Kemunculan Peradaban di Lembah Indus dan Kenaikan Hinduisme dan Buddhisme

Oleh: Matthew A. McIntosh
20 Januari 2017
Sumber: Brewminate

Galian reruntuhan Mohenjo-daro, dengan Pemandian Besar di latar depan dan Stupa Buddhis di latar belakang di Sindh, Pakistan. (Foto oleh Saqib Qayyum, Wikimedia Commons)
Galian reruntuhan Mohenjo-daro, dengan Pemandian Besar di latar depan dan Stupa Buddhis di latar belakang di Sindh, Pakistan.
(Foto oleh Saqib Qayyum, Wikimedia Commons)

Pendahuluan

Koeksistensi damai antara beranekaragam kelompok etnis, