Tolong Suriah Sekarang, Esok Mungkin Terlambat

Oleh: Yassin al-Haj Saleh
Rabu 10 Juli 2013
Sumber: www.theguardian.com

Sistem misil anti-pesawat S-300 milik Rusia. Moskow mendapat kontrak untuk pengiriman S-300 ke Suriah. ‘Keadaan akan berbeda di Suriah pasca-Assad, tapi yang lebih buruk adalah menyaksikan rakyat Suriah dibunuh dengan senjata Rusia.’ (Foto: Str/AP)
Sistem misil anti-pesawat S-300 milik Rusia. Moskow mendapat kontrak untuk pengiriman S-300 ke Suriah. ‘Keadaan akan berbeda di Suriah pasca-Assad, tapi yang lebih buruk adalah menyaksikan rakyat Suriah dibunuh dengan senjata Rusia.’ (Foto: Str/AP)

Kawan-kawan tersayang,
Tiga bulan lalu saya meninggalkan kota Damaskus, di mana hidup sudah terlalu menyesakkan, untuk pergi ke wilayah “terbebaskan”, Ghouta Timur. Wilayah yang dihuni 2 juta penduduk sebelum pemberontakan, kini Ghouta Timur diisi oleh sekitar 1 juta orang saja. Itu menjadi pangkalan, dari sana pemberontak bertolak ke arah ibukota. Tapi kini dikepung total oleh pasukan rezim berkat dukungan baru dari Rusia dan Iran, dan kedatangan milisi Irak dan Lebanon yang disponsori Iran. Selama tiga bulan terakhir, saya menyaksikan secara langsung kekurangan senjata, amunisi, dan bahkan makanan untuk para pejuang. Banyak dari mereka mendapat makan paling banter dua kali sehari, dan situasi mereka akan jauh lebih buruk andai mereka bukan penduduk lokal, yang melindungi kota dan keluarga mereka sendiri, dan hidup dengan bantuan sanak-famili mereka.

Kota besar dan kecil yang pernah saya lihat atau tinggali selama bulan-bulan ini menjadi sasaran serangan udara, mortir, dan berondongan roket setiap hari secara acak. Korban, kebanyakan warga sipil, berjatuhan setiap hari. Di sebuah pusat pertahanan sipil di mana saya tinggal selama sebulan, saya biasa menyaksikan jasad-jasad dibawa masuk. Sebagian tak dapat dibedakan, sebagian jasad anak kecil, dan di antara korban terdapat janin enam bulan yang keguguran dari seorang ibu yang ketakutan. Tak satu hari pun berlalu selama bulan tersebut tanpa jatuh korban; biasanya dua atau tiga, tapi pernah 9, 28, dan 11.

Selain warga sipil, beberapa pejuang tewas setiap hari oleh persenjataan berkekuatan unggul, dengan dukungan unggul.

Seluruh area tidak memiliki listrik selama delapan bulan. Karenanya, masyarakat bergantung pada banyak generator mudah rusak yang memakan banyak bensin yang kian langka, yang pada gilirannya memaksa masyarakat berhenti memakai kulkas meski cuaca panas memuncak. Jaringan telepon darat dan dan ponsel terputus. Di akhir pekan, gandum jadi ikut langka. Saya hanya makan dua kali sehari. Tak apa-apa sejauh ini. Diet baru ini telah membantu saya kehilangan berat badan 10 kilogram.

Namun yang terburuk adalah bertambahnya jumlah orang yang dikubur tergesa-gesa dan tidak pantas. Orang-orang takut dekat-dekat dengan kuburan dan diincar oleh misil baru. Kami—saya dan sejumlah teman—masih hidup. Di Damaskus, kami terus menghadapi kemungkinan penahanan dan penyiksaan tak tertahankan. Di sini kami aman dari itu, tapi tidak dari misil yang bisa mendarat di atas kepala kami kapan saja.

Salah satu hal paling menakjubkan yang saya perhatikan selama beberapa hari pertama di sini adalah shalat Jumat diserukan pada jam 9 pagi di satu masjid, setengah jam kemudian di masjid lain, lalu di masjid-masjid lain dengan selang setengah jam. Tujuannya adalah menghindari pengumpulan orang dalam jumlah besar di satu tempat agar rezim tidak dapat membunuh banyak orang. Rezim pernah mencobanya, dan di satu kota ada lima masjid yang hancur.

Yang lebih menyakitkan, lebih dari 2/3 anak kecil tidak terdaftar di sekolah-sekolah, baik karena orangtua mereka terlalu takut untuk melepas mereka dari pandangan, atau karena sedikit sekali sekolah yang tersedia. Sekolah-sekolah yang masih buka semuanya bergerak bawah tanah demi menghindari berondongan, dan ada juga beberapa rumah sakit.

