Oleh: Michael Winchester
24 Oktober 1997
Sumber: www.asiaweek.com

Tujuh tahun lalu, Muslim Uighur China melancarkan pemberontakan kecil-kecilan di Xinjiang. Hari ini menjelma menjadi kampanye teror pengeboman dan pembunuhan. Beijing merespon dengan eksekusi dan pemenjaraan, sambil menipiskan populasi Uighur dengan gelombang migran Han China. Kini pemberontak menyerukan perang suci. Demikian laporan saksi mata.

Peta wilayah
Peta wilayah

“Isolasi. Basmi seperti tikus terpojok. Berantas seperti hama.” Mungkinkah perkataan setajam ini ditujukan pada orang hitam bisu yang duduk di seberang meja di kafe makan siang yang penuh sesak? Mungkinkah orang bersenyum lambat dan nyaris pemalu ini, yang menjumput-jumput sepotong ayam, sebetulnya teroris kejam dan brutal yang tak boleh dikompromikan?

Pria-pria kuat dari aparat keamanan dan intelijen China yakin akan hal itu. Selama lebih dari 20 tahun mereka memasukkan dan mengeluarkannya dari deretan pusat interogasi, penjara, dan kamp kerja. Dan saat ini mereka ingin dia melakukannya lebih lama. Atau menghadapi pembalasan dendam permanen. “Teroris” atau “pejuang kemerdekaan”, Torghun adalah seorang Uighur dan veteran pergerakan yang berkomitmen pada upaya nekat, bahkan bunuh diri: mengusir negara China dari teritori barat yang luas yakni Xinjiang, yang lebih suka disebut oleh Torghun dan rekan-rekannya sebagai “Turkistan Timur”.

Torghun (seperti Uighur lain yang saya ajak bicara, meminta keanoniman) masih jauh dari cita-citanya, dan sambil tersenyum dia mengakui bahwa untuk saat ini prospek keberhasilannya nyaris nol. Tapi, dia dan sesama separatis telah membuat pemimpin China bingung. Dalam satu dekade terakhir, persoalan Xinjiang meluas dari kerusuhan ras berkala menjadi gelombang teror penuh, masalah keamanan dalam negeri China paling serius sejak pergolakan Revolusi Budaya. Kampanye pengeboman, pembunuhan, dan penembakan telah mengakibatkan penangkapan masal, pemenjaraan kejam, dan banyak eksekusi. Februari, kota Yining ditutup beberapa hari menyusul kerusuhan besar—bukti nyata bahwa ketidakpuasan di Xinjiang bukan terbatas pada “segelintir” orang yang tidak puas dan penjahat, seperti dikatakan China, melainkan fenomena populer. Dalam obrolan tahunan di Beidaihe bulan Juli, para ketua partai China menunjuk persoalan Xinjiang sebagai ancaman terbesar bagi persatuan negara—dan tak ada sedikitpun propaganda resmi untuk menutupinya.

Di sela-sela suapan ayam, Torghun tidak mengakui bahwa dia sendiri meledakkan bom. Tapi jelas dia tahu lebih banyak tentang apa yang berlangsung di dunia suram bawah tanah Uighur daripada di China belakangan ini. Dan dia telah berjaga-jaga untuk meninggalkan negara tersebut. Duduk bersama saya di restoran penuh sesak saja sudah menimbulkan resiko besar, dan saya sepakat untuk tidak mengungkap keberadaannya. Bahkan, bertemu Torghun dan orang-orangnya bukanlah perkara mudah. Saya mendatangi empat negara dan menghabiskan banyak waktu di kedai-kedai kopi hotel yang jorok, menanti panggilan telepon yang sebagian besar tak jua datang. Ketika datang panggilan telepon, itu bisa dari tukang suap yang mencari dolar dengan mudah atau Uighur buangan yang ramah yang memiliki cerita kekejaman tapi sudah 40 tahun tidak melihat Xinjiang.

Akhirnya, melalui keberuntungan, seorang kontak dari konflik regional lain memberi manfaat. Rahim pernah memerangi komunisme di medan tempur Afghanistan timur. Hari ini dia menetap nyaman dengan istri, dua anak, dan “bisnis keluarga” di Teluk. Tapi jejaring jihad lama tidak padam dan Rahim masih mencermati keadaan. Dia menunjuk jalan pada sosok Torghun—yang menjelaskan mengapa dirinya terlibat dalam urusan ini.

