Balas Dendam Rusia – Kenapa Barat Takkan Memahami Kremlin

Oleh: Angus Roxburgh
27 Maret 2014
Sumber: www.newstatesman.com

Peristiwa di Ukraina merupakan pembalasan Putin atas apa yang dianggapnya penghinaan selama seperempat abad sejak keruntuhan Uni Soviet.

Para patriot besar. Pengunjuk rasa pro-Moskow mengibarkan bendera Rusia dari monumen Lenin di pusat kota Donetsk, Ukraina, 9 Maret.
Para patriot besar. Pengunjuk rasa pro-Moskow mengibarkan bendera Rusia dari monumen Lenin di pusat kota Donetsk, Ukraina, 9 Maret.

Dengan adanya referendum ilegal Crimea dan aneksasi semenanjung tersebut oleh Rusia, dimulailah perang dingin baru. Ini bukan hanya berarti kebekuan diplomasi, tapi juga kebuntuan menegangkan, sanksi, penambahan kekuatan militer, dan mungkin pencaplokan tanah lainnya oleh Moskow, termasuk kawasan berbahasa Rusia di Ukraina timur. Setiap saat ancaman perang dingin dapat berubah menjadi perang panas. Kremlin sadar betul betapa tingginya ia menaikkan taruhan: kepala propagandis televisi milik negara memilih malam referendum di Crimea untuk mengingatkan dunia bahwa Rusia mampu mengubah Amerika menjadi “abu radioaktif”.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana Ukraina—dan kemudian barat—bereaksi terhadap pengambilalihan Crimea oleh Rusia. Sanksi mungkin dapat merugikan [Rusia], tapi tak ada harapan bahwa itu akan memaksa Vladimir Putin mengembalikan keadaan. Dan, selain balasan militer (yang dapat memicu perang besar), saya rasa tak ada yang akan menghalangi Rusia untuk merespon permintaan “tolong” rekaan dari warga Rusia di Ukraina timur. Pada 18 Maret, Putin menyangkal ingin memecah-mecah Ukraina. Tapi dia sudah mengesahkan penggunaan kekuatan jika diperlukan, dan orang-orang gila kanan-jauh Ukraina dan para provokator Rusia bisa dengan mudah menciptakan “ancaman terhadap orang-orang Rusia” yang dapat menjadi dalih untuk intervensi.

Dengan begitu perbatasan Eropa akan digambar ulang, dan di sepanjangnya sebuah tirai besi baru akan berdiri. Hanya ini harapan yang kita miliki di masa revolusi dari 1989 sampai 1991, padahal kita semua bisa menjadi anggota benua yang damai, bersatu, terdeideologisasi.

Para sejarawan akan asyik menelaah pangkal konflik baru ini dan justru menjumpai kebingungan, kedustaan, kesalahpahaman, dan ego-ego angkuh yang berjalan ke arah malapetaka. Saya sudah lama percaya bahwa Putin, dikelilingi oleh penasehat rabun dan konspiratif, tidak memahami barat, dan bahwa barat, yang begitu yakin akan kebenarannya sendiri dan “kemenangan” dalam perang dingin lalu, bahkan belum berusaha memperlakukan Rusia dengan rasa hormat yang layak diterimanya setelah menanggalkan belenggu komunisme. Sekarang kita sedang memetik buahnya.

Para “teknolog politik” Putin telah memberi cat dasar pada kanvas untuk lukisan berdarah yang sedang terpulas ke seluruh benua Eropa. Andai saya seorang pemirsa televisi tipikal Rusia, tanpa minat memburu reportase alternatif, saya akan tergoncang memikirkan apa yang konon sedang terjadi di negara saudara, Ukraina. Ini seperti ulangan Perang Patriot Besar; sepatu pasukan berkuda, paramiliter kemeja cokelat Nazi, swastika, pentungan; mereka melarang penggunaan bahasa Rusia; mereka menayangkan jutawan fasis di atas panggung di Maidan (Independence Square di Kyiv, kawah revolusi) yang mendesak agar orang-orang Rusia “ditembak di kepala” lantas kerumunan orang bertepuk-tangan; “skuad maut” sedang dibentuk, kata pembaca berita; adik perempuan saya tinggal di Donetsk, dan sepupu saya di Kharkov—mereka akan dibunuh; dan sekarang dua orang telah ditembak oleh penjahat fasis…Anda lihat, ini mulai…

