dan gas Asia Tengah sebagaimana kita berikan pada film Borat.

Sifat Internasional Energi

Kazakhstan dan Turkmenistan adalah dua bangsa yang terkurung. Mereka tak memiliki kendali penuh atas pemanfaatan sumberdaya alam mereka, sebab dipaksa mengirimkan minyak dan gas mereka via pipa yang melintasi negara-negara lain untuk mencapai pasar global. Siapapun yang mengendalikan pipa itu sama dengan mengendalikan energi yang ditampungnya, yang sangat vital bagi perekonomian dan bahkan kekuatan militer suatu negara, sebab militer modern, dengan pesawat, kendaraan lapis baja, dan kapal bertenaga gas mengandalkan minyak. Perebutan kendali atas pipa-pipa ini kini sedang berkecamuk, hening tapi pasti, di antara banyak negara mencakup Rusia, China, Iran, dan AS.[4]

Minyak dan gas Asia Tengah secara historis mengalir lewat pipa Rusia. Tentu saja, dengan mempertahankan susunan ini Rusia juga akan menerima bea transit lumayan besar serta memperoleh lebih banyak minyak dan gas untuk mengamankan pengaruh luas dalam politik internasional. China mengajukan membangun pipa sepanjang sekitar 3000 km dari ladang-ladang minyak Kaspia melintasi Kazakhstan lalu ke China untuk memasok perekonomiannya yang sedang tumbuh. Iran akan memompa minyak dan gas ke selatan, ke jaringannya yang sudah ada, yang akan mendorong upayanya untuk mendapatkan kedudukan sebagai pemimpin regional di Timur Tengah. AS, yang berupaya mempertahankan kedudukannya sebagai adidaya tunggal dunia, tapi tak memiliki akses geografis langsung ke kawasan tersebut, ingin minyak dan gas mencapai pasar terbuka tanpa jatuh ke tangan Rusia, China, atau Iran. Sisa paper ini akan memeriksa “strategi akbar”—atau kebijakan luar negeri menyeluruh—Rusia, China, AS, dan Iran berkenaan dengan energi Asia Tengah. Analisis historis kebijakan ini serta analisis kritis jalur pipa dan strateginya juga akan disertakan.

Latar Belakang Historis

Karena banyak perebutan geopolitik mutakhir atas kawasan tersebut diwarnai oleh masa lalu, kita perlu menyertakan sebagian sejarah politiknya. Semua republik di Asia Tengah, termasuk Turkmenistan dan Kazakhstan, adalah buatan Uni Soviet.[5] Wilayah yang kini berupa Kazakhstan diambil-alih oleh Rusia secara bertahap, tapi pada awal abad 19 berada di bawah kekuasaan Tsar sepenuhnya. Turkmenistan modern dulu disedot sepenuhnya oleh Tsar di abad yang sama. Sebelum ini, kedua negara terdiri dari rangkaian ke-khan-an dan penguasa lokal. Nomaden secara historis, industri dan pertanian skala besar diperkenalkan di bawah Uni Soviet, tapi tidak mencukupi. Semua jalan dan rel dibangun ke utara, memasuki Rusia, dan hampir mustahil melakukan perjalanan antara provinsi Kazahkstan Timur dan Barat tanpa berhenti di Moskow.

Sebagian akibat ketergantungan pada Rusia ini, perekonomian negara-negara Asia Tengah berhenti tumbuh begitu perbatasan ditutup setelah mereka memperoleh kemerdekaan pada 1991.[6] Memperoleh kemerdekaan sejati terbukti merupakan masalah sulit bagi Kazakhstan, yang berbagi perbatasan tanah yang luas dengan Rusia dan, saat itu, dihuni oleh mayoritas Rusia; baru belakangan bangsa Kazakh menjadi mayoritas di negaranya sendiri.[7] Bahkan pernah ada pembicaraan di Rusia untuk menganeksasi Kazakhstan utara, walaupun aspirasi ini dilumatkan secara efektif ketika Presiden Kazakhstan Nursultan Nazerbayev memindahkan ibukota dari Almaty di baratdaya ke kota stepa kecil Astana di utara. Namun, akibat pertalian ekonomi yang masih erat (Rusia merupakan mitra dagang terbesarnya) [8], terbukti amat sulit bagi Kazakhstan untuk menjauhkan diri dari Rusia.

Adapun soal perkembangan demokrasi di kawasan itu, istilah [demokrasi] tidaklah cocok digunakan. Sang Turkmenbashi Agung [9] dan Presiden, Saparmurat Niyazov, memerintah Turkmenistan sejak memperoleh kemerdekaan pada 1991 sampai kematiannya, Desember 2006. Caranya memuja diri sendiri sungguh ganjil; Turkmenbashi mendirikan sebuah patung lapis emas dirinya setinggi 12 m yang berputar agar selalu menghadap matahari.[10] Seperti Niyazov, Nazerbayev di Kazakhstan adalah pemimpin negaranya saat keruntuhan Uni Soviet dan mempertahankan kekuasaan setelah kemerdekaan. Nazerbayev jauh dari sosok penguasa demokratis, dia mempertahankan kendali atas pers, hakim, kongres, dan seluruh sistem politik. Namun, kebebasan relatif yang dia berikan kepada warganya, dan fakta bahwa dia memimpin kemunculan Kazakhstan sebagai pusat ekonomi regional, dan keberhasilannya mencegah perselisihan etnis antara penduduk keturunan Rusia dan Kazakh, menjadikannya seorang santo dibandingkan penguasa Asia Tengah lain.

Logistik Minyak Kaspia

Seraya terisolasi di kawasan itu, mengagetkan sekali bahwa begitu sedikit perhatian yang diberikan pada cadangan alam Kazakh dan Turkmen, padahal jumlahnya betul-betul mencengangkan. Kazakhstan memiliki estimasi cadangan minyak 79,6 miliar barel (bbl) dan gas alam 3 triliun m3 (trm); sebagai perbandingan, Arab Saudi memiliki cadangan minyak 264,3 bbl.[11] Turkmenistan memiliki cadangan minyak agak sedikit yakni 500 juta barel (mbl) tapi estimasi cadangan gasnya sebanyak 2,9 trm.[12] Lebih jauh, karena eksplorasi penuh dan terbuka di dasar laut Kaspia Turkmenistan belum dilakukan, kita bisa berasumsi bahwa cadangan gas aktual Turkmenistan hampir pasti jauh lebih besar; Economist Intelligence Unit telah mengestimasi cadangannya sebanyak 10 trm, sedangkan pemerintah Turkmen mengklaimnya lebih dari 13 trm [13], yang akan menempatkan negara itu di jajaran empat negara teratas pemilik cadangan gas alam.[14]

Jaringan kecil pipa yang dibangun oleh Soviet sudah lama menyalurkan minyak dan gas Asia Tengah ke Moskow. Namun, jaringan ini sama sekali belum memadai untuk menyalurkan cadangan besar yang ada tersebut. Sejumlah pipa telah dibangun menyusul runtuhnya Uni Soviet: Kaspian Pipeline Consortium Pipeline dari ladang minyak Tengiz ke pelabuhan Novorossiysk Rusia di Laut Hitam; pipa gas Korpezhe-Kurt Kui dari ladang Turkmen ke Iran; dan pipa Kazakhstan-China dari Atasu ke Alataw di China.

Ada dua masalah utama terkait pengangkutan: geografi dan hubungan internasional. Dari sudut logistik murni, tak ada rute mudah bagi minyak dan gas Asia Tengah untuk menjangkau jalur pengapalan laut dan pasar utama semisal Eropa. Untuk menuju barat secara langsung diperlukan penyusuran Laut Kaspia, yang akibatnya menambah panjang pipa, atau pembangunan pipa bawah laut, yang akibatnya menambah biaya pipa. Di timur ada Samudera Pasifik, tapi 6400 mil pipa yang diperlukan untuk mencapainya akan menghambat rencana konstruksi. Untuk menuju tenggara ke arah Samudera India perlu melintasi pegunungan Afghanistan, negeri yang dikoyak perang.

Perbatasan dan politik yang dilambangkan [oleh jaringan pipa ini] menimbulkan masalah yang lebih serius lagi. Setiap negara yang dilalui pipa bisa menuntut bea transit dan bisa, secara teoritis, menutup aliran dengan suatu alasan – dari politik hingga ekonomi. Agar pipa lintas perbatasan bisa dibangun, harus ada penandatanganan pakta dan perjanjian dan pencapaian perjanjian finansial, seringkali dengan banyak negara yang bersaing. Penandatanganan perjanjian semacam itu sangat politis; inilah alasannya, contoh, Kazakhstan khawatir mengirim minyaknya lewat Iran karena dapat membuat AS marah. Yang semakin memperumit persoalan, pipa cenderung dibangun oleh konsorsium pemerintahan dan perusahaan minyak, dan keinginan pemerintahan tidak selalu sejalan dengan perusahaan swasta.

