Mengapa Mereka Benci Rusia

Oleh: Vladimir Golstein
8 Maret 2014
Sumber: www.aljazeera.com

Barat bersalah atas kejahatan yang sama yang dituduhkannya kepada Rusia.

Tentara Rusia Berbaris
Rusia punya kepentingan nasional yang sah untuk dipertahankan

Rusia bukanlah adidaya. Populasinya sedang menyusut, begitu pula kekuatan militer, politik, dan ekonominya. Ya, bangsa Rusia punya uang minyak untuk menyelenggarakan Olimpiade atau membeli flat-flat indah di London, tapi Rusia sendiri sangat jauh dari “beruang” besar keji yang dahulu menyerbu Afghanistan, ketika saya beremigrasi dari kolosus jahat ini demi mencari kebebasan politik yang absen di kampung halaman. Tapi kebebasan barat yang diharap-harapkan ini sedang terancam oleh kemunafikan menggerahkan.

Untuk alasan nyata sekaligus kompleks, Rusia, pewaris utama Uni Soviet yang runtuh, terus-menerus dipandang sebagai negara jahat. Jadi siapapun politisi yang sedang sial—Senator McCain dari Arizona umpamanya—sangat gembira memunculkan momok-momok Perang Dingin dan memanfaatkan Rusia sebagai batu loncatan untuk upaya gagalnya agar tetap relevan. Apa lagi yang lebih mudah? Tampil saja di berita Fox, atau jika Anda lebih canggih, di halaman-halaman New Republic, Weekly Standard, atau NYT Review of Books, kemudian beri wejangan tentang perlunya bersikap keras terhadap Rusia. Anda segera memperoleh akses ke relung-relung jiwa Amerika yang terpancing oleh ketakutan konstan terhadap Kekaisaran Jahat. Selanjutnya publik menjadi milik Anda.

Strategi yang sama berjalan baik di Britania Raya, di mana fobia anti-Rusia berakar lebih dalam, sejak abad 19, dengan ketakutan patologis dan rasisnya terhadap kekuatan Rusia yang sedang naik. Ketakutan itu, ngomong-ngomong, telah mengakibatkan Perang Crimea abad 19. (Studi karangan David Fromkin tahun 1989 yang meraih penghargaan, A Peace to End all Peace: The Fall of the Ottoman Empire and the Creation of the Modern Middle East, menyodorkan analisa hebat mengenai pengaruh dan warisan geopolitik ketakutan ini).

Tapi kombinasi oportunisme dan kebutaan disengaja ini jelas-jelas mengaburkan realita situasi. Yang paling penting, orang Rusia merasa terhina akibat runtuhnya kekaisaran mereka. Dan setiap orang tahu bahwa Anda tak boleh mengejek atau memperolok musuh yang Anda kalahkan. Namun para pemimpin barat selalu siap berbuat demikian, dan seraya asyik dengan usaha meragukan secara moral ini, mereka terus menyelamati diri mereka sendiri atas tegak lurusnya moral mereka.

“Pussy Riot”, “undang-undang anti-LGBT”, Olimpiade, dan lain sebagainya menjadi subjek moralisasi tiada habisnya, sementara skandal-skandal dan penyimpangan Barat diabaikan sebagai tanda sehatnya proses demokrasi.

Situasi di Ukraina mengingatkan kita pada sandiwara terkenal karya Moliere, Tartuffe, di mana karakter utamanya adalah orang egois dan culas, yang mengejar kepentingan materialis di balik kedok kesalehan. Rusia memainkan peran Orgon yang mudah tertipu, sedangkan barat berperan sebagai Tartuffe yang meyakinkan.

Berurusan dengan negara eksotis seperti Rusia, yang terpisah dari Barat berdasarkan geografi uniknya, sejarahnya, agamanya, dan sistem politiknya, Barat memegang sikap munafik dan tidak demokratis yang sudah terinternalisasi, yang diisyaratkan oleh peribahasa “quod licet Iovi, non licet bovi” (yang dibolehkan untuk Yupiter, tidak dibolehkan untuk lembu). Lebih jauh, sebagai pendatang terakhir di peradaban Barat, orang-orang Rusia sendiri sepertinya menerima sikap tak sehat ini tanpa menegurnya.

