Oleh: Ivan Eland
Senin, 21 Juli 2014
Sumber: www.independent.org

Banyak pihak menunjuk-nunjuk pasca jatuhnya penerbangan MH-17 Malaysia di teritori yang dikuasai separatis Ukraina. Media Amerika—masih anti-Rusia secara refleks, padahal Perang Dingin telah berakhir hampir seperempat abad lalu, dan menumpukkan kesalahan pada Rusia dan pemimpinnya, Vladimir Putin, bahkan sejak sebelum aneksasinya atas Crimea—sudah lupa daratan dengan melakukan tuduh-menuduh setelah kejatuhan pesawat tersebut.

Rusia dan Putin adalah sasaran empuk. Di Amerika, jalan ceritanya begini: setelah Perang Dingin berakhir, Amerika Serikat bermurah hati menghujani Rusia dengan bantuan, sambutan ke dalam kedai obrolan demokrasi industri G-8, dan “pakar-pakar” di bidang penciptaan demokrasi (saya ikut salah satu perjalanan itu), tapi rakyat Rusia membiarkan si keras Vladimir Putin merusak upaya kami untuk mengekspor demokrasi ke sana dengan melembagakan ulang aturan otokratis. Orang Amerika merasa ditolak, karena orang Rusia tak ingin menjadi seperti kami. Dan dengan kemurahan pura-pura seperti biasa, kami heran kenapa Rusia bertingkah dengan “gaya abad 20”, dengan menganeksasi dan menyalurkan pelatihan dan senjata kepada separatis Rusia di Ukraina timur, padahal seluruh dunia, termasuk Amerika, telah beralih ke era baru di milenium berikutnya. Orang Amerika—yang selalu sangat ahistoris, terlebih dengan datangnya “berita” kabel 24 jam sehari, 7 hari sepekan, 365 hari setahun—menderita amnesia soal kemungkinan peran AS dalam membawa hubungan AS-Rusia ke kondisi menyedihkan sekarang ini.

Setelah Perang Dingin berakhir, Rusia yang waktu itu sedang melakukan demokratisasi, masih menimbulkan kecurigaan di Barat, dilarang masuk NATO dan Uni Eropa yang tengah berekspansi. Setelah tembok Berlin runtuh, dalam janji verbal kepada pemimpin Soviet kala itu, Mikhail Gorbachev, untuk membujuknya menyetujui penyatuan ulang Jerman, Presiden George H.W. Bush berjanji kepada Gorbachev bahwa NATO, aliansi militer yang memusuhi Uni Soviet semasa Perang Dingin, tidak akan berekspansi ke teritori Pakta Warsawa yang kini mati (yakni, Eropa Timur). Melanggar janji ini, aliansi usang NATO, sebagai ganti cara Perang Dingin, berulangkali melakukan ekspansi dan kini hadir di perbatasan Rusia. Bahkan, selama krisis teranyar di Ukraina, AS telah memperkuat pasukan dekat Rusia dan meningkatkan kegiatan “pelatihan”. Selain itu, sejak akhir Perang Dingin, AS mencoba memperluas pengaruh di negara-negara Asia Tengah bekas Soviet yang kaya minyak dan gas di perbatasan Rusia. Perang Dingin berakhir tapi jerat pembendungan yang AS bangun di sekeliling Rusia justru bergerak ke timur dan utara, menuju Rusia yang lebih lemah.

Tindakan AS ini sangat tidak bijak. Setelah Peperangan Napoleon, di Kongres Wina, bangsa-bangsa Eropa menyambut kembali Prancis ke dalam komunitas Eropa, diiringi satu abad tanpa perang se-Eropa. Tapi perilaku mabuk kemenangan AS dan NATO setelah Perang Dingin lebih menyerupai perlakuan sekutu terhadap Jerman yang kalah setelah Perang Dunia I: Jerman secara tak adil disalahkan telah memulai perang dan diharuskan membayar ganti rugi, hingga akibatnya melahirkan Adolf Hitler dan Perang Dunia II. AS, yang menghalangi Rusia pasca Perang Dingin untuk masuk ke Eropa dan menghinakannya, bukannya bersikap lebih inklusif, telah membuat nasionalisme Putin menggema di Rusia.