Isu terkait lainnya adalah kontroversi soal hak atas Kaspia dan dasar lautnya, sebagian besar mengarah pada apakah Kaspia mesti digolongkan sebagai danau ataukah laut di bawah Konvensi Hukum Laut PBB (1982). Sebagai danau, setiap negara pesisir berhak atas zona eksklusif sejauh beberapa mil dari  pesisirnya, tapi bagian tengah Kaspia adalah zona bersama bagi semua negara pesisir. Namun, jika dinyatakan sebagai laut, seluruh Kaspia dibagi menurut panjang garis pantai masing-masing negara.[15] Rusia dan Iran menganggapnya sebagai danau, sedangkan Azerbaijan, Turkmenistan, dan Kazakhstan memilih klasifikasi laut. Di bawah konvensi saat ini, Kaspia bisa dinilai sebagai kedua-duanya.[16]

Isu ini semakin diperumit oleh Pakta Persahabatan tahun 1921 antara Persia (kini Iran) dan Uni Soviet. Pakta itu membagi Kaspia di antara kedua negara dan menyatakan tak boleh ada perubahan penetapan hasil pakta ini tanpa persetujuan semua negara pesisir. Sementara Rusia dan Iran menganggap pakta ini sah, Azerbaijan, Kazakhstan, dan Turkmenistan, yang bukan termasuk penandatangan, tidak merasa terikat olehnya.[17]

Walaupun isu kepemilikan Kaspia masih belum pasti, eksplorasi dan pengeboran minyak dan gas terus berlanjut dengan bebas. Klaim Rusia dan Iran yang berakar dari pakta itu kian melemah seiring berlalunya tahun demi tahun, meski isu ini masih jauh dari terselesaikan. Pada Juli 2001, Iran mengerahkan kapal perang dan dua jet tempur untuk menghentikan kapal riset Azeri yang mengeksplorasi ladang minyak dekat bagian tengah Kaspia, tapi jauh di dalam wilayah yang menurut Azerbaijan adalah perairannya.[18] Meskipun Rusia sepakat dengan Iran dalam isu kepemilikan Kaspia, ia belum mengambil langkah sedrastis itu. Juga, terlepas dari adanya Pakta Persahabatan itu, Rusia terbukti mau membuat kesepakatan bilateral dengan negara-negara lain, misalnya ketika pada 2005 ia menandatangani perjanjian berbagi produksi dengan Kazakhstan atas ladang minyak lepas pantai Kurmangazy negara tersebut, terletak di utara wilayah yang disepakati bersama sebagai sektor Kaspia milik Kazakhstan.[19]

Rencana China

Pada 27 Oktober 2005, China melakukan perampasan besar pertamanya ke dalam industri minyak Asia Tengah ketika Chinese National Petroleum Company (CNPC) milik negara membeli PetroKazakhstan Inc. (pemilik ladang Kumkol) yang bermarkas di Kanada, sebuah langkah yang dipuji di China sebagai kemenangan besar atas raksasa swasta Rusia, Lukoil.[20] Penjualan itu sedikit mengagetkan beberapa pakar, sebab China membayar jauh di atas harga pasar dan terpaksa menjual kembali sepertiga sahamnya di perusahaan minyak negara Kazakhstan, KazMunaiGaz, kepada pemerintah Kazakhstan sebagai bagian dari kesepakatan itu.[21] Keterkejutan atas kesepakatan yang terasa berat sebelah ini diredakan oleh [fakta] haus dan laparnya China akan minyak, akibat ledakan ekonomi China serta cadangan domestik yang terbukti relatif kecil; China sudah menjadi importir minyak terbesar kedua dan diprediksi ia akan mengambil posisi teratas pengimpor minyak saat ini dari AS pada 2030.[22]

China sebagian mengandalkan impor minyak Timur Tengah; pembelian di Asia Tengah memberinya sumber minyak yang setidaknya sebagian ia kuasai, terletak di kawasan yang lebih stabil secara politik, dan bisa diimpor langsung lewat darat dari negara bersahabat. Ini akan menghindarkannya dari kekurangan minyak akibat perang atau kemungkinan embargo paksaan Barat di Timur Tengah atau terhadap China sendiri, yang bisa terjadi gara-gara isu kemerdekaan Taiwan.

Sampai sekarang China belum menunjukkan kepentingan politik di Asia Tengah; setelah Kangxi mengambilalih wilayah yang kini merupakan provinsi Uighur Xinjiang di barat pada akhir abad 17, penyuapan para panglima perang/khan Uzbek selama abad 18 adalah aktivitas besar terakhir China di sana.[23] Namun, peningkatan bantuan China belakangan ini kepada negara-negara Asia Tengah, serta kegembiraannya merayakan kemenangan atas Lukoil dan, secara simbolis, atas Rusia, mengindikasikan bahwa China setidaknya ingin Asia Tengah berada dalam lingkup pengaruhnya secara nama. Sebelum dokumen-dokumen internal pemerintah China dideklasifikasikan, mustahil kita dapat menentukan tingkat hasrat yang barangkali imperialistis ini, tapi hasrat ini harus dianggap sebagai setidaknya faktor pendorong China oleh negara manapun yang juga berkepentingan di kawasan itu.

Pembelian PetroKazakhstan hanyalah bagian kecil dari rencana menyeluruh China untuk mengakses minyak Asia Tengah. Pada 1997, China dan Kazakhstan menandatangani sebuah pakta untuk membentuk Sino-Kazakh Oil Pipeline Co. Ltd., sebuah usaha gabungan antara CNPC dan KazMunaiGas yang memiliki, sebagaimana sasarannya, jalur pipa dari Laut Kaspia ke Xinjiang.[24] Dengan dana awal $700 juta, 962 km seksi pipa, yang membentang dari Atasu ke Alataw, pertama kali memulai pemompaan minyak pada 2005 dari ladang Kumkol di kawasan Aktobe, menjadikannya jalur pipa pertama yang memompa minyak mentah langsung ke China.[25] Kapasitasnya 20 juta ton/tahun [26], yakni 15% dari total impor minyak mentah China tahun 2005, tapi sekarang hanya menyalurkan setengahnya dari jumlah itu.[27] Begitu mencapai Alataw, minyak mentah diangkut lewat jaringan pipa China sejauh 246 km ke sebuah kilang di Dushanzi di Karamay; kilang ini, ketika nanti beroperasi penuh pada 2008, akan menjadi kilang terbesar di China. Saat tahap akhir pembangunan pipa selesai pada 2011, pipa minyak Kazakhstan-China (KCP) akan membentang sepanjang sekitar 3000 km melintasi Kazakhstan menuju ladang-ladang Kaspia.[28] Sebagaimana jalur pipa pada umumnya, stasiun pemompa tambahan dapat ditambahkan belakangan untuk meningkatkan kapasitas. KCP juga dirancang untuk mengangkut minyak mentah Rusia, tapi Rusia menolak besaran bea transitnya.[29]

Peta 1: Pipa Kazakhstan-China (KCP)

KCP menguntungkan Kazahkstan dan China. Berbeda dengan semua rute pipa yang ada atau diusulkan untuk minyak Asia Tengah, KCP menyediakan rute pengangkutan langsung. Tak perlu ada bea transit, dan tak ada negara yang bisa menyandera minyak Kazakhstan dengan menaikkan bea seenaknya atau menutup pipa. Sebagai tambahan, sebagaimana bisa dilihat dari pembelian PetroKazakhstan, China menunjukkan kesediaan membayar di atas rata-rata untuk cadangan alam dan, kecuali terjadi kekolapsan total ekonomi China, permintaannya akan minyak semestinya takkan berkurang ke depan nantii, jadi Kazakhstan dijamin mempunyai pembeli. Kecil pula kemungkinannya bahwa pemerintah China yang cukup buram akan banyak mempedulikan korupsi mitra Kazakh-nya, selama minyak diantarkan tepat waktu dan dengan harga yang disepakati. Karena pipa sudah hampir dikonstruksi dan hanya ada dua pengembang, kecil kemungkinannya pipa itu takkan dirampungkan atau mengalami kesulitan sebagai sarana pengangkut handal.

Namun, ada pula hal merugikan. Meskipun daerahnya cukup datar, 3000 km merupakan jarak cukup panjang untuk memasang pipa. Biaya tambahan transit akibat jarak yang panjang ini mengimbangi bea transit rute-rute pendek untuk minyak Kaspia. Sebagai tambahan, dingin ekstrim di stepa Kazakh selama musim dingin mengandung arti bahwa dengan kualitas minyak relatif rendah, yang memiliki kandungan parafin tinggi (dan karenanya kekentalan rendah), minyak pada pipa dapat berhenti mengalir total jika stasiun pemompa berhenti sementara, sebagaimana terjadi pada musim dingin 2005-2006.[30] Jarak panjang dan cuaca berat meningkatkan biaya pemeliharaan dan perbaikan pipa. Juga, KCP terbatas hanya untuk minyak. China memiliki cadangan gas tergolong lebih besar daripada minyak, dan ia sudah menerima pasokan gas tetap dari ladang-ladang Rusia. Meski sudah ada studi kelayakan untuk pembangunan pipa gas Kazakhstan-China, estimasi label harga $4 miliar sejauh ini terbukti menjadi penghalang.[31] Oleh sebab itu, harus ditemukan rute lain untuk gas Kazakhstan.

Lebih jauh, fakta bahwa pipa itu semata-mata dikuasai oleh perusahaan Kazakh dan China tidak berarti bahwa Kazakhstan dan China akan memiliki kendali penuh atas minyak yang akan dikirimnya. Begitu pipa rampung, mayoritas minyak akan berasal dari ladang-ladang Kaspia, dan eksplorasi dan penggalian minyak bawah laut menuntut teknologi yang jauh lebih canggih dibanding yang dimiliki China dan Kazakhstan saat ini. Ini terutama berlaku untuk ladang raksasa Kazahagan, ladang bertekanan tinggi dengan jumlah hidrogen sulfida amat banyak.[32] Lebih jauh, ladang itu berlokasi di utara Laut Kaspia yang dangkal yang membeku di musim dingin.[33] Konsorsium Kashagan, dikenal sebagai Agip KCO, dipimpin oleh perusahaan Italia ENI, yang mungkin bersedia tunduk pada tekanan barat dan berupaya mencegah minyak yang dipompanya mencapai pasar China sekiranya terjadi embargo.

Sebagai tambahan, mayoritas ladang-ladang Kaspia lainnya, yang kemungkinan besar memasok minoritas oil yang hendak dikirim, dikuasai oleh TengizChevroil, sebuah usaha gabungan antara pemerintah Kazakhstan dan Chevron [34], yang mungkin lebih memilih mengirim minyaknya lewat rute-rute yang disponsori Amerika atau lewat Kaspian Pipeline Consortium (CPC), di mana TengizChevroil adalah pemegang sahamnya.