Lahir di benteng konservatif pedesaan Xinjiang jauh di selatan, Torghun belajar di pangkuan neneknya bahwa Muslim berbeda dari “kafir”, atau orang tak beriman. Dia melihat langsung bagaimana banyak Han China memandang Uighur dengan jijik, jauh sebelum Torghun mengekspresikan kemarahan terhadap mereka. Dia pertama kali berselisih dengan pihak berwenang saat remaja. Dia dan sekelompok teman mencoba mencuri senjata dari pos polisi. “Itu betul-betul gila,” kenangnya. “Kami kabur dengan [senapan] Kalashnikov dan senapan mesin. Idenya sederhana, memerangi China.” Perbuatan nekat itu menjebloskan Torghun ke balik jeruji untuk pertama kalinya, lebih banyak di kurungan terpisah. Dan di penjaralah, dididik oleh seorang imam yang juga dipenjara gara-gara aktivitas anti-China, imannya pada Islam berkembang dan terus menopangnya. “Kekuatan kami sekarang adalah iman agama kami,” katanya lalu tersenyum tipis: “Rasanya saya harus berterima kasih pada China atas hal itu.”

Di akhir 1980-an, Torghun bergabung dengan kelompok bawah tanah yang dipimpin santri karismatik bernama Zahideen Yusuf. Putera petani, Zahideen berasal dari Baren, desa miskin Uighur di selatan Kashgar dengan sejarah panjang kerusuhan anti-China. Terinspirasi ide “perang suci” yang diamalkan mujahidin Afghan terhadap kaum kafir penyerbu, Zahideen membangun pengikut pertama-tama di Baren, lalu di luar, dan menimbun senjata selundupan. “Organisasi Baren tersebar ke seluruh Turkistan,” kenang Torghun. “Santri-santri dari Baren mendatangi berbagai kota, mendorong jihad. Sebagian besar masyarakat, termasuk saya, berargumen waktunya belum matang.”

Matang atau tidak, Baren meledak pada 5 April 1990, setelah polisi menggerebek desa itu, mencari senjata. Tentara dimobilisasi dan setelah dua hari bertempur, 30 orang tewas, termasuk Zahideen, sebagian besar pengikutnya, dan beberapa polisi China. Pemberontak lain dan penduduk simpatik yang lari ke gunung-gunung dikejar helikopter pasukan dalam penyisiran masif yang menjaring ratusan orang. Torghun sendiri tidak terlibat dalam pertempuran ini, tapi termasuk salah satu dari 1000 tersangka lebih yang ditangkapi di kota-kota Xinjiang pekan-pekan berikutnya. Untuk pertama kalinya, organisasi Muslim terbuka dengan jangkauan seluas wilayah berani menantang kebesaran negara China.

Baren adalah permulaan. Selama dua tahun setelah “pemberontakan bersenjata kontra-revolusi” itu, muncul ketenangan. Torghun ingat, dirinya diinterogasi berbulan-bulan, pertama di Kashgar, lalu di Urumqi. Dia berakhir di sebuah kamp laogai (reformasi melalui kerja paksa) selama beberapa tahun. Tapi jika pejabat keamanan Xinjiang menyimpulkan kekuatan “Partai Islam” separatis telah hancur, mereka salah besar. “Organisasi ini tak pernah hancur,” kata Torghun. “Sebagian orang melarikan diri dari Baren, yang lain dilepas dan terus berusaha.”

5 Februari 1992, dua bom, diatur bertepatan dengan Tahun Baru China, meledak dalam sebuah bus Urumqi, menewaskan enam orang. Itulah ledakan pertama dalam kampanye teror yang tahun ini untuk pertama kalinya menjangkau Beijing. Orang-orang yang memulai perjuangan di Baren semakin berani—dan mereka mendapat dukungan masyarakat. Saya pergi ke Xinjiang untuk mencaritahu sebabnya.

Berkendara menuju Kashgar yang terik di musim panas, saya setengah menyangka akan mendapati kota yang sedang dikepung—polisi bersenjata di jalanan, prajurit di bangunan vital. Realitanya berbeda: Ini bukan kamp bersenjata, lebih mirip destinasi liburan. Kota pedagang dan tukang bangsa Uighur kuno, Kashgar adalah contoh keindahan budaya Asia Tengah yang sedang diperangi dan menghilang cepat. Alun-alun pusat didominasi Masjid Eidgah, di mana kaum pria tua berjanggut kambing, bersepatu setinggi lutut, dan bertopi sulam tidur-tiduran di bawah naungan halaman dalam. Sepanjang gang-gang berliku dan berdebu di kota sebelah dalam, keledai-keledai lambat masih menarik gerobak bemuatan orang dan barang dagangan. Tak ada prajurit ataupun senjata di manapun.

