Mundurnya Houthi di Yaman Menunjukkan Keterbatasan Kemampuan Iran

Oleh: Jonathan Spyer
11 Oktober 2015
Sumber: www.meforum.org

Sementara berita regional terus didominasi peristiwa dramatis di Suriah, perkembangan penting jauh di selatan dan timur sedang berlangsung di salah satu arena perebutan regional yang banyak diabaikan—Yaman.

Pemimpin Houthi yang dibekingi Iran, Abdul Malik Al-Houthi, mengakui kekalahan dalam sebuah pidato 2 Agustus setelah para pejuangnya terusir dari Aden di Yaman selatan.
Pemimpin Houthi yang dibekingi Iran, Abdul Malik Al-Houthi, mengakui kekalahan dalam sebuah pidato 2 Agustus setelah para pejuangnya terusir dari Aden di Yaman selatan.

Peristiwa di Yaman patut diperhatikan karena ini berlawanan dengan gagasan bahwa keluarnya pemerintahan Obama dari kawasan dan disepakatinya perjanjian nuklir akan membuat kemajuan Iran di seluruh Timur Tengah tak terelakkan.

Di Yaman, yang terjadi adalah terhentinya klien Iran oleh pasukan yang didukung negara-negara Arab di Teluk Persia, terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Gerakan Ansarullah yang didukung Iran, yang lebih dikenal sebagai Houthi, merebut kendali ibukota Yaman, Sanaa, pada bulan Maret silam. Pemerintahan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi dipaksa pergi ke pengasingan di Arab Saudi. Houthi dan para sekutu mereka kemudian memulai barisan menuju selatan, berniat merebut Teluk Aden dan menyatukan negara tersebut di bawah kendali mereka.

Mencegah ini terjadi merupakan urusan amat strategis bagi lawan-lawan Houthi dan penyokong Iran-nya. Penguasaan Yaman baratdaya akan memberi Houthi (dan karenanya Iran) kemampuan untuk menghambat pasokan energi dari Teluk Persia ke Terusan Suez via Selat Bab el-Mandeb yang sempit.

Bantuan Saudi dan UEA kepada pasukan pemerintah Yaman yang berusaha mencegah hal ini dimulai pada 26 Maret. Mesir, Maroko, Yordania, Sudan, Kuwait, Qatar, dan Bahrain turut bergabung dengan koalisi melawan Houthi. Negara-negara ini menyediakan dukungan udara kepada pasukan pemerintah.

Serangan Houthi, di mana suku Syiah Zaidi tersebut didukung oleh unsur-unsur militer yang loyal kepada diktator terguling Ali Abdullah Saleh, mogok di hadapan perlawanan yang didukung Saudi.

Houthi nyaris merebut Kota Aden di akhir Maret. Tapi itu titik terjauh kemajuan mereka.

Di tengah musim panas, pasukan dukungan Saudi dan UEA berhasil memukul Houthi keluar dari Aden, memungkinkan Hadi kembali ke sana.

Mulai sekarang, setelah kematian sekitar 4.900 orang dalam konflik tersebut, Houthi telah sepakat untuk tunduk pada rencana berisikan tujuh poin yang diperantarai PBB dalam perundingan di Muscat, Oman. Rencana itu meliputi gencatan senjata dan pengembalian pemerintahan ke Sanaa.

Belum jelas apakah gencatan senjata akan diimplementasikan, dan skeptisisme ini beralasan. Tapi jika laporan itu benar, berarti pernyataan Houthi berlangsung setelah sederet kekalahan mereka di tangan koalisi pimpinan Saudi dalam beberapa pekan terakhir.

Pasukan koalisi baru-baru ini mengamankan area Bab el-Mandeb dan juga merebut Marib Dam yang strategis di provinsi Marib, yang dikuasai Houthi sejak musim semi [Arab]. Pasukan dukungan Saudi bersiap memulai serbuan terhadap provinsi Taiz, salah satu benteng terakhir Houthi di selatan.

Peristiwa Yaman yang banyak diabaikan ini mencerminkan realita persaingan Saudi-Iran, bagian dari konflik luas Sunni-Syiah yang saat ini membagi Timur Tengah menjadi dua. Kesuksesan pemulihan pemerintahan Hadi di Yaman, jika itu terjadi, akan menjadi dorongan besar bagi Saudi, yang khawatir dikelilingi oleh pasukan pro-Iran, mengingat pengaruh Iran di Irak dan Yaman.

Selain isu strategis penguasaan Bab el-Mandeb, mengapa peristiwa di Yaman menjadi penting di luar lingkungan dekatnya? Itu penting karena alasan berikut: dalam rentetan perang proksi Saudi-Iran yang berlangsung di seluruh kawasan, Iran tampak menikmati kedudukan lebih baik.

Iran adalah republik revolusi, memiliki instrumen yang dirancang khusus untuk pendirian dan pengangkatan organisasi proksi politik-militer (Pasukan Quds dari Garda Revolusi), kekuasaan mereka tampak terjamin. Wajar saja banyak pihak khawatir, sekali Iran mulai menerima pembebasan sanksi menyusul penandatanganan perjanjian program nuklirnya, mereka akan leluasa melanjutkan dan menambah dukungan kepada banyak proksi regional yang mereka pelihara.

Tapi di Yaman, Saudi rupanya telah menandingi sebuah proksi Iran. Houthi tidak hancur, tapi kemenangan dan perolehan strategis mereka untuk Iran telah tercegah.

Proses ini pas dengan gambaran lebih besar, di mana campur tangan Iran—di Yaman, Suriah, Irak—biasanya menghasilkan perpecahan negara dan perang saudara ketimbang kemenangan Iran.

Hanya di Lebanon yang kecil proksi Iran (Hizbullah) bisa dikatakan telah mendirikan posisi superioritas militer yang diakui.

Tapi di sana pun, Hizbullah tidak mencoba memerintah sendirian.

Jadi, Iran terlibat dalam seluruh rangkaian konflik di Timur Tengah, mendukung pemain-pemain berpengaruh, tapi tidak menang di manapun.

Peristiwa di Yaman pekan ini menyodorkan bukti lebih jauh bahwa gagasan tentang nafsu Iran yang menyapu Timur Tengah sebagai akibat penarikan diri AS terlalu dilebih-lebihkan.

Iran dan sekutunya merupakan pemain regional berpengaruh, tapi keterbatasan internal kemungkinan besar akan mencegah mereka meraih hegemoni regional yang mereka impikan.

Intrik regional Iran diatur untuk terus memperburuk perselisihan dan perpecahan di seantero kawasan, tapi tanpa kemenangan jelas untuk Teheran.

Tentang penulis: Jonathan Spyer adalah direktur Rubin Center for Research in International Affairs dan rekan di Middle East Forum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s