Lebih jauh, Kazakhstan hanya dapat menjual minyak yang dipompa sepanjang KCP kepada China. Sebelumnya telah diangkat ide-ide untuk mengkonstruksi pipa yang akan melintasi China menuju Samudera Pasifik [35], tapi biaya, serta keengganan wajar China untuk memindahkan minyak ke pasar terbuka, telah menghentikan rencana ini.  Untuk saat ini, fakta bahwa hanya ada pembeli tunggal bukanlah isu utama, tapi berbahaya sekali memiliki kewajiban kepada sebuah negara asing dalam [memperoleh] sebagian besar pendapatan nasionalnya. Kazakhstan sudah memperlihatkan keengganan menyerahkan terlalu banyak kendali atas cadangan minyaknya kepada China, sebagaimana terlihat dari kekukuhannya membeli kembali sepertiga KazMunaiGas dari China sebagai bagian dari kesepakatan PetroKazakhstan.

Kesimpulannya, karena pipa ini hampir rampung, dan tak ada kekuatan pihak ketiga yang dapat menghalangi konstruksinya, tak ada yang dapat mencegah penyelesaian jalur pipa pada sekitar tahun 2011 kecuali penundaan konstruksi, walaupun ada kemungkinan beberapa kesulitan dalam menandatangani perjanjian untuk membeli minyak Kaspia. Seiring meningkatnya kebutuhan China, kapasitas pipa ini mungkin akan ditingkatkan juga, tapi terlalu dini untuk memprediksi secara handal apakah dan kapankah ini bisa terjadi. Dari sudut politik, KCP mempererat kedua negara dan membuka kemungkinan perjanjian dagang lebih jauh. Bisa dipastikan pipa itu akan dialiri minyak, kecuali jika ada seruan embargo. Namun, fakta bahwa China mungkin tidak bisa membeli minyak langsung dari Kazakhstan menimbulkan kemungkinan lebih tingginya harga dan menghilangkan sebagian otonomi yang merupakan keuntungan utama jalur pipa langsung. Kazakhstan bisa saja mematikan pompa jika hubungan antara kedua pemerintahan memburuk, tapi kecil kemungkinannya Kazakhstan akan mengambil langkah drastis mematikan aliran pendapatan sebesar itu.

Rute Rusia

Petropolitik selama setengah abad terakhir cenderung cukup terang-terangan. Negara-negara seperti Venezuela dan Arab Saudi membelanjakan pendapatan minyaknya yang besar secara boros untuk memajukan sasarannya di pentas internasional. Contoh, Venezuela mensponsori inisiatif penanggulangan kemiskinan di negara-negara Amerika Latin lainnya, sedangkan Arab Saudi besar-besaran mendanai Mujahidin pemberontak Afghan melawan Soviet selama Perang Dingin, membayarkan senjata dalam jumlah besar yang dipasok CIA.[36] Namun selama beberapa tahun belakangan, Rusia berusaha memperluas petropolitik ke luar buku cek, dan telah mulai menggunakan pengaruh dengan minyak dan gas itu sendiri, menaikkan dan menurunkan harga sebagai sarana pengaruh politik. Ketika Ukraina yang baru mengalami reformasi mendekat ke Uni Eropa dan NATO pada 2004, Rusia merespon dengan [menaikkan] harga gas sangat tinggi.[37] Ketika Ukraina menentang kenaikan berikutnya pada 2005, Rusia menutup jalur pipa sejak 1 Januari sampai 4 Januari 2006.[38]

Rusia memasok 90% gas Eropa Barat dan mayoritas minyaknya.[39] Sementara gas dan minyak saat ini harus mengalir lewat Eropa Timur untuk mencapai Barat, Rusia sedang mengkonstruksi Nord Stream, sebuah jalur pipa gas yang akan membentang dari Vyborg (dekat St. Petersburg) ke bawah Laut Baltik menuju Greifswald, Jerman.[40] Dengan melangkaui Eropa Timur, Rusia akan terbebas dari bea transit, tapi yang lebih penting, ia akan mempunyai kendali vertikal penuh atas gasnya, mulai dari pengeboran, pengilangan, pengangkutan, hingga penjualan. Ini sangat penting terutama mengingat pertumbuhan ekonomi Rusia saat ini hampir sepenuhnya merupakan hasil dari sektor minyak dan gas.[41]

Rusia menganggap Asia Tengah mantap berada dalam lingkup pengaruhnya, dan tak ingin kehilangan pengaruhnya di area tersebut serta manfaat, terutama manfaat ekonomi, yang mereka peroleh. Juga, dengan menggabungkan cadangan Asia Tengah yang lumayan besar dengan cadangannya sendiri, Rusia bisa menjadi kekuatan minyak menandingi Timur Tengah. Sebagaimana di abad 20 Uni Soviet mengandalkan militernya untuk mendapatkan status adidaya, di abad 21 ia akan mengandalkan minyak dan gasnya.

Dari empat negara yang dibahas dalam paper ini, hanya Rusia yang memiliki jalur pipa yang sudah rampung dan beroperasi – Caspian Pipeline Consortium (CPC) [42], yang mulai mengangkut minyak pada 2001. Ia membentang dari ladang-ladang Tengiz Kazakhstan menuju Pelabuhan Novorossiysk Rusia dan merupakan rute ekspor minyak Kaspia terbesar saat ini, menyalurkan 34 juta ton/tahun. Ada desas-desus tentang pelipatgandaan kapasitas menjadi 67 juta ton/tahun dengan menambah 10 stasiun pemompa baru.[43] Satu contoh sifat rumit geopolitik minyak di kawasan itu, CPC memiliki bermacam-macam pemegang saham: Rusia 24%, Kazakhstan 19%, Chevron 15%, dan Oman 7%.[44] Berbagai perusahaan minyak dan gas menyusun sisanya. Selain minyak Kazakh, CPC juga mengekspor untuk produsen-produsen besar Rusia semisal Lukoil, Rosneft, Surgutneftegaz, dan TNK-BP.[45]

Peta 2: Caspian Pipeline Consortium (CPC)

Keunggulan utama CPC adalah bahwa ia sudah eksis. Akibat besarnya biaya konstruksi pipa, dipastikan jalur pipa takkan diterlantarkan begitu lama, kecuali terjadi suatu pergeseran katastropik dalam hubungan internasional. Sebagai tambahan, karena pipa sudah pada tempatnya, dan menyusuri tanah yang relatif datar, akan relatif murah dan mudah untuk meningkatkan kapasitas CPC jika diinginkan. Satu poin tambahan yang menguntungkan CPC dari sudut pandang Rusia adalah ketergantungan Kazakhstan pada Rusia. CPC bukan satu-satunya rute Rusia untuk minyak Kazakh, sebab volume minyak lumayan besar juga mengalir lewat sistem pipa lama Soviet. Minyak yang dipompa lewat pipa Atyrau-Samara terhubung dengan jaringan Pipa Rusia, sedangkan pipa Kenyak-Orsk mengangkut minyak mentah Kazakh ke sebuah kilang Rusia di Orsk.[47] Terakhir, CPC bertumpu pada dasar yang cukup aman berkat sifat internasional konsorsium tersebut. Seraya AS merupakan rival alami Rusia dalam pengendalian mnyak dan gas Asia Tengah, fakta bahwa perusahaan-perusahaan Amerika memegang saham CPC lumayan besar (total 22,5%) memperkuat kedudukan CPC sebagai perpanjangan kekuasaan tak terbantahkan AS di pentas dunia.[48]

Namun, berbagai mitra CPC tidak selalu seiring sejalan. Rusia pernah mengancam menarik izin operasi setelah sebuah insiden tahun 2006, ketika Chevron, bersama dengan para pemegang saham Barat lainnya, mencoba menaikkan bea transit sebesar 9,1% ke angka $29,88/ton. Rusia membalas dengan meminta kenaikan sebesar 38,8%.[49] Untuk menambah bobot di balik posisi tawarnya, Rusia juga menuntuk balik pajak dari CPC.

Dari sudut logistik keras, CPC dibatasi oleh sempitnya Selat Bosporus Turki, yang darinya minyak disalurkan dari pipa ke pasar luas internasional. Melayari selat tersebut pernah disamakan dengan “mengarungi ruang tinggal masyarakat” lantaran mudahnya seseorang menatap lewat jendela rumah-rumah yang berjejer di kedua tepi selat.[50] Karena begitu banyak supertanker sarat muatan hanya bisa melintasi Bosporus dalam kerangka waktu tertentu, ada keraguan tentang apakah minyak dari peningkatan kapasitas CPC bisa diangkut secara efisien lewat rute ini. Jalur pipa “Blue Stream” Rusia, yang akan membentang dari Rusia ke Turki melintasi Laut Hitam dan karenanya Bosporus, hanyalah pipa gas, dan saat ini tak ada rencana mengkonstruksi Blue Stream untuk minyak yang dapat mengangkut minyak dari CPC.[51] Juga, bea transit tinggi yang diminta Rusia menjadi pendorong bagi Kazakhstan untuk mencoba menemukan rute alternatif murah untuk minyaknya.

