Oleh: Mick Krever
6 Oktober 2015
Sumber: www.cnn.com

Pakar kejahatan Perang: Rusia rawan dituntut terkait dukungannya untuk Assad.

Putin & Assad

Para anggota rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad bisa dituntut di pengadilan nasional di luar Suriah—dan Rusia rawan terhadap penuntutan lantaran membekingi mereka—demikian kata pejabat kawakan Amerika untuk urusan kejahatan perang kepada Christiane Amanpour (CNN) Selasa lalu.

“Para lelaki, wanita, dan anak kecil disiksa sampai mati, mata mereka dicungkil, dan sebagainya. Bukan begitu itu caranya membangun masa depan Suriah,” kata Stephen Rapp, yang hingga Agustus lalu telah menjabat selama enam tahun sebagai dubes keliling Departemen Luar Negeri AS untuk urusan kejahatan perang.

“Perilaku kriminal seperti ini tidak boleh diampuni, dan orang-orang yang memihaknya sedang membahayakan diri untuk dituntut.”

“Kita sudah mengalami kasus-kasus seperti ini di mana para pendukung pasukan proksi dapat dituntut bertanggungjawab. Saya tidak berpikir itu mesti menjadi fokus di sini, sebab fokusnya adalah al-Assad…tapi penting sekali untuk mengakui bahwa masuk [ke Suriah] untuk mendukungnya sama dengan” memperkenankan pelanggaran HAM terus berlanjut.

Fokusnya adalah al-Assad, kata Rabb, karena dia bertanggungjawab atas sebagian besar pelanggaran di Suriah—meski ISIS merajalela atas teritori besar negara tersebut dan merebut perhatian dunia.

Al-Assad menyangkal rezimnya menggunakan bentuk-bentuk peperangan yang menewaskan begitu banyak warga sipil—misalnya penggunaan bom bom barel secara membabi buta. Adapun Rusia, mereka menyatakan membekingi al-Assad hanya dalam pertempuran melawan “teroris”, terlepas dari protes internasional bahwa mereka juga mengincar oposisi dukungan AS.

Tahun lalu, program “Amanpour” CNN dan Guardian menyampaikan kisah program penyiksaan sistematis oleh rezim al-Assad, dan 55.000 foto seram yang dijepret oleh fotografer pemerintah yang membelot—bernama sandi “Caesar”—yang hampir pasti akan menjadi bukti jika terdapat pengadilan kejahatan perang nantinya.

Rapp menyebut foto-foto itu “bukti terbaik yang pernah saya lihat dalam karir sebagai jaksa dan dubes urusan kejahatan perang”.

Anggota tim hukum yang menyelidiki foto-foto penyiksaan itu, Geoffrey Nice, berkata kepada Amanpour bulan Januari 2014 bahwa semua tanda-tandanya menunjukkan rezim al-Assad bertanggungjawab.

“Jika ada 11.000 mayat,” kata Nice, “yang diurus secara sistematis—dibawa dari satu tempat ke tempat lain, di mana mereka difoto beserta tanda-tanda pengenalnya…untuk memungkinkan pihak berwenang memberi penjelasan palsu atas kematian mereka dan untuk memuaskan pihak berwenang bahwa mereka sudah dieksekusi—maka Anda bisa mengambil kesimpulan bahwa pola perilaku ini mempunyai kewenangan tinggi.”

Januari tahun ini, al-Assad berkata kepada Foreign Affairs bahwa foto-foto itu hanya “tuduhan tanpa bukti”.

Rapp yakin “akan datang hari” di mana akan terdapat pengadilan pidana untuk Assad dan para petinggi rezim, sebagaimana terhadap bekas Yugoslavia—meski dia mengakui itu urusan jangka panjang.

Tapi dalam jangka pendek, ujarnya, ada kemungkinan riil bahwa pihak-pihak Suriah dapat dituntut di pengadilan nasional, ketimbang pengadilan internasional.

“Sejak 1984, semua negara di dunia telah mengakui ini sebagai jenis kejahatan yang dapat dituntut di mana saja, tanpa menghiraukan apakah korbannya warga negara Anda atau di negara Anda.”

Di berbagai negara—termasuk AS—“terdapat unit kejahatan perang yang menuntut kejahatan kekejaman yang dilakukan di negara lain”.

