Air Milik Siapa: China dan India Terlibat Perang Air

Oleh: Fred Pearce
28 April 2012
Sumber: New Scientist, Vol. 214 No. 2862, 28 April 2012 – 4 Mei 2012, hal. 8-9

China sedang mengambil kendali sungai-sungai besar Asia di sumbernya.

Lapisan es yang luas dan limpasan muson menjadikan dataran tinggi Tibet salah satu sumber air segar terbesar di planet yang semakin haus ini. Ia memasok air kepada 1,3 miliar orang untuk irigasi dan minum, dan menawarkan prospek tenaga air tiada tara. Tapi siapa pemilik air ini? Karena China bermaksud mengklaim arus-arus besar yang muncul dari menara air Asia ini, bagaimana dengan hak para tetangganya di hilir?

Dengan masuknya para insinyur air, pertanyaan seperti ini langsung menjadi geopolitik provokatif. China adalah pusat perhatian: ia punya rencana untuk membendung atau mengalihkan kelima sungai besar yang muncul dari dataran tinggi Tibet sebelum mengalir ke negara-negara tetangga—Indus, Brahmaputra, Irrawaddy, Salween, dan Mekong (lihat peta di bawah). Proyek tersebut memicu perselisihan panas antara China dan tetangga-tetangganya.

Pistol pemulai dalam perlombaan mengendalikan sungai-sungai Tibet mungkin telah ditembakkan dengan perintah pengadilan dari Mahkamah Agung India bulan lalu, mendesak dimulainya pengerjaan kanal-kanal yang akan menghubungkan banyak sungai besar India. Tulang punggung skema ini adalah sebuah kanal sepanjang 400 km yang akan mengalihkan air dari Brahmaputra ke Gangga untuk mengirigasi ladang-ladang haus air 1.000 kilometer di selatan (lihat “India Menggambar Ulang Peta Sungainya”).

India Menggambar Ulang Peta Sungainya

National River-Linking Project milik India telah menjadi pancaran cahaya di mata para insinyur negara itu selama puluhan tahun. Sasaran proyek tersebut adalah mengantarkan air dari sungai-sungai muson besar di utara India ke selatan dan barat yang gersang, yang, gawatnya, bergantung pada air tanah untuk menanam pangan. Ini akan dilakukan dengan membangun jaringan 30 kanal yang menghubungkan sungai-sungai, dengan biaya ratusan miliar dolar.

Banyak pihak memandang proyek ini sebagai ambisi mustahil dan berpotensi menjadi bencana lingkungan. Tapi pasca putusan Mahkamah Agung India bulan lalu, beberapa bagian mungkin akan berproses. Bagian kuncinya akan membawa air dari Brahmaputra ke Gangga, dan dari situ air dapat disalurkan ke negara bagian Bihar dan Orissa yang ditimpa kemiskinan. Menyusul putusan tersebut, pemerintah mengungkap bahwa survey lokasi terperinci untuk kanal sepanjang 400 kilometer, yang akan mengangkut lebih dari 43 kilometer kubik per tahun, sedang dikerjakan.

Putusan pengadilan ini merupakan, sebagian, reaksi terhadap skema baru China untuk membendung dan mengalihkan Brahmaputra jauh di hulunya di Tibet. Untuk sementara, Brahmaputra tetap salah satu sungai besar terakhir yang belum dijinakkan di planet ini. Boleh jadi itu segera berubah. Selain rencana pengalihan [arus] dari India, para insinyur China ingin menyadap sungai tersebut di ngarai Tsangpo. Di sana mereka dapat membangun dua pembangkit listrik tenaga air, masing-masing menghasilkan dua kali lipat tenaga bendungan Three Gorges di Yangtze, bendungan terbesar di dunia saat ini. Lebih jauh lagi di hulu, para insinyur telah menyusun rencana untuk mengalihkan sampai 40% debit sungai itu untuk mengirigasi palawija di dataran utara China.

Semua rencana ini membuat Bangladesh dan India, yang dua-duanya terletak di hilir Brahmaputra, sangat gelisah. India menghadapi krisis air, dan memandang Brahmaputra sebagai sumber air terbesarnya yang belum disadap. Tapi korban sesungguhnya mungkin Bangladesh, yang mengandalkan sungai tersebut untuk 2/3 [pasokan] air, banyak darinya untuk irigasi di musim kemarau panjang. Hampir 20 juta petani Bangladesh bergantung pada sungai itu untuk mengairi palawija mereka.

Proyek-proyek yang bersaing ini dapat mengakibatkan konflik sumber daya antara India dan China, dan bencana lingkungan untuk Bangladesh, kata Robert Wirsing dari Georgetown University School of Foreign Service, Qatar, memperingatkan dalam sebuah konferensi mengenai ketahanan air yang diselenggarakan di Oxford, UK, pekan lalu.

Sampai kemarin-kemarin, China lebih banyak membendung sungai-sungai yang mengalir di dalam perbatasannya. Tapi demi memenuhi permintaan energi dan irigasi yang melonjak, para insinyurnya bergeser ke sungai-sungai internasional. China telah merampungkan sederet bendungan di anak-anak sungai Brahmaputra. Yang pertama di batang utama sungai ini, bendungan Zangmu senilai $1 miliar, akan rampung pada 2014. Berikutnya mungkin bendungan-bendungan ngarai Tsangpo: Motuo, yang akan menghasilkan 38 gigawatt, dan Daduqia, 42 gigawatt.

Bukan air ke India dan Bangladesh saja yang dibidik oleh China. Tetangga-tetangga lainnya ikut resah. Titik kilas terbaru adalah bendungan Myitsone yang dibangun oleh China di Irrawaddy di utara Myanmar. Para jenderal Myanmar menyetujui skema ini tiga tahun lalu, meski 90% listrik dari pembangkit 6 gigawatt itu akan mengalir ke China. Tapi akhir tahun lalu, pemerintahan baru reformis menangguhkan konstruksi setelah lusinan orang tewas dalam bentrokan antara tentara dan penduduk lokal, yang desa-desanya akan digenangi.

Situasi politik di Myanmar membuat nasib Myitsone dan 12 bendungan lain yang direncanakan oleh China di Myanmar—enam di Irawaddy dan enam di Salween—tidak jelas. Banyak dari proposal bendungan tersebut berada di daerah terpencil yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia karena hutan uniknya dan ekosistem air segarnya.

Lebih jauh ke barat, konstruksi bendungan Bunji 7 gigawatt milik China di Sungai Indus, utara Pakistan, telah membuat murka India, yang mengklaim teritori tersebut. Penduduk setempat juga khawatir, karena bendungan itu dekat dengan episenter gempa yang menewaskan lebih dari 100.000 pada 2005.

Menara Air Asia
China berencana membendung atau mengalihkan kelima sungai besar yang keluar dari dataran tinggi Tibet.

Politik air sedang sengit. Tapi apa buktinya bahwa bendungan-bendungan itu merugikan? Bagaimanapun, banyak pihak berargumen listrik tenaga air adalah vital bagi negara-negara seperti China dan India untuk mengembangkan ekonomi mereka dengan energi rendah karbon.

Publikasi studi di lokasi itu sangat jarang, tapi setelah pengerjaan bendungan Myitsone ditangguhkan, ternyata AMDAL 900 halaman pesanan China yang tak dipublikasikan mengeluarkan rekomendasi menentang bendungan tersebut karena akan menggenangi ekosistem hutan penting.

Dampak rencana India (mengalihkan Brahmaputra) terhadap Bangladesh telah disimulasikan oleh Edward Barbier dari Universitas Wyoming di Laramie dan Anik Bhaduri dari International Water Management Institute di Delhi, India. Mereka memperingatkan, “penurunan debit sungai sebanyak 10 sampai 20 persen dapat mengeringkan daerah-daerah luas [Bangladesh] hampir sepanjang tahun”. Tanpa debit air segar, garam dari Teluk Bengal akan menyerbu delta sungai besar itu, menyebabkan “bencana lingkungan”.

Bukti terbaik bahwa bendungan dapat menyebabkan kerusakan ekologis hebat datang dari Mekong, di mana bendungan China adalah yang paling maju. China sejauh ini telah membangun empat dari delapan bendungan PLTA yang direncanakan di sungai tersebut. Mereka mencakup bendungan Xiaowan, yang, dengan ketinggian 292 meter, lebih tinggi dari Menara Eiffel. Yang lain, bahkan lebih besar, akan dirampungkan di Nuozhadu pada 2014.

Bendungan menangkap limpasan muson untuk dilepas melalui turbin pada musim kemarau. Pemerintah China bersikeras, dengan menyamaratakan debit sungai, bendungan adalah kabar bagus untuk tetangga-tetangganya. Tapi tiga tahun lalu United Nations Environment Programme (UNEP) memperingatkan bahwa penurunan denyut banjir tahunan (annual flood pulse) menghadirkan “ancaman besar” bagi ekosistem hilir.

Dalam sebuah studi untuk UNEP, Ky Quang Vinh dari Centre for Observation of Natural Resources and the Environment Vietnam menemukan bahwa denyut banjir lemah berarti air garam dari Laut China Selatan telah tembus 70 kilometer ke delta Mekong, menghancurkan sawah-sawah luas di kawasan utama dan berkembang di negara pengekspor beras terbesar kedua di dunia itu.

Matti Kummu, ahli hidrologi di Helsinki University of Technology di Finlandia, memperingatkan bahwa denyut banjir lemah juga menghancurkan tempat-tempat pembibitan ikan—semisal hutan rawa di sekitar danau pedalaman Kamboja—yang telah menjadikan Mekong sebagai [industri] perikanan pedalaman terbesar kedua di dunia.

Di kawasan di mana persediaan airnya tipis dan negara-negara bermain kasar dalam hidrologi, taruhannya tinggi. China adalah satu dari tiga negara saja yang menentang usulan traktat PBB mengenai pembagian sungai internasional. Seperti ditulis Loh Su Hsing, fellow di lembaga think tank urusan luar negeri Chatham House di London, baru-baru ini: “Isu besar untuk Asia adalah apa China akan memanfatkan kendalinya atas dataran tinggi Tibet untuk menyedot air sungai-sungai internasional yang merupakan sumber kehidupan negara-negara [hilir] demi keuntungannya sendiri.”

Advertisements

One thought on “Air Milik Siapa: China dan India Terlibat Perang Air

  1. Sadarlah kita bahwa Islam akan selalu dan selamanya bertentangan dengan ideologi manapun yang dianggap sakti oleh para globalis, nasionalis, liberalis, sekularis, kapitalis, sosialis, marxist, komunis; apapun wujudnya, baik itu demokrasi, monarki, plutokrasi, otokrasi, oligarki. Karena Islam tidak menempatkan dan menyembah Allah sebagai simbol, budaya, atau bahkan warisan, tapi penuh kesadaran sebagai Sang Pencipta, Pemilik, Pengatur, Pemelihara satu-satunya, tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak bersekutu; sebagaimana yang diulang-ulang dalam Quran dan diwujudkan dengan ketaqwaan Rasulullah saw. Segala puji bagi Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.