Oleh: Abdal-Hakim Murad
Sumber: www.masud.co.uk

Teks kuliah yang disampaikan di konferensi Cardiff pada Mei 2000

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Dajjal, sebagaimana kita ketahui, hanya punya satu mata. Para ulama yang ingin memahami dan menerapkan intuisi mereka ketimbang bertindak sebagai penyampai sejarah terkadang menafsirkan atribut ini sebagai penyakit khas komunitas agama yang dekaden; penyakit yang akan lazim terjadi seiring mendekatnya akhir zaman. Makhluk manusia diberi dua mata untuk alasan kegunaan biologis yang jelas: kemampuan untuk fokus secara baik yang dihasilkan oleh otot-otot siliar di bola mata (teknologi hebat yang tak henti-hentinya kita syukuri) bukanlah instrumen sempurna untuk mengukur jarak. Manusia perlu perspektif: untuk berburu dan berkelahi; dan untuk memonitor anak-anak secara efisien. Dan karenanya kita memiliki dua mata, sebagaimana al-Qur’an catat, sambil menanyakan iman dan rasa syukur kita: ‘Bukankah Kami telah memberinya dua mata?’

Namun, Dajjal memiliki satu mata saja; sebab dia sakit. Dia melambangkan, dalam wujud manusia, sebuah kemungkinan kosmik yang terdapat sepanjang sejarah, mengumpulkan momentum selagi restorasi kenabian dilupakan, sampai, untuk beberapa waktu selama akhir zaman, dia menjadi raja bermata satu. Ada beberapa penafsiran esoterik atas ini, tapi ada satu yang istimewa dan barangkali paling memuaskan dan mendalam. Penafsiran ini menjelaskan bahwa akhir zaman adalah masa hilangnya perspektif. Jarak dan prioritas diperhitungkan secara salah, atau bahkan dibalik. Nama musuh kuno Adam, Iblis, mengisyaratkan kemampuannya untuk membalik dan menjungkirbalikkan: yulabbis, dia membingungkan dan mengacaukan manusia. Dan Dajjal dalam pengertian ini merupakan perwujudan fisik Iblis: dia adalah Pendusta Besar sebab membalut kebajikan sebagai keburukan, dan sebaliknya. Contoh-contoh terlintas dalam benak kita dengan mudah. Misal: dahulu kaum tua dihormati dan dikagumi lebih daripada kaum muda; hari ini sebaliknya. Dahulu keburukan dianggap hina, sekarang itu satu-satunya praktek yang tak boleh dikritik dalam film atau masyarakat santun. Dahulu kerendahan hati dipuji, dan ketakaburan merupakan dosa; hari ini berbalik total. Kita tak lagi diminta mengendalikan diri, malah kita didorong ‘menemukan’ diri. Nafsu adalah raja milenium ini. Anda yang pernah melihat Ratu dipaksa menonton pesta pora di Greenwich Dome, perayaan berisi pertunjukan atletik dan erotis gila-gilaan yang tak ada kaitannya dengan manusia tanda Milenium, akan memahami ini dengan cukup baik.

Prinsip Dajjal-lah yang menzahirkan kejahatan jenis ini. Kejahatan ini jauh lebih buruk daripada jenis tradisional, yang sebetulnya merupakan kegagalan mempraktekkan kebajikan lazim; sebab kejahatan baru, yulabbis, membalik, mengubah kebajikan menjadi kejahatan. Dalam pengertian ini, kejahatan ini bermata satu dan tanpa perspektif. Penglihatan yang dengannya kita mengamati dunia luar terdiri atas informasi dari dua instrumen terpisah. Ketika kita bicara tentang pemahaman agama, kita bicara tentang basira, persepsi yang dituntun oleh kebijaksanaan. Dan karakteristik Islam menyatakan bahwa kebijaksanaan tercapai dengan mengenali dan membangun keseimbangan antara dua prinsip besar eksistensi: ke luar, yakni wujud, dan ke dalam, yakni isi: zahir dan batin, dalam istilah al-Qur’an.

