Oleh: Yusef Khalil
9 April 2013
Sumber: www.socialistworker.org

“Angkutan udara logistik untuk pemberontak Suriah meluas dengan bantuan CIA” jerit tajuk utama New York Times akhir Maret lalu. “Intervensi asing!” balas jerit para pendukung diktator Suriah Bashar al-Assad.

Lebih dari dua tahun setelah pemberontakan masal rakyat Suriah dimulai, rezim Bashar al-Assad masih berkuasa—tapi dengan ongkos amat besar. Sekitar 70.000 orang tewas, menurut angka PBB, dan hampir 5 juta jiwa berpindah tempat, di dalam negeri dan ke luar negeri, akibat perang bumi hangus rezim untuk melumat lawan-lawannya.

Tapi sebagian pihak di kelompok kiri AS dan internasional berpegang pada pemikiran bahwa rezim yang memimpin kekerasan dan penindasan ini adalah rezim progresif—dan bahwa pemberontakan terhadapnya direkayasa oleh pemerintahan Barat.

Rakyat Suriah sudah memikul bab paling berdarah dalam Revolusi Arab yang menyapu kawasan itu, yang berawal pada 2011. Setelah berbulan-bulan melakukan protes yang kebanyakan berlangsung damai, para revolusioner Suriah—menanggapi tindakan keras sang diktator—harus mengembangkan perlawanan rakyat bersenjata demi mempertahankan diri dan mengalahkan pasukan rezim.

Wilayah-wilayah luas, termasuk pangkalan militer utama dan bandara, telah jatuh dari tangan pemerintah, tapi masih dibombardir hebat. Meski demikian, di banyak area tersebut, rakyat Suriah bereksperimen dengan pemerintahan swadaya lokal, setelah rezim kehilangan cengkeramannya.

Terlepas dari semua omongan pemerintah-pemerintah berpengaruh soal dukungan demokrasi di Suriah, sebagian besar rakyat Suriah tak terurus. Janji-janji bantuan kemanusiaan dan langkah untuk meringankan krisis pengungsi masif belum terpenuhi. “Kebutuhan meningkat secara eksponensial, dan kami kehabisan uang,” kata juru bicara UNICEF awal bulan ini.

Tapi sebagian pihak di kalangan kiri menentang Revolusi Suriah, mengklaim rezim Assad adalah bagian dari golongan “anti-imperialis”—dan bahwa dukungan retoris Washington terhadap pemberontakan di Suriah menunjukkan para penentang Assad adalah boneka imperalisme.

*****

Dalam serangkaian dosa yang dianggap dilakukan rakyat Suriah dalam dua tahun pemberontakan mereka, menurut para pendukung rezim di kelompok kiri, yang paling puncak adalah bantuan dari AS dan pemerintahan Barat lain kepada beberapa organisasi di antara pemberontak.

Satu pertanyaan yang masuk ke dalam pikiran saya adalah, apakah kaum apologis ini mempunyai kritik serupa terhadap bantuan militer yang jauh lebih substansial dari Rusia dan Iran. Tapi yang lebih pokok lagi adalah apa yang dikatakan para pendukung rezim ini sebelum pemberontakan terhadap Assad bergeser ke arah perjuangan bersenjata.

Di mana mereka ketika, selama berbulan-bulan, ratusan ribu rakyat Suriah berkumpul secara damai di kota-kota di seluruh pelosok negeri, hanya untuk ditembak mati oleh pasukan Assad? Apa mereka angkat bicara ketika lawan-lawan rezim, tua dan muda, pria dan wanita, disiksa di sel bawah tanah Assad? Apa mereka menyerukan pembebasan semua tahanan politik dan reporter warga belia yang mempertaruhkan nyawa untuk mendokumentasikan penindasan pemerintah?

Bagaimana dengan sekarang? Apa mereka mendukung usaha-usaha penggalangan dana untuk membantu pengungsi yang hidup dalam kondisi sengsara, di dalam Suriah maupun di negara-negara tetangga? Sudahkah mereka mengorganisir dukungan nyata untuk bentuk perlawanan apapun terhadap rezim Assad? Apa mereka menerapkan prinsip kesetiakawanan yang sama di Suriah sebagaimana yang mereka nyatakan kepada perjuangan-perjuangan kebebasan lain di seluruh dunia?

Ataukah mereka sedang memanfaatkan semua laporan keterlibatan pemerintah AS di Suriah sebagai kedok untuk sikap tunduk memalukan kepada kediktatoran?