Jadi Rusia mengalami penyusutan penyangga pelindung di wilayah sekeliling. Tapi bukankah sudah demikian sejak seabad silam? Bagi orang-orang Rusia, yang mengenal sejarah dengan baik, ini memang kenyataan. Di masa lalu, contohnya, Rusia diinvasi oleh Napoleon Prancis dan Nazi Jerman, dan ia kehilangan 25 juta orang dalam Perang Dunia II—dengan total kematian jauh di atas negara manapun. Orang Rusia paham zona penyangga kritis mereka terkikis dan sedang berusaha menyelamatkannya sejauh yang mereka bisa. Bagi Rusia, Ukraina selalu menjadi permata mahkota Eropa Timur dan sangat penting secara ekonomi untuk Rusia. Sebelum kudeta akibat unjuk rasa jalanan (bukan cara demokrasi yang semestinya), di Ukraina terdapat pemerintahan yang ramah terhadap Rusia. Kini setelah itu lenyap, aneksasi Rusia atas Crimea yang tak dapat diterima, serta bantuan militer kepada separatis Rusia di bagian timur negara tersebut, mesti dimasukkan ke dalam perspektif. Terlebih, kemunafikan dalam mengkritik bantuan Rusia untuk menopang zona penyangga yang melemah tidaklah terlalu mengherankan.

Saya yakin negara-negara Amerika Latin akan berkata bahwa Doktrin Monroe masih hidup dalam lingkup pengaruh AS yang terdiri dari seluruh Belahan Bumi Barat. Dan belakangan ini, AS memutuskan membantu Kosovo Liberation Army untuk melepas sebuah provinsi Kosovo dari Serbia, sekutu tradisional Rusia. Selain itu, Rusia merasa dua kali dirintangi oleh Amerika ketika Barat menggulingkan Muammar Khadafi Libya setelah membuat Rusia memberikan suara untuk Resolusi Dewan Keamanan PBB yang membolehkan aksi militer dengan alasan kemanusiaan demi menyelamatkan nyawa para pemberontak Libya. Terakhir, CIA berupaya membantu banyak pemberontak di seluruh dunia, jauh dari lingkup pengaruh AS di Belahan Bumi Barat—bahkan mungkin dalam unjuk rasa jalanan di Ukraina terhadap pemerintahan pro-Rusia.

Di Ukraina, terdapat satu kemiripan dengan Perang Dunia I. Salah satu kejadian yang mengakibatkan masuknya AS tanpa keperluan ke dalam Perang Dunia I adalah penembakan torpedo Jerman terhadap kapal penumpang Inggris, Lusitania, yang menewaskan hampir 1.200 orang, termasuk 128 warga Amerika. Tapi kedutaan Jerman di AS sudah memasang iklan di suratkabar, memperingatkan orang Amerika agar tidak melaut di atas Lusitania dan kapal tersebut mengangkut amunisi melintasi zona perang.

Pesawat Malaysia yang ditembak jatuh adalah pesawat sipil, tapi, seperti halnya Lusitania, sulit dipercaya ia malah melintasi zona perang (tak peduli pihak mana yang Anda dukung dalam perang di Ukraina timur). Sebelum dapat dibuktikan bahwa separatis Ukraina atau militer Rusia menembak jatuh pesawat secara sengaja (yang mana masih diragukan, mengingat kedua pihak tak berkepentingan untuk melakukannya, serta adanya komunikasi rilisan Ukraina di kalangan separatis yang mengindikasikan keterkejutan bahwa itu pesawat sipil, dan pengalaman Rusia dengan konsekuensi internasional akibat penjatuhan maskapai Korea di masa Perang Dingin 1980-an), tak ada substansinya meneriakkan “kejahatan perang” di Barat. Adalah kesalahan pemerintah Ukraina atas kegagalannya menutup ruang udara dari lalu-lintas maskapai sipil (beberapa maskapai lain dengan bijak mengubah rute pesawat mereka). Kelompok separatis atau pemerintah Rusia mungkin tidak kompeten untuk menembak jatuh pesawat sipil, tapi ketidakkompetenan bisa terjadi di tengah kekacauan perang.

Dan kemunafikan kebijakan luar negeri AS—tersohor di dunia lantaran mengkritik negara-negara lain atas tindakan yang juga dilakukannya sendiri—lagi-lagi terpajang. Apa orang Amerika masih ingat maskapai sipil Iran yang diledakkan dari langit oleh sistem pertahanan udara canggih Aegis, tanpa permintaan maaf, di Teluk Persia di masa campur-tangan AS dalam perang Iran-Irak pada 1980-an untuk mendukung Irak di bawah kepemimpinan Saddam Hussein? Tentu saja tidak, karena fakta memilukannya adalah, sebagian besar rakyat Amerika tidak peduli sejarah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s