Kashgar benar-benar kota Uighur. Meski Muslim Turk ini menyumbang kurang dari setengah populasi 17 juta di Xinjiang, di sini di antara duyun-duyun orang kota dan petani di pasar Minggu hampir tidak ada wajah China. Tapi di balik kesibukan perdagangan sehari-hari, terdapat ketakutan dan paranoia nyata. Orang-orang  tak saling mempercayai. Mata-mata mungkin sedang bercampur baur dengan kerumunan, kaum Uighur yang bekerja untuk negara. Beberapa bulan sebelum saya datang, Harun Khan Hajji, imam berusia 73 tahun di Masjid Eidgah, hampir ditikam sampai mati. Para penyerangnya memandangnya sebagai simpatisan pemerintah dan memutuskan untuk membunuhnya dalam perjalanan pulang. Di lingkungan seperti itu, tak seorang pun mau berbicara pada orang asing. Penghenti obrolan termanjur adalah pertanyaan tentang keamanan atau bom. Namun terdapat isyarat samar. Bersantai di sebuah kedai teh, saya dihampiri seorang Uighur pendiam berusia pertengahan bertopi sulam. Dia memakai bahasa isyarat—telunjuk dan jempol menjerat pergelangan tangan sebagai [isyarat] borgol, dua jari membentuk pistol ke arah kepala sebagai [isyarat] eksekusi. Lalu dia menuliskan angka di diari saya: 2.500—barangkali jumlah penangkapan.

Kemudian, saya duduk untuk minum bir bersama seorang pemuda tampan bernama Askar. Dari penampilannya, dia adalah iklan berjalan untuk propaganda indah China tentang persatuan etnis. Askar masih belia, berpendidikan universitas, pandai bicara; dia mampu berbicara dan menulis bahasa China dengan fasih, bahasa Inggris dengan lancar. Dengan pekerjaan bagus di kantor pemerintahan, orang ini memiliki resiko di dalam sistem. Atau begitulah kira-kira. Sembari kami menyeruput bir, kegembiraan Askar menguap dan satu persatu kemarahan Kashgar terungkap.

Ya, katanya, terjadi penangkapan luas. Berapa banyaknya, dia tak tahu. Tapi cukup untuk menakuti masyarakat. Dan, tambahnya, nyaris sepintas lalu, sebuah bom meledak tiga hari sebelumnya dalam sebuah taksi dan menewaskan sopir berkebangsaan China. Bom-bom meledak selama lima tahun ini. Dari Urumqi tahun 1992, bom-bom menjangkau Kashgar Juni 1993. Mulai meledak di Aksu, di jalan antara Kashgar dan Urumqi. Kini kembali ke Urumqi lagi. Dan belakangan Beijing. Askar bukan pendukung pengebom atau pembunuhan sopir taksi. Tapi sebenarnya, seperti banyak pemuda Uighur, dia menginginkan kedua-duanya—memimpikan kemerdekaan tapi tak menginginkan kekerasan.

Sebagaimana pandangan Askar, persoalan Xinjiang menjadi fenomena perkotaan. Pengangguran dan diskriminasi adalah akar masalah. Dia melirik ke sekeliling ruangan dan memelankan suara: “Di Kashgar tahun lalu ada sekitar 6.000 lulusan SMU dan universitas. Tapi hanya 3.000 yang memperoleh pekerjaan dan sisanya menunggu.” Dia mencondong ke depan untuk menekankan: “Dan 90% pengangguran tersebut adalah Uighur. Lulusan China tak kesulitan mendapat kerja.”

Menyediakan lebih banyak lapangan kerja berarti mengintegrasikan ekonomi desa selatan dengan ekonomi Xinjiang di utara yang sedang booming. Untuk itu, pemerintah pusat berinvestasi pada jalan bebas hambatan dan infrastruktur lain. Sebuah jalan baru membelah gurun Taklamakan telah menghubungkan oase terpencil Niya dan Hotan di selatan dengan Korla dan utara. Dan, yang lebih penting, menjelang tahun 1999 rel kereta dari Urumqi akan masuk ke Kashgar. Perkembangan ekonomi dan kemakmuran lebih besar semestinya menumpulkan mata radikalisme Islam dan pembangkang nasionalis. Atau begitulah teorinya.