CPC juga menimbulkan beberapa persoalan politik. Menilik kesepakatan terdahulu Rusia dengan Ukraina, Kazakhstan memang wajar khawatir Rusia kelak memutuskan menaikkan bea transit secara tajam, atau, yang lebih drastis, menutup CPC sebagai alat negosiasi diplomasi. Semakin pemerintah Kazakh ingin mendapatkan independensi dari Moskow, semakin ia mencoba menjauh setahap demi setahap dari CPC agar tidak memainkan bola panas minyak.[52]

Strategi paling efektif bagi Rusia dalam diplomasi internasionalnya adalah dengan terus sekali-sekali mengalah dalam perselisihan bea transit, sambil terus secara implisit (atau eksplisit jika perlu) mengancam Kazakhstan dengan menekankan ketergantungan negeri tersebut padanya. Dengan strategi ini, Rusia mestinya mampu menjamin bahwa porsi besar minyak Kaspia akan terus mengalir lewat teritorinya. Namun, seiring berjalannya waktu, Kazakhstan kemungkinan besar akan berusaha mengurangi ketergantungannya pada Rusia, yang secara historis mencakup seluruh sektor ekonominya, termasuk suratkabar, televisi, pangan, transportasi, dan lain-lain.[53] Kini, ekonomi Kazakh yang sedang berkembang mulai memproduksi dan menyediakan barang-barang ini sendiri, atau menemukan sumber lain. Pemerintah juga mengambil peran aktif dengan membangun jalur rel baru, memodernisasi jalan-jalan lama dan membangun jalan-jalan baru dalam upaya memudahkan perjalanan dari timur ke barat tanpa melewati Rusia, dengan demikian semakin membantu perkembangan industri dan pertanian Kazakh yang independen.[54]

Begitu situasi ini berkembang, Rusia mungkin terpaksa lebih mengandalkan pemikat (carrot) daripada pemukul (stick). Jika menghadapi naiknya kepercayaan diri Kazakh Rusia bersikeras menuntut bea transit tinggi, dan terutama jika ia menutup CPC untuk alasan politik, Kazakhstan mungkin semakin ingin mencari rute-rute alternatif untuk mengangkut minyaknya. Jika Rusia lebih fokus pada bea transit, berkebalikan dengan meningkatnya pengaruh geopolitik yang akan timbul bersama pengendalian minyak transit, maka prospek peningkatan kapasitas CPC akan berkurang secara dramatis.

Sebagai tambahan, CPC, seperti KPC, adalah semata-mata pipa minyak. Tak ada pipa utama untuk mengekspor gas Kaspia, dan yang cukup menarik, Rusia tidak memperlihatkan kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan ini. Pipa gas Kaspia pun kemungkinan besar harus terhubung dengan Turkmenistan untuk memanfaatkan cadangan gas besar negeri tersebut. Namun, Turkmenbashi membuktikan diri sebagai mitra negosiasi yang tak bisa dipercaya, terbukti dalam perencanaan Trans-Caspian Pipeline (TCP) yang disponsori Amerika.[55] Tapi, dengan kematian Turkmenbashi baru-baru ini, itu bisa berubah. Keterlibatan Rusia di pasar gas alam kawasan tersebut akan menjadi langkah bijaksana, sebab pengendalian gas Kaspia serta gasnya sendiri akan mengokohkan kedudukan Rusia sebagai pemasok gas teratas dunia. Dalam perbincangan baru-baru ini menyangkut kemungkinan OPEC gas dipimpin Rusia, salah satu kritik para pakar terhadap ide ini adalah bahwa Rusia sudah memiliki cadangan begitu besar sehingga pembentukan kartel semacam itu tak diperlukan.[56] Meski hal ini masih diperdebatkan, dengan mendapatkan kendali atas gas Kaspia, Rusia mestinya mampu menempatkan diri secara penuh dalam posisi untuk menentukan dan memanipulasi pasar gas alam dunia dengan efektif bila dianggap perlu.

Rute Iran

George W. Bush menggambarkan Iran, Iraq, dan Korea Utara sebagai “Poros Setan”, ditetapkan sebagai “negara-negara yang mensponsori terorisme dan berusaha memperoleh senjata pemusnah masal”.[57] Saat ini, Iran adalah yang paling kuat di antara ketiganya. Saddam Hussein telah digulingkan di Iraq, sementara, walaupun Kim Jong Il kelihatannya hampir mendapatkan senjata nuklir, ekonomi Korea Utara berantakan. Secara perbandingan, ekonomi Iran, berkat minyak dan gasnya, tergolong kuat, menjadikannya lebih dapat bertahan dalam politik internasional. Presiden Mahmoud Ahmadinejad juga telah mengambil kebijakan luar negeri amat berotot dalam upaya menjadikan Iran sebagai pemimpin kawasan.

Karena minyak dan gas sangat penting bagi kekuatan Iran, wajar saja ia akan berbuat apapun dalam kekuasaannya untuk memperoleh kendali sumberdaya Asia Tengah sebanyak mungkin. Bea transit tambahan akan membantu kebijakan populis Ahmadinejad saat ini, yang membuatnya memenangkan dukungan dalam negeri, tapi terbukti mahal bagi pemerintah. Dengan populasi lebih dari 68 juta orang [58], uang dari minyak bisa cepat menyebar dan menipis, dan sudah ada kekhawatiran bahwa Iran membelanjakan uangnya melebihi anggaran yang diperbolehkan.[59] Pendapatan tambahan yang akan dihasilkan dari jalur pipa juga akan memungkinkan Iran lebih kuat menghadapi embargo Barat. Sebagai tambahan, karena Iran akan mengendalikan sebagian besar minyak dan gas dunia, embargo semacam itu akan mengakibatkan kelangkaan minyak dan gas yang lebih serius dan kenaikan harga lebih tinggi bagi Barat, sehingga kecil kemungkinannya [embargo diterapkan].

Jalur pipa gas Korpezhe-Kurt Kui (KKK), rampung tahun 1997, saat ini merupakan jalur ekspor utama gas Turkmen. Ia menyusuri pesisir Kaspia dari ladang-ladang Turkmen menuju kota utara Kurt Kui di Iran. Dari sana, gas diekspor lewat jaringan pipa dalam negeri Iran. Namun, pipa ini agak kecil, dengan kapasitas hanya 282 miliar kaki kubik (bcf) per tahun.[60] Meski sebagian gas Turkmen diekspor ke Rusia lewat sistem pipa lama Soviet, gas KKK dibeli dengan harga pasar secara tunai, sedangkan sebagian besar gas ke Rusia dibarter.[61] Selain sistem ini suram, kompensasi keseluruhan yang diterima Turkmenistan dari Rusia kemungkinan besar jauh di bawah harga pasar.[62]

Iran ingin menambahkan pada KKK dengan membangun pipa gas berkapasitas jauh lebih besar. Karena semua rencana semacam itu baru dalam tahap perencanaan dasar, ada banyak kemungkinan variasi, misalnya pipa berakhir di sebuah pelabuhan Iran di Samudera India, atau pipa melintasi Pakistan menuju India. Satu opsi lanjutan adalah pembangunan pipa Turkmenistan-Iran-Turki (TTT), yang bisa diperluas ke utara untuk mencakup gas Kazakh.[63] TTT akan mengangkut gas dari pesisir timur Kaspia menyeberangi Iran lalu memasuki Turki selatan, di mana ia bersambung dengan jaringan luas pipa Turki. Iran juga mendorong pembangunan pipa minyak Kazakhstan-Turkmenistan-Iran (KTI), yang akan berkapasitas satu mlb/hari, dan bisa dibangun bersama dengan pipa gas.

Selama ada banyak kemungkinan, mendiskusikan keunggulan dan kelemahan rute yang dikehendaki Iran lebih sulit daripada mendiskusikan rute China atau Rusia. Keunggulan dan kelemahan yang dikemukakan di bawah mengacu pada keadaan umum pipa yang melintasi Iran, kecuali jika dinyatakan sebaliknya. Satu keunggulan utama rute Iran adalah kemauan Iran menyediakan pengangkutan berbiaya rendah. Ekonomi Iran lebih lemah daripada Rusia, China, atau Amerika, dan kebutuhannya akan pendapatan dari jalur pipa yang sedang dibangun di teritorinya jauh lebih besar, jadi ia bersedia menawarkan tarif menyenangkan. Iran juga berada dalam posisi geografis menguntungkan, memungkinkan [dibangunnya] jalur pipa terpendek ke perairan-perairan utama, dan dengan membangun di selatan ketimbang di utara atau barat, iklim yang buruk terhindarkan. Keuntungan bersihnya adalah biaya konstruksi dan pemeliharaan yang lebih rendah.

Rute Iran terutama menguntungkan untuk pipa gas. Sementara sebagian besar minyak Kaspia berada di sektor timurlaut di Kazakh yang lebih akrab dengan Iran, ladang-ladang minyak cenderung lebih ke selatan. Juga, sampai sekarang Turkmenistan menunjukkan kesediaan bekerjasama dengan Iran, sikap yang tidak ditunjukkan kepada negara-negara lain. Karena Rusia dan China sampai sekarang tidak berencana membangun pipa gas, satu-satunya opsi lain adalah TCP yang disponsori Amerika, yang amat mahal dan sulit dibanding rute darat Iran yang sederhana.

Namun, persoalan logistik besarnya adalah bahwa jalur pipa utama perlu dibangun dari nol. KKK adalah pipa berdiamater kecil, dan kapasitas maksimumnya tidak bisa ditingkatkan. Oleh sebab itu, meski menjanjikan pipa yang cukup pendek, rute-rute Iran akan tetap mahal, dan menyatukan beragam aktor agar sepakat membiayai pipa semacam itu akan sulit mengingat adanya hambatan Amerika yang lumayan besar. Oleh sebab itu, meragukan sekali bahwa negara-negara besar akan membantu membangunnya, atau bahkan berhubungan dengannya lantaran takut membangkitkan kemarahan Amerika. Juga, Amerika menakut-nakuti perusahaan minyak dan gasnya sendiri agar tidak berurusan dengan Iran, yang akan menghambat ekspor minyak dan gas Kazakh lewat Iran sebab Chevron memiliki saham di banyak ladang Kaspia. Lebih jauh, jika embargo terhadap Iran dikenakan, ekonomi Kazakhstan dan Turkmenistan yang berbasis minyak dan gas bisa kolaps, menciptakan situasi amat berbahaya bagi mereka.