Bahkan menurut standar televisi era Putin (bahkan era Soviet), propaganda ini mencengangkan. Anda harus menampar muka sendiri untuk mengingatkan bahwa baru sebulan lalu kita menonton upacara pembukaan Olimpiade musim dingin Sochi—pembangkitan segala sesuatu yang menjadikan Rusia besar: ilmuwan, penulis, komposer, kosmonot, penyair, penari balet, filsuf, dan seniman. Inilah Rusia Eropa beradab yang kita cita-citakan, kata mereka. Bahkan cincin Olimpiade yang gagal terbuka membangkitkan rasa sayang, pengingat banyak hal yang disukai orang-orang barat tentang Rusia—kekurangannya yang menjengkelkan, kesokmegahannya yang seringkali tidak sempurna. Para produser tahu ini dan memperolok kesalahan kecil dalam upacara penutupan. Kalian lihat: kami orang Rusia bisa menertawakan diri kami sendiri. Kami seperti kalian.

Dan kemudian, ternyata tidak.

Atau ya? Apakah kita di barat tidak sanggup menanggung pemikiran bahwa mereka seperti kita? Bukankah kita lebih menyukai stereotip kita? Para beruang, orang-orang Siberia yang bermuka masam, warga Moskow yang dingin dan cemberut, gangster dan mata-mata, kaum komunis agresif yang bersikeras mengembalikan kekaisaran jahat mereka. Jauh lebih nyaman. Enaknya memiliki seseorang yang bisa dibenci: ini menjadikan kita merasa lebih berbudi. Apakah menteri luar negeri AS, John Kerry, yang mendukung invasi Irak tahun 2003, tidak suka bahwa dirinya mampu berkata kepada orang-orang Rusia: “Kalian jangan bertingkah dengan gaya abad 19 di abad 21 dengan menginvasi negara lain atas dalih palsu”?

Nixon dan Brezhnev menandatangani Traktat Pembatasan Senjata Strategis I di Moskow, 26 Mei 1972.
Nixon dan Brezhnev menandatangani Traktat Pembatasan Senjata Strategis I di Moskow, 26 Mei 1972.

Kadang saya berpikir, barat lebih memahami Uni Soviet daripada memahami Rusia hari ini. Karena satu hal: ia lebih sederhana, lebih hitam-putih. Tapi kita juga mempunyai banyak Kremlinolog hebat yang tahu cara membaca isyarat tersembunyi di balik propaganda. Mungkin kementerian-kementerian luar negeri kita hari ini terlalu terobsesi dengan terorisme dan Islam, sementara studi-studi Rusia didominasi (sekurangnya dalam pers dan kedutaan, dan sekurangnya lagi di universitas) oleh para ahli yang umumnya memiliki pandangan simplistik tentang apa yang sedang berlangsung. Analisa terhadap motif Putin biasanya tidak menghasilkan sesuatu yang lebih elegan selain daripada ini: “Dia penjahat KGB yang bengis, kleptokrat otoriter yang dikelilingi oligarki korup, bertekad mengembalikan Uni Soviet dan memusnahkan barat”. Kebanyakannya benar! Tapi itu baru separuh cerita, dan cuma menggambarkan bagaimana dia demikian, bukan kenapa demikian, dan tidak memperhitungkan apakah kita tanpa sengaja menciptakan momok.

Pandangan Rusia terhadap barat (terutama yang diangkat untuk konsumsi publik) sama-sama mengandung cacat, dirangsang oleh teori-teori konspirasi dan kecurigaan terhadap motif dan aspirasi Amerika. Tapi setidaknya Rusia memiliki diplomat-diplomat unggul seperti Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov yang mengenal barat bukan dari katanya tapi karena dia mempelajarinya selama lebih dari 30 tahun.

