Musim Semi Rusiafobia

Oleh: Mark Hackard
13 September 2014
Sumber: www.globalresearch.ca

Tatkala bankir-bankir yang menjalankan Amerika mengarahkan bidikan kepada musuh terbaru demokrasi, pasti serangannya didahului oleh operasi-operasi [propaganda] informasi untuk meyakinkan publik polos akan kebencian membara negara target terhadap “kebebasan”. Sesaat terenggut dari tontonan hiburan korporat, warga-konsumen yang tercerahkan akan disuguhi berita-berita palsu berisi kekejian, liputan krisis berlatar hijau yang dipadukan dengan musik dramatis, dan petunjuk berguna untuk mengidentifikasi pahlawan, korban, dan penjahat dalam sandiwara moralitas yang terhampar. Washington konon adalah Hollywood-nya orang-orang jelek, dan orang-orang jelek itu terbukti mahir dalam bernegara serta berpentas, menjual merek kebanditan internasional mereka sebagai peningkatan kemanusiaan yang terasa enak selama berdekade-dekade.

Topi Putin

Tapi sebagaimana Hollywood terseok-seok ke dalam kesenjaan kreativitas, demikian pula dengan pola dasar yang compang-camping untuk intervensi luar negeri seiring masuknya dominasi global AS ke fase terakhir. Tak lagi mengalah pada “kepemimpinan” para serigala Wall Street, kekuatan-kekuatan independen mulai menantang fondasi konsensus Washington. Di garis terdepan gerakan ini adalah Rusia yang terbangunkan. Di hadapan kepungan NATO dan di tengah ancaman terhadap keberlangsungannya, Rusia telah memperlihatkan kemauan dan kemampuan untuk menghadapi Pax Americana. Tapi pertunjukan harus terus berjalan; sementara posisi AS terus mendesak ke arah perbatasan Moskow, orang-orang yang berbicara di layar TV kita secara otomatis menginformasikan agresi Rusia, dengan kernyitan dahi dan keprihatinan pura-pura. Lagi-lagi musim Rusiafobia bersemi di Barat.

Berakar dari Permainan Besar spionase dan intrik antara para perwira rendah Victoria dan bangsa Cossack-nya Tsar di Asia Tengah, antipati sistemik terhadap Rusia seperti ini hanya tertancap kuat di Amerika sejak ia mengemban jubah imperial Britania di permulaan Perang Dingin. Permusuhannya tentu saja bertimbal balik, dan orang Rusia belum lupa bagaimana negeri mereka menderita akibat “deviden damai” kekutubtunggalan AS pada 1990-an. Dijanjikan bahwa aliansi Atlantik Utara tak pernah terpikir berekspansi ke arah timur, Mikhail Gorbachev membintangi iklan pizza sedangkan Boris Yeltsin menghebohkan pertemuan-pertemuan tingkat tinggi dengan merek dagangnya, lawakan terendam vodka. Pada saat itulah Rusia yang bangkrut dan diperlemah dapat dijarah oleh perusahaan-perusahaan multinasional, rakyatnya dimiskinkan dan didemoralisasi, dan selanjutnya negara ditumbangkan oleh berbagai kekuatan, mulai dari LSM-LSM “masyarakat sipil” hingga serdadu jihad bayaran bengis yang melancarkan perang suci di Kaukasus Utara.

Hari-hari penghinaan itu telah usai, dan inilah yang dicemaskan Washington. Selama 15 tahun kekuasaan “otoriter”-nya, Presiden Rusia Vladimir Putin menempatkan negaranya di jalur yang baru setelah malapetaka kemunduran pasca-Soviet. Sejak dini dia menggagalkan ambisi kaum oligarki dan separatis regional, kemudian dia lawan rencana AS/NATO untuk mengendalikan Eurasia dan jaringan transit energinya. Perebutan ini bermain melalui spionase, revolusi berkode warna, silang-ganda jalur pipa, dan perang proksi. Setelah gugus tugas AL yang diutus oleh Moskow efektif mencegah Barat untuk mengebom Suriah pada 2013, para perencana kebijakan luar negeri AS memutuskan membalik kebangkitan Rusia lewat rute destabilisasi yang cepat dan kotor: Ukraina.

Dengan mengatur kudeta di Kiev pada Februari tahun ini, para ahli strategi Amerika bertaruh atas perampasan Crimea, markas Armada Laut Hitam. Jatuhnya Sevastopol ke tangan NATO akan membatasi pengaruh Rusia secara drastis di Mediterania Timur seraya memastikan rawannya Rusia terhadap pertahanan misil dan aset-aset serangan nukir penangkal (first strike asset) milik AS. Kekuasaan Moskow atas Kaukasus Utara (dan bahkan Basin Volga) juga tak pelak akan menjumpai tantangan, menilik riwayat Washington dalam membangkitkan kekacauan melalui jejaring yayasan dan lembaga bantuan. Berkat tindakan cepat Putin, alih-alih mengusir Kremlin dari Crimea, Departemen Luar Negeri AS dan CIA tanpa sadar menjadi katalisator untuk penyatuan kembali semenanjung tersebut dengan tanah air historisnya. Kemenangan tanpa pertumpahan darah ini merupakan hinaan tak tertahankan bagi para elit kebijakan Amerika yang sombong, hingga mereka memacu kampanye pendiskreditan.