Walaupun Iran ingin memainkan aspek “Persaudaraan Muslim” antara dirinya dengan Asia Tengah sebagai alat bujuk, diragukan apakah taktik ini akan berhasil. Meski Turkmenistan dan Kazakhstan merupakan negara Muslim, Islam datang lebih belakangan ke kawasan tersebut, dan tidak dipeluk sepenuh hati. Banyak perintah Islam tidak diikuti: vodka dan bir mengalir bebas ke seantero negara stepa itu; sangat sedikit yang berbahasa Arab atau shalat Jum’at, apalagi shalat lima waktu; dan babi dijual dan dimakan secara luas. Sebagai tambahan, bangsa Iran beretnis Persia, sedangkan Kazakh dan Turkmen lebih dekat dengan etnis Mongol dan berbahasa Turki daripada Farsi. Iran adalah Syiah, sedangkan Asia Tengah adalah Sunni. Terlepas dari adanya kerjasama antara Iran dan Kazakhstan/Turkmenistan, hanya sedikit jalinan historis dan budaya antara mereka yang tersisa. Perlu dicatat pula bahwa salah satu kawan terdekat dan mitra ekonomi Kazakh di Timur Tengah adalah Israel, musuh sejati Iran.[65]

Dari semua proposal jalur pipa yang didiskusikan di sini, rencana Iran adalah yang paling kecil kemungkinannya untuk terlaksana. Selama permusuhan Amerika terhadap Iran masih ada, akan terlalu beresiko bagi Turkmenistan atau Kazahkstan untuk mencurahkan sebagian besar cadangan alam mereka kepada Iran. Namun, jika Iran menawarkan kesepakatan yang cukup memikat, mungkin ia bisa membangun pipa relatif kecil, khususnya dari Turkmenistan.

Rute Amerika

Sejak sekurangnya krisis minyak tahun 1970-an, seruan agar tidak bergantung pada minyak Timur Tengah telah menjadi isu politik konstan di Amerika. Menyusul peristiwa 11 September, seruan ini kian nyaring. Presiden Bush menyinggung “independensi energi” dalam setiap pidato kenegaraannya. Selama perdebatan soal energi yang terkadang sengit di Kongres, isunya bukanlah apakah AS mesti independen atau tidak dari minyak Timur Tengah, tapi lebih pada bagaimana caranya dibuat independen. Isu ini semakin mendesak seiring meningkatnya permusuhan antara AS dan Iran, serta kesulitan di Iraq, dan kebencian luas terhadap AS di Timur Tengah raya. Dalam pidato kenegaraan tahun 2006, Presiden Bush menyatakan sasaran untuk mengurangi impor minyak dari Timur Tengah sebesar 75% pada 2025.[66]

Energi alternatif dan pengurangan konsumsi adalah dua cara agar Amerika dapat mengurangi ketergantungan pada minyak luar negeri. Namun, kebanyakan teknologi energi alternatif masih perlu bertahun-tahun untuk berfungsi sepenuhnya atau terlampau mahal tanpa subsidi besar (seperti pada ethanol berbasis jagung) sedangkan pengurangan konsumsi besar-besaran sepertinya obat yang terlalu pahit bagi Kongres untuk ditelan.[67] Oleh sebab itu, setidaknya selama beberapa waktu ke depan, AS kemungkinan besar akan mengambil jalur yang kurang ramah lingkungan dan mencari sumber-sumber minyak dan gas baru. Tempat-tempat seperti gurun tér Kanada di Alberta menyediakan satu opsi, tapi akibat biaya penyulingan, opsi ini kemungkinan takkan layak secara ekonomis sampai harga minyak betul-betul naik lebih jauh.[68] Sebagian minyak dan gas Amerika berasal dari Rusia dan Venezuela, tapi menilik ketegangan yang meningkat dengan Rusia dan permusuhan terbuka dengan Venezuela, masuk akal bagi AS untuk mencari minyak dari kawasan baru yang memiliki pemerintahan pro Amerika, dan dalam hal ini kawasan Kaspia menunjukkan potensi besar.

Ada dua rute utama yang dipertimbangkan Amerika: TAP dan TCP. Jalur pipa Turkmenistan-Afghanistan-Pakistan (TAP) akan menjulur dari Kaspia ke arah timur melintasi Turkmenistan dan menaiki pegunungan menuju Afghanistan dan masuk ke Pakistan lalu ke pelabuhan perairan terbuka dan/atau kilang. TAP bisa diperluas ke India untuk menjangkau pasar terbuka di sana. Karena Pakistan dan India memiliki perekonomian yang tumbuh pesat dan sektor-sektor manufaktur yang berkembang, kedua negara ini mestinya ingin sekali menerima jalur pipa semacam itu

Peta 3: Pipa Turkmenistan-Afghanistan-Pakistan (TAP) (salah satu rute potensial)

Biaya konstruksi TAP amat tinggi lantaran adanya pegunungan Afghanistan. Persoalan yang lebih besar adalah, Afghanistan masih bergulat dengan perang sipil dan Taliban anti-Amerika masih aktif. Akan sulit membangun pipa di lingkungan semacam itu, dan jika dibangun, pipa akan mendatangkan biaya pemeliharaan tambahan mengingat ia perlu dijaga, seperti jalur pipa tertentu di Afrika yang melintasi teritori yang sama tak stabilnya. Jika Pakistan dan/atau India bersedia mencurahkan sumberdaya untuk memastikan keamanan di Afghanistan, maka TAP/TAPI akan menjadi opsi yang jauh lebih layak dilaksanakan. Namun, untuk saat ini, ia belum beranjak dari tahap perencanaan. Rute persis, kapasitas, atau apakah ia akan menyalurkan gas, minyak atau keduanya, belum diputuskan.

Trans-Caspian Pipeline (TCP) bisa berupa pipa gas, minyak, atau kombinasi. Ia akan menjulur dari Aktau (Kazakhstan) ataupun Turkmenbashi (Turkmenistan) ke bawah Laut Kaspia menuju Baku (Azerbaijan). Dari sana, minyak bisa tersambung dengan pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan (BTC) yang sudah ada sampai akhirnya mengakses Mediterania [70], sedangkan gas bisa diangkut lewat jalur pipa gas Kaukasus Selatan menuju Turki timur [71] dan barangkali dari sana ke Eropa lewat jalur pipa Nabucco yang diusulkan.[72] Meski TCP masih dalam tahap perencanaan, studi kelayakan menunjukkan bahwa pipa gas akan menelan biaya $5 miliar dan memiliki kapasitas 30 bcf/tahun.[73] Pipa minyak akan menelan biaya $4 miliar dan menyalurkan minyak 400.000 barel/hari, dan karenanya mengantarkan 40% dari kapasitas total ekspor BTC.[74] Sementara itu, belum ada studi kelayakan untuk pipa kombinasi [minyak-gas] TCP.

Peta 4: Trans-Caspian Pipeline (TCP)

TCP memiliki komplikasi politik relatif sedikit. Dengan nyaman bersembunyi di bawah Kaspia menghindari Iran dan Rusia, menyediakan rute langsung. Juga, karena hasrat utama AS adalah agar minyak mencapai pasar terbuka (ia tidak bisa disalurkan secara langsung dengan pipa ke AS, sehingga AS akan bergantung pada pembelian dan pengangkutan minyak), Kazakhstan dan Turkmenistan bisa merasa relatif aman, dalam arti mereka akan bisa meminta harga pasar untuk sumberdaya mereka. Namun, TCP bawah laut akan jauh lebih mahal untuk dibangun daripada TAP darat.

Untuk TCP, pipa kombinasi gas dan minyak akan paling masuk akal secara ekonomis. Penghematan skala akan lebih mengurangi biaya pipa kombinasi manakala bentuknya berupa pipa bawah laut ketimbang pipa darat, sebab bagian terbesar biaya pemasangan pipa bawah laut berasal dari penggalian parit di dasar laut dan penggunaan kapal pemasang pipa.

Peta 5: Pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan (BTC)

Satu tantangan utama adalah mencari investasi awal besar yang diperlukan. Gara-gara biaya, gas (dan barangkali minyak) Kazakh dan Turkmen kemungkinan harus mengalir lewat pipa-pipa guna menghasilkan cukup produk untuk menjadikannya menguntungkan. Namun, di masa lalu, kebijakan proteksionis Turkmenistan membantu mencegah pipa semacam itu dibangun.[77] Sementara BP dan Shell aktif di Turkmenistan pada 1990-an, saat ini tak ada perusahaan minyak asing beroperasi di sana; Shell akhirnya menutup kantornya di sana begitu tidak melihat “prospek keikutsertaan dalam proyek-proyek minyak dan gas yang realistis” akibat regulasi pemerintah.[78] Jika Turkmenistan masih menentang TCP, peluang untuk mengkonstruksinya tetap kecil bahkan nihil. Namun, kematian Turkmenbashi dan pergantian pemerintahan Turkmenistan mengubah pemandangan. Presiden baru Turkmen, Gurbanguli Berdymukhamedov, belum secara eksplisit membahas TCP, tapi dia menjanjikan reformasi, menjauh dari pemujaan diri ala Turkmenbashi dan mengizinkan warung internet pertama dibangun di ibukota Ashgabat.[79] Semua ini mengisyaratkan meningkatnya kemauan untuk menjadi bagian aktif komunitas global yang menjadi pertanda bagus bagi TCP. Meski masih harus dilihat seberapa jauh hubungan Turkmen-AS akan membaik, Turkmenistan akan memperoleh banyak keuntungan dari meningkatnya jalinan ekonomi. Ladang-ladangnya belum disurvey sepenuhnya, dan ladang-ladang perairan dalamnya menuntut teknologi yang tak dimiliki Turkmenistan – tapi AS punya.

Isu-isu seputar kepemilikan dasar laut Kaspia mungkin juga berdampak negatif pada pembangunan pipa ini. Terakhir, akibat relatif tiadanya pipa gas saat ini, minat lebih banyak tertuju pada pipa gas Trans-Kaspia daripada pipa minyak. Namun, jika dana untuk pipa kombinasi tak bisa dikumpulkan, jalur itu mungkin tak menguntungkan.