Seperti kekuatan regional dan internasional lainnya, pemerintah AS turut ambil bagian di Suriah. Ia sedang bermanuver untuk membentuk—dan akhirnya mengekang—Revolusi Suriah. Artinya AS mendukung sebagian faksi di antara pemberontak yang menurutnya paling lunak, tapi tentu tidak semua faksi. Sepanjang pembantaian yang ditimbulkan oleh rezim, AS sangat membatasi dukungannya, terutama dukungan militer.

Seperti dijelaskan Ghayath Naisse, anggota Arus Kiri Revolusi di Suriah, dalam sebuah wawancara:

Kekuatan-kekuatan imperialis utama, dipimpin oleh AS, selalu mendukung apa yang mereka sebut “transisi tertib” di Suriah, artinya hanya perubahan permukaan dan parsial pada struktur rezim… Ini demi alasan geostrategis, termasuk melindungi entitas Zionis dan mencegah revolusi menyebar ke seluruh timur Arab, termasuk monarki-monarki minyak yang reaksioner.

Saya dan lainnya sudah menulis untuk SocialistWorker.org mengenai kepentingan regional dan internasional yang bermain (misalnya di sini, di sini, dan di sini). Jadi saya hanya akan mengingatkan pembaca bahwa laporan-laporan media arus utama pun, seperti artikel New York Times yang dikutip di atas, rutin memuat kritik dari pasukan pemberontak bahwa AS dan kekuatan lain telah mencegah semua senjata mencapai Suriah kecuali senjata ringan. Washington, khususnya, telah memblokir senjara berat seperti sistem anti-pesawat, yang dapat dipakai melawan angkatan udara rezim.

Rasa kesal juga lazim diekspresikan di banyak pelosok pemberontakan Suriah karena negara-negara semacam Arab Saudi dan Qatar hanya mendanai dan mempersenjatai kelompok-kelompok Islam garis keras yang loyal pada mereka, dan terkadang saling bermusuhan—semakin menghambat strategi militer dan politik revolusi yang efektif.

Moaz al-Khatib, kepala Koalisi Nasional Revolusi Suriah dan Pasukan Oposisi yang baru-baru ini mengundurkan diri, mengekspresikan keprihatinan mendalam bulan lalu tentang bagaimana kekuatan luar sedang mengintervensi revolusi dalam upaya mengendalikannya:

[Kelompok dan individu] yang bersedia mematuhi [kekuatan luar] akan didukung. Mereka yang tidak patuh takkan disodori apa-apa selain kelaparan dan kepungan. Kami takkan memelas bantuan dari siapapun. Jika ada keputusan untuk mengeksekusi kami sebagai rakyat Suriah, maka biarlah kami mati sesuai yang kami inginkan. Gerbang kebebasan telah terbuka dan takkan tertutup, bukan hanya untuk rakyat Suriah, tapi untuk semua orang… Pesan kami kepada setiap orang adalah, keputusan Suriah akan diambil oleh rakyat Suriah semata.

Bukan berarti al-Khatib menolak semua bantuan. Sebaliknya, dia menuntut dukungan tak bersyarat dari semua negara. Dia juga mengungkapkan aspirasi jutaan orang di seluruh dunia Arab ketika menyinggung negara-negara represif di Teluk yang mendukung pemberontakan Suriah dengan serta-merta. Setelah berterima kasih kepada mereka atas dukungan di KTT Liga Arab baru-baru ini, al-Khatib kemudian menantang mereka secara tebuka “untuk membebaskan tahanan [politik] di seluruh dunia Arab sehingga hari kemenangan Revolusi Suriah, yang akan memutus mata rantai penindasan, menjadi hari kegembiraan untuk semua masyarakat kita.”

*****

Tentu saja, pemberontak Suriah memang mencari senjata dari luar negeri. Tapi ini bukan kegagalan pemberontakan—ini dipaksa oleh rezim Assad, ketika mendeklarasikan perang terhadap rakyat dan mencoba menenggelamkan revolusi dengan darah. Setiap kasus penyiksaan dan pembunuhan terhadap aktivis damai yang sekadar menuntut demokrasi membuat perjuangan tanpa senjata jadi mustahil.

Seperti dijelaskan secara brilian oleh penulis Lebanon Fawwaz Traboulsi:

Orang-orang revolusi Suriah tidak berutang maaf kepada siapapun. Tidak pula mereka harus membuang waktu untuk menjelaskan pengabaian mereka terhadap bentuk-bentuk perjuangan lain. Orang-orang hebat ini masih berdemonstrasi di setiap kesempatan guna menegaskan keberadaan dan kemauannya untuk menempuh cara-cara damai. Satu-satunya hal yang memerlukan penjelasan adalah posisi mereka berkenaan dengan bantuan asing dan pendanaan.

Siapapun yang pernah hidup dalam kondisi seperti warga Suriah, dan menyaksikan semua penindasan dan pembunuhan ini, dan terpaksa mengangkat senjata, siapapun pasti mencari senjata dari mana saja. Rezim, yang telah memaksa rakyat Suriah mengangkat senjata, juga telah memaksa mereka menerima pendanaan untuk perjuangan bersenjata. Bukan rahasia bahwa revolusi bersenjata punya kebutuhan finansial selain sarana langsung yang terlibat.

Pertanyaan penting yang dihadapi oposisi Suriah adalah bagaimana mendapat bantuan dari sumber-sumber yang bisa memenuhi keperluan revolusi, termasuk senjata, sambil mempertahankan pengambilan keputusan yang independen. Ini pertanyaan yang sulit dijawab, tapi tidak mustahil.

Tapi pihak yang mendukung rezim karena mengklaim pemberontakan ini direkayasa oleh Barat adalah orang-orang yang tidak jujur. Mereka tidak mendukung revolusi sewaktu masih di tahap mobilisasi massa tanpa kekerasan, dan mereka tidak mendukung upaya-upaya independen untuk mendapatkan sumber daya keuangan dan materil bagi orang-orang revolusi Suriah hari ini.

Sementara itu, kaum apologis menyisihkan simpati mereka—cukup sulit dipercaya—untuk Bashar al-Assad, yang mereka pandang sebagai korban malang konspirasi imperialis.

Ini setelah Assad dan rezimnya membunuh 70.000, menghilangkan sama banyak atau lebih banyak, menghancurkan lebih dari 1 juta rumah dan bangunan lain, dan mengusir 5 juta orang. Rasanya konspirasi riil adalah terhadap rakyat Suriah. Setiap orang kiri sejati harus mendukung massa Suriah dalam pemberontakan mereka terhadap penindasan, bukannya memihak penindas.

Tapi, kita ditanya, bagaimana dengan Israel? Bukankah rezim Assad adalah benteng penting melawan Zionisme di Timur Tengah?

Walaupun para politisi Israel bercakap gembira tentang bakal kejatuhan Assad, bukan berarti mereka mendukung revolusi. Israel takut oleh perubahan yang terjadi sejak Musim Semi Arab. Keberadaan diktator stabil di sekelilingnya adalah bagus bagi Israel—untuk kepentingan propaganda (berapa kali Anda mendengar bahwa Israel adalah “satu-satunya negara demokrasi di Timur Tengah”?) dan kepentingan keamanan (tak ada alat lain seperti rezim represif, tapi nasionalis secara retoris, untuk mengendalikan penduduk Arab, yang sudah lama diradikalkan oleh perkara Palestina).

Sebagaimana diuraikan oleh Fawwaz Traboulsi dalam artikel yang dikutip di atas, nilai sejati Assad bagi Israel dan sekutu AS-nya adalah “untuk menanggung dua negara (Suriah dan Lebanon) dan untuk memelihara keamanan dan stabilitas di perbatasan utara wilayah pendudukan Palestina…sambil juga mengendalikan Hizbullah…yang butuh negara penanggungjawab resmi.” Tanpa alternatif pemikul tanggungjawab ini, AS berhati-hati dengan intervensi militer di Suriah, dan tidak pula memberi dukungan mutlak kepada pemberontak. Sebagaimana disimpulkan Traboulsi:

Jika kita beranggapan Amerika dan Barat bermaksud menghancurkan Suriah dan memecah rakyatnya, jika bukan entitasnya, sebagaimana diungkapkan oleh teori “Proyek Israel-Amerika” dan “Timur Tengah Baru”, maka rezim sendiri telah mengadopsi misi tersebut dan melampaui impian terliar Washington untuk membantai dan membinasakan.

Mayoritas penduduk Suriah memusuhi rezim. Tentu saja, memang ada segolongan orang Suriah yang terhubung secara organik dengan pemerintah diktator tersebut dan memiliki kepentingan materil terhadap keberlangsungan rezim. Yang lain terbujuk oleh propaganda sektarian rezim bahwa minoritas keagamaan dan etnis akan diserang jika revolusi berhasil. Mereka mungkin tidak antusias terhadap rezim, tapi mereka mengkhawatirkan masa depan tanpa kekuasaan tangan besi Assad.