Tapi ada jebakannya, jebakan besar: Sebagaimana di utara, peluang baru juga akan merangsang arus masuk bangsa Han, yang diuntungkan secara bahasa, lebih berpendidikan, dan cerdas secara ekonomi. “Banyak orang menghawatirkan rel kereta itu,” kata Askar. “Artinya orang-orang China akan berdatangan dan faktanya kami tak mampu bersaing untuk mendapat pekerjaan. Kami perlu orang-orang berpendidikan, berketerampilan teknis.” Tapi sekalipun Beijing menyediakan pekerjaan kantoran untuk setiap penjual kebab, dinding etnis fundamental takkan menghilang dalam waktu cepat. “Pemerintah sudah terlambat,” kata Torghun dengan senyum memperdaya. “Begitu ekonomi membaik, orang-orang semakin berpendidikan dan mulai menyadari siapa musuh mereka.” Meski kehidupan banyak kaum Uighur membaik,” katanya, “kau menemukan aktivitas anti-pemerintah lahir di setiap bidang. Ini bukan semata soal ekonomi.”

Dia mungkin benar. Bagi Uighur, penderitaan telah menyayat sampai inti identitas etnis mereka dan, puncaknya, keberlangsungan sebagai budaya. Terbagi-bagi di antara China, Kazahkstan, dan Kirgiztan (tapi mayoritas di China), Uighur adalah bangsa tanpa negara. Kaum minoritas utama lain di Xinjiang – Kazakh, Kirgiz, Tajik, Uzbek, dan Mongol – memiliki negara bangsa sendiri di sepanjang perbatasan sebagai benteng kebanggaan budaya dan etnis. Sebaliknya, Uighur China terperangkap di jalan buntu tanpa ada tempat lain untuk didatangi – dan 1,2 miliar bangsa Han ada di ambang pintu. Uighur sangat curiga Han berniat mempersilakan diri mereka sendiri untuk tinggal dalam waktu lama.

Di Urumqi, paranoia Uighur dapat dimaklumi seketika. Ibukota Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang itu pada hakikatnya adalah kota Han China. Makmur, tertib, dan ambisius, dunia yang jauh dari debu, gerobak keledai, dan gang-gang bobrok Kashgar. Sepuluh tahun sebelumnya, ketika saya pertama kali datang, Urumqi adalah pusat industri dekil, rumah bagi sekitar satu juta jiwa. Bangunan tertinggi di kota – bahkan di seluruh barat China – adalah Hotel Kunlun, blok Stalinis suram setinggi delapan lantai. Urumqi hari ini telah bertransformasi menjadi Shenzhen West, kota maju berpenduduk hampir tiga juta, pusatnya dijejali gedung tinggi berupa bank, hotel, blok perkantoran, dan disibuki pasar malam dan butik ambisius. Sedangkan Uighur? Anda takkan melihat banyak kaum Uighur mengemudikan limosin baru dan four-wheel-drive, itu pasti. Di pusat keramaian, banyak Uighur sedang bekerja sebagai pembuat kebab, penukar uang, dan penjaga pintu—rupanya warga kelas dua di tanah sendiri.

Kehadiran Han China meninggalkan tanda di gurun dan oase Jalan Sutera sejak sekurangnya abad 2 SM. Tapi baru dengan penaklukan oleh Dinasti Manchu Qing pada 1757-1759-lah kekuasaan China berdiri kokoh di wilayah yang, pada abad berikutnya, disebut sebagai Xinjiang—Dominion Baru. Bahkan ia mengalami revolusi berkala dan berdarah yang berlanjut sampai Republik Turkistan Timur dukungan Soviet berdiri dari 1944 hingga 1949. Kemenangan tentara komunis Mao Zedong pada 1949 mengatur pentas untuk program Chinanisasi besar-besaran.

Selama empat dekade dari pertengahan 1950-an sampai pertengahan 1990-an, Han China yang meluap ke Xinjiang lebih banyak daripada selama dua milenium sebelumnya. Kampanye kolonisasi internal yang dijalankan negara ditujukan untuk mengamankan wilayah vital secara ekonomis tapi genting secara strategis, ini bukan perpindahan penduduk secara spontan. Pada 1955, Han China menyumbang kurang dari 10% populasi Xinjiang. Menurut angka resmi, antara 40% sampai 45% penduduk wilayah tersebut kini beretnis China. Namun, banyak kaum Uighur yakin populasi Han sudah melewati angka 50%.