Atas kepemimpinannya mengembalikan Rusia ke permukaan dan menolak tunduk pada tekanan AS, Vladimir Putin dijadikan titik fokus gempuran propaganda ini. Siapapun musuh “komunitas internasional” (kaum plutokrat globalis yang berbicara lewat politisi boneka perut) harus dicampakkan sebagai penjelmaan kejahatan, yang bagi manusia kontemporer diterjemahkan ke dalam satu nama pertama dan utama: Adolf Hitler. Seolah ada pedoman, mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton—wanita yang meminta suaminya agar menggunakan bom curah terhadap Serbia sebagai tindakan yang tepat—mentahbiskan krisis Crimea sebagai pengulangan Sudetenland.

Jika ini terdengar familiar, sesungguhnya inilah yang dilakukan Hitler pada tahun 30-an silam… Semua orang Jerman yang…beretnis Jerman, berleluhur Jerman, yang berada di tempat-tempat seperti Cekoslowakia dan Rumania dan lainnya, Hitler selalu bilang mereka tidak diperlakukan dengan baik. Saya harus melindungi bangsa saya dan itulah yang membuat setiap orang gelisah.

Tokoh-tokoh lain, mulai dari Senator John McCain yang labil sampai Pangeran Charles, turut bergabung melabeli Putin sebagai “Hitler berikutnya” lantaran berani menentang New World Order. Benturan dengan rancangan geopolitik Amerika memicu mekanisme Reductio ad Hitlerum—alat manipulasi serbaguna yang dipakai terhadap opini publik dan praktis untuk beragam kesempatan. Gamel Abdel Nasser, Fidel Castro, Ayatollah Khomeini, Manuel Noriega, Saddam Hussein, Slobodan Milosevic, Kim Jong-Il, Mohamar Gaddafi, dan Bashar al-Assad, adalah sebagian nama yang telah dibubuhi kumis sikat gigi sang kopral Austria berdasarkan tujuan AS. Dalam membandingkan Putin dengan Hitler, sosok paling fobia Rusia yang pernah berjalan di muka bumi, batas keabsurdan merentang lebih jauh lagi. Karena dia tegas menentang oligarki Barat menguasai Rusia dan seluruh Eurasia, sebuah impian yang juga dimiliki oleh Reichskanzler di abad 20, Putin mirip dengan Hitler berdasarkan logika yang ajaib. Berikut adalah daftar berguna yang mendemonstrasikan kemiripannya:

  • Menentang modal internasional yang merampok kekayaan nasional dari rakyatnya. Siapa orang ini, Nazi?
  • Menegaskan identitas tradisional Rusia dan budaya asli dalam Rusia, mendukung kebijakan pro-kelahiran dan memperkuat peran Gereja Ortodoks di masyarakat. Well, kedengarannya seperti yang akan dilakukan Hitler.
  • Menegakkan peran stabilisator Rusia sebagai kekuatan Eurasia yang berdaulat dengan segala lingkup kepentingannya. Hitler, Hitler, Hitler.

Sebuah kenyataan aneh menjadi fokus di tengah retorika Hitler yang kosong dan tak berujung demi membantu penaklukan seluruh dunia: melebihi dewa lain di kuilnya, orde liberal memerlukan Hitler untuk keberlangsungan eksistensinya. Kesampingkan fakta bahwa elit-elit keuangan Anglo-Amerika menanggung naiknya sang Führer ke tampuk kekuasaan, atau cerita Project Paperclip yang merepotkan. Lupakan sekejap sokongan AS kepada neo-fasis Ukraina, pewaris langsung 14th Waffen-SS Division Galizien, yang telah melumatkan Donetsk dan Lugansk dengan artileri demi memenuhi syarat pinjaman IMF dan mengosongkan timur Rusia untuk pengeboran batuan shale oleh Exxon-Mobil dan Royal Dutch Shell. Di luar ini semua, diam-diam Hitler menjadi sekutu Imperium Pasca-Modern yang paling dihargai, citra gelap untuk memeras kepatuhan psikologis dari bangsa-bangsa Barat dalam agresi di luar negeri maupun pembubaran mereka sendiri.

Dalam kegilaan tak bermoral, Pax Americana berusaha menaklukkan Rusia, tapi kemajuannya mengarah ke aib yang pernah dirasakan oleh Grande Armée-nya Napoleon atau Wehrmacht-nya Hitler. Elit-elit Atlantik bukan hanya mencemaskan pengaruh Rusia, tapi juga potensi pembebasan cita-cita kuno Rusia yang diartikulasikan oleh para pemikir legendaris semisal Fyodor Dostoevsky: keyakinan tradisional dan bukan ekstrimisme sektarian atau fanatisme materialis; solidaritas kebangsaan dan etnis dan bukan chauvinisme berbisa atau kosmopolitanisme merusak; kedaulatan yang pantas dan bukan negara polisi tempat hiburan. Penemuan ulang prinsip-prinsip ini dapat menggerakkan seluruh masyarakat ke arah kemuliaan dan kesucian, memberi mereka kebebasan sejati dan kesempatan berjuang untuk menghancurkan pemujaan Mammon.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s