Kebijakan Luar Negeri Amerika dan Minyak Kaspia

Sementara ketergantungan Amerika pada minyak luar negeri diterima umum sebagai persoalan serius, terlalu sederhana mengelompokkan semua minyak luar negeri sebagai endemik persoalan yang sama. AS hanya menyimpan 2% cadangan minyak dunia tapi mengkonsumsi 25% produksi minyak dunia [80], jadi selama minyak masih merupakan bahan bakar utama, AS takkan pernah mampu mengandalkan cadangannya sendiri. Semestinya ini tak harus menjadi prospek menakutkan, sebab bukan ketergantungannya pada minyak luar negeri secara umum yang menjadi masalah, melainkan ketergantungannya pada minyak dari negara-negara berezim tak stabil dan/atau tak bersahabat, terutama Venezuela dan banyak negara Timur Tengah.

Banyak negara Afrika Tengah memiliki cadangan besar yang ingin sekali dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan Amerika, tapi kawasan itu tidak dikenal sebagai benteng stabilitas politik.[81] Jika dibandingkan, pemerintahan Kazakhstan sudah amat stabil, jika bukan demokratis, sejak jatuhnya Uni Soviet. Walaupun kematian Turkmenbashi telah menimbulkan ketidakpastian proses politik di Turkmenistan, tak ada gerakan oposisi skala besar atau ancaman revolusi seperti di Uzbekistan, Tajikistan, dan Kirgistan. Sebagai tambahan, Kazakhstan terbukti sangat bersahabat terhadap Amerika, dan Kazakhstan ataupun Turkmenistan tidak menunjukkan tendensi untuk menyaingi kekuasaan Amerika seperti yang diperlihatkan Venezuela dan Iran. Lebih jauh, sebagaimana ditunjukkan di atas, pipa untuk mengangkut minyak dan gas ini ke lokasi di mana AS bisa dengan mudah membelinya sangatlah mahal, tapi memungkinkan untuk dibangun. Minyak Asia Tengah bisa menyediakan kepingan penting teka-teki untuk menyelesaikan masalah minyak Amerika.

Cukup dengan menekankan pembangunan jalur pipa yang dikehendakinya sebagai bagian penting kebijakan luar negeri Amerika dan menaruh kekuatan diplomasinya di balik rencana tersebut akan menghasilkan banyak manfaat untuk mendorong pembangunan pipa pada akhirnya, tapi ada pula strategi yang lebih spesifik yang dapat diadopsi AS. Karena pemerintah Kazakh dan Turkmen mengendalikan industri minyak dan gas masing-masing, agar AS dapat mendorong pembangunan jalur pipa yang dikehendakinya, ia harus bernegosiasi dengan pemerintahan kedua negara ini, jadi memelihara hubungan baik dan menghindari konflik dengan tidak menyerukan reformasi pemerintahan dan/atau perbaikan HAM akanlah menguntungkan AS. Sebagai tambahan, boleh jadi reformasi skala besar justru akan mengganggu maksud AS. AS perlu yakin bahwa pemerintahan kedua negara akan menunda pengakhiran kontrak, sedangkan partai berkuasa baru mungkin tak menghormati kesepakatan partai lama.

Untungnya bagi Amerika, pelanggaran HAM di Kazakhstan tidak menonjol. Memang ada proses pemilu yang tak demokratis dan tidak ada kebebasan pers, tapi penyiksaan bukanlah isu utama dan masyarakatnya memiliki kebebasan luas untuk berbuat apapun yang mereka mau dalam kehidupan ekonomi dan pribadi. Fakta bahwa Presiden Nazerbayev amat populer di masyarakat Kazakh semakin mengurangi signifikansi pelanggaran HAM semacam itu.

Perlakuan AS terhadap Nazerbayev selama kunjungan kenegaraannya pada Agustus 2006 menunjukkan sikap yang telah dan mesti diambil pemerintah Amerika. Nazerbayev diberi sambutan hangat, dan Presiden Bush berterima kasih kepadanya atas bantuannya terkait Iraq dan Afghanistan, dan mereka bersama-sama mendeklarasikan “visi bersama akan stabilitas, kemakmuran, dan reformasi demokratis di Asia Tengah”.[82] Pada waktu yang sama, juru bicara National Security Council mengklaim bahwa Bush akan “mendorong Kazakhstan mempercepat kemajuan reformasi demokratis” dalam rangka menyelamatkan muka politik terkait orang-orang yang konsern soal HAM.[83]

Turkmenistan memerlukan pendekatan agak berbeda. Turkmenbashi memerintah negaranya seperti negara polisi dan sangat menentang TCP, dan pelanggaran HAM-nya jauh lebih serius daripada di Kazakhstan dan tidak bisa diabaikan dengan mudah. AS harus menyeimbangkan perannya sebagai pemimpin global dalam menyerukan reformasi dengan hasratnya membangun TCP. Karena dukungan AS memberi legitimasi kepada pemerintah Turkmen, dan kita asumsikan pemerintah baru menginginkan ini, penawaran hubungan diplomatik lebih erat, paket bantuan besar, dan barangkali kunjungan resmi ke Washington bisa menjadi chip tawar-menawar yang berguna.

AS juga bisa mempengaruhi perusahaan gas dan minyak Amerika untuk mengambil sikap pro-AS. Sementara bersama semua pemain lain dalam persaingan memperebutkan minyak dan gas Asia Tengah, pemerintah dan perusahaan adalah sama, Chevron merupakan entitas terpisah dari pemerintah AS dan tidak berada di bawah keharusan untuk mengikuti kebijakan luar negeri Amerika. Oleh sebab itu, AS mesti bekerja keras memastikan bahwa Chevron dan perusahaan Amerika lain yang lebih kecil di kawasan itu mendukung TCP dan/atau TAPI dan bukan membuat kesepakatan lebih lanjut dengan Rusia, China, atau Iran. Pemerintah bisa mengikatkan dukungan untuk TAPI dan TCP dengan subsidi berjumlah besar yang diberikannya kepada industri minyak dan gas, sambil mengancam kemungkinan pengenaan embargo, kenaikan pajak, dan langkah menghukum lainnya jika perusahaan-perusahaan Amerika menyimpang terlalu jauh ke rencana jalur pipa negara-negara lain. Sebagai tambahan, AS bisa menjanjikan dukungan diplomatik dan jika perlu militer untuk pembangunan pipa yang aman. Jika Chevron yakin TAPI akan aman, perusahaan tersebut kemungkinan besar akan jauh lebih bersedia berinvestasi dalam pembangunannya.

Terakhir, Amerika perlu mengumpulkan dukungan Eropa untuk rencananya. TCP akan menguntungkan Eropa juga. Mayoritas gas yang dikonsumsi di Eropa berasal dari Rusia. Jika TCP dibangun, gas bisa disalurkan sepanjang jalur Nabucco yang diusulkan lalu memasuki jantung Eropa, dengan begitu sangat mengurangi ketergantungannya pada gas Rusia. Kekuatan diplomasi dan ekonomi gabungan AS dan UE akan menjadikan pembangunan pipa tersebut kemungkinan besar terwujud.

Sulit mengatakan seberapa detil AS sedang mendorong inisiatif ini, sebab pemerintah dan pers relatif diam soal Asia Tengah. AS mungkin tak ingin mengiklankan strateginya kepada negara-negara asing, tapi yang lebih serius, mungkin akan ada suatu konsekuensi politik besar jika AS secara terbuka mengambil kebijakan memberi lebih banyak subsidi kepada perusahaan minyak, atau mau berhubungan dengan pemerintahan asing yang lalim, atau mengirim pasukan untuk mengawal pembangunan pipa. Demikian pula, negara-negara lain, misalnya China, mungkin takkan selalu terbuka penuh atau jujur soal maksud mereka, dan mustahil kita mengetahui keseluruhan kisah persaingan penempatan pipa minyak dan gas ini sebelum pertarungan berlangsung dan dimenangkan dan berbagai pemerintahan merilis dokumen internal.

Kesimpulan: Perspektif Minyak Kaspia dan Pentas Dunia

Tak ada yang bisa disimpulkan selain prediksi sementara tentang masa depan pipa dan strategi negara-negara. Namun, terlepas dari persoalan membuat prediksi yang handal, dengan memperhatikan keunggulan dan kelemahan berbagai jalur pipa Asia Tengah, kita bisa sekurangnya membuat tebakan layak dan terpelajar. Kita bisa berasumsi, misalnya, bahwa semua jalur pipa yang sudah beroperasi akan terus mengangkut minyak dan gas: Korpezhe-Kurt Kui Iran (gas), dan Caspian Pipeline Consortium Rusia (minyak). Kita juga bisa berasumsi bahwa jalur-jalur pipa yang sedang dikonstruksi akan beroperasi di masa mendatang: jalur China-Kazakhstan (minyak).

Kita tahu bahwa rute-rute ekspor gas Asia Tengah menghadapi lebih banyak kesulitan daripada minyaknya. Kecuali untuk KKK yang kecil dan beberapa pipa kecil era Soviet, saat ini tak ada cara untuk menyalurkan gas Turkmen dan Kazakh ke pasar. Rute Iran sangat tidak mungkin, sedangkan pipa gas lewat Rusia menghadapi tantangan lebih serius lagi daripada pipa minyak. Karena Rusia memiliki cadangan gas dunia yang jauh lebih besar daripada cadangan minyaknya, ia lebih mampu memainkan politik dengan gas. Juga, Rusia akan mengintegrasikan gas Asia Tengah dengan jaringan pipanya yang ada yang dicurahkan untuk mengirimkan gas ke Eropa, bukan menjualnya di pasar terbuka, sehingga dapat semakin meningkatkan kemungkinan permasalahan politik dengan AS. Kebutuhan China akan gas tidak sama dengan kebutuhannya akan minyak, dan biaya pembangunan pipa gas China-Kazakhstan akan menjadi penghalang. Jika AS mengikuti strategi yang dipaparkan dalam paper ini, maka TCP kemungkinan besar akan dibangun, dan ia akan menyalurkan mayoritas gas Asia Tengah serta sebagian minyaknya.