Dajjal melihat dengan satu mata. Dalam pemahaman ini, kita bisa bilang bahwa dia adalah manusia zahir, atau batin, tapi tidak keduanya. Dia adalah seorang literalis, atau dia berjiwa bebas. Oleh sebab itu, prestasi teragung Islam, yakni menyingkap pola hidup manusia yang menggali dan merayakan kemungkinan-kemungkinan fisik manusia sedemikian rupa agar tidak menghalangi tapi mempertinggi dan memperdalam kapasitas metafisiknya, dinegasikan. Penjahat di akhir zaman, karenanya merupakan kebalikan cita-cita Islam.

Di awal kisah kita, keseimbangan antara zahir dan batin adalah sempurna. Rasul SAW adalah manusia Mi’raj, dan juga pahlawan Badar. Beliau mencintai wanita, dan parfum, dan kesenangan matanya ada dalam shalat. Transisi antara momen-momen pertemuan intens dengan malaikat tertinggi dan tugas politik atau militer atau keluarga seringkali sebentar; tapi keseimbangannya tanpa cela, sebab beliau menunjukkan bahwa tubuh, pikiran, dan ruh tidaklah bersaing, melainkan bersekutu dalam proyek suci, yang tak lain berarti keutuhan.

Para Sahabat mengejawantahkan banyak aspek keutuhan luar biasa ini, istilah Islamnya adalah afiya, dan bukti pencapaian mereka adalah adanya adab. Kilau kehadiran Nabi membentuk ulang mereka, sehingga di tempat yang dulunya terdapat egotisme kasar dan materialistis kaum musyrik nomaden, kurang dari 20 tahun kemudian berdiri sebuah bangsa bersatu yang dipimpin oleh orang-orang mulia. Rupanya kaum terkasar dalam sejarah, tiba-tiba, secara ajaib, diubah menjadi kaum paling beradab dan seimbang. Musyrik Arab hampir bisa menjadi model watak zaman kita, dan orang yang muncul di kalangan mereka, yang unik di antara para rasul dengan kesulitan misinya yang unik, adalah alpha di antara omega, bukti bahwa restorasi Adam dapat dilakukan di bawah kondisi terburuk sekalipun, bahkan di masa-masa seperti zaman kita.

Kualitas hebat para Sahabat adalah salah satu mukjizat Rasul SAW yang paling mengharukan dan mengagumkan. Sendirian menerima beban wahyu, dan sendirian memikul tanggungjawab keluarga dan negara, beliau memelihara kesucian, humor, dan keseriusan moral hingga dunia di sekelilingnya berubah. Wahyu berkata kepada beliau, “Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” Penyatuan Arab secara politik, pencapaian yang tak pernah terjadi sebelumnya, hanya dimungkinkan oleh keberadaan prinsip spiritual di pusatnya, yang meluluhkan hati, dan mewujudkan dunia baru.

Para Sahabat, sebagai teladan paling sempurna dalam prinsip melihat dengan dua mata, adalah, seperti kata pepatah, fursanun bi’l-nahar, ruhbanun bi’l-layl: prajurit di siang hari, rahib di malam hari. Mereka menyatukan zahir dan batin, raga dan jiwa, sedemikian rupa sampai dianggap luar biasa oleh orang-orang musyrik dan Kristen di zaman mereka, dan di masa kita, di mana keseimbangan sangat langka, sulit untuk dibayangkan. Wajah mereka memancarkan ketenangan batin yang berasal dari ketenteraman batin: ala bi-dhikriíLlahi tatma’innu’l-qulub: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”

Di antara keajaiban para Sahabat adalah terciptanya bahasa keindahan yang baru. Kubah Batu di Yerusalem, dibangun selagi banyak Sahabat masih hidup, dengan jaya mengumumkan kehendak ilahi untuk menyelamatkan manusia dengan tatanan keagamaan yang baru. Di bawah Islam, dunia dibuat baru. Perang terhadap kebutuhan ragawi (war on the flesh), yang terwujud dalam bentuk baru dan aneh berupa selibat Kristen, diakhiri. Sunnah, muncul sebagai klimaks pemakmuran umat manusia yang nyaris tak terbayangkan, menjadi teladan bagi dunia kuno; teladan yang paling mengesankan dengan capaiannya.

