Putin Telah Membangkitkan Kembali Mesianisme Rusia

Oleh: Paul Goble
26 Maret 2014
Sumber: The Interpreter

Dengan pencaplokan Crimea, Vladimir Putin telah membangkitkan kembali dimensi imperial mesianisme Rusia, sebuah kekuatan yang telah terbendung sejak 1991 tapi kini akan menghasilkan konflik meluas yang berujung pada kemenangan Rusia atas semua musuhnya atau keruntuhan Rusia, kata Vladimir Pastukhov.

Tapi pada saat bersamaan, satu bentuk mesianisme Rusia lain, menyangkut keadilan sosial universal, juga sedang dibangkitkan kembali, dan itu melambangkan tantangan lebih serius terhadap sistem Putin dibanding mesianisme imperial yang, berkat kemenangan di Crimea, menjadikannya “sang mesias” bagi banyak warga Rusia, imbuh pakar dari St. Antony’s College tersebut.

Dalam sebuah artikel di Novaya Gazeta 25 Maret, Pastukhov menguraikan bahwa Rusia hari ini didiami oleh “bangsa berbeda” dibanding “sebulan lalu”, bangsa yang “terilhami” sebuah visi yang memberi mereka peran mesianik yang selalu diidam-idamkan sebagai sebuah bangsa.

“Orang-orang Rusia tidak memenuhi sebuah misi, apalagi bila itu tidak dapat dipenuhi; mereka menjalaninya dan menjadi fungsinya,” kata sang sejarawan. Malah, “roh misionari dulu dan masih merupakan tenaga penggerak sejarah Rusia”. Itu adalah bagian dari “bawah sadar Rusia”, dan Putin telah “membangkitkan kembali” “monster” ini dalam diri orang-orang Rusia.

Yang mengagetkan dan perlu diulas, kata Pastukhov, adalah bahwa mesianisme ini tertidur selama “seperempat abad”, masa “amat panjang” “untuk kode budaya Rusia” dan mencerminkan “depresi mendalam dan goncangan historis yang dialami bangsa Rusia pasca disintegrasi Uni Soviet”.

Tapi jika roh mesianik tertidur, bukan berarti itu lenyap, dan kita dapat mengidentifikasi kekuatan-kekuatan yang telah membangunkannya. Paling utama adalah Barat dan Amerika Serikat, yang bertingkah sedemikian rupa hingga melahirkan sindrom Weimar yang kini membangkitkan dalam jiwa Rusia sebuah naluri yang dahulu menggerakkan bangsa Jerman pasca kekalahan di Perang Dunia I.

Para pemenang Perang Dingin tidak merasa perlu menciptakan Marshall Plan baru, tukasnya. Mereka tidak merasa harus memenuhi kepentingan Rusia bahkan setengahnya terkait “isu apapun yang signifikan secara psikologis” untuk orang-orang Rusia, baik di dalam negaranya ataupun di bekas sekutu-sekutunya.

Selain itu, Barat bertindak secara sangat “kasuistis” berkenaan dengan pemenuhan “norma hukum internasional”. Ia memenuhi norma bila itu sesuai dengan kepentingannya tapi tidak bila itu sesuai dengan kepentingan Rusia atau siapapun. Dan yang lain, seperti Ukraina, juga berperan dalam membangkitkan kembali mesianisme Rusia dengan tindakan mereka.

Bahkan, kata Pastukhov, hari ini, “kita bisa tegaskan bahwa sebetulnya selama ini perang dingin tidak berakhir sekejap pun. Itu hanya menjadi kurang intensif, merosot ke dalam perang dingin ringan”. Di dunia ini, Amerika pura-pura bekerjasama dengan Rusia, dan Rusia pura-pura memiliki nilai-nilai Amerika.

Kedua tindakan pura-pura itu adalah kebohongan, kata sang cendekiawan St. Antony.

“Kita bisa berdebat siapa yang benar dan siapa yang salah dalam setiap kasus tertentu,” tapi kita tak bisa menyangkal bahwa Rusia tak pernah menerima kekalahan mereka dan selalu berharap suatu hari nanti akan mampu menebusnya.

Pastukhov mengutip pengamatan Leo Tolstoy bahwa “massa manusia biasanya bergerak karena disatukan oleh perasaan sederhana tapi universal, yang di dasarnya terdapat kepentingan universal”. Dia menyebut ini “diferensial sejarah”, dan mengenalinya, di Rusia, sebagai “salah satu motif tersembunyi utama karya-karya Tolstoy sendiri”.

Sejak berakhirnya Uni Soviet, “Rusia terus mencari suatu jenis ‘ideologi baru’ yang akan membangkitkan hasrat Rusia yang tengah tidur.” Semuanya gagal, sampai ditemukan bahwa “diferensial universal Rusia pasca komunis adalah rindu akan keagungan imperial”, gairah untuk menghukum mereka-mereka yang telah menghukum Rusia.

Itulah yang Putin manfaatkan, karena dia merasa dan mengenali bahwa “masyarakat butuh kemenangan”, tak peduli di mana, yang penting kemenangan untuk membalas dendam atas [perkara] Yugoslavia, Afghanistan, Irak, Libya, dan Suriah. Dia telah mendapat kemenangan ini tapi dia telah memulai sebuah proses yang tak dapat dihentikan sampai “semua bahan bakar” di baliknya terbakar habis.

Mereka yang mengira ini akan lekas berakhir, mereka melakukan “kekeliruan serius”, kata Pastukhov.

“‘Mesin Rusia’,” sambungnya, “speedometernya rusak dan tak punya rem. Itu aman hanya ketika tidak melaju.” Para pemimpin Barat melukiskan Putin sebagai “inkompeten”, sambung Pastukhov, padahal “dia tidak lebih inkompeten dibanding Atilla di mata penduduk Roma yang terkepung”. Dan dia kurang inkompeten dibanding para pemimpin Dunia Lama dan Baru “yang tidak mengerti” bahwa “konflik ini secara luaran saja terkait dengan Ukraina atau lebih-lebih dengan Crimea”.

Crimea “hanya kesempatan” untuk menyalakan kembali mesianisme Rusia ini, urai Pastukhov. “Perang telah dideklarasikan bukan terhadap Ukraina tapi terhadap Barat, kebijakannya, ideologinya, cara hidupnya, nilai-nilainya, dan cara berpikirnya. Ini perang ‘suci’, yaitu perang ideologi dan agama, yang ditakdirkan untuk habis-habisan.”

Dan itu akan terus berlangsung sampai “Barat kalah atau Rusia pecah”, pungkasnya. Rusia punya peluang menang lebih sedikit daripada Barat, tapi situasi akan bergantung pada banyak keputusan yang masih harus dibuat. Dalam hal ini, kita tidak bisa kesampingkan bahwa satu-satunya penerima manfaat dari benturan ini menurut analisa akhir adalah China.

Mereka yang berpikir Putin akan berhenti di Crimea sesungguhnya sedang menipu diri sendiri. Dia tak bisa berhenti karena dia tak bisa membuat konsesi “kepada ‘musuh asing’ manapun dalam isu apapun. Secara politik, dia telah mendorong dirinya sendiri ke dalam posisi terpojok”. Itu bukan berarti tidak akan ada jeda, tapi tusukan akan terus berlanjut.

Sang pemimpin Kremlin, usai “menyatukan rakyat di bawah panji revanchisme, hari ini tampil sebagai Mesias”, kata Pastukhov. Banyak pihak yang menentangnya kini tidak, dan mereka akan mendukung apa yang dia lakukan meskipun sebelumnya mereka menolak hal yang sama persis. Tidak akan ada unjuk rasa massa “dalam atmosfer kekinian”.

“Tentu saja, setiap hari raya cepat atau lambat pasti berakhir. Tapi senantiasa mungkin untuk menciptakan hari raya baru.” Terdapat etnis Rusia dan penutur bahasa Rusia di tempat lain, di Moldova, negara-negara Baltik, Belarusia, Kazakhstan dan “di banyak tempat lain pula”. Menjaga hasrat mesianisme tetap hidup hanyalah soal mengembangkan suatu isu.

Tapi ada satu tenaga lain yang juga sedang bekerja, kata sang cendekiawan Oxford. “Di samping nostalgia imperial, sejarah Rusia memiliki satu diferensial lain yang dapat kita lukiskan sebagai ‘tatanan kedua’, yang lebih kuat daripada tatanan pertama: perjuangan bangsa Rusia untuk keadilan sosial” secara lokal maupun universal.

Walau bisa dipakai untuk menjustifikasi imperialisme mesianik, “diferensial” ini dapat melambangkan ancaman terhadap rezim, yang meluncurkan kampanye tersebut, dengan mempertanyakan tiadanya keadilan sosial di dalam negeri. Perasaan-perasaan demikian adalah “tombol merah dalam jiwa Rusia”. Siapapun yang mampu menggapainya akan “menarik kursi dari bawah Putin”.

Itu karena “ide sejati Rusia bukanlah imperial; melainkan ide keadilan universal”, dan rasa keadilan orang Rusia telah dan sedang dilanggar oleh kebijakan Putin di dalam negeri. Singkat kata, “mesianisme sosial Rusia lebih kuat daripada mesianisme nasional Rusia”, sekalipun tidak terlihat demikian saat ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.