Memperhatikan persaingan antara Iran, Rusia, China, dan AS terkait rute-rute yang mereka kehendaki untuk minyak dan gas Asia Tengah memberi isyarat bagus mengenai masa depan tatanan geopolitik dunia. Terlepas dari kesulitan hebat dalam pembangunan pipa, keempat negara bertemu di kawasan itu dengan hasrat yang hampir mati-matian. Di era terdahulu, militer sebuah negara adalah satu-satunya penilai kekuatannya, tapi hari ini ekonomi telah menjadi hampir sama pentingnya, jika tidak lebih penting, dan seluruh ekonomi industri – dan militer industri – berjalan dengan minyak dan gas. AS dan China berhasrat sumberdaya alam tersebut mentenagai pembangkit listrik, pabrik, mobil, pesawat, dan kendaraan lapis baja mereka. Iran dan Rusia ingin jalur pipa melintasi teritori mereka demi mendapat bea transit dan menggunakan sumberdaya alam tersebut sebagai alat politik. Bagi keempat negara, bergulat memperebutkan kendali atas minyak dan gas Asia Tengah merupakan bagian vital dari strategi akbarnya.

Bibliografi

  • BBC News. “Nabucco Pipeline is Approved.”27 June 2006, http://news.bbc.co.uk/…stm.
  • Blagov, Sergei. “Russia Mulls ‘Gas OPEC’ Plan.” ISN Security Watch, 2 March 2007, http://www.isn.ethz.ch/…7207.
  • BP.com: “BP Caspian – Overview: Baku-Tiblisi-Ceyhan Pipeline.” http://www.bp.com/…4358.
  • BP.com: “BP Caspian – Overview: South Caucasus Pipeline.” http://www.bp.com/…4371.
  • Bush, George W. President Delivers State of the Union Address, 29 January 2002, http://www.whitehouse.gov/…html.
  • Bush, George W. State of the Union Address by the President, 31 January 2006, http://www.whitehouse.gov/…2006/.
  • China Natural Gas Weekly, 11-17 November 2006.
  • CIA World Factbook, Iran: People, https://www.cia.gov/…html.
  • Ariel Cohen, “Iran’s Claim Over Caspian Sea Resources Threaten Energy Security.” The Heritage Foundation, 5 September 2002, http://www.heritage.org/…cfm.
  • CPC.com: “General Information.” http://www.cpc.ru/…aspx.
  • CPC.com: “CPC Structure.” http://www.cpc.ru/…aspx.
  • Dombrey, Daniel, Buckley, Neil, and Hoyos, Carola. “NATO Fears Russian Plans for ‘Gas OPEC’.” Financial Times, 13 November 2006, http://www.ft.com/…html.
  • The Economist, 14 April 2007 and 24 March 2007. Economist Intelligence Unit, Kazakhstan Country Report,April 2007 and January 2007, Kazakhstan Country Profile, 2006, Turkmenistan Country Report, April 2007, Turkmenistan Country Profile, 2006, Russia Country Report, April 2007, and Uzbekistan Country Profile, 2006.
  • Embassy of the People’s Republic of China in the United States of America, “CNPC completes acquisition of PetroKazakhstan.”27 October 2005, http://www.china-embassy.org/…html.
  • The Embassy of the Republic of Kazakhstan in the United Kingdom of Britain and Northern Ireland, “Kazakhstan – Economic Overview: Transport and Communications.” http://www.kazakhstanembassy.org.uk/…/70.
  • Energy Information Administration. “Caspian Sea Region: Natural Gas Export Options.” July 2002, http://www.eia.doe.gov/…html.
  • Energy Information Administration. “Kazakhstan: Oil and Natural Gas Exports.” July 2002, http://www.eia.doe.gov/…html.
  • Energy Information Administration. “Table 4. Oil Export Routes and Options in the Caspian Sea Region.” July 2002, http://www.eia.doe.gov/…html.
  • Ganske, Charles. “Georgia: More Unintended Consequences?” Real Russia Project, 6 November 2006, http://www.russiablog.org/…php.
  • Global Insight, “Kashagan Partners Eye US$4-bil Trans-Caspian Oil Transport System to Connect to BRC Pipeline.” http://www.globalinsight.com/…htm.
  • Iankulova, Ina. “Shell Closes Down in Turkmenistan.” Euraisanet.org, 10 April 2003, http://www.eurasianet.org/…shtml.
  • Karaeve, Zainiddin. “Border Disputes and Regional Integration in Central Asia.” Harvard Asia Quarterly, vol. 9, no. 4 (2005).
  • Lenczowski, George. “Major pipelines in the Middle East: Problems and Prospects.” Middle East Policy, vol. 3, no. 4 (1995).
  • Luft, Gal. “Feeding the Dragon: China’s Race into the Oil Market.” Institute for the Analysis of Global Security, http://www.iags.org/…htm.
  • Money Week, “Are Canadian Tar Sands the Answer to Our Oil Needs?” 11 November 2006, http://www.moneyweek.com/…html.
  • The New York Times, 12 January and 21 August 2005, 2 January and 12 March 2006, and 29 January and 3, 16, 22, 25, 27, and 29 March 2007.
  • Nord-Stream.com, “The New Gas Supply Route to Europe.”
  • Ochs, Michael. “Turkmenistan: Pipeline Dream II.” Caspian Crossroads Magazine, Winter 1995, http://ourworld.compuserve.com/…htm.
  • O’Rourke, Breffni. “Turkmenistan: A Pipeline Long in the Pipeline.” RadioFreeEurope Radio Liberty, 14 February 2006, http://www.rferl.org/…html.
  • Pafitt, Tom. “Belarus Cuts Off Russian Pipeline in Bitter Gas War.” The Guardian, 9 January 2007, http://www.guardian.co.uk/…html.
  • Parfit, Tom. “Father of all Turkmen dies aged 66.” ­­Guardian Unlimited, 21 December 2006, http://www.guardian.co.uk/…html.
  • Petroleum Intelligence Weekly, 29 September 2003 and 15 August 2006.
  • Reza, Farhan. “Is the Largest Market in the Making?” Himal, January 2004, http://www.himalmag.com/…htm.
  • Saidazimova, Gulnoza. “Kazakhstan: A New Destination for Trafficked Women.” RadioFreeEuorpe Radio Liberty, 15 March 2006, http://www.rferl.org/…html.
  • Schofield, Clive and Pratt, Martin. “Claims to the Caspian Sea.” Jane’s Intelligence Review, February 1996.
  • Seiple, Chris. “Heartland Politics and the Case of Uzbekistan.” Foreign Policy Research Institute, 25 January 2004, http://www.fpri.org/…html.
  • Slavin, Slavin. “Kazakh Leader’s Visit to Require Diplomatic Finesse.” USA Today, 27 September 2006, http://www.usatoday.com/…htm.
  • Socor, Vladimir. “Azerbaijan Spearheading Initiative on Trans-Caspian Gas Pipeline.” Eurasia Daily Monitor, 30 March 2006, http://www.jamestown.org/…0929.
  • Socor, Vladimir. “Major Russia-Kazakhstan oil production-sharing agreement signed.” Eurasia Daily Monitor, 7 July 2005, http://www.jamestown.org/…9982.
  • Stratfor, “EU, Kazakhstan: The Geopolitics of Energy Cooperation.” 4 December 2006, http://www.stratfor.com/…1479.
  • Thomas, Cathy B. “Is Coal Golden?” Time,2 October 2006, http://www.time.com/…html.
  • Thomas, Jeffrey and McConnell, Kathryn. “Bush Welcome’s Kazakh President, Reaffirm US-Kazakh Friendship.” Bureau of International Information Programs, US Department of State: The Washington File, 29 September 2006,  http://usinfo.state.gov/…7599.
  • United World, “Kazakhstan: ‘When There’s a Challenge, We Face it Head On’.” 27 April 2006, http://www.unitedworld-usa.com/…asp.
  • U.S Department of Energy: Energy Efficiency and Renewable Energy website: “FreedomCar & Vehicle Technologies Program: Fact of the Week #336.” http://www1.eere.energy.gov/…html.
  • Xinhua (English translation), 15 December 2005 and 25 May 2005.