Bila sejarah perang dingin baru ini dituliskan, subjudulnya pasti adalah ucapan abadi perwakilan tinggi Uni Eropa untuk urusan luar negeri, Catherine Ashton: “Saya baru tahu. Ini menarik. Wah!”

Ini merupakan tanggapan bodohnya, dalam sambungan telepon yang bocor, kepada menteri luar negeri Estonia, Urmas Paet, yang memberitahukan bahwa orang-orang bersenjata dari pihak oposisi – bukan para penembak jitu suruhan Presiden Yanukovych – kemungkinan bertanggungjawab atas pembunuhan masal di Maidan, Kyiv, yang menjadi katalisator revolusi Ukraina. Andai ini benar, tentu akan sensasional, dan berimbas besar pada pandangan barat terhadap pemerintahan baru Ukraina.

Tapi pernyataan Paet ternyata didasarkan pada kesalahpahaman terhadap barangkali ucapan seseorang yang tak berhak membuat penilaian demikian. Sang menteri bilang dirinya mendapat informasi dari “Olga”, dokter yang menangani para korban. Baroness Gosh juga bertemu Olga, tapi tidak menerima kabar provokatif ini. Kenapa mereka berdua berbincang dengannya? Agaknya karena dokter fotogenik berbahas Inggris tersebut pernah tampil di CNN dan BBC, melukiskan tragedi yang sedang ditanganinya, dan tiba-tiba menjadi sumber penting untuk diplomat tingkat tinggi. Betapa sering saya menyaksikan ini terjadi dalam pengalaman saya sebagai koresponden di luar negeri: para diplomat dan jurnalis mengerumuni sekelompok kecil “sumber” yang sama, hampir selalu bergeser beberapa langkah dari pengambilan keputusan sungguhan serta informasi rahasia.

Olga yang malang – Dr. Bogomelets – bukanlah ilmuwan forensik, dan mungkin ada yang hilang dalam perbincangannya (berbahasa Inggris) dengan menteri Estonia itu. Paet mengklaim, Olga bercerita petugas-petugas polisi dan pengunjuk rasa dibunuh oleh para penembak jitu yang sama: “Dia bilang tulisan tangannya sama, tipe pelurunya sama, dan ini betul-betul menggelisahkan sehingga koalisi baru tidak mau menyelidiki apa yang persisnya terjadi. Kini semakin kuat dipahami bahwa pihak di belakang para penembak jitu bukanlah Tanukovych, melainkan seseorang dari koalisi baru.” Dr. Bogomelets kemudian menyangkal pernah menceritakan hal semacam itu kepadanya; dia bahkan tidak melihat satupun polisi tertembak.

Begitulah level “informasi rahasia” yang diperoleh para pemimpin barat selagi mereka keluar-masuk Ukraina, mengambil keputusan yang jelas-jelas jauh di luar kompetensi mereka.

Senator John McCain masuk kota dan berbagi panggung dengan Oleh Tyahnybok, pemimpin partai Svoboda sayap kanan-jauh anti-Semit – sosok yang di banyak negara barat mungkin menjadi sampah masyarakat, politisi dari kandang yang sama dengan Jörg Haider, yang kemenangan pemilunya di Austria pada tahun 1999 membuat UE mengenakan sanksi terhadap pemerintahannya. Apa McCain tahu dengan siapa dia menang dan makan? Apa dia peduli? Ataukah kualifikasi untuk mendapat dukungan tak bersyarat dari AS adalah kebencian mendarah-daging terhadap Rusia?

Asisten menteri luar negeri AS, Victoria Nuland, membagi-bagikan kue kepada pengunjuk rasa Maidan, dan berdiskusi dengan duta besarnya kira-kira pemimpin oposisi mana yang mesti menjadi perdana menteri, seakan-akan dirinya raja muda Ukraina. “Saya kira Klitsh tidak boleh masuk pemerintah,” katanya. “Saya kira Yats adalah sosok yang memiliki pengalaman ekonomi, pengalaman memerintah.”

