Oleh: William Byrd
Senin, 2 Juli 2012
Sumber: afpak.foreignpolicy.com

afghanistanmeeting

Sejak keruntuhan rezim Taliban di tahun 2001, Afghanistan mengalami banyak rapat tingkat tinggi internasional, dengan frekuensi meningkat beberapa tahun belakangan. Sepertinya tak ada negara berkembang terdampak konflik lain yang “dirapat-nisasi” seperti Afghanistan. Dengan KTT NATO Chicago Mei lalu yang difokuskan pada keamanan Afghanistan, Konferensi Tingkat Menteri “Jantung Asia” di Kabul Juni lalu, konferensi Tokyo untuk pengembangan [Afghanistan} Juli ini, dan kemungkinan rapat-rapat lanjutan yang sudah dibahas, ada baiknya melangkah mundur dan meninjau ulang pengalaman ini sebagaimana dilakukan dalam sebuah makalah terbaru.

Kesibukan rapat-rapat sekarang terjadi dalam konteks mengurangi pasukan dan sumberdaya finansial internasional untuk Afghanistan, sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya keterlibatan internasional dipertahankan atau ditingkatkan. Tapi pelajaran dari banyak peristiwa selama satu dekade ini tetap relevan. Rapat-rapat ini berhasil dalam menjaga perhatian internasional tetap fokus pada Afghanistan, mendatangkan dukungan finansial, mempertunjukkan keinklusifan, dan menyediakan “kursi di meja” untuk semua mitra, menghasilkan dokumen strategis yang bagus, dan menjadi forum untuk pemerintah Afghan. Namun, ada banyak persoalan:

  • Meningkatnya ekspektasi tinggi mengakibatkan kekecewaan
  • Kurangnya tindak lanjut terhadap kesepakatan yang dicapai dan komitmen yang dibuat
  • Mengurangi sasaran rapat dan bahkan terkadang menggagalkannya
  • Diplomasi sering mengalahkan substansi
  • Lebih fokus pada kebutuhan dan isu pendonor daripada masalah Afghanistan
  • Mengorientasikan pemerintah Afghan ke arah pendonor daripada rakyat Afghan
  • Pengalihan sumberdaya (terutama sumberdaya intelektual) ke arah rapat-rapat
  • Kejenuhan rapat—terlalu banyak rapat mengurangi signifikansi setiap acara
  • Rapat terlalu sering menggantikan tindakan

Di masa depan, keefektifan rapat-rapat ini bisa ditingkatkan dengan: (1) berpegang pada ekspektasi realistis mengenai apa yang bisa dicapai rapat; (2) tidak mengharapkan rapat akan menggantikan keputusan dan tindakan sulit; (3) memiliki agenda rapat substantif, menghindari kooptasi penuh oleh prioritas diplomatik, dan memelihara disiplin dalam membentuk agenda; (4) mencocokkan sasaran dengan isu utama rapat; (5) memastikan penelitian latar belakang berkualitas untuk rapat; (6) fokus pada area-area kunci dan beberapa tolok ukur sederhana dan dapat dimonitor; dan (7) menjaga jumlah dan frekuensi rapat tetap teratur.

Beralih ke rapat-rapat paling anyar dan akan datang, KTT keamanan NATO Chicago 20-21 Mei berhasil dalam menghasilkan konsensus angka untuk total biaya sektor keamanan Afghanistan pada tahun-tahun mendatang. Namun, janji pendonor kurang menutupi porsi internasional dari jumlah ini, di mana sebagian pendonor belum dalam posisi membuat janji. Lebih jauh, selain biaya finansial, banyak isu dan persoalan non-finansial mengganggu sektor keamanan Afghanistan, yang menimbulkan tanda tanya besar bagi kesuksesan transisi keamanan selama tahun-tahun mendatang.

