Oleh: Simbal Khan
2011
Sumber: www.issi.org.pk

Sepanjang sejarahnya yang panjang dan berliku, Afghanistan, berkat karakter geopolitik yang unik, memiliki dampak mendalam terhadap perkembangan di negara-negara kawasan Asia Selatan dan Tengah. Ketika tentara Merah menyeberangi Sungai Oxus pada 1979, intervensi militer Soviet di Afghanistan menggerakkan siklus perang baru yang mengisap sejumlah kekuatan bertautan ke dalam pusarannya: Afghan lokal, regional, dan internasional. Patahan geopolitik yang menyilangi perbatasan-perbatasan berkonflik di kawasan ini, manakala dipadukan dengan Alkemi Jihad, menciptakan dinamika struktural unik yang sampai hari ini menghasilkan arus berbagai kelompok militan tanpa akhir. Intervensi AS tahun 2001 hanya mengaktifkan ulang kapasitas produksi kekuatan politik/struktural ini.

Makalah ini berargumen bahwa dua unsur penegas yang telah menempa Alkemi kelompok-kelompok militan mematikan di kawasan adalah Geopolitik dan Jihad. Kedua unsur ini kerapkali bekerja secara paradoks. Unsur geopolitik jelas tercermin dalam struktur identitas kelompok gerakan militan, yang diorganisir berdasarkan tema kedaerahan, etnik, subetnik, dan komunal lintas-batas. Sedangkan dasar-dasar Jihad telah menyediakan perekat ide untuk mengikat kekuatan-kekuatan yang seringkali berlainan ini dan memungkinkan mereka bekerjasama melintasi garis-garis geopolitik yang memisahkan mereka.

Retakan geopolitik dalam yang telah menjadi pendorong konlik di Asia Selatan-Tengah masih membentuk dinamika organisasi militan. Ini tak hanya membentuk kemampuan operasional kelompok militan, jaringan mereka, serta apa dan siapa yang mereka pilih untuk diperangi, tapi juga kemungkinan besar memperlunak respon negara-negara di kawasan terhadap ancaman yang ditimbulkan organisasi-organisasi tersebut.

Organisasi Militan di Asia Selatan-Tengah: Ancaman terhadap Keamanan Regional

Organisasi-organisasi militan di kawasan Asia Selatan dan Tengah menimbulkan ancaman kritis bagi keamanan nasional negara-negara kawasan dan kian menambah satu dimensi instabilitas di tingkat regional. Ancaman yang ditimbulkan organisasi teroris trans-nasional terhadap keamanan regional dan global tak boleh dibesar-besarkan.

Serangan teroris di negara-negara kawasan bukan hanya menciptakan tingkat ketidakamanan yang bervariasi, dalam hal ini Pakistan, tapi juga berdampak parah terhadap pertumbuhan ekonomi. Ini, pada gilirannya, menciptakan kerawanan sosial hebat yang mempengaruhi keamanan manusia dan menghasilkan krisis kepemerintahan. Pada tingkat regional, serangan teroris Mumbai 2008 membawa dua negara nuklir, India dan Pakistan, ke ambang peperangan. Bahkan kini, kehadiran “ancaman terhadap anak benua tersebut” membuat rezim keamanan nuklir di Asia Selatan sangat rentan dan rawan.

Namun, terlepas dari adanya bahaya menonjol dan ancaman keamanan ini, kawasan tersebut tetap jauh dari pengembangan pendekatan regional untuk mengatasi ancaman “gerakan Militan Jihad”.

Ada banyak alasan atas hal ini, tapi satu unsur yang melandasi kompleksitas isu ini adalah bahwa kebanyakan organisasi militan menggantungkan diri pada patahan geopolitik panjang dan kronis di kawasan. Lebih jauh, sasaran-sasaran geopolitik ini juga kemudian menginformasikan agenda politik negara-negara kawasan, serta membentuk respon mereka terhadap aktivitas dan aksi organisasi-organisasi militan.