“Biasanya ini karena salah seorang pelaku datang ke negara Anda dan dia mengaku sebagai korban, tapi ternyata dia salah satu pelaku. Jadi Anda menuntutnya di negara Anda.”

Tapi, katanya, “negara-negara juga punya kemampuan untuk menuntut penyiksaan di manapun di dunia jika negara mereka berkepentingan—maksud saya kepentingan vital dalam hal kebaikan nasionalnya—membawa kasus itu.”

Dengan mengalirnya ratusan ribu pengungsi ke Eropa, semakin kuat alasan untuk negara-negara tersebut mengajukan perkara.

“Ketika Jerman menyebut akan menerima 800.000 pengungsi—alasan pengungsi itu datang adalah karena penyiksaan, karena bom barel, karena hidup di negara mereka sudah tak tertahankan.”

Mereka mungkin tak bisa memburu pemimpin teratas Suriah, tapi bisa memburu pihak yang bertanggungjawab langsung atas kejahatan dalam foto-foto Caesar.

“Dalam foto-foto Caesar, Anda melihat kesatuan di mana korban dibunuh; Anda tahu tanggal pengambilan foto; Anda tahu siapa yang memegang komando fasilitas itu. Tuntut individu-individu tersebut, terbitkan poster DPO atas mereka, terbitkan red notice di bawah Interpol.”

“Nah, Anda tak mungkin mendapatkan mereka besok—butuh 15 tahun bagi Pengadilan Internasional untuk menangkap Jenderal Bosnia-Serbia Ratko Mladic—tapi…pada dasarnya Anda mengirim sinyal bahwa orang-orang yang terlibat akan diburu selama sisa hidup mereka.”

“Memang tidak sama memuaskannnya dengan menyeret al-Assad atau pemimpin ISIS atau lainnya ke pengadilan internasional, tapi hanya itu sesuatu yang bisa dilakukan hari ini,” kata Rapp perihal penuntutan pejabat tingkat rendah.

Rapp menolak pemikiran yang semakin disebarkan oleh para pemimpin Barat bahwa untuk sementara ini al-Assad boleh terus menetap di Suriah selagi dunia mengurusi ISIS.

“Bahkan masa depan singkat untuk al-Assad di negara itu” tak dapat dipertahankan, kata Rapp.

“Tempo hari saya pernah bicara dengan seorang jenderal pembelot Suriah, dia bilang: ‘Kami menjatuhkan ribuan bom kepada oposisi; kami hanya menjatuhkan satu pada ISIS.’ Anda lihat, di mana Rusia menjatuhkan bom.”

Mayoritas serangan udara Rusia dilancarkan terhadap oposisi anti-Assad, bukan ISIS, ungkap AS dan NATO.

“Orang ini tak berguna melawan ISIS. Dia membantu menciptakan ISIS. Ini bukan masa depan Suriah. Masa depan Suriah mencakup Alawite, mencakup orang-orang dari komunitasnya dan lain-lain, tapi harus bersatu.”

“Tak ada masa depan. Saya tahu meraihnya sangat sulit. Tapi meraihnya bersama dia [Assad] adalah mustahil.”

Rapp merupakan salah satu suara terkuat dalam pemerintahan Obama untuk mencatat kejahatan rezim al-Assad ke dalam agenda. Meski begitu, Gedung Putih dikritik hebat—terutama pasca intervensi Rusia atas nama al-Assad—karena tidak berbuat cukup untuk membendung pertumpahan darah.

Rapp, jelas-jelas emosional, berusaha menjauhi politik.

“Bila negara seperti kita mengintervensi secara militer, pasti ada konsekuensinya. Kita menjadi target. Melahirkan dinamika lain. Itu situasi sulit, saya paham, dari sudut pandang militer. Saya sudah menghindari [opsi] itu.”

“Terus-terang, saya bersimpati pada ide seperti zona larangan tembak dan zona larangan terbang, dan semacamnya, tapi terus-terang yang paling penting, dari sudut pandang saya, adalah kita terus membahas fakta tentang apa yang berlangsung di sana. Dan mengakui penderitaan rakyat negara tersebut.”

“Ini bukan soal perang semata, bukan soal kontra-pemberontakan semata; ini soal pemerintah yang habis-habisan terhadap rakyatnya sendiri. Dan reaksi terhadapnya pasti ada konsekuensinya, dan kita perlu berbuat apa saja semampu kita untuk memastikan ada keadilan di Suriah.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s