Catatan Kaki

[1] Gulnoza Saidazimova, “Kazakhstan: A New Destination for Trafficked Women.” RadioFreeEuorpe Radio Liberty, 15 March 2006, http://www.rferl.org…html.
[2] Lutz Kleveman, The New Great Game: Blood and Oil in Central Asia (New York: Grove Press, 2003) p. 80.
[3] Breffni O’Rourke, “Turkmenistan: A Pipeline Long in the Pipeline.” RadioFreeEurope Radio Liberty, 14 February 2006, http://www.rferl.org/…html.
[4] European countries have up until now played relatively minor roles in Central Asia’s oil industry, but where they have, such as with the British oil and gas giant BP exploring the gas field of Turkmenistan, or with the Italian company ENI running the Agip consortium, which controls the Kazakhstan’s Kashagan field, the European interests often dovetail with America’s.
[5] Zainiddin Karaeve, “Border Disputes and Regional Integration in Central Asia.” Harvard Asia Quarterly, vol. 9, no. 4 (2005).
[6] For an overview of the Central Asian republics’ transitions from Soviet rule to independence, see Martha B. Olcott, Central Asia’s Second Chance (Washington: Carnegie Endowment, 2005).
[7] Martha B. Olcott, Kazakhstan: Unfulfilled Promise (Washington: Carnegie Endowment, 2002), pp. 51-52.
[8] Economist Intelligence Unit, Kazakhstan Country Report,April 2007, p. 10.
[9] In Turkmen language, Turkmenbashi translates as “Father of all Turkmen.”
[10] Tom Parfit, “Father of all Turkmen dies aged 66.” ­­Guardian Unlimited, 21 December 2006, http://www.guardian.co.uk/…html.
[11] EIU, Kazakhstan Country Profile, 2006, p. 20.
[12] EIU, Turkmenistan Country Profile, 2006, p. 16.
[13] EIU, Turkmenistan Country Report, April 2007, pp. 23-24.
[14] Breffni O’Rourke, “Turkmenistan: A Pipeline Long in the Pipeline.” RadioFreeEurope Radio Liberty, 14 February 2006, http://www.rferl.org/…html.
[15] Eric A. Vanhove, US Foreign Policy in the Caucasus and Central Asia: Pipeline Politics and the National Interest (Monterey CA: Naval Postgraduate School, 1997), p. 10.
[16] Vanhove, pp. 10-11.
[17] Clive Schofield and Martin Pratt, “Claims to the Caspian Sea.” Jane’s Intelligence Review, February 1996,p. 77.
[18] Ariel Cohen, “Iran’s Claim Over Caspian Sea Resources Threaten Energy Security.” The Heritage Foundation, 5 September 2002, http://www.heritage.org/…cfm.
[19] Vladimir Socor, “Major Russia-Kazakhstan oil production-sharing agreement signed.” Eurasia Daily Monitor, 7 July 2005, http://www.jamestown.org/…9982.
[20] “CNPC completes acquisition of PetroKazakhstan.” Embassy of the People’s Republic of China in the United States of America, 27 October 2005, http://www.china-embassy.org/…html.
[21] Christopher Pala, “China Pays Dearly for Kazakhstan Oil.” New York Times, 12 March 2006, http://select.nytimes.com/…04482
[22] Gal Luft, “Feeding the Dragon: China’s race into the Oil Market.” Institute for the Analysis of Global Security, http://www.iags.org/…htm.
[23] Jonathan D. Spence, The Search for Modern China (New York: Norton, 1999), pp. 67-69.
[24] “China-Kazakhstan Pipeline Starts to Pump Oil.” Xinhua, 15 December 2005, http://www.chinadaily.com.cn/…htm.
[25] “China-Kazakhstan Pipeline Starts to Pump Oil.” Xinhua.
[26] Though the exact conversion depends on the grade of crude oil, 1 ton of oil is approximately 7.15 barrels.
[27] “Kazakhstan Oil Pours into China Through Crossborder Pipeline.” Xinhua, 25 May 2005, http://news.xinhuanet.com/…htm.
[28] “Kazakhstan Oil Pours into China Through Crossborder Pipeline.” Xinhua.
[29] “First oil through Kazakhstan-China pipeline.” Petroleum Intelligence Weekly, 15 August 2006, http://www.intertanko.com/…6307.
[30] “First Oil Through Kazakhstan-China Pipeline.” Petroleum Intelligence Weekly.
[31] China Natural Gas Weekly, 11-17 November 2006, pp. 3-4.
[32] EIU, Kazakhstan Country Report, April 2007, p. 28.
[33] ibid
[34] “Kazakhstan: ‘When There’s a Challenge, We Face it Head On’.” United World, 27 April 2006, http://www.unitedworld-usa.com/…asp.
[35] Vanhove, pp. 21-22.
[36] For a detailed view of the Saudi involvement in the Afghan Wars, see: Steve Coll, Ghost Wars: The Secret History of the CIA, Afghanistan, and Bin Laden, from the Soviet Invasion to September 10, 2001 (New York: Penguin, 2004).
[37] Tom Pafitt, “Belarus Cuts Off Russian Pipeline in Bitter Gas War.” The Guardian, 9 January 2007, http://www.guardian.co.uk/…html.
[38] Andrew E. Kramer and Brian Knowlton, “Russia Cuts Off Gas to Ukraine as Talks on Pricing and Transit Terms Break Down.” New York Times, 2 January 2006, http://select.nytimes.com/…4482.
[39] “A Bear at the Throat.” The Economist, April 14, 2007, pp. 58-60
[40] “The New Gas Supply Route to Europe.” From the Nord Stream website: http://www.nord-stream.com/.
[41] EIU, Russia Country Report, April 2007, pp. 31-31.
[42] CPC refers to both the consortium and the pipeline itself.
[43] EIU, Kazakhstan Country Report, January 2007, p. 29.
[44] Caspian Pipeline Consortium website, “CPC Structure:” http://www.cpc.ru/…aspx.
[45] EIU, Kazakhstan Country Report, January 2007, p. 29.
[46] Map 2, as well as general information on the CPC, can be found on the official Caspian Consortium Pipeline website under “General Information:” http://www.cpc.ru/…aspx.
[47] “Kazakhstan: Oil and Natural Gas Exports.” Energy Information Administration, July 2002, http://www.eia.doe.gov/…html.
[48] Caspian Pipeline Consortium website, “CPC Structure.”
[49] EIU, Kazakhstan Country Report, January 2007, p. 29.
[50] Andrew E. Kramer, “New Pipeline Will Bypass the Bosporus but Involve Russia.” New York Times, 16 March 2007, http://select.nytimes.com/…4482.
[51] “Economic Brief: The Blue Stream Gas Pipeline.” Power and Interest News Report, 22 November 2005,  http://www.pinr.com/…id=1.
[52] EIU, Country Report Kazakhstan, January 2007, p. 29.
[53] EIU, Country Report Kazakhstan, January 2007, p. 29.
[54] “Kazakhstan – Economic Overview: Transport and Communications.” The Embassy of the Republic of Kazakhstan in the United Kingdom of Britain and Northern Ireland, http://www.kazakhstanembassy.org.uk/…x/70.
[55] EIU, Turkmenistan Country Profile, 2006, pp. 5-6, 8-9. 14-15. For more on Turkmenistan’s political and societal structure, see Martha Oclott’s Central Asia’s Second Chance.
[56] Sergei Blagov, “Russia Mulls ‘Gas OPEC’ Plan.” ISN Security Watch, 2 March 2007, http://www.isn.ethz.ch/…7207.
[57] George W. Bush, President Delivers State of the Union Address, 29 January 2002, http://www.whitehouse.gov/…html.
[58] CIA World Factbook, Iran: People, https://www.cia.gov/…html.
[59] “All Hands to the Pump.” The Economist, 24 March 2007, pp. 52-53.
[60] “Caspian Sea Region: Natural Gas Export Options.” Energy Information Administration, July 2002, http://www.eia.doe.gov/…html.
[61] EIU, Turkmenistan Country Report, January 2007, pp. 21-22.
[62] EIU, Turkmenistan Country Report, January 2007, pp. 21-22.
[63] Michael Ochs, “Turkmenistan: Pipeline Dream II.” Caspian Crossroads Magazine, Winter 1995,http://ourworld.compuserve.com/…htm.
[64] “Table 4. Oil Export Routes and Options in the Caspian Sea Region.” Energy Information Administration, July 2002, http://www.eia.doe.gov/…html.
[65] Olcott, Kazakhstan: Unfulfilled Promise, p. 208.
[66] Ibid.
[67] Felicity Barringer and Andrew C. Revkin, “Gore Warns Congressional Panels of ‘Planetary Emergency’ on Global Warming.” New York Times, 22 March 2007, http://select.nytimes.com/…4482.
[68] “Are Canadian Tar Sands the Answer to Our Oil Needs?” Money Week, 11 November 2006, http://www.moneyweek.com/…html.
[69] Farhan Reza, “Is the Largest Market in the Making?” Himal, January 2004, http://www.himalmag.com/…htm.
[70] “BP Caspian – Overview: Baku-Tiblisi-Ceyhan Pipeline.” From the BP website: http://www.bp.com/…4358.
[71] “BP Caspian – Overview: South Caucasus Pipeline.” From the BP website: http://www.bp.com/…4371.
[72] “Nabucco Pipeline is Approved.” BBC News, 27 June 2006, http://news.bbc.co.uk/…stm.
[73] Vladimir Socor, “Azerbaijan Spearheading Initiative on Trans-Caspian Gas Pipeline.” Eurasia Daily Monitor, 30 March 2006, http://www.jamestown.org/…0929.
[74] “Kashagan Partners Eye US$4-bil Trans-Caspian Oil Transport System to Connect to BTC Pipeline.” Global Insight, http://www.globalinsight.com/….htm.
[75] “EU, Kazakhstan: The Geopolitics of Energy Cooperation.” Stratfor, 4 December 2006, http://www.stratfor.com…1479.
[76] Charles Ganske, “Georgia: More Unintended Consequences?” Real Russia Project, 6 November 2006, http://www.russiablog.org/…php?.
[77] EIU, Turkmenistan Country Profile, 2006, pp. 5-6, 8-9. 14-15. For more on Turkmenistan’s political and societal structure, see Martha Oclott’s Central Asia’s Second Chance.
[78] Ina Iankulova, “Shell Closes Down in Turkmenistan.” Euraisanet.org, 10 April 2003, http://www.eurasianet.org/…shtml.
[79] “A Crack in the Isolation of Turkmenistan: Internet Cafes.” USA Today, 16 February 2007, http://www.usatoday.com/…htm.
[80] “Freedom Car & Vehicle Technologies Program: Fact of the Week #336.” From the U.S Department of Energy: Energy Efficiency and Renewable Energy website: http://www1.eere.energy.gov/…html.
[81] For a detailed look at the geopolitical struggle over African oil reserves, see: John Ghazvinian, Untapped: The Scramble for Africa’s oil (London: Harcourt, 2007).
[82] Jeffrey Thomas and Kathryn McConnell, “Bush Welcome’s Kazakh President, Reaffirm US-Kazakh Friendship.” Bureau of International Information Programs, US Department of State: The Washington File, 29 September 2006, http://usinfo.state.gov/…7599.
[83] Barbara Slavin, “Kazakh Leader’s Visit to Require Diplomatic Finesse.” USA Today, 27 September 2006,  http://www.usatoday.com/…htm.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s