Faktor terkait lainnya adalah, walaupun unsur penyatu ideologi jihad meresap ke dalam semua kelompok militan ini, mereka tetap berbeda jauh. Baru setelah 9/11 terdapat kecenderungan untuk meruntuhkan segala perbedaan konseptual yang mendefinisikan berbagai organisasi militan ini. Tapi setelah 10 tahun, kita menyaksikan pergeseran dari sekuritisasi ‘perang melawan teror’ di tingkat sistem yang gagal menumbangkan berbagai perselisihan geopolitik dan operasional yang menjadi ciri organisasi-organisasi di kawasan Asia Selatan-Tengah.

Geopolitik dan Jihad

Kedua unsur ini kerapkali bekerja secara paradoks untuk membentuk struktur organisasi dan sasaran kelompok militan di kawasan. Unsur geopolitik jelas tercermin dalam struktur identitas-kelompok gerakan militan dan pemberontak. Kelompok-kelompok ini sebagian besar diorganisir berdasarkan struktur kedaerahan, etnik, kesukuan, dan subetnik. Pada waktu yang sama, mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perpolitikan komunitas lintas-batas. Unsur lintas-batas ini pada gilirannya berjalin dengan agenda keamanan besar negara-negara kawasan di mana komunitas-komunitas ini hidup. Identitas kelompok dan patahan ini seringkali menjadi pendorong konflik dan perang saudara. Contoh terbaik adalah Afghanistan tahun 1990-an dan persaingan internal militan dalam FATA pada 2004-2005. Namun, pada tingkat lain, dasar-dasar jihad telah menyediakan perekat ide untuk mengikat kekuatan-kekuatan yang seringkali berlainan ini dan memungkinkan mereka bekerjasama melintasi garis-garis geopolitik/etnik/sektarian yang memisahkan mereka. Misalnya Deobandi Taliban, yang sebagian besar suku Pashtun, telah bekerjasama dengan seluruh spektrum kelompok etnik lain. Contoh lain, IMU Uzbek/Tajik mendapat tempat dalam dan bekerjasama dengan Taliban yang menggunakan mereka untuk memperluas kontrol Taliban ke Afghanistan utara. Juga LeT, ahli hadits yang didominasi suku Punjab, telah mampu beroperasi di Afghanistan Timur berdampingan dengan kelompok-kelompok Salafi Pashtun Taliban yang berbagi ruang teritori/operasi yang sama.

Geopolitik Perbatasan: Kawasan Asia Selatan Tengah

Patahan geopolitik yang menjadi ciri ruang perbatasan di kawasan Asia Selatan-Tengah memainkan peran kompleks sebagai pendorong konflik. Geopolitik ruang perbatasan pulalah yang menggambarkan daerah fisik di mana sebagian besar operasi gerakan-gerakan ini berlangsung. Satu unsur penting lain yang perlu dicatat adalah, di dareah fisik ini organisasi-organisasi militan memperagakan kemampuan luar biasa dalam beroperasi di berbagai front politik pada waktu bersamaan. Selain itu, mereka memperlihatkan kapasitas untuk menggeser fokus dari satu titikpanas geopolitik ke titikpanas lain mengikuti titikkilas kawasan. Pemetaan daerah fisik sepanjang tiga titikkilas geopolitik yang menjadi ruang operasi sebagian besar gerakan militan di Asia Selatan-Tengah membuka pemahaman berharga:

