Oleh: Uwe Klußmann
20 Februari 2014
Sumber: www.spiegel.de

Konflik berdarah di Ukraina dapat memicu konfrontasi lain antara Barat dan Rusia. Dominasi di Eropa dipertaruhkan di atas papan catur geopolitik. Sementara Ukraina sendiri bisa terjerumus ke dalam perang saudara.

Asap membumbung di Independence Square, Kiev, pada hari Kamis.
Asap membumbung di Independence Square, Kiev, pada hari Kamis.

Kutipan yang dicetak dalam SPIEGEL 33 tahun silam patut diperhatikan, dan masih terdengar relevan: “Kita harus pastikan kekaisaran Soviet ini, ketika pecah akibat kontradiksi internal, pecahnya disertai rengekan ketimbang dentuman.” Kalimat ini dilontarkan oleh Menteri Pertahanan AS Caspar Weinberger dalam sebuah wawancara pada September 1981.

Pekan ini di Ukraina, salah satu kawasan inti bekas kekaisaran tersebut, keadaannya jauh lebih mendekati “dentuman”. Kamis kemarin Kiev menyaksikan kekerasan berdarah yang memakan lusinan nyawa di tengah baku tembak dan bentrokan brutal di Independence Square. Ratusan orang terluka, kebanyakan serius. Kekerasan mendekati pertempuran serupa pada hari Selasa—dan menandai dimulainya konflik berkepanjangan dan dramatis terkait masa depan negara tersebut.

Sebagian orang yang bepergian ke Kiev dan melihat situasinya secara langsung pada pekan-pekan terakhir sadar betul apa itu “dentuman”—Senator AS John McCain, 77 tahun, misalnya, veteran Perang Vietnam yang ditembak jatuh pada 1967 dan menghabiskan waktu lebih dari dua tahun sebagai tahanan perang. Pada Desember lalu, dia berdiri di panggung Independence Square, Kiev, dan berseru: “Rakyat Ukraina, inilah momen kalian! Dunia yang bebas menyertai kalian! Amerika menyertai kalian!”

Dengan kata lain, Perang Dingin telah kembali dan Moskow sekali lagi menjadi musuh. Satu-satunya perbedaan adalah senjatanya telah berganti.

Yang dipertaruhkan bukan cuma perjanjian penyatuan dengan Uni Eropa. Fokusnya bukan lagi masa depan Presiden Viktor Yanukovych, sosok yang dikelilingi rumor korupsi. Justru, geopolitik telah menduduki panggung utama, dan yang terpenting adalah pusat-pusat kekuatan mana saja di Eropa dan Eurasia yang akan dominan di masa mendatang. Mantan Penasehat Keamanan Nasional AS, Zbigniew Brzezinski, pernah menyamakan kawasan ini dengan papan catur. Para pemainnya, seperti biasa, mencakup AS, Rusia, UE, dan NATO.

Moskow Diskakmat

Ini adalah permainan catur di ladang ranjau. Kadar ledakan negara bernama Ukraina ini menjadi jelas dari wawancara yang disampaikan oleh mantan Perdana Menteri Rusia Yegor Gaidar—reformis liberal dan ramah terhadap Barat—di tahun 2008, setahun sebelum wafatnya. Mereka yang ingin menjadikan Ukraina anggota NATO, sebagaimana niat Presiden Ukraina kala itu, Viktor Yushchenko, meluputkan fakta bahwa ini akan menempatkan Rusia dalam posisi bertahan yang tak dapat dipertahankan, katanya. Upaya tersebut, tambahnya, harus ditinggalkan.

Brzezinski ingin sekali membuat Rusia sekakmat. Dalam bukunya The Grand Chessboard, dia menulis bahwa tanpa Ukraina, Rusia “sebagian besar akan menjadi negara imperial Asia” yang beresiko terseret ke dalam konflik-konflik di Asia Tengah. Tapi seandainya Moskow mampu memperoleh kendali atas Ukraina dan sumberdayanya, tulis Brzezinski, Federasi Rusia akan menjadi “negara imperial kuat”. Dia merasakan bahaya dalam “kolusi Jerman-Rusia” yang potensial serta dalam kemungkinan perjanjian antara Eropa dan Rusia dengan tujuan mengusir Amerika dari kawasan itu.