Rapat “Jantung Asia” di Kabul 14 Juni lalu menggambarkan keterbatasan pertemuan semacam itu. Ini merupakan salah satu dari rangkaian rapat panjang mengenai isu regional (sebagian fokus pada perkembangan ekonomi dan perdagangan regional, yang lainnya fokus pada hubungan politik dan keamanan, yang lain lagi fokus pada pengawasan perbatasan dan narkotika) yang belum mencapai banyak hal secara substantif. Rapat terakhir ini, tindak lanjut rapat Istanbul tingkat tinggi mengenai keamanan regional November silam, menyatukan para pemain kunci regional plus mitra-mitra jauh Afghanistan dan organisasi internasional terkait, tapi ini rupanya tidak menghasilkan banyak kemajuan konkrit. Hal ini tidak mengherankan mengingat adanya patahan geopolitik dan perbedaan kepentingan dan hubungan yang terwakilkan dalam rapat—mulai dari Iran, Rusia, India, China, Pakistan, AS, dan lainnya—yang menjadikannya salah satu wilayah dunia paling sulit untuk mencapai kemajuan nyata dalam kerjasama regional di dimensi politik, keamanan, atau ekonomi. Realita ini bertentangan dengan pengumuman optimistis tentang Afghanistan sebagai “jembatan darat” di Asia Tengah atau harapan “Jalan Sutera baru”.

Terakhir, rapat Tokyo mendatang dimaksudkan untuk menetapkan agenda pengembangan Afghanistan jangka panjang, dengan horison masa sepuluh tahun setelah itu—yakni “dekade transformasi” menyusul transisi 2011-2014. Meski membuat perspektif jangka panjang Afghanistan sangat penting, retorika memuncak ini bisa mengalihkan dari pertanyaan kunci yakni apakah transisi akan berjalan cukup baik—secara politik, ekonomi, dan keamanan—sehingga negara tersebut akan berada dalam posisi mencapai kemajuan pengembangan pesat pasca 2014. Selain itu, berdasarkan pengalaman dengan rapat-rapat tingkat tinggi serupa di masa lalu, ada sejumlah isu, beberapa di antaranya diuraikan di bawah:

Salah satu sasaran utama adalah menggambarkan amplop sumberdaya keseluruhan untuk bantuan sipil Afghanistan pada tahun-tahun mendatang, sebagaimana untuk sektor keamanan Afghan dalam persiapan rapat Chicago. Deretan angka sedang diajukan oleh pemerintah Afghan dan lainnya. Masih harus disimak apakah akan ada kesepakatan luas pada salah satu angka ini, tapi bagaimanapun tujuan mobilisasi sumberdaya sedang dikurangi oleh sebagian pendonor yang tidak menjanjikan dana ataupun tidak memberi indikasi seberapa banyak yang akan mereka sediakan. Angka total yang tidak ditopang janji atau indikasi dari pendonor kunci mungkin tidak terlalu kredibel.

“Akuntabilitas mutualisme” (yakni di pihak Afghanistan dan komunitas internasional) dimaksudkan menjadi tema utama rapat Tokyo. Persoalan tentang tingkat dan prediktabilitas bantuan sebagaimana di catat di atas dapat mengurangi akuntabilitas di pihak internasional, yang pada gilirannya bisa mengurangi dorongan bagi pemerintah Afghan untuk membuat komitmen berarti agar bisa dianggap akuntabel. Bagaimanapun, berusaha meminta akuntabilitas pemerintah—terutama untuk komitmen yang ditopang kemauan politik kecil—akan sangat sulit. Namun, pengurangan sumberdaya internasional untuk Afghanistan pada tahun-tahun mendatang dapat membuat penyusunan kesepakatan tetap berjalan, asalkan pengurangan bantuan dilakukan secara terprogram dan bertahao.

Pengalaman tindak lanjut rapat tingkat tinggi mengenai Afghanistan tidak memberi banyak landasan untuk optimisme terhadap tindak lanjut rapat Tokyo, tapi fokus pada beberapa area kunci dengan tolok ukur termonitor yang menjadi perhatian Afghanistan maupun komunitas internasional dapat menjadi harapan terbaik untuk keberhasilan. Lebih jauh, dengan berkurangnya perhatian dan sumberdaya internasional untuk Afghanistan, manfaat rapat-rapat seperti Tokyo untuk menjaga Afghanistan tetap dalam pengawasan internasional dan agenda kebijakan internasional bisa muncul sekali lagi (sebagaimana di tahun-tahun pasca 2001).

Tentang penulis: William Byrd adalah pakar tamu senior di Institute of Peace Amerika Serikat. Dia berpartisipasi dan terlibat dalam persiapan banyak rapat tingkat tinggi internasional mengenai Afghanistan selama lebih dari sepuluh tahun ini. Pandangan yang diungkapkan di sini adalah pandangannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s