Tapi ini tidak bisa menjadi dalih untuk serangan yang dilakukan pendukung rezim terhadap orang-orang revolusi Suriah dan para pendukung mereka—yang paling kasar adalah di Forum Sosial Dunia di Tunisia, di mana pasukan ini muncul di tenda yang didirikan oleh Solidaritas Global Kampanye Suriah, dan menyerang peserta secara fisik, wanita maupun pria, dan membakar bendera Revolusi Suriah.

*****

Selain orang-orang yang mendukung rezim Suriah sebagai musuh progresif imperialisme, ada pula mereka yang sekadar curiga dengan motif AS dan pemerintahan berpengaruh lainnya—dan yang khawatir rakyat Suriah terjerumus ke dalam perang sipil antara diktator haus darah dan kelompok tiran-tiran kecil yang intoleran yang disokong AS dan kekuatan lain.

Yang terlewatkan dari gambaran situasi ini—sengaja ataupun tidak—adalah bahwa Suriah bukan dicengkeram perang sipil belaka. Yang sedang berlangsung adalah revolusi rakyat, dengan komponen bersenjata. Ada beragam kelompok yang terlibat dan banyak pula strategi dan pemikiran tentang tujuan perjuangan—termasuk mereka yang bukan sayap kiri dan yang mau mengakomodasi imperialisme.

Tapi pemberontakan tersebut juga adalah proses amat dinamis, melibatkan jutaan orang yang menjadi aktif dalam kehidupan publik untuk pertama kalinya. Ada kemajuan dan kemunduran politik, momen keberhasilan dan kekecewaan, sebagaimana ada kemenangan dan kekalahan militer. Tapi keliru sekali jika mereduksi Revolusi Suriah ke soal perjuangan bersenjata dan peran kekuatan imperialis dalam usaha membentuk dan mengkooptasi perjuangan bersenjata.

Ambil contoh peran wanita dalam pemberontakan—sesuatu yang tidak diapresiasi secara luas di manapun, khususnya di media arus utama. Kaum wanita menjadi peserta dan pemimpin aktif sejak awal. Mereka bukan hanya berperan sebagai korban, ibu, dan saudari para martir dan tahanan, tapi juga dalam demonstrasi, di garis depan di rumah-rumah sakit lapangan, dalam pemberitaan warga, dan dalam distribusi obat dan logistik kemanusiaan.

Seperti ditulis sekelompok aktivis perempuan di Aleppo, “Kami takkan menunggu sampai rezim jatuh untuk menjadi perempuan aktif.” Pada saat yang sama, tulis mereka, “militerisasi revolusi” telah menutupi peran perempuan—di awal Maret, dewan revolusi lokal Aleppo dipilih dan tidak memasukkan satu perempuan pun, padahal beberapa aktivis perempuan terkenal dicalonkan.

Jadi ada—seperti di setiap tempat di dunia ini—suatu jarak yang harus ditempuh sebelum kaum wanita memperoleh kesetaraan di Suriah. Tapi peran mereka dalam perjuangan sejauh ini—dan di masa mendatang—menegaskan bagaimana pemberontakan telah membuka banyak front berbeda dalam pertempuran melawan rezim Assad. Seperti dikatakan Ghayath Naisse dalam wawancara yang dipublikasikan SocialistWorker.org:

Massa rakyat telah menemukan banyak bentuk perjuangan, termasuk demonstrasi masif yang kita saksikan Juli tahun lalu di Hama dan Deir Ezzour; demonstrasi cepat (seperti gerombolan kilat) yang hanya berlangsung beberapa menit; dan demonstrasi di lingkungan berakses jalan sempit untuk mencegah pasukan keamanan menemukan dan menyudutkan mereka, memungkinkan pengunjuk rasa membubarkan diri di gang-gang sempit bila dihadapkan dengan represi.

Aksi lain meliputi demonstrasi malam, pelepasan balon yang memuat slogan revolusi, mencelupkan warna merah ke air mancur di alun-alun kota besar, mengangkat bendera revolusi di jalanan dan balkon, menamai ulang jalan-jalan dengan nama para martir revolusi, dan tentu saja serangkaian mogok masal. Yang paling anyar, Desember 2012, dijuluki Mogok Demi Martabat dan berlangsung dua hari.

Setiap Jumat, massa mengangkat slogan mereka, kebanyakan dari mereka bersatu dalam menanggapi situasi tertentu atau untuk mengekspresikan pendapat menyangkut suatu urusan revolusi. Ada juga sarana-sarana untuk membentuk kesadaran bersama dan memperumum pengalaman revolusi.