Mereka adalah mantan juara tinju kelas berat Vitali Klitschko dan Aresniy Yatsenyuk, yang namanya agak sulit dilafalkan. Tapi dia juga kenal ekstrimis Tyahnybok, dan berpikir bahwa Yats “perlu bicara dengan Tyahnybok empat kali seminggu, kau tahu.” Semua ini hanya didasarkan pada pengetahuan yang belum pasti. Apakah orang Amerika yang arogan ini punya pengetahuan mendalam tentang sejarah, masyarakat, dan kebutuhan negara yang sedang dibentuknya sesuai kesukaan Amerika?

Pemahaman barat sungguh menyedihkan. Seberapa sering presiden Ukraina bodoh itu, Viktor Yanukovych, dilukiskan sebagai teman besar atau anjing pudel Putin? Terlalu sering. Uang yang dikeduknya dari Rusia untuk memperpanjang sewa Rusia atas pangkalan Armada Laut Hitam di Crimea pada April 2010 (antara $40-45 miliar) membuat Putin murka. “Saya ingin memakan Yanukovych dan perdana menterinya karena uang itu,” katanya. “Tak ada pangkalan militer lain di dunia yang berbiaya sebanyak itu!” Saat Yanukovych melarikan diri dari pengunjuk rasa Maidan bulan Februari ini dan muncul di Rusia, Putin tidak berkenan menemuinya.

Seberapa suramkah para pakar kebijakan luar negeri UE jika mereka terkejut bahwa Putin mengakali “kesepakatan asosiasi” dengan gas yang lebih murah dan pinjaman $15 miliar? Ekonomi Ukraina sedang kolaps—tentu saja Yanukovych yang menjarah uangnya. UE menggelontorkan ratusan miliar untuk menalangi bank-bank, tapi tak mampu membantu Ukraina menjadi negara demokrasi.

Pemerintahan kita rupanya tidak kompeten dalam kebijakan luar negeri. Politisi kita yang berputar-putar, satu hari di bidang pendidikan, hari berikutnya di bidang keuangan, kemudian di Kementerian Luar Negeri, mungkin tahu semua hal tentang perpolitikan dalam negeri, tapi di luar negeri (khususnya menyangkut Rusia) mereka seperti Columbus yang berangkat untuk menemukan India.

Memang sulit memahami Rusia. Saya sendiri merasa berpengalaman dalam urusan Rusia; lebih dari 40 tahun silam saya mulai mempelajari bahasanya, budayanya, masyarakatnya, politiknya. Saya tinggal di sana lebih dari sepuluh tahun secara keseluruhan, di masa Brezhnev, Gorbachev, Yeltsin, dan Putin. Tapi saya tahu betul bahwa saya tergolong bodoh dibanding orang-orang Rusia. Saya tidak mengerti humor mereka, saya tak pernah bisa memahami referensi budaya yang terpendam di dalam program-program satir seperti Kukly, tandingan Spitting Image yang dilarang Putin. Ini tidak menghalangi saya untuk memberi wejangan. Tapi setelah tahu betapa sedikitnya yang saya pahami, saya pun ketakutan menyaksikan “para diplomat” kita yang bertapak datar mengambil keputusan tanpa bekal informasi dan tidak peka, yang bisa-bisa mendorong dunia ke arah malapetaka.

Tapi keadaannya memang selalu begini, atau begini sejak runtuhnya USSR. Tak ada yang mau mendengar ini ketika Putin mengerahkan pasukannya ke negara tetangga, tapi boleh dikatakan dia takkan berbuat demikian—bahkan takkan menjadi pemimpin Rusia—seandainya barat cakap dalam menangani keruntuhan komunisme.

