Oleh: Yigal Schleifer
19 Juli 2012
Sumber: www.eurasianet.org

Walaupun Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan membawa serta menteri energinya dalam kunjungan satu hari, 18 Juli, ke Moskow, boleh diasumsikan bahwa ketimbang urusan harga minyak dan gas, persoalan penyelesaian krisis Suriah mendominasi diskusi antara Erdogan dan rekan Rusianya, Vladimir Putin.

meeting

Ankara dan Moskow mengambil posisi berbeda tentang cara menangani krisis tersebut, di mana para pemimpin Turki secara terbuka menyeru pemimpin Suriah Bashar al-Assad mundur, dan Turki menjadi daerah persiapan untuk oposisi Suriah. Rusia, di sisi lain, tampil sebagai penyokong internasional paling signifikan untuk rezim Assad.

Walaupun perbedaan pendapat ini belum mengakibatkan perpecahan, para analis memperingatkan krisis Suriah—serta segelintir isu regional lain yang merembes di mana kepentingan kedua negara tidak sejalan—berpotensi meruntuhkan upaya Ankara pasca Perang Dingin untuk memperkuat dan memperdalam ikatan politik dan ekonominya dengan Rusia.

“Saya rasa krisis Suriah memperlihatkan ada perbedaan kepentingan fundamental dalam hubungan mereka, jadi kecil kemungkinannya ini akan menjadi persatuan seperti yang dikatakan banyak orang,” kata Stephen Blank, profesor dari National Security Studies di US Army War College di Pennsylvania.

“Saya rasa krisis Suriah—serta isu-isu lain seperti Siprus, pertahanan misil NATO, dan politik pipa minyak, yang kesemuanya menempatkan Turki berlawanan dengan Rusia—akan mengikis persahabatan antara kedua negara secara substansial,” tambah Blank. [Catatan editor: Blank sesekali menyumbang ulasan pada EurasiaNet].

Beberapa bulan lalu, banyak orang Turki punya alasan bagus untuk percaya bahwa negara mereka dan Rusia sedang menuju masa emas hubungan mereka, yang selama berdekade-dekade didominasi pembagian Perang Dingin. Sebagaimana digambarkan sebuah suratkabar Turki yang terlalu optimis Januari lalu, Turki “kini mitra strategis Rusia.”

Bisnis di antara kedua negara melonjak dalam satu dekade terakhir, di mana Rusia sekarang menjadi mitra dagang terbesar Turki. Antara 2001 sampai 2011, ekspor Turki ke Rusia tumbuh 548 persen, dari $0,9 miliar menjadi $5,9 miliar, sedangkan ekspor Rusia ke Turki—sebagian besar gas dan minyak—meningkat nyaris 600 persen, naik dari $3,4 miliar menjadi $23,9 miliar.

Kedua negara, tahun-tahun belakangan ini, juga saling melonggarkan persyaratan visa dan mendirikan beberapa kelompok kerja tingkat tinggi antarpemerintah. Di bidang energi, di samping Rusia menjadi pemasok gas terbesar Turki, para pejabat Turki menandatangani kesepakatan pada 2010 agar konsorsium Rusia membangun PLTN pertama negara tersebut.

Tapi, situasi Suriah jelas-jelas merebut rencana pertalian Ankara dengan Moskow. Meski Erdogan dan Putin sama-sama menegaskan komitmen mereka untuk meningkatkan volume perdagangan bilateral dalam pertemuan di Moskow, mereka secara mencolok tetap membisu soal Suriah dan cara menangani perselisihan di sana.

Rusia bukan satu-satunya negara yang dengannya hubungan Turki menderita akibat pemberontakan di Suriah. Jalinan Ankara yang dahulu menghangat dengan Iran, yang juga mendukung Assad, belakangan turut menegang, walaupun jauh lebih buruk daripada dengan Rusia.

Sadar akan kedalaman hubungan dagang dan energi mereka, Ankara dan Moskow untuk sementara ini memisahkan persoalan Suriah, kata Sinan Ulgen, mantan diplomat Turki dan kepala lembaga riset EDAM yang bermarkas di Istanbul. Ini, katanya, mencegah ketidaksepahaman isu Suriah “mencemari” bidang hubungan bilateral lain. “Saya pikir pemisahan ini akan terpelihara jika dan sampai ada intervensi militer di Suriah,” kata Ulgen.

Ankara sudah menunjukkan indikasi kehilangan kesabaran dengan Moskow. Walaupun tidak menyebut nama, Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu awal Juli lalu mengatakan dalam sebuah pertemuan internasional membahas Suriah; “Kita harus meningkatkan tekanan pada rezim Suriah dan mereka yang mendukung rezim itu, terus mengisolasi mereka.”

Dan setelah Suriah menjatuhkan jet tempur Turki Juni lalu, Erdogan dikutip oleh pers Turki menolak pernyataan Menteri Luar Negeri Rusia yang meremehkan insiden tersebut. Erdogan saat itu mengatakan Moskow bertindak “sebagai pengeras suara” rezim Assad.

Dalam hal tertentu, sepertinya hubungan Turki-Rusia sudah sampai pada titik balik beberapa waktu lalu. Sebelum timbulnya pemberontakan Arab tahun lalu, masih ada beberapa pertanyaan melekat—disulut oleh tiadanya kemajuan dalam tawaran Turki di Uni Eropa dan ketidaksepahaman dengan Washington, terutama soal cara menangani Iran—tentang apakah Ankara masih berkomitmen pada aliansi tradisionalnya dengan NATO dan Barat. Sebagaimana dikatakan sebagian orang di Turki dan Rusia, kedua negara akan segera bergabung menciptakan “poros eksklusif”. Gagasan tersebut terkubur di Libya.

“Moskow selalu berharap dapat merayu Turki dan mengeksploitasi kerenggangan antara Turki dan AS dan UE. Saya rasa Moskow sangat terguncang ketika Turki ikut-ikutan di Libya,” kata Fiona Hill, pakar urusan Rusia di Brookings Institution, Washington DC.

Bahkan, sejak operasi pimpinan NATO di Libya tahun lalu, ikatan Turki dengan Aliansi Atlantik—juga dengan Washington—semakin dalam. Peran Turki di NATO semakin menonjol, apalagi berkaitan dengan memburuknya situasi di Suriah. Suka tidak suka, Ankara mungkin akan mendapati dirinya dan Moskow lagi-lagi berseberangan di patahan ideologi dan geopolitik.

“Turki sangat mendukung Barat dalam perkara Suriah dan memihak AS dan NATO daripada Rusia,” kata Semih Idiz, kolumnis hubungan luar negeri di harian Turki Miliyet. “Sedikit-banyak, krisis Suriah mengarah pada terulangnya Perang Dingin dan Turki mengambil posisi tradisionalnya dalam pembagian ini.

Catatan editor: Yigal Schleifer adalah jurnalis lepas yang fokus pada persoalan Turki. Dia editor blog Turkofile dan Kebabistan milik Eurasianet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s