Kebungkaman Umat Hindu dan Kenaikan Negara Hindu

Oleh: Samar Halarnkar
12 Juni 2017
Sumber: Scroll dan Quartz India

Di Goa yang sejuk-segar, dari 14 s/d 15 Juni, 150 organisasi Hindu (saya tidak tahu ada sebanyak itu, tapi begitulah klaim mereka) akan bertemu untuk membahas bagaimana cita-cita bersama mereka dapat dicapai—menciptakan rashtra Hindu, negara Hindu, pada 2023. Artinya enam tahun lagi.

Negara milik siapa? (AP Photo/Ajit Solanki)
Negara milik siapa?
(AP Photo/Ajit Solanki)

Pada peralihan dasawarsa ini, gagasan-gagasan semacam itu menimbulkan cemoohan. Kendati 79,8% India adalah Hindu, negara ini tak pernah sungguh-sungguh mempertimbangkan untuk mendeklarasikan dirinya negara Hindu. Jika ini sekarang menjadi kemungkinan, berarti mayoritas umat Hindu sedang mempertimbangkan gagasan ini. Sulit dikatakan apakah betul demikian, tapi sulit pula mengatakan sebaliknya.

Ada sedikit keraguan bahwa apa yang dulu dianggap organisasi gila pinggiran—dan kepercayaan ekstrim pinggiran—sudah menjadi arus utama. Ini tidak berawal dari naik berkuasanya Narendra Modi pada 2014. Pemberdayaan kebencian khalayak dimulai, sudah saya tulis tahun lalu, setelah Masjid Babri diruntuhkan pada 1992. Alih-alih mengambil sikap, Kongres sering memperturutkan prasangka yang timbul—Hindutva lunak, istilah sebagian orang—memungkinkannya menjadi bagian dari pemikiran mayoritarian India. Akselerasi tajam terlihat jelas sejak Modi menjadi perdana menteri tiga tahun silam. Bukti paling dekat datang dari Uttar Pradesh, yang kelihatan semakin ekstrim dengan pelantikan Adityanath—seorang supremasis Hindu tak tahu malu yang punya catatan polisi lantaran menghasut kekerasan terhadap Muslim—sebagai ketua menteri pada bulan Maret.

“Terpilihnya Adityanath, pendukung kuat rashtra Hindu, dengan suara mayoritas menunjukkan bahwa masyarakat menghendaki rashtra Hindu di India,” tutur Uday Dhuri, juru bicara Hindu Janajagruti Samiti, kepada Hindustan Times menjelang rapat tertutup Goa. Agenda Samiti, yang dapat diakses di situsnya, adalah contoh bagus prioritas-prioritas rashtra Hindu, seandainya itu terwujud.

Beberapa isu: bagaimana menciptakan “kebangunan” dharma (kewajiban), yang meliputi pelajaran-pelajaran tentang cara beribadah, berpakaian, menyisir rambut “sesuai budaya Hindu” dan “kesia-siaan demokrasi Bharatiya”; bagaimana menghadang “jihad asmara”, gagasan bahwa pria Muslim ingin menikahi dan memurtadkan wanita Hindu sebagai bagian dari konspirasi untuk mengislamkan India; pemurtadan oleh umat Kristen dan tindakan lain oleh sekte-sekte “anti-Hindu”; bagaimana mempertahankan diri—“pelatih” tersedia—dengan tongkat, katapel, nunchaku (penyebutan alat yang lebih mematikan mungkin dapat mengundang perhatian tak diinginkan, tapi para anggota organisasi saudara Samiti, Sanatan Sanstha yang samar, telah mencoba-coba improved explosive device, dan pemerintahan Maharashtra berusaha melarangnya pada 2016); bagaimana menentang “simbol-simbol perbudakan”, mulai dari usaha menghentikan [perayaan] Hari Valentine hingga mengubah nama beberapa kota, seperti Aurangabad dan Osmanabad; bagaimana melindungi kuil-kuil, dan tentu saja sapi.

Diterima Lebih Luas

Semua ini tidak luar biasa, dan tak lagi mudah menertawakan kepercayaan-kepercayaan demikian sebagai fantasi pinggiran. Luar biasa, betapa banyak dalam arus utama politik dan pemerintahan India kini terlihat setuju dengan ide-ide paling gila. Sewaktu saya menulis ini, hakim Sivasankara Rao dari pengadilan tinggi Hyderabad menyatakan sapi adalah “pengganti ibu dan Tuhan”. Pekan lalu, rekan sejawatnya, hakim Mahesh Chandra Sharma dari pengadilan tinggi Rajasthan, dalam mengusulkan agar pemerintah menyatakan sapi sebagai hewan nasional India, berkata bahwa lenguhan sapi menghancurkan kuman, tahinya menghancurkan kuman kolera, dan tanduknya mendapatkan energi kosmik—dan kemudian menguraikan panjang-lebar selibasi burung merak. “Tak ada kejahatan yang lebih keji daripada pembunuhan sapi,” kata Sharma, mengabaikan, sebagaimana mayoritas apologis Hindu, eksekusi jalanan barbar oleh gerombolan Hindu. Juga, pekan lalu, seorang menteri Rajasthan bicara tentang “sifat pengobatan ajaib” dari tahi, susu, dan air kencing sapi.

Pemikiran terasa ganjil ini menutupi perasaan-perasaan lebih gelap dan lebih tersebar luas, yang banyak darinya dipegang erat oleh arus utama Hindu. Tak ada bukti untuk menopang ini, tapi tampaknya terdapat penerimaan lebih luas daripada sebelumnya terhadap ide ini di antara banyak teman, sesama Hindu, yang tak menunjukkan bukti kefanatikan tapi pikirannya terlihat siap dibentuk. Sebagaimana kata sebuah karakter dalam pertunjukan Broadway (Wizard of Oz, yang menjelaskan cengkeramannya atas masyarakat baik kota Emerald) baru-baru ini: masyarakat mempercayai dusta-dusta yang ingin mereka percayai.

Obrolan-obrolan yang bermula dari pandangan ekstrim terbaru seorang menteri, hakim, atau pejabat—satu contoh lain dari pekan lalu adalah perintah kepala kepolisian Uttar Pradesh untuk memakai UU Keamanan Nasional, yang disiapkan untuk teroris, terhadap orang-orang yang membunuh atau memperjual-belikan sapi—entah bagaimana menemukan jalannya ke pertanyaan ini: tapi coba katakan, apa yang salah dengan rashtra Hindu? Lagipula bukankah kita bangsa Hindu?

Saat saya tunjukkan peristiwa-peristiwa keji dan meresahkan yang mengiringi pembangunan rashtra Hindu, pembunuhan Muslim dan Dalit yang dicurigai mengangkut atau memakan ternak, inilah tanggapan yang agak membingungkan: saya tidak nonton berita. Padahal mereka nonton berita. Mereka membaca cuitan, postingan Facebook, dan tembusan WhatsApp—banyak yang bernada kebencian dan palsu—mempercayai apa yang mereka inginkan, mencampakkan artikel-artikel yang tidak pas dengan puzzle negara Hindu yang sedang terbentuk dalam pikiran mereka.

Tak Boleh Diremehkan

Bila lain kali seseorang tetap bungkam saat ada banyolan tentang merak selibat dan sapi ilahi, Anda akan tahu apa yang mungkin sedang mereka pikirkan. Tentu tak ada cara untuk mengetahui apakah mayoritas orang India betul-betul mendukung rashtra Hindu. Modi dipilih karena para pemilih menghendaki perubahan, dan mereka percaya pada pesan perubahannya. Berapa banyak yang kini terbebas dari ilusi? Berapa banyak, sepanjang perjalanan, yang siap menukar harapan ekonomi yang kian berkurang dengan kebangkitan agama Hindu? Berapa banyak yang bersedia menerima sebuah kuil di Ayodhya dan deklarasi India sebagai negara Hindu? Kita tak tahu persis, dan kita tidak akan tahu sampai pemilu berikutnya pada 2019.

Pada masa segregasi rasial di AS, ketika mayoritas kulit putih tak mau tahu apa yang menimpa minoritas kulit hitam, Martin Luther King Jr berkata: “Sejarah akan mencatat bahwa tragedi terbesar dari masa transisi sosial ini bukanlah kebisingan lengking orang-orang jahat, tapi kebungkaman ngeri orang-orang baik.” Ini kita tahu—kebungkaman di antara orang-orang baik India sedang tumbuh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.