Dekade pertama pasca Soviet—tahun-tahun Yeltsin—adalah bencana bagi Rusia. Orang-orang Amerika mengelu-elukan Boris Yeltsin. Dia tipe Rusia yang kami sukai—“kekar” tidak “kasar”, pembangkang yang memutuskan untuk mencerabut komunisme, menyambut kapitalis barat, anehnya mabuk dan impoten untuk menentang kebijakan luar negeri barat. Bahwa masyarakat Rusia jatuh ke dalam kemiskinan dan ketidakamanan, hal ini dianggap sebagai fase yang sedang berlalu: pada akhirnya semua akan beres. Bahwa segelintir oligarki mengembat sebagian besar aset negara dan Rusia mulai menyerupai negara mafia, hal ini bukan masalah besar. Uang oligarki dan stasiun televisi mungkin telah dipakai untuk merekayasa terpilihnya kembali Yeltsin yang tidak populer, tapi sekurangnya ini memastikan para komunis tidak kembali masuk.

Saya teringat saat memilih jalan, waktu itu sebagai reporter BBC, di antara jalan-jalan raya yang penuh dengan orang-orang kelas menengah yang sedang mengobral barang-barang kepunyaan mereka, untuk meliput hak penjualan pertama Moskow atas Rolls-Royce. Yang tak mengejutkan, sebagian besar orang Rusia akhirnya mengaitkan kapitalisme dan demokrasi dengan kehancuran finansial dan kehinaan. Sekitar 25 juta dari mereka bahkan berada di luar Rusia, tinggal di republik-republik baru dan merdeka bekas USSR (yang tidak semuanya memperlakukan tamu dengan halus).

Barat bisa saja memompa miliaran dolar ke Rusia, ketimbang berimajinasi bahwa yang dibutuhkan hanyalah kapitalisme bebas. Rupanya pemerintah kita tak tahu sedikitpun tentang seberapa dalam krisis ekonomi Rusia terjadi setelah 70 tahun komunisme, juga seberapa bahaya suasana masyarakat jika tak ada “bantalan”: tak ada yang dapat menyelamatkan rakyat dari kemiskinan. Rasa hormat terhadap Rusia yang hancur sebagai kekuatan dunia pun takkan membantu.

Dan dengan cara itulah kita mendapatkan Putin—dinaikkan ke tampuk kekuasaan, ironisnya, oleh keluarga dan para penasehat Yeltsin sendiri. Bahkan mereka paham negeri tersebut butuh sentakan. Andai saja Rusia tidak sekacau itu, andai saja kebijakan “kebaratan” tidak kehilangan kredibilitas, rakyat Rusia mungkin sudah memilih seorang demokrat.

Putin tampil ke kancah sebagai orang yang naif politik. Hari ini dia tampak keras pendirian dan teguh pada tujuan, tapi saat masih hijau dulu dia membuka diri terhadap segala jenis nasehat. Dia membiarkan dirinya dikelilingi reformis radikal berorientasi barat. Dia merayu pemimpin barat, ingin disukai, dan berpikir untuk bergabung dengan NATO suatu hari kelak. Dia menawarkan bantuan sungguhan kepada George W. Bush dalam perang di Afghanistan.

Pada titik inilah keadaan menyimpang. Tetap saja pada hakikatnya Putin adalah orang KGB, dilatih dalam pengecohan dan dimabukkan oleh visi Soviet akan dunia. Dia tak pernah paham apa artinya demokrasi, dan mulai menutup media-media kritis dan mengumpulkan kelompok eksklusif yang terdiri dari para komrad KGB. Wajar saja barat ketakutan dan mulai membangun pertahanan terhadap Rusia—walaupun, pada titik ini, Putin belum menunjukkan niat jahat terhadap negara-negara lain.

Pemahaman George W. Bush tentang Rusia, saya kira, sama bagusnya dengan pemahamannya tentang Irak: urusan internasional yang direduksi menjadi beberapa kutipan singkat. Tak mengindahkan protes Rusia, dia bersikeras dengan perisai misil, diduga untuk bertahan terhadap roket-roket Iran tapi nyatanya diposisikan sedemikian rupa sehingga Kremlin merasa pertahanan strategisnya diperlemah.