1. Perbatasan di Lembah Fergana dan gerakan Islam Uzbekistan. Kawasan Lembah Fergana dimiliki bersama oleh Uzbekistan, Tajikistan, dan Kirgistan. Perbatasan teritori antara tiga negara ini masih belum jelas; ada sejumlah penduduk enklaf (wilayah suatu negara yang dikelilingi negara lain—penj) dan lintas-batas meluap keluar perbatasan negara. Ketiga negara boleh didefinisikan sebagai negara otoriter represif pasca Soviet. Pertangahan 1990-an kita menyaksikan perang sipil Tajik berdarah yang menyeret komunitas Uzbek lintas-batas yang meluap ke dalam wilayah Tajikistan dan Kirgistan. IMU atau Islamic Movement of Uzbekistan berasal dari Namangan dan Andijan. Lari dari pasukan represif pemerintah Karimov pada pertengahan 1990-an, para pejuang IMU masuk ke dalam Tajikistan yang berdekatan, bergabung dengan perang sipil di pihak Islamic Renaissance Party dan mendapat perlindungan di lembah Tavildara. Di sana mereka berasimilasi dengan pejuang lain dari IRP (Islamic Renaissance Party dari Tajikistan), beberapa militan Uighur dari China, pejuang Chechnya, dan lain-lain. Pada 1999, mereka melancarkan serbuan bersenjata ke Uzbekistan dari enklaf Batken di Lembah Fergana bagian Kirgistan. PBB merundingkan penyudahan perang sipil Tajik pada 1997, memaksa IMU dan sejawat pejuang militan Asia Tengah mendirikan basis di Afghanistan di mana mereka bergabung dengan Taliban. Ketika militer AS mengintervensi Afghanistan, melancarkan serangan militer terhadap Taliban pada Oktober 2001, IMU berjuang di front utara di Kunduz di bawah Brigade 555 pimpinan al-Qaeda yang dikomandani Juma Namangani, komandan kenamaan IMU dari Uzbekistan. Setelah jatuhnya Taliban pada November 2001, mayoritas pejuang IMU terpaksa mencari perlindungan dari suku Masood di SWA (South Waziristan Agency) dalam FATA (Federally Adminstrated Tribal Agencies) Pakistan. Pada 2002, sebagian anggota IMU pecah menjadi IJU (Islamic Jihad Union), yang sejak saat itu bertindak sebagai sayap rekrutmen dan perluasan al-Qaeda untuk orang Eropa keturunan Turki. Sejumlah laporan di tahun 2010 menyebutkan banyak kader IMU masuk kembali dan membangun koneksi dengan kartel narkoba Tajik Afghan dan Uzbek di Afghanistan Utara dan bertindak sebagai pangkalan terdepan untuk Taliban dan membantu mereka memperluas pengaruh di provinsi Kunduz dan Baghlan di Afghanistan Utara.

2. Pemetaan daerah militan di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Perbatasan Pakistan-Afghanistan sepanjang 2500 km atau garis Durand masih belum jelas, tidak diregulasi, dan kerapkali nyaris tak ada serta dihuni eksklusif oleh kelompok-kelompok suku Pashtun lintas-batas. Terjadi luapan besar akibat invasi Soviet terhadap Afghanistan dan perang tahun 1980-an ketika 4 juta pengungsi menyeberangi zona perbatasan ini menuju Pakistan. Di pihak Pakistan, kamp-kamp Pengungsi Afghan masih eksis setelah 30 tahun siklus perang. Masih ada hampir 1,7 sampai 2 juta pengungsi terdaftar dan hampir 1 juta warga Afghan tak terdaftar di Pakistan. Populasi pengungsi yang bertahan lama ini, serta perpolitikan kamp (misalnya Kamp Shamshatoo di luar kota Peshawar dijalankan oleh Hizb-e-Islami pimpinan Gulbadin Hikmatyar sejak 30 tahun sebelumnya dan masih menjadi lokasi rekrutmen untuk Hizb), telah membentuk politik zona perbatasan secara kompleks dan kritis. Kamp-kamp dan populasi pengungsi ini memainkan peran penting dalam strategi rekrutmen organisasi militan dan kemampuan kelompok-kelompok semacam Taliban dalam meregenerasi kader mereka selagi menderita tingkat pengurangan besar lantaran gencarnya kampanye militer NATO/AS pada 2010-2011. Meski Taliban Afghan beroperasi di Afghanistan, selama 30 tahun mereka telah tertanam ke dalam lanskap sosial-politik dan ekonomi zona-zona perbatasan Pakistan; provinsi Baluchistan, daerah-daerah FATA, Khyber Pakhtunkhwa (KPK, dulunya dikenal sebagai Northwest Frontier Province), dan kota-kota penting di jantung Pakistan (seperti Karachi, Peshawar, Quetta). Taliban Afghan muncul dari madaris (madrasah) Deobandi di Pakistan dan memelihara orientasi sektarian etnis Pashtun dan Deobandi yang nyaris eksklusif.

