Oleh: G. Murphy Donovan
18 Maret 2014
Sumber: www.americanthinker.com

Sulit dipercaya, seperempat abad telah berlalu sejak Ronald Reagan mulai meruntuhkan tembok ideologis yang membelah Eropa. Yang lebih sulit dipercaya, para politisi Amerika, Kanan maupun Kiri, sedang mencoba membangkitkan Perang Dingin—atau yang lebih panas. Peristiwa teranyar di Ukraina seperti memberi kilasan panas déjà vu kepada warga Eropa dan Amerika.

Di tingkat taktik, kebijakan AS sudah beralih ke “perubahan rezim”. Di tingkat strategi, kebijakan AS tak karuan, jika bukan nihilistis; menukar oligarki korup dengan neo-fasis atau fanatik agama. Logika untuk mendukung kudeta baru-baru ini tak banyak kaitannya dengan akal sehat—atau demokrasi. Dan terhadap Irak, Afghanistan, Libya, Mesir, dan kini Ukraina, perlu diciptakan kosakata untuk menghindari istilah-istilah semisal kudeta.

Apapun namanya, kudeta tetaplah kudeta. Dan penggunaan pemilu post-facto untuk melegitimasi kudeta hampir mirip dengan memasang topi baru pada seekor kucing mati. Tim Kerry/Obama sedang merusak citra kehalusan dan kedaulatan.

Saat Vladimir Putin menyindir tak ada pasukan Rusia di Ukraina, dia memperolok John Kerry dan Victoria Nuland yang memimpin para pembangkang di alun-alun Maidan, sebagian adalah kaum neo-fasis yang kemauannya tak terpenuhi dalam traktat dana talangan dengan UE.

Pelelangan Ukraina kini sudah ditutup. Harganya naik dua kali lipat dalam semalam, dari 16 miliar ke 35 miliar dolar dan terus naik. Politisi menyetopnya, kini wajib pajak harus membayarnya. Kerry sedang mengajukan untuk membeli pemilu Ukraina berikutnya.

Bicara soal pemilu, Eropa dan Amerika mungkin butuh referendum di negeri sendiri dalam [pengucuran] dana talangan di masa mendatang, baik untuk luar negeri maupun dalam negeri. UE dan AS bagaikan “dua gadis bokek” Kapitalisme. Angela Merkel mungkin satu-satunya politisi Eropa yang masih memiliki nyanyian hari ini.

Ketika Putin menyatakan bahwa dirinya melindungi orang-orang Rusia di Crimea, lagi-lagi dengan seringai, dia mengejek intervensi kemanusiaan Samantha Power, kini intervensi Barak Obama. Jalur cepat menuju imperialisme dilapangkan dengan kata-kata seperti “kemanusiaan”.

Ketika Rusia mensponsori referendum di Crimea, Kremlin menangkal, bahkan menertawakan, pemilu presiden yang disponsori UE yang akan diselenggarakan oleh Kiev pada Mei 2014.

Ketika pemimpin rakyat seperti Hillary Clinton menyamakan perilaku Rusia dengan Nazi Jerman, dia mengolok-olok sejarah Sekutu dan pengorbanan 5 juta orang Rusia dalam Perang Dunia II. Anak-anak kecil berdarah Rusia, boleh kita tambahkan, telah memungkinkan terwujudnya kemenangan Sekutu atas Nazi pada 1945.

Nama permainan di Crimea bukanlah Ukraina, bagaimanapun juga. Alun-alun Maidan dan Crimea hanyalah bidak papan, menurut Vicky Luland di Departemen Luar Negeri; wilayah-wilayah yang dapat digeser dalam Permainan Besar baru—Eropa versus Rusia, lagi. Kembali ke masa depan, sungguh!

Pilar-pilar kebijakan luar negeri Obama kini eksplisit: Rusiafobia di satu sisi, Islamofilia di sisi lain. Bahkan, Perang Dingin terbarui dengan Rusia, yang disponsori oleh bebek pincang, memungkinkan calo-calo Media untuk mengganti topik. Dengan naiknya Ukraina ke tajuk-tajuk berita, kegagalan pelayanan kesehatan dalam negeri dan perang terhadap Muslim berangsur lenyap dari pendengaran.