Apa maksud dari ini, hanya Tuhan yang tahu. Toh sistem tersebut tidak berfungsi (ibarat menghantam peluru dengan peluru, dari jarak ratusan mil) dan bagaimanapun juga Iran belum menyerah dengan klaim senjata nuklirnya.

Rusia mati-matian ingin menjadi bagian dari arsitektur keamanan Eropa, tapi NATO memperluas ke arah timur menuju perbatasan Rusia, menjadikan Rusia lebih sebagai ancaman daripada sebaliknya. Sebagai balasan, Rusia mulai membangun pertahanan mereka sendiri. Di tahun 2008 NATO menjanjikan keanggotaan kepada Ukraina, persis sebagaimana yang kini dikhawatirkan Putin begitu negara tersebut berpaling ke barat.

Tapi bagaimana kalau barat malah berhitung bahwa Putin bisa saja dibujuk untuk mengekang kecenderungan otoriternya, sebagai gantinya dia akan mendapat kekuasaan yang tepat dalam urusan dunia? Diplomat-diplomat cerdik mungkin sudah merayunya. Hasilnya bisa berupa tipe Rusia yang kita mau—demokratis, damai, tidak mengancam…dan karenanya menjadi aset yang disambut di meja global.

Dengan mengepung Rusia dan merusak keamanannya (melalui perluasan NATO dan perisai misil), kita telah menciptakan musuh yang tak diinginkan. Separuh jalan masa jabatan keduanya, Putin menyimpulkan Amerika tak mau berbagi kekuasaan di dunia. Dan dia benar—tak mau berbagi dengan orang yang membui para pengkritiknya dan merekayasa pemilu. Kedua pihak sedang tergelincir ke dalam sikap saling curiga dan benci. Bagi Putin, perjuangan untuk diterima [oleh barat] telah berakhir dengan kekalahan dan dia tak perlu lagi “memperbaiki” diri untuk mendapatkannya. Dia menjadi panglima perang yang mengancam dan menaruh dendam. Sekarang kita harus berurusan dengannya. Wah!

Pakar urusan Rusia di masa Bill Clinton, Strobe Talbott, melukiskan pergolakan di Ukraina hari ini sebagai pembalasan Putin terhadap barat, khususnya AS, atas apa yang “dipandangnya sebagai kekurangajaran, penghinaan, dan diplomasi gertakan selama seperempat abad ini”. Dalam pidatonya pada 18 Maret, dengan marahnya Putin membeberkan semua dukacita yang bertambah-tambah selama bertahun-tahun, menyimpulkan bahwa kebijakan “pembendungan Rusia” yang sudah berumur berabad-abad ternyata masih berlanjut.

Yang jelas, perbuatan Putin mencaplok wilayah Ukraina tidak dapat diterima dan harus dikenai hukuman, meski tak ada yang tahu bagaimana melakukannya tanpa menimbulkan perang. Barangkali kita takkan bisa memiliki hubungan yang waras dengan Rusia sampai Putin dan para pengikutnya pergi.

Tapi barangkali, suatu hari nanti, Rusia yang kita saksikan di upacara pembukaan Olimpiade Sochi bukan sekadar isapan jempol, melainkan sesuatu yang dapat kita rayakan dan sambut ke dalam hati kita. Namun, para Kremlinolog barat generasi berikutnya mesti mencamkan hal ini: siapapun yang berkuasa di Kremlin—bahkan pemimpin “kebaratan” yang paling menyenangkan dalam imajinasi Anda—akan menyimpan kepentingan Rusia di dalam hatinya, bukan kepentingan kita. Mereka akan menginginkan suara di dunia yang sepadan dengan ukuran dan status nuklir Rusia, mereka akan mengurusi orang-orang Rusia yang tinggal di luar negeri, dan mereka akan menentang apapun yang dipandang sebagai ancaman terhadap keamanan mereka.

Tentang penulis: Angus Roxburgh adalah mantan koresponden BBC Moskow. Bukunya, “The Strongman: Vladimir Putin and the Struggle for Russia”, tersedia dalam versi sampul kertas terbaru (I B Tauris, £12,99).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s