Setelah perang 2001 di Afghanistan, beberapa kelompok Kashmir-sentris seperti LeT (Lashkar-e-Tayyabha) HUJI (Harkat-I-Jihad-Islami), dan lain-lain memfokuskan ulang aktivitas mereka pada front Pakistan-Afghanistan. Fase perang yang sedang berlangsung menyaksikan kenaikan satu organisasi mematikan lainnya: TTP. Kenaikan TTP (Tehrik-e-Taliban Pakistan) merupakan saksi atas tindakan penyeimbang yang kompleks dan berbahaya yang dimainkan Pakistan. Pakistan berusaha mengamankan pertaliannya dengan kampanye koalisi pimpinan AS di Afghanistan selama 10 tahun terakhir meski pada saat yang sama mencoba mengamankan sasaran geopolitiknya sendiri. TTP adalah organisasi payung yang mencakup kelompok militan tertentu yang menyokong ideologi takfiri al-Qaeda dan menganggap negara Pakistan, warga dan kota-kotanya, sebagai target sah, sebagai hukuman atas kerjasama mereka dengan tentara Koalisi di Afghanistan.

3. LoC: perbatasan Kashmir yang dipersengketakan Pakistan-India. Perbatasan yang dipersengketakan ini, tinggi di Himalaya, selama 60 tahun terakhir telah menentukan hubungan antarnegara di antara kedua tetangga Asia Selatan, India dan Pakistan. Masyarakat lintas-batas yang terbelah oleh LoC (Line of Control), keberadaan kelompok militan Kashmir di Azad Kashmir yang dikuasai Pakistan, soal dukungan negara kepada kelompok-kelompok militan ini, telah menjadi penyebab ketegangan dan perang antarnegara. Ada beberapa kelompok militan Kashmir yang menyatakan fokus pada perjuangan kemerdekaan Kashmir. Mereka meliputi HM atau Hiz-ul-Mujahideen yang berintikan Jamaat-e-Islami, dan Al-Badr yang cenderung terdiri dari etnis Kashmir dan mempertahankan fokus mereka pada Kashmir. Selain ini, ada sejumlah kelompok Deobandi (JM, HUJI, LeJ, dll); dan kelompok Ahl-e-Hadith LeT yang dalam sepuluh tahun terakhir, seiring dimulainya fase perang pimpinan AS di Afghanistan, telah bergeser dari fokus Kahsmir semata. Banyak dari mereka berputar 360 derajat dan setidaknya sejak 2005 meningkatkan fokus pada perbatasan Pakistan-Afghanistan. Sementara LeT meningkatkan operasinya di Afghanistan Timur Utara melawan pasukan NATO, kelompok-kelompok pecahan dari Jaish, Huji, dan LeJ bersekutu dengan al-Qaeda dan TTP yang kian mematikan demi membuka front ganda melawan pasukan NATO di Afghanistan dan negara serta militer Pakistan.

Prospek Kerjasama Regional

Konflik nasional/teritorial yang berkepanjangan atas perbatasan tak jelas dan enklaf di Lembah Fergana Asia Tengah, di garis Durand antara Pakistan dan Afghanistan, dan sengketa Kashmir yang memburuk antara India dan Pakistan, telah mencegah berkembangnya pendekatan kawasan untuk mengatasi masalah organisasi militan. Fakta bahwa sebagian organisasi ini tetap bercokol dalam dinamika geopolitik ruang-ruang perbatasan rumit ini, kecil kemungkinannya akan disinggung dalam kerangka kerja tingkat regional. Garis halus yang membagi kelompok-kelompok pemberontak seperti Taliban Afghan yang memakai taktik teroris demi tujuan politik, serta organisasi-organisasi teroris beragenda global, makin menyulitkan pengembangan pendekatan regional untuk mengatasi ancaman keamanan.