Yan Cheng-chi adalah salah seorang perintis Han. Pada 1956, umur 17, dia meninggalkan kampung halamannya di pesisir Shandong, berdesakkan ke dalam kereta untuk perjalanan tiga hari menuju Lanzhou. Dari sana, ada truk ke Urumqi di barat. “Kami berempat puluh ribu orang menuju barat dari Shandong dan Henan—dimobilisasi negara,” kenang Yan, kini berumur 58. Dari Urumqi, Yan dan rekan-rekannya diangkut truk sejauh 230 km ke arah barat menuju dataran suram berangin yang dikelilingi sederet puncak bertutup es di selatan.

Ini rumah baru Divisi Agrikultur X militer yang dikenal sebagai Xinjiang Production & Construction Corps – atau disingkat Bingtuan (korps). Angkatan paramiliter masif, organisasi ini mulanya terdiri dari pasukan yang didemobilisasi yang menjadi petani prajurit. Kemudian ia diisi “musuh kelas” dan Garda Merah. Bingtuan merupakan barisan terdepan dalam Chinanisasi Xinjiang.

“Saat kami datang, tak ada apa-apa,” kenang Yan. “Tak ada blok apartemen, bahkan tak ada rumah—hanya tanah kosong. Kami harus membangun tenda, menggali parit.” Hari ini Yan telah pensiun dari Divisi 10 selama enam tahun. Bersama isterinya, dia mendapat penghasilan lumayan dengan menjual minuman di kios pasar. Dan di dataran di mana 40 tahun silam dia memancang tenda terdapat kota industri baru. “Mereka mulai membangun Kuitin tahun 1957,” kata Yan. “Awalnya tidak banyak. Tapi sejak masa kebijakan pintu terbuka, keadaan betul-betul meningkat.”

Itu bukan membesar-besarkan. Didorong sumbangan dari pemerintah pusat, jalanan lebar Kuitun yang dulunya dijejeri pepohonan kini berderetkan hotel, toko swalayan, dan pasar baru. Di kompleks industri, timur kota, pabrik-pabrik baru berdiri; di selatan, blok apartemen baru menjulang. Jalan utama kota merupakan jalan bebas hambatan delapan ruas senilai ibukota negara. Hari ini, hanya beberapa mobil dan truk yang menggelinding di atasnya, dan Kuitun adalah rumah bagi kurang dari 100.000 orang, sebagian besar Han China. Kota ini menanti penduduk. Jika kota-kota utara Xinjiang lainnya adalah suatu indikasi. Kuitun akan terisi cepat—dan bisa dipastikan para pendatang baru itu bukan petani Uighur.

Masalah Beijing bisa diringkas cukup sederhana. Sejak akhir 1980-an—bahkan sebelum pemberontakan Baren—Islam sudah menjadi pokok nasionalisme dan identitas Uighur. Sebagian, ini terjadi karena Beijing mencabut kebijakan represif Revolusi Budaya yang mengubah masjid menjadi gudang ternak. Hasilnya adalah renaisans Islam luar biasa dalam bidang budaya maupun agama. Arsitektur mengadopsi motif familiar Islam; tulisan Latin menjadi Arab; kebangkitan perhatian pada agama. Ratusan masjid dibuka; kelas-kelas dan kampus-kampus Qur’an tumbuh subur; minat mendadak pada perjalanan haji ke Mekkah.

Tapi kebijakan dagang pintu terbuka juga berarti bahwa Xinjiang tak lagi terisolir dari Asia. Dan bersamaan dengan perdagangan, datang ide baru dan uang asing. Masuk pendakwah dari Pakistan dan Teluk, orang buangan dari Kazakhstan, uang untuk [pendirian] masjid baru – dan senjata selundupan. Lalu-lintasnya dua arah: Para pemuda Uighur bepergian ke medan tempur Afghanistan di mana mereka meminum semangat jihad keras, atau perang suci, melawan sebuah negara komunis kafir lain.