Orang-orang berjuang di sini dengan perlawanan penuh karena mereka sadar pembantaian besar menanti mereka jika rezim berhasil meraih kembali kendali wilayah. Mereka yang tidak terbunuh akan ditahan dan disiksa secara biadab. Pilihannya adalah mati dengan melawan rezim agresi rezim fasis atau tewas oleh rezim ini dengan cara terburuk. Orang-orang merinding ketakutan, dan saya sendiri merinding, bila membayangkan rezim ini memerintah kami lagi.

Situasi saat ini adalah akibat langsung dari ketidakmauan negara-negara besar untuk mendukung orang-orang revolusi Suriah, sementara sekutu rezim bukan hanya terus mendukungnya dengan uang, pasukan, dan senjata, tapi juga meningkatkan dukungan ini secara kualitatif dan kuantitatif. Akhirnya, setelah dunia menyimpulkan bahwa rezim telah menggunakan senjata kimia (yang saya dokumentasikan sendiri dan diverifikasi dengan teman-teman yang punya keahlian pribadi), dan setelah rezim memperoleh restu dunia atas penggunaan angkatan udara dan roket jarak jauh terhadap kota-kota dan lingkungan kediaman, baru setelah itu kekuatan-kekuatan barat memutuskan mendukung pelaku revolusi dengan senjata untuk tujuan menegakkan kembali “keseimbangan” yang jedanya menguntungkan rezim yang mereka fasilitasi sendiri.

Kebijakan ini bukan cuma rabun, bukan cuma memperpanjang konflik, tapi juga sangat tidak manusiawi. Tak ada dua kejahatan setara di Suriah—seperti yang diklaim banyak media barat, berlawanan dengan laporan PBB dan organisasi internasional. Ada rezim fasis yang telah membunuh lebih dari 100.000 rakyatnya sendiri, di satu pihak, dan bermacam-macam gerakan revolusi, yang sebagiannya telah teradikalkan akibat panjangnya konflik dan melemahnya perlawanan masyarakat Suriah terhadap radikalisme. Semakin lama rakyat Suriah dibiarkan mati sendirian, semakin besar kemungkinannya kelompok-kelompok radikal akan meraih kekuatan, dan suara nalar dan kemoderatan akan melemah. Dari pengalaman pribadi saya, inilah yang sedang terjadi. Kapanpun korban-korban baru berjatuhan, khususnya anak kecil, orang-orang di pusat pertahanan sipil akan memandang saya dengan mata selidik. Mereka bertanya-tanya apa gunanya lagi bahasa “masuk akal” yang saya gunakan.

Hanya ada satu hal yang benar hari ini, dari sudut pandang orang Suriah dan manusia: tolong rakyat Suriah menyingkirkan dinasti Assad yang bertindak seolah-olah Suriah adalah tanah pribadi mereka dan rakyat Suriah adalah budak pengolah tanah mereka. Keadaan akan sulit di Suriah pasca Assad, tapi penyingkiran Assad akan menggerakkan dinamika baru dan lebih moderat di masyarakat Suriah, dan akan memungkinkan rakyat Suriah berdiri melawan orang-orang radikal di antara mereka. Pilihan lebih buruk adalah membiarkan konflik membusuk dan menambah korban jiwa dan materil; yang lebih buruk adalah menyaksikan rakyat Suriah dibunuh dengan senjata Rusia, di tangan pembunuh lokal, Lebanon, dan Iran; yang lebih buruk adalah memberlakukan penyelesaian yang tidak menghukum para penjahat dan tidak memecahkan permasalahan Suriah.

Politisi AS dan barat sering menegaskan tak boleh ada solusi militer untuk konflik Suriah. Tapi di mana solusi politik? Kapan Bashar Assad pernah bilang selama 28 terakhir dan setelah lebih dari 100.000 orang tewas bahwa dia bersedia memasuki negosiasi serius dengan oposisi dalam rangka berbagi kekuasaan? Kenyataannya, takkan ada solusi politik tanpa memaksa Assad mundur, sekarang juga, beserta semua maestro pembantaian di rezimnya.

Kawan-kawan kami tersayang, saya menyapa kalian hari ini karena tragedi Suriah telah menjadi masalah paling besar dan berbahaya di dunia hari ini. Itu telah mengusir lebih dari sepertiga penduduk, di dalam negeri dan ke luar negeri; ada ratusan ribu orang terluka atau cacat, dan seperempat juta tahanan menjadi sasaran penyiksaan mengerikan.

Kami memohon dengan sangat kepada kalian para pemimpin opini publik di negeri-negeri kalian untuk menekan pemerintahan kalian agar mengambil sikap yang jelas menentang Assad dan mendukung penyudahan rezimnya. Ini satu-satunya hal manusiawi dan progresif yang bisa dilakukan; dan tak ada yang lebih fasis dan reaksioner di dunia modern dibanding rezim yang membunuhi rakyatnya sendiri, mengimpor pembunuh dan serdadu bayaran dari luar negeri, dan menghasut perang sektarian yang takkan berhenti sebelum merenggut ratusan ribu nyawa.

Kami menanti dukungan kalian hari ini. Esok mungkin terlambat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s