Ketika peradaban Islam naik, segala yang disentuh tangan-tangan mukmin berubah menjadi emas. Kubah Batu mungkin bangunan terindah di dunia, objek studi tak terhitung bagi para sejarawan seni yang keheranan. Dengan oktagonnya, garis-bentuk persegi kuil Sulaiman kuno dipecah menjadi lingkaran, menjadi angkasa tak terhingga. Ia memaklumatkan supremasi momen Muhammad, waktu ketika Maqom Jarak Dua Ujung Busur Panah (qaba qawsayn) tercapai. Sebelumnya tak ada agama lain yang mempertahankan kenangan spiritual agung dan murni sebagai puncak ceritanya, ketika seorang manusia biasa pergi ke tempat yang tak mampu diinjak oleh para malaikat tertinggi sekalipun.

Tapi beliau kembali ke bumi, dan inilah rahasia keagungan Sunnah. Beliau harum dalam kemuliaan dan kekuasaan Rabb, tapi beliau kembali ke tatanan yang rendah, demi mereformasi umatnya. Bukan karena beliau lebih memilih mereka, tapi karena mencintai mereka. Beliau telah melihat dengan hatinya yang suci, sebagaimana Qur’an katakan: Hatinya tidak mendustakan apa yang dilihatnya. Beliau memikul kebenaran yang baru dirasakan samar-samar: inti makhluk manusia adalah hati, dan hati adalah tempat penglihatan yang begitu transenden sampai-sampai Wahyu pun membahasnya secara tak langsung: Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.

Ketika kita menerima Sunnah, dan menolak pola perilaku cacat yang dibentuk dan dikemudikan oleh ego dan fantasi pribadi, kita menyatakan kepada Pencipta kita bahwa kita menerima dan memuliakan wahyu pemakmuran manusia yang dicontohkan oleh sebaik-baik makhluk. Setiap amal Sunnah yang berhasil kita tiru menunjukkan bahwa teladan kita adalah orang yang tak punya ego, dan orang yang diberi oleh Allah kemenangan pasti atas kekuatan kegelapan. Modernitas menyodorkan pilihan-pilihan gaya hidup yang terpusat pada diri sendiri, pada segala kemungkinan kondisi manusia yang rendah dan terhasut. Setiap kata dalam setiap majalah kini menghembuskan pesan nafsu: gali diri Anda, bebaskan diri Anda, jadilah diri sendiri. Membeli Porsche untuk mengekspresikan identitas Anda, mengenakan setelan Cacharel untuk menerangkan diri Anda, terlihat di tempat-tempat yang tepat. Hasilnya, sudah pasti, adalah masyarakat yang mengejar kebahagiaan dengan kecerdasan teknis hebat tapi bingung dengan tingkat bunuh diri yang terus merangkak, penyalahgunaan narkoba, perceraian, dan bentuk-bentuk perusakan diri yang semakin menyimpang. Inilah masyarakat yang ingkar, masyarakat yang sakit.

Dengan menerima Sunnah, manusia menerima reorientasi dalam dan total. Sebab Sunnah bukanlah satu pilihan gaya hidup di antara banyak pilihan, bukan sekadar tambahan eksotis untuk menu standar. Sunnah membongkar menu yang ada dengan menentang asumsi-asumsinya. Dengan hidup dalam tuntuntan Nabi, seseorang mengejar paradigma keunggulan yang membawa ketenangan dan kepuasan, dan karenanya membungkam ocehan majalah mode. Hidup bermartabat, mengenal tetangga, dan terus-menerus merenungkan peristiwa Mi’raj, akan memasukkan kita ke dalam keanggotaan keluarga para khalifah Adam. Hidup berutang, menguber fatamorgana, dan memperturutkan nafsu, akan menjadikan manusia rusak. Kita bisa lebih tinggi dari malaikat, atau lebih rendah dari binatang.