Alhasil, para warga Baren itu mendapat konstituensi yang semakin reseptif di antara populasi Uighur yang bingung dan marah. Dari pernyataan-pernyataan resminya jelas bahwa pada 1993 sebagian ulama terang-terangan mendakwahkan jihad dari masjid-masjid; bahwa para anggota partai dan pejabat pemerintah terlibat dengan kegiatan bawah tanah; dan bahwa pesan separatis menemukan pendengar baru di kalangan mahasiswa kota. Dalam upaya menghempaskan perjangkitan itu, pejabat Xinjiang menerbitkan sederet undang-undang baru. Dari awal 1991, pihak berwenang menyaring ulama untuk membuang [ulama] yang tak benar dan tak diinginkan secara politik.

Sejak itu mereka menutup masjid-masjid tak terdaftar; melarang pemakaian pengeras suara di luar masjid terdaftar; melarang kelas-kelas Qur’an untuk anak kecil dan pemuda; melarang uang asing untuk tujuan keagamaan; memperketat persyaratan keluar negeri; memberlakukan pembatasan umur untuk perjalanan haji; mengharamkan terbitan materi agama tak sah; dan menindak keras anggota partai Komunis yang mengunjungi masjid.

“Pemerintah mencoba berjalan di garis tipis antara menghadang Islam dalam paramater kaku dan memberangusnya sama sekali,” kata orang asing yang mengenal perpolitikan Xinjiang. Tapi garis itu semakin tipis. Bahkan sekarang kunjungan masjid oleh pekerja pemerintah, guru, atau siswa dianggap berpotensi subversif. “Jika saya pergi ke masjid secara terbuka, saya akan kehilangan pekerjaan,” kata Askar, pegawai pemerintah. Sekarang ini dia shalat sembunyi-sembunyi di rumah. Islam semakin menarik diri ke bawah tanah, seringkali menjadi persaudaraan Sufi rahasia dan asosiasi budaya yang disebut mashrab.

Sadar akan pengalaman teranyar di Afghanistan, di mana pelajar-pelajar agama mengambil alih negara itu secara efektif, China sangat waspada terhadap sekolah-sekolah Islam (meski saya tak menemukan bukti kolaborasi antara militan Afghan dan Uighur). Awal tahun ini, pihak berwenang menindak keras jaringan taliban [pelajar] di Hotan dan menangkap beberapa orang. Tapi pada Juli, pentolan berumur 23 tahun, Abdul Hamit “Dawat”, kabur sambil terbelenggu di depan mata empat polisi Uighur yang mabuk. Pasukan keamanan menyegel Hotan dan memeriksa kartu identitas dan kendaraan siapapun yang keluar atau masuk kota. Imbalan 20.000 yuan ($2.400) diumumkan di TV, jumlah yang besar di selatan yang miskin. Tak ada yang menerima tawaran, dan Abdul Hamit masih bebas berkeliaran.

Seperti Kashgar, oase selatan Hotan sudah lama menjadi pusat budaya tradisional Uighur dan, belakangan, kebangkitan Islam. Dan seperti Kashgar, kota itu tampak damai dan sepi, dikelilingi oase tumbuhan hijau yang luas, ladang dan hutan poplar dan kebun anggur yang diairi lelehan salju dari hutan lebat, padang rumput dataran tinggi pegunungan Kunlun. Di kota, terpusat pasar baru, pertokoan baru, dan semakin banyak Han China yang menegaskan kemakmuran baru. Bahkan berdiri sebuah masjid pusat baru (disetujui resmi). Tapi kemarahan terpendam tak jauh di bawah permukaan. Seperti kata seorang pelajar muda: “Setiap orang menyimpan amarah di hati mereka tapi tak bisa mengungkapkannya.” Dalam perjalanan ke sini saya bertemu pekerja pemerintah bernama Khalid. Tahun lalu dia ditangkap dan diinterogasi atas kecurigaan menjadi bagian dari [gerakan] perlawanan. Pengalaman itu membuatnya patah semangat dan berandai-andai dirinya “tak pernah terlahir sebagai Uighur”. Terkadang, katanya, “Saya merasa Tuhan kami telah melupakan kami.” Tahun ini dia bahkan tidak menjalankan puasa Ramadhan. “China semakin kuat, kaya, dan banyak. Militernya bertambah, sipilnya bertambah.”