Rusiafobia

Ya, Rusiafobia! Raihan pragmatis era Reagan dikesampingkan demi ketakutan irasional terhadap segala hal yang berbau Rusia. Lupakan saja bahwa perbedaan antara Rusianya Putin dan Uni Sovietnya Gorbachev seperti perbedaan antara telur ikan dan ikan gurame.

Amerika dan UE tak punya kesamaan dengan Arab dan Islam raya selain [urusan] minyak, utang, dan imigran yang kompleks. Tapi, Amerika punya banyak kesamaan dengan Rusia: sejarah, agama, seni, sastra, olahraga, tari, anjing, musik, sains, perjalanan antariksa, minuman dewasa, rekreasi seks, dan hampir segala unsur budaya, termasuk Nureyev dalam setelan celana panjang ketat dan Sharapova di bidang olahraga.

Rusia, UE, dan Amerika juga memiliki musuh bersama, tiang kelima yang tersembunyi dan membahayakan: Islamisme domestik dan global.

Perang Dingin, sampai beberapa pekan lalu, sudah usai. Pakta Warsawa sudah mati selama sekitar dua dekade. Proyeksi-proyeksi tentang kekaisaran baru Rusia hanyalah fantasi. Justru Nato dan UE-lah yang bercita-cita untuk berekspansi ke perbatasan Rusia. Putin bukan elang pramuka, tapi dia juga bukan orang bodoh. Tak seperti para pemimpin Eropa dan Amerika, Putin tahu bedanya bertahan dan menyerang.

Islamofilia

Rusia tidak membunuhi orang Amerika. Putin bukan teman baik abadi, tapi Rusia juga bukan musuh. Barat tidak bisa mengatakan hal yang sama untuk Arab dan Muslim. Islamisme adalah musuh haus darah yang namanya tak berani kita sebut.

Kemanutan Amerika, Eropa, dan kini China, turut berperan dalam menyebarnya teror politik Islam. Kaum non-muslim dibunuh sedemikian rutin, di seluruh dunia, sampai-sampai dunia beradab harus menerima setiap kekejian baru sebagai harga yang pantas untuk menenangkan Liga Arab dan Organisasi Kerjasama Islam. Bahkan, para demokrat sosial Eropa dan kaum kiri Amerika kini percaya bahwa Israel sendiri harga yang remeh untuk sebuah kepatuhan.

Rusia tak berilusi soal Muslim militan. Bahkan, Anda bisa buktikan bahwa Putin membangun kembali Gereja Ortodoks Rusia sebagai rintangan ideologis bagi penyebaran racun Islam di Rusia. Andai saja Eropa atau Amerika mendukung Yudaisme dan Kristen dengan keyakinan tanpa sesal seperti ini.

Ancaman objektif terhadap Barat dan Asia berasal dari fasisme keagamaan. Arogansi budaya tidak memperkenankan Barat untuk mengakui bahwa politik Islam dan kebebasan, iredentisme Islam dan demokrasi, sama-sama ide yang eksklusif. Dan sedihnya, perasaan imperialisme kemanusiaan yang sesat telah merasionalkan intervensi terhadap Umat [Islam], ekspedisi yang biasanya gagal. Barat tak dapat menyelamatkan Islam dari dirinya sendiri. Meski begitu, orang-orang barat sepertinya bersedia mengorbankan sekumpulan nilai-nilai Pencerahan dan kehidupan yang masih baru di atas altar niat baik.

Krisis-krisis rekaan, seperti Ukraina, menjadi bahan pelajaran atas kepemimpinan yang lemah atau tidak cakap. Aduh, anjing cocker spaniel Obama/Kerry bukan tandingan Putin/Lavrov Rottweiler. Para pemimpin NATO juga bukan tandingan ayatollah dan imam sejak 1979. Momok Jimmy Carter masih menghantui kaum kiri Amerika. Putin semestinya mengirim satu peti vodka sebagai ungkapan terima kasih kepada Foggy Bottom yang telah menyediakan dalih bagi Kremlin untuk mengembalikan Sevastopol kepada Rodina.