Pada dasarnya, sudut pandang Brzezinski telah memandu strategi Amerika sampai hari ini: AS ingin menjauhkan Rusia sejauh-jauhnya. Jika Eropa terlibat di Ukraina dan membahayakan hubungan mereka dengan Moskow, malah bagus bagi Washington.

Tentu saja, perkataan blunder “Persetan dengan UE” yang dilontarkan Deputi Menteri Luar Negeri AS Victoria Nuland hampir tidak bisa dipandang sebagai kekeliruan. Justru itu adalah ekspresi logis, meski vulgar, dari pendirian geopolitik Amerika.

Kelemahan dalam Strategi AS

Tapi terdapat kelemahan dalam strategi ini: kontras dengan republik-republik Baltik bekas Soviet berpopulasi kecil, mempersatukan Ukraina yang berpenduduk 45 juta akan sulit sekali.

Negara ini juga terbelah sangat dalam. Kawasan-kawasan berekonomi lemah di barat menjadi benteng kaum nasionalis. Sedangkan perusahaan-perusahaan besar Ukraina, seperti pabrik baja, operasi pembangunan kapal dan turbin, berlokasi di timur dan difokuskan pada pasar Rusia.

Rusia adalah bahasa utama dalam kehidupan sehari-hari di ibukota Kiev, jutaan orang Rusia hidup di wilayah timur dan di Crimea. Semenanjung Laut Hitam adalah yang pertama dipindahtangankan kepada Ukraina di tahun 1954, bertentangan dengan kehendak masyarakat yang tinggal di sana.

Bahkan, Crimea mungkin segera menjadi titik panas berikutnya dalam konflik ini. Armada Laut Hitam Rusia ditempatkan di Sevastopol, sumber kekesalan kaum nasionalis Ukraina dan sahabat-sahabat AS.

Dalam sebuah acara di Kiev, Oktober silam, Duta Besar AS Geoffrey Pyatt menggambarkan “beribu-ribu peluang” jika Ukraina bersekutu dengan AS dan menyatakan “kalian tak punya teman lebih baik dalam usaha ini selain AS… Kami siap mendukung kalian, rakyat Ukraina, selagi kalian mencari tempat di Eropa.”

Janji Manis Berbahaya

Janji-janji manis seperti ini, yang menyerupai cek kosong, punya potensi untuk mendorong salah satu negara termiskin Eropa ke dalam perang saudara. Aparat pemerintah yang dicurigai melakukan korupsi akan tertatih-tatih di Ukraina—fondasi sebuah negara yang perbatasannya hampir tak dapat dipertahankan ini akan turut tergoncang. Taktik yang dipakai sejauh ini oleh rezim Yanukovych, berupa serangan brutal dan mundur sementara, hanya akan semakin meradikalkan gerakan unjuk rasa.

Ketika komandan-komandan lapangan memaksakan pendapat, dinamika pemisahan dimulai, seperti yang pernah kita saksikan di Kaukasus. Presidium Dewan Tertinggi Crimea sudah mengancam akan mendorong penduduk untuk “mempertahankan kedamaian sipil” di semenanjung.

Sampai sekarang Kremlin belum berupaya membesarkan sentimen separatis di timur dan selatan Ukraina. Dan sepertinya Vladimir Putin dan sistem kekuasaannya tidak tertarik pada prospek perang saudara di halaman belakangnya tersebut.

Tapi tetap saja ini berpotensi pecah sekalipun Moskow tak menginginkannya. Mereka yang akrab dengan sejarah Ukraina pasti tahu bahwa militan nasionalis di wilayah barat sudah berkali-kali masuk ke dalam pertempuran yang tak bisa dimenangkan. Setelah Perang Dunia II, Tentara Pemberontak Ukraina melancarkan perang gerilya tak berperikemanusiaan terhadap negara Soviet ini, menyebabkan ribuan tewas di kedua pihak.

Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier menyebut Ukraina sebagai “tong mesiu” yang tak boleh dinyalakan. Apapun keadaannya, romantisasi revolusi hanya akan berujung pada “dentuman besar”—yang puing-puingnya akan menjangkau jauh ke luar Ukraina.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s