Tren terkini mengindikasikan negara-negara Asia Selatan-Tengah kemungkinan besar terus menerapkan kriteria diferensiasi sendiri terhadap ancaman keamanan yang ditimbulkan organisasi-organisasi ini. Sementara komunitas internasional bergeser dari narasi perang melawan teror tingkat sistem menuju strategi yang fokus pada konteks lokal, politik kelompok militan dan terorisme kemungkinan besar menjadi fokus kebijakan nasional di kawasan Asia Selatan-Tengah. Negara-negara kawasan dan para aktor internasional sedang berupaya menarik garis dan membedakan Taliban Afghan dari al-Qaeda. Pakistan terus memberi respon berbeda terhadap Taliban Afghan dan TTP (Tehrik-e-Taliban Pakistan) dan kelompok militan Kashmir yang fokus pada pemerdekaan Kashmir dari kekuasaan India. Pada waktu bersamaan, pasukan keamanan Pakistan telah meningkatkan aksi militer terhadap kelompok-kelompok Kashmir tersebut (kelompok Ilyas Kashmir dan pecahan LeJ lain yang lebih kecil seperti LeJ-Alami) yang bersekutu dengan al-Qaeda untuk melakukan serangan terhadap negara Pakistan dan pasukan keamanannya.

Terlepas dari tingkat diferensiasi kompleks ini, proses-proses regional berkesinambungan yang melibatkan pengembangan mekanisme regional luas yang fokus pada kerjasama bidang penegakan hukum, penjagaan ketertiban, dan reformasi pengadilan dapat berfungsi sebagai CBM (confidence building measure/langkah membangun kepercayaan—penj). CBM ini, jika dipertahankan, kemungkinan besar akan menciptakan ruang lebih besar untuk kerjasama bilateral antara negara-negara kawasan guna mengatasi ancaman keamanan regional dari organisasi militan lintas-batas. Proses-proses demikian, pada tingkat bilateral dan regional, dapat berkontribusi pada penciptaan lingkungan kondusif di tingkat domestik. Lingkungan semacam ini bisa menjadi instrumen dalam memfasilitasi pemerintah-pemerintah untuk mengembangkan strategi politik dan keamanan yang tepat, alat dan narasi untuk mengatasi tantangan dalam negeri akibat persoalan militansi, dan dengan begitu, mengurangi ancaman keamanan regional.

Advertisements

One thought on “Geopolitik Jihad: Gerakan Militan di Asia Selatan-Tengah dan Keamanan Regional

  1. Artikel ini bisa menjadi bahan bacaan untuk memahami perspektif terhadap kondisi di Asia Tengah-Selatan. Meski di dalamnya terdapat nada sumbang terhadap al-Qaeda, kami tetap percaya pada core atau tokoh-tokoh inti al-Qaeda meski banyak organisasi/sayap terluar al-Qaeda melakukan penyimpangan misalnya dengan bekerjasama dengan mafia narkoba, perdagangan manusia, gangster, dan sebagainya. Kalau bisa benalu seperti ini dibersihkan agar tidak merusak niat dan tujuan jihad yang mulia.Adapun hubungan dengan pedagang senjata, sekalipun itu senjata dari negara
    kafir, jika segalanya sudah dipertimbangkan manfaat dan mudaratnya, maka tak ada yang perlu dikorek-korek kesalahannya. Realita lapangan senantiasa berubah dan berbeda dari idealisme. Begitulah perang, baik perang fisik maupun pemikiran. Semua butuh siasat, diplomasi, negosiasi,
    meskipun orang luar heran dan mencela.

    Belakangan ini senang rasanya mendengar al-Qaeda menyatakan sedang memperbaiki diri, tak mudah menghalalkan darah kaum muslimin. Langkah memperbaiki diri ini hanya mungkin dilakukan oleh manusia yang memiliki kesadaran tinggi dan mendapat petunjuk dari ALLAH. Semoga seluruh
    mujahidin di seluruh dunia dikaruniai kelembutan sekaligus ketegasan, tak sungkan berdiplomasi tapi tak segan mengangkat senjata. Dan jangan sampai kemenangan melahirkan kesombongan, cukuplah kemenangan melahirkan ucapan takbir.

    Takjub juga mendengar al-Qaeda sedang mewujud menjadi organisasi militan modern yang memiliki visi dan siasat geopolitik, tidak main hantam sana-sini. Tidak membuka front sekaligus di mana-mana. Arahnya jadi jelas. Ini yang gua demen. Harapan yang tersisa adalah persatuan hati semua mujahidin. Tak ada yang lebih penting dari ini. Dan tak ada yang mampu menyatukan hati selain ALLAH.

    Allahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s