John Kerry adalah bebek pemerintahan AS paling bodoh, keturunan Jane Fonda, sayap kiri Amerika. Siapa yang mengirim “aktivis” anti-perang ke konflik Timur Tengah atau Eropa Timur? Tak ada yang pernah memenangkan pertarungan jalanan dengan mulutnya—atau poin jarak terbang.

Dan Kaum Kanan Amerika juga pantas dicela; memperkenankan teror, tololnya perubahan rezim, dan belakangan doa-doa kegagalan imperial. Dalam kampanye pemilu AS 2012, tak ada sedikitpun perbedaan di antara para kandidat, Kanan dan Kiri, perihal kebijakan luar negeri atau militer AS. Sedangkan penjilat-penjilat neo-konservatif dipimpin oleh pengacau kebijakan luar negeri semacam John McCain, yang percaya bahwa Moskow harus “disanksi” supaya tunduk. Seakan-akan sanksi dapat berpengaruh terhadap kasta rendah sejati seperti Korea Utara atau Iran!

McCain adalah kapten brigade ngawur kontemporer; lupa akan apa yang sudah dimiliki Rusia: Crimea yang tunduk, uang dari ekspor sumberdaya, bus antariksa untuk astronot Amerika—dan kendali atas seluruh pasokan energi Ukraina dan sepertiga pasokan energi Eropa. Mendiskreditkan Putin justru memperkuat cengkeramannya di sana. Sang presiden Rusia menikmati dukungan rakyat yang tulus, berbeda dari politisi di Barat.

Proyeksi

Perang Dingin sedang kembali, kali ini tidak dicegah. Ambang nuklir diturunkan ketika kapabilitas konvensional direduksi ke tingkat ketidakberdayaan. Menteri Pertahanan Charles Hegel telah mengungkapkan sebuah rencana untuk meninggalkan misi-misi taktis seperti pesawat serang udara rendah A-10 demi teknologi mahal dan belum teruji seperti F-35 yang bermasalah. Impian adalah pengganti yang buruk untuk fakta, kinerja, atau pengalaman. Perang siber (lihat STUXNET) dan serangan drone global mengaburkan garis antara perang terbatas dan perang umum.

Penyusutan seperti ini tak mempengaruhi para ahli taktik dan strategi Islam. Bagi Pentagon, semua pertempuran teranyar merupakan pertempuran taktis di mana motif-motif Islam ditetapkan sebagai motif lokal (lihat sebagian besar laporan RAND Corporation tentang subjek ini). Ironisnya, sumber-sumber taktis untuk peperangan masa depan tersebut berada dalam masalah. Sebagaimana spekulasi terhadap Rusia, rabun jauh Amerika gagal mengakomodasi pandangan keduniaan Islam. Bagi banyak Muslim, jihad, bahkan jihad dengan pedang, telah bersifat global sejak tahun 632.

Dengan jumlah 500.000 prajurit dalam Tentara AS di masa depan, Amerika semestinya punya pasukan yang cukup untuk terjun ke dalam peperangan, tapi tidak cukup untuk menang. Dan dengan kekuatan relawan yang kecil, setiap prajurit dalam Umat Islam pasti mendapat giliran masing-masing untuk dibuntungkan atau dibunuh—dengan sia-sia. Sebuah Tentara kecil di wilayah terpencil, seperti perjalanan udara, menjadi lingkungan yang kaya target bagi para teroris.

Masa depan adalah milik Malthusianisme. Ambang nuklir telah diturunkan, perang-perang kecil semakin mungkin terjadi, dan teror Islam akan terus diabaikan atau dimaafkan. Politisi tidak terlalu peduli berapa banyak nyawa yang hilang. Sementara, simbol-simbol era Barack Hussein Obama bukan cuma penenteraman, penarikan mundur, dan kekalahan. Tulisan tangan sesungguhnya adalah perlucutan senjata secara sepihak di dunia yang penuh ide-ide taktis dan strategis.

Tentang penulis: G. Murphy Donovan adalah mantan Direktur Research for Russian (dulunya Soviet) Studies di Intelijen Angkatan Udara AS. Kini dia menulis topik politik keamanan nasional.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s