Situasi ini tetap berlangsung setelah runtuhnya Uni Soviet. Meski sudah menyelamati diri sendiri atas kejayaan nilai-nilai demokrasi serta menuntut Rusia agar memperlakukan warga negara dan tetangga dengan hati tenang, Barat terus mengajarkannya tanpa kecakapan. Konsekuensinya, petualangan militeristik Barat, baik di Afghanistan, Irak, Suriah, Libya, ataupun Kosovo, disamarkan sebagai semacam usaha mulia dan berbudi.

Namun penegasan Rusia atas kepentingan nasionalnya disuguhkan sebagai aksi agresi terang-terangan. Anda pasti mengira banyaknya penyimpangan ekonomi, politik, sosial, dan militer yang kita saksikan di sekitar kita akan menjadikan Tartuffe-Tartuffe modern lebih rendah hati dalam klaim saleh mereka, padahal tidak demikian.

Lebih lanjut, jika Barat mengkhotbahkan kesetaraan tapi memperlakukan negara-negara lain sebagai nomor dua, kenapa Rusia tak boleh berbuat demikian pula? Kenapa Rusia tidak boleh memperlakukan Ukraina sebagaimana perlakuan Barat terhadap Rusia? Dan jika Rusia adalah subjek standar ganda, apakah sejak semula Barat berbohong kepada orang Rusia, meyakinkan mereka bahwa tak ada yang perlu ditakutkan, bahwa [Rusia] dapat melucuti senjata dan menarik pasukan dengan damai, seraya diam-diam memperluas NATO ke arah perbatasannya? Untuk mendorong analogi sandiwara Moliere lebih jauh lagi, Tartuffe bukan sekadar orang munafik berlagak suci, pada akhirnya dia mencoba mengambil kembali rumah Orgon, dia memanfaatkan sifatnya yang mudah tertipu untuk tujuan tersebut.

Saya menduga, kejatuhan Ukraina telah mengangkat fakta ini ke permukaan, dan orang Rusia—dengan gaya Orgon—tiba-tiba tersadar mereka sudah dimanfaatkan, bahwa Tartuffe ingin mengambil kembali rumah mereka, bahwa semua jaminan kesetaraan Rusia di G8 adalah omong-kosong belaka. Rusia bisa menyaksikan senjata nuklir di perbatasannya, yang akan Barat tempatkan di sana setelah membeli Ukraina karena krisis ekonominya. Tanggapan Barat? Lagi-lagi menyalahkan agresi Rusia. Perkara klasik: menyalahkan korban. Sekarang Barat pasti akan mengelilingi Rusia dengan senjata nuklir.

Saya harap Barat akan kembali ke akal sehatnya, duduk di meja dan bernegosiasi dengan Rusia untuk mencari solusi krisis Ukraina dan menciptakan ruang netral militer di sana. Karena jika tidak, pemimpin politik Rusia berikutnya mungkin tidak seakomodatif Putin, yang kebijakan luar negerinya adalah memberikan apapun yang Barat mau seraya menerima balasan teramat sedikit.

Seperti AS, Inggris, dan Prancis, Rusia punya kepentingan nasional yang sah untuk dipertahankan. Kenapa Rusia mesti menolerir NATO di perbatasannya dan potensi kehilangan pangkalan AL Sevastopol ke tangan para Tartuffe modern?

Tentang penulis: Vladimir Golstein mengajarkan sastra dan film Rusia di Universitas Brown. Dia adalah Pembroke Center Faculty Fellow periode 2013-2014. Dia pengarang Lermontov’s Narratives of Heroism (1999) dan banyak artikel tentang semua penulis besar Rusia. Dia lahir di Moskow, pindah ke AS pada 1979, dan belajar di Universitas Columbia dan Yale.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s