Masalah serius pertama bergejolak di sini pada awal Juli 1995. Setelah seorang imam yang kritis terhadap kebijakan pengendalian kelahiran ditangkap, segerombol pelajar Qur’an yang marah menyerbu kantor-kantor Partai Komunis, menuntut pembebasannya. Demonstrasi itu dibubarkan tanpa korban jiwa, tapi 260 orang ditangkap di tempat dan selebihnya setelah kejadian. Tiga pentolan, kata warga setempat, mendapat hukuman penjara 16 tahun di kamp kerja paksa. Gelombang penangkapan lebih luas menyusul tahun lalu di bawah kedok kampanye anti-kejahatan “Strike Hard”. Di Xinjiang, itu ditargetkan pada separatis bawah tanah dan tempat penyembunyian senjata dan bahan peledak ilegal. Tapi di Hotan, juga tempat lain, perbedaan antara separatis, simpatisan separatis, dan Muslim saleh menjadi kabur.

“Mereka mengerahkan pasukan tambahan ke kota dan sekurangnya 600 orang ditangkap, kebanyakan pemuda berpendidikan,” kata Abdul Ahat, pelajar setempat. “Penjara penuh dan mereka harus memindahkan orang-orang ke Kashgar. Masyarakat marah—bahkan orang Uighur di pemerintahan.” Di sini juga agama menarik diri ke bawah tanah. “Saya rasa kebijakan pemerintah selama dua tahun ini tidak berhasil,” kata Ahat. “Kaum muda yang sebelumnya tak pernah sholat dan terbiasa mabuk-mabukan dan berdansa kini mengerjakan shalat—seringkali sembunyi-sembunyi di rumah.”

Tindakan keras China di Xinjiang memang mendorong agama ke bawah tanah, tapi keberhasilannya setengah-setengah. Sebab tak lama kemudian, suatu area yang tampak tenteram daripada wilayah lain bergejolak. “Tak ada damai di Xinjiang sekarang,” kata Ahat. “Satu hari, China menyatakan masalah sudah beres lalu – Daaar! Kami mendengar sesuatu di Aksu atau Korla.” Atau Yining, kota dekat perbatasan Kazakh. Sekurangnya sembilan orang tewas dan hampir 200 orang terluka pada bulan Februari dalam letusan kekerasan ketika pasukan keamanan berusaha membubarkan demonstran yang marah dengan gas air mata dan meriam air. Itu kekerasan paling serius sejak insiden Baren. Delapan bulan kemudian, setelah penangkapan, penutupan masjid, dan beberapa eksekusi, Yining masih dikabarkan tegang.

“Konflik kini jauh lebih serius,” kata Michael Dillon, profesor sejarah China modern di Universitas Durham dan ahli tentang Islam China. “Eksekusi menghasilkan martir, dan tumbuh kemarahan terhadap China yang tak terasa sepuluh tahun lalu – perasaan nekat di kalangan pemuda bahwa mereka harus berbuat sesuatu.” Sekarang ada rumor pasukan China menyisir pegunungan di utara Aksu untuk mencari gerombolan pemuda bersenjata, dan ledakan-ledakan di jalur kereta di timur.

Beijing bergerak cepat tahun-tahun belakangan untuk mempererat hubungan baik dengan tetangga di perbatasan luas Xinjiang – khususnya Pakistan, Kazakhstan, dan Kirgiztan – demi memotong dukungan politik dan logistik bagi gerakan separatisme di Xinjiang. Pada waktu bersamaan, kehadiran pasukan pengaman besar tapi tidak intens di Xinjiang menghasilkan campuran kuat Polisi Bersenjata yang siap menghadapi kerusuhan dan milisi Bingtuan bersenjata lengkap yang disokong satuan-satuan reguler tentara. Sedikit diragukan apakah Beijing bisa mengakhiri kekacauan Xinjiang untuk jangka waktu tak terbatas. Tapi penangkapan luas, kamp kerja paksa, dan bertambahnya jumlah eksekusi sedang menabur bibitnya sendiri.

Adalah bijak bahwa skenario terbaik China untuk Xinjiang sejenis dengan Irlandia Utara: kampanye terorisme kecil-kecilan dan terus-menerus yang memperoleh lumayan dukungan masyarakat tapi tetap dalam batas-batas yang dapat dipikul. Skenario terburuk adalah apa yang diramalkan Torghun dan kelompok bawah tanah dan tak mau dipertimbangkan Beijing – tergelincir ke dalam represi lebih dahsyat, polarisasi etnis lebih lebar, dan kekerasan. Itu berarti menekan sebuah wilayah yang lebih luas dari kebanyakan negara—bukan gagasan bagus untuk negara yang sedang memprioritaskan pertumbuhan ekonomi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s