*****

Satu masalah yang dihadapi revolusi adalah perkembangbiakan kelompok-kelompok bersenjata yang independen dari satu sama lain, tanpa strategi militer gabungan atau kesetiaan pada tuntutan masyarakat. Benturan antara beberapa kelompok ini meningkat, dan sebagian penduduk semakin diasingkan oleh praktek-praktek reaksioner dan ideologi keagamaan ketat di antara beberapa kelompok bersenjata, termasuk Islamis yang mempunyai akses besar ke persenjataan Barat.

Tapi di sebagian area, kelompok-kelompok bersenjata telah menemukan cara untuk berkoordinasi. Contoh, sebuah laporan dari Daraya mengaitkan keteguhan perlawanan kota dengan koordinasi antara payung Free Syrian Army dan pemimpin sipil dewan revolusi setempat. Alhasil, semua kelompok bersenjata harus patuh pada otoritas militer sentral dalam rangka beroperasi di kota tersebut.

Untuk menghindari klientelisme dan penyalahgunaan sumber daya, semua donasi dan bantuan masuk ke simpanan terpadu, dari situ kemudian didistribusikan untuk pekerjaan militer dan bantuan kemanusiaan di bawah pengawasan dewan lokal. Meski butuh dukungan yang mendesak, Daraya menolak syarat politik yang dikaitkan dengan bantuan finansial dan militer.

Banyak badan revolusi mengkritik tajam kelompok-kelompok bersenjata yang dianggap bertindak demi kepentingan mereka sendiri atau orang lain dan bertentangan dengan tuntutan rakyat. Salah satu badan itu adalah Local Coordinating Committees of Syria, yang mewakili sejumlah komite akar rumput yang lahir dari revolusi untuk mengorganisir protes dan memulai langkah ke arah pemerintahan swadaya. Aliansi ini, sambil menjelaskan bahwa semua kekerasan yang terjadi adalah salah rezim Assad, menyatakan:

Orang-orang revolusi telah menyaksikan beberapa praktek buruk dari sebagian pemanggul senjata. Oleh karena itu, Local Coordinating Committees mengirim pesan kepada setiap orang revolusi yang memutuskan memikul senjata. Mereka mengangkat spanduk yang menentang penggunaan senjata secara membabi buta, dan bahwa penggunaan senjata [secara bertanggungjawab moral] merupakan sebab kemenangan yang fundamental…

Komite koordinasi Irbeen, Zabadani, Madaya, Hamouriya, Jdeidet Artouz di pinggiran Damaskus, Hrak, Sanamein, Tafs, Anchel, Yarmouk Camp, Naimah di Dara’a, Kafrouma di Idlib, Misyaf, Hama, Bazza’a, Bab dari provinsi Aleppo, Jableh di Latakia, Tartous, Qadmus di Tartous, Hasakah, Qamishli, Aamoudah di Hasakah, Tabkah di Raqqa, semua berpartisipasi. Sebagai tambahan, pelaksana revolusi meminta setiap orang mengadopsi moral yang menguatkan prinsip-prinsip revolusi demi kebebasan dan kehormatan.

*****

Saya ingin menyampaikan kalimat penutup dengan mengutip seorang revolusi pemberani, penulis kiri Nahed Badawiyya, yang berbicara dari dalam Suriah:

Revolusi Arab telah mengakhiri Kiri tradisional, khususnya Partai-partai Komunis tradisional, yang sudah lama tidak efektif. Mereka sudah menjadi struktur konservatif reaksioner, tak memiliki anggota. Di Suriah, Partai-partai Komunis ini tertarik ke arah rezim pembunuh dan menjadi kaki-tangan kejahatannya.

Oleh sebab itu, kebanyakan basis mereka, terutama pemuda, meninggalkan mereka dan turun ke jalan-jalan untuk bergabung dengan generasi mereka dalam unjuk rasa. Anda akan melihat fenomena ini di semua gerakan politik tradisional di Suriah. Para pemuda dari gerakan politik Palestina, Arab, dan Kurdi, semuanya memisahkan diri dari pemimpin mereka dan bergabung dengan revolusi. Di semua gerakan politik ini, kepemimpinan partai menjadi penghambat dan pengerem pemuda revolusioner Suriah. Namun, pada waktu bersamaan, formasi baru pemuda Kiri muncul dari dalam revolusi, menyuarakan intisarinya. Saya harap mereka tumbuh dan berkembang biak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s