Sunnah, sebagai kendaraan perbaikan dan pencerahan manusia yang efisien, merangkul setiap aspek manusia. Ketenangan zahir mustahil tanpa ketenteraman batin; dan ketenteraman batin, sebaliknya, mustahil bila raganya berperilaku menyimpang.

Muslim, yang melihat dengan dua mata, melihat dunia modern apa adanya: korban naif ilusi tertua, yaitu kepercayaan bahwa pemakmuran manusia terjadi ketika kebutuhan zahir terpenuhi, dan bahwa keunggulan batin hanyalah mitos agama tak nyata. Karenanya Muslim sejati menolak ketidakseimbangan demikian. Setia dan taat pada uraian fiqih akan berubah menjadi perilaku obsesif dan neurotik manakala makna batin sunnah tidak hadir. Karena itu, secara umum Dajjal adalah seorang eksoteris. Dia juga bisa [bersifat] esoteris ketika menjadi korban mitos fatal bahwa agama hanyalah kesempurnaan batin, dan bahwa ini dapat dicapai meskipun perilaku zahir dicacatkan oleh kegagalan untuk menuruti pola hidup santun yang dimanifestasikan figur tertinggi di masa yang lebih kontemplatif dan terpuji.

Di zaman kita, berkat perspektif tipe dajjal yang sempit, sebagian Muslim mencurigai bahasan tradisional tentang zahir dan batin. Dianggapnya terlalu esoterik, misterius, dan elitis. Kata batin sendiri sedikit terasa bid’ah: pikirkan kelompok-kelompok antinomian ekstrim seperti Ismailis abad pertengahan. Padahal konsep ini murni berasal dari Qur’an, dan tak pernah menjadi perdebatan di kalangan ulama klasik. [Antinomian adalah orang/kelompok yang anti hukum moral agama atau syariat, hanya mengandalkan iman—penj.]

Bahkan, bagian penting penyembuhan yang ditawarkan Qur’an dapat ditemukan dalam ketegasannya bahwa agama meliputi, dan menyatukan, dimensi luar dan dalam. Biar saya beri contoh, yang takkan dianggap kontroversial oleh siapapun dengan akal sehatnya. Contoh, Allah berfirman: Wa-aqimi’s-Salata li-dhikri, “dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” Dia memberitahu kita bahwa shalat bukanlah perintah sembarangan, ini adalah gerakan fisik yang mendatangkan pahala bagi kita di akhirat. Ini punya tujuan bijak, yakni membantu kita mengingat-Nya. Mukmin yang shalat bukan sekadar mempersembahkan wujud fisiknya sebagai tanda berserah diri di hadapan Tuhan yang simbolnya adalah Ka’bah. Mukmin sedang beribadah dengan hatinya. Raga membungkuk ke arah batu Ka’bah, sementara roh membungkuk kepada Tuhan yang gaib. Ibadah hanya hadir ketika keduanya terlaksana.

Contoh lain, Allah berfirman: “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu.” Kenapa? “La‘allakum tattaqun” – “agar kamu bertaqwa.” Puasa memiliki aspek zahir dan batin, luar dan dalam. Satu aspek saja tidak berguna tanpa aspek lain. Seperti kata hadits: “Banyak orang berpuasa tidak mendapat apa-apa dari puasanya, selain lapar dan haus.” Dengan kata lain, tanpa puasa batin, puasa dalam, puasa hanya betul secara formal, secara mekanis. Bagaikan raga tanpa jiwa, tak lebih dari mayat. Orang yang berpuasa, atau shalat, atau beribadah lainnya, tanpa jiwa di dalamnya, mirip dengan zombie, yang pikiran dan jiwanya telah pergi dari raga, menuju tempat lain. Bukan begini yang Allah kehendaki ketika kita menyembah-Nya.

Contoh lain. Berkenaan dengan kurban di hari Idul Adha, Allah berfirman: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” Tanpa niat yang betul, dan kehadiran pikiran, dengan kata lain tanpa kecondongan batin yang benar, kurban hanya menjadi pembunuhan binatang. Dalam beberapa hal bahkan lebih buruk, sebab penyembelihan yang tidak mengklaim [bermotif] agama setidaknya lebih tulus; sedangkan yang mengaku demi Tuhan, padahal realita internalnya tidak, adalah sejenis kemunafikan.

Bahkan kita bisa bilang bahwa zahir tanpa batin mengarah pada kemunafikan. Jika kita tidak menikmati kehadiran ilahi dalam ibadah kita, jika pikiran kita melayang ke tempat lain, jika kita menyalakan sejenis otopilot, maka kita hanya mengamalkan rusum (teks/tulisan): wujud luar, kulit tanpa biji. Bagi penyaksi yang tampak ataupun gaib, kita memproklamirkan lewat wujud amal zahir bahwa kita sedang menyembah Tuhan, tapi realita batin kita tidak demikian. Riya—berlagak/berpura-pura—mungkin untuk terjadi sekalipun kita sendirian. Meski kita tahu tak ada yang mengetahui shalat kita, atau puasa kita, kita tetap mungkin merasa riya. Bagaimana? Dengan pamer kepada diri sendiri. Dengan melakukan gerakan shalat, kita memuaskan gambaran pribadi sebagai orang yang saleh, mulia. Jika shalat sampai kehilangan aspek batin, itu akan bahaya sekali. Sekalipun pikiran kita berkonsentrasi pada maknanya, jiwa kita mungkin terlepas. Dan jika shalat, puasa, haji, atau kurban kita betul-betul memiliki alam batin, kita takkan tertarik untuk pamer pada diri sendiri, takkan tertarik mengambil nafsu sebagai kiblat. Amal akan memandu kita, bukan kita yang memandu amal.

Inilah yang dimaksud sayyidina Umar ketika berkata: “Yang paling kutakutkan atas keselamatan ummat ini adalah kaum munafik yang terpelajar.” Ketika ditanya bagaimana mungkin seseorang bisa terpelajar sekaligus munafik, beliau menjawab: “Ketika belajarnya tidak lebih dari pengetahuan lisan, sementara hatinya tetap tak tersentuh.”

Contoh lain, dari Qur’an—dan ingat, pelajaran keterkaitan zahir dan batin ini murni berasal dari Qur’an. “Dan mereka memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan demi ridha Allah. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” Di sini wahyu bersitegas bahwa sedekah juga hanya menjadi ibadah bila ia memiliki aspek batin dan zahir. Dan aspek batin itu bukan semata-mata berkaitan dengan rohani, seperti dalam perkataan “Baiklah, ini waktunya zakat, bismillah, aku berniat melakukan ini karena Allah.” Itu hanya syarat paling dasar. Firman di atas menyatakan sedekah diberikan “ala hubbihi” – karena mencintai Allah. Itu mensyaratkan lebih dari rumusan niat sunyi dan sederhana. Itu hanya bisa dicapai ketika hati seseorang masuk ke dalamnya, karena cinta, hubb, bermukim di dalam hati, bukan kepala. Sedekah tanpa cinta sama dengan tanpa hati.

Karenanya bagian keunggulan dari Qur’an adalah ketegasannya bahwa Allah bukan diibadahi melalui peragaan zahir, tapi Dia telah menentukan peragaan zahir tertentu sebagai konteks untuk kita beribadah. Sebab ibadah, sebagai ekspresi ketaatan dan penghambaan kepada pencipta kita, bermukim di dalam hati. Kecondongan hati selalu jujur, kecondongan badan mungkin jujur mungkin dusta.

Pesan Qur’an sudah jelas, manusia adalah sebuah gabungan yang dimensi-dimensinya harus saling dirukunkan agar potensi ke-Adam-an kita sebagai hamba sejati dapat diwujudkan. Jadi agama kita adalah agama zahir dan batin. Musuh-musuh kita cuma memandang wujud luar, dan menganggap ini kemunafikan, “formalisme Farisi”. Sebagian menggunakan bahasa tradisional Perjanjian Baru sebagaimana St Paul menyerang Yudaisme: “sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.” Bahkan ini menjadi tema umum kritik tradisional Kristen terhadap Islam. Dengan demikian ini jelas-jelas melambangkan peminjaman tema lama dalam teologi Kristen: antisemitisme, sebagai senjata dalam pertempuran melawan Saracen. Muslim, repotnya, tidak disebutkan dalam Alkitab, tapi sebagian Nasrani malah memakai polemik Paulus yang anti hukum Musa untuk mengalahkan Muslim, dengan menempatkan kita dalam konteks Alkitab. Namun, jelas ini takkan membantu. Ada beberapa Muslim, harus diakui, yang asyik dengan penampilan zahir—boleh dikatakan Islam farisi—padahal itu bukan jalan Muslim tradisional. Islam tradisional selalu menyuburkan dimensi batin iman dengan cara yang kaya dan mendalam. Kebanyakan puisi kita, contohnya, adalah tentang batin, bukan zahir. Jika Islam sesuai dengan sangkaan mereka, maka sebagian besar puisi kita akan bertema wudhu, atau aturan waris. Kenyataannya tidak.

Saya berharap wawasan Qur’an yang saya kutip sudah cukup untuk menjelaskan kenapa ulama tradisional menyatakan agama memiliki aspek zahir dan batin. Syekh Syahidullah Faridi, wali agung Inggris abad 20, mengatakan sebagai berikut:

“Jika menjalankan aturan zahir iman adalah keharusan, maka menumbuhkan kualitas inti tersebut dalam diri kita juga menjadi keharusan. Keduanya saling melengkapi, yang satu tak dapat eksis secara kokoh tanpa yang lain.”

Syahidullah Faridi sendiri, seperti hampir semua orang berpendidikan yang masuk Islam di negeri ini, tertarik pada agama ini terutama karena kekayaan aspek batinnya. Orang-orang Islam yang hari ini menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan membahas syariah, dan menganggap batin sebagai sampingan, kecil kemungkinannya untuk mengislamkan banyak mualaf semacam ini: orang berpendidikan yang peka takkan tertarik pada kulit, jika bijinya tersembunyi dan mungkin tidak ada. Bahkan mungkin, dengan sikap sembrono, tak kenal ampun, dan kurang hikmah, mereka justru menyurutkan ribuan [calon mualaf].

Zahir dan batin adalah istilah yang saya pakai. Keduanya konsep yang jelas dari Qur’an. Ada istilah-istilah lain yang kurang-lebih sama. Contoh, istilah syariat dan hakikat. Amal luaran, dan kondisi dalam. Lagi-lagi, pemisahan ini berasal dari Qur’an. Menurut Imam Abu Ali al-Daqqaq, ini bahkan bisa diambil dari Fatihah. Allah menyuruh kita mengatakan: iyyaka na‘budu wa-iyyaka nasta‘in, “Hanya Engkaulah yang kami sembah”, ini syariat; dan “Hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”, tanggapan ilahi, yakni berasal dari hakikat. Pemberpasangan prinsip-prinsip ini memberi kita perbedaan fundamental: inisiatif dari manusia, yakni syariat, dan limpahan dari Allah yang pemurah, yakni hakikat.

Imam al-Qusyairi membuat poin yang lebih halus lagi. Dia berkata:

“Ketahuilah, syariat juga merupakan hakikat, sebab Dia sendiri yang mewajibkannya. Dan hakikat juga merupakan syariat, sebab cara mengenal-Nya diwajibkan melalui perintah-Nya.”

Dengan kata lain, pencabangan ini, yang diindikasikan dalam Fatihah, yang kita ulang setiap hari tanpa menghayati kedalamannya, kenyataannya adalah dua sisi mata uang. Syariat bukanlah syariat tanpa hakikat, sebab tanpa aspek dalam dan pendekatan kepada Allah, aspek luar menjadi sia-sia; dan hakikat bukan apa-apa tanpa syariat, sebab syariat adalah seperangkat aspek yang dengannya hakikat bisa diketahui. Masing-masing hanya kuat ketika yang satu menunjuk pada yang lain.

Imam Abu Bakr al-Aydarus, semoga Allah merahmatinya, menjelaskannya dalam kaitan dengan ayat Qur’an: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” Beliau menulis: “Jihad” adalah syariat, dan tanggapan aktif terhadap perintah [pelaksanaan]nya, yang akan membuat seseorang ditunjukkan ke “jalan-jalan”-Nya, berkaitan dengan hakikat.

Imam al-Qusyairi menegaskan poin vital ini dengan berkata: “Setiap syariat yang tidak ditopang oleh hakikat tidak dapat diterima. Dan setiap hakikat yang tidak dikendalikan oleh syariat tidak dapat diterima.”

Imam al-Haddad, dalam salah satu syair terkenalnya, berkata:

Wa-kullun ‘ala nahj al-sabili’s-sawiyyi lam
yukhalif li-amrin akhidhan bi’sh-shari‘ati
Wa-inna’lladhi la yatba‘u’sh-shar‘a mutlaqan
‘ala kulli halin ‘abdu nafsin wa-shahwati

“Semua orang saleh berada di atas jalan yang lurus,
tak pernah melanggar perintah, berpegang pada syariat
Sesungguhnya, orang yang tidak mengikuti syariat,
adalah budak nafsu dan syahwatnya sendiri.”

Imam al-Ghazali, semoga Allah merahmatinya, menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memperhatikan urusan ini, secara kompleks. Biar saya bacakan pembelaannya yang berapi-api terhadap prinsip Qur’ani ini:

“Jika kau sedang mendidik dirimu sendiri, cukup ambil cabang-cabang ilmu yang diperlukan menurut kebutuhan saat ini, serta yang berkaitan dengan amal-amal zahir seperti belajar unsur-unsur shalat, wudhu, dan puasa. Namun yang lebih penting adalah ilmu yang banyak diabaikan, yakni ilmu atribut hati, atribut yang terpuji dan tercela, sebab orang-orang bersikeras pada yang terakhir ini, seperti kekikiran, kemunafikan, kesombongan, dan penipuan, yang semuanya merusak dan wajib dihentikan. Melakukan amal zahir ini mirip dengan mengoleskan salep pada tubuh ketika diserang kudis dan bisul seraya lalai membuang nanah dengan pisau bedah atau obat pencahar. Ulama palsu merekomendasikan amal zahir sebagaimana dokter palsu meresepkan salep luar (untuk penyakit dalam yang mematikan). Namun ulama yang mencari akhirat merekomendasikan pemurnian jiwa dan penyingkiran unsur-unsur jahat dengan memusnahkan bibitnya dan mencabutnya dari hati.”

Komponen kunci agenda Ghazalian adalah restorasi keseimbangan antara luar dan dalam. Dan sang Imam sendiri sadar bahwa keseimbangan terjadi dengan mengolah [aspek] dalam. Keseimbangan, makna sejati al-sirat al-mustaqim, adalah sesuatu yang halus, butuh kearifan, dan kearifan hanya eksis ketika jiwa diterangi.

Krisis dunia modern adalah krisis zahir dan batin. Wujudnya berbeda-beda di tengah puing peradaban-peradaban berbeda. Di dunia yang dulunya Kristen, zahir telah tersesat atau bahkan terjungkir balik: pernikahan homoseksual di gereja, perestuan lotere oleh uskup, dan gejala-gejala keruntuhan lain. Gejala ini lebih parah di bekas-bekas negara Kristen daripada di tempat lain, sebab, sebagaimana diyakini St Paul, agama Kristen tak memiliki syariat. Ia selalu menemukan ulang dirinya sendiri sebagai sesuatu yang bisa diyakini, demikian T.S. Eliot menyebutnya, dan sekarang ini berlangsung di bawah tekanan dari etika sekuler. Di dunia Islam, juga terdapat masalah-masalah mendalam. Tapi ini bukan timbul karena tak adanya syariat, tapi karena tak adanya keseimbangan antara luar dan dalam. Banyak gerakan kebangkitan Islam hari ini fokus pada aspek luar, dan seolah menganggap aspek dalam sebagai urusan sekunder. Hasilnya adalah perilaku liar dan kegagalan terus-menerus, sebab Allah berfirman dalam Qur’an bahwa kesuksesan dalam kehidupan masyarakat beragama tergantung pada kondisi spiritual mereka. Dia takkan mengubah nasib kita sampai kita mengubah apa yang ada pada diri kita. Kegagalan gerakan Islam adalah bukti tegas bahwa gerakan ini belum memenuhi syarat keharmonisan batin, kearifan, dan kedalaman spiritual.

Oleh karena itu dunia modern menyodorkan kedua penyimpangan Dajjal secara berlimpah. Ada yang asyik dengan penampilan, dan ada juga, variasinya terus bertambah, yang asyik dengan “spiritualitas” yang tak mensyaratkan standar moral merepotkan. Di Barat, spiritualitas New Age sedang menggantikan Kristen sebagai agama banyak kaum muda dan berpendidikan. Ia menjanjikan tipuan khas Dajjal: kekuatan jiwa dapat diperoleh tanpa membayar suatu harga, atau mengubah “gaya hidup” yang dihargai.

Sunnah merupakan musuh besar Dajjal di dunia modern karena ia menolak kedua janjinya. Manusia tak bisa tumbuh dengan dasar Hukum semata, atau kepuasan fisik semata, atau praktek-praktek spiritual yang hampa dari implikasi bagi masyarakat dan tingkah pribadi. Bagi kita, agama adalah soal integritas dan keutuhan. Tapi tak ada alasan untuk puas dengan diri sendiri. Konsep Sunnah sendiri hari ini mendapat tantangan. Dunia materialistis pasti mempengaruhi bentuk-bentuk agama yang tumbuh di dalamnya, dan sebagian Muslim hari ini mengadopsi bentuk-bentuk Islam yang mendefinisikan Sunnah dengan satu mata. Penganjur semacam ini biasanya kaum esoterik murni, yang bersikap sombong terhadap kewajiban-kewajiban formal yang dianugerahkan lewat wahyu, atau (dan ini termasuk gerakan masal yang lebih sering) kaum yang memutilsasi Sunnah dengan memperkecil atau bahkan meniadakan dimensi-dimensi batinnya. Pengamalan aspek-aspek eksternal agama yang tidak diperdalam, diperkasih, dan diperbijak oleh kehidupan spiritual aktif dan transformatif hanya akan menjadi kulit tanpa biji: kasar, penuh permusuhan, merasa benar sendiri, menghardik orang tak bersalah, dan tumbuh di atas perpecahan dan kontroversi.

Semoga Allah menyanggupkan kita untuk membuka kedua mata, dan dengan demikian melihat keadaan dalam proporsi yang seharusnya, dan merespon dengan cara yang menghadirkan persatuan, cahaya, dan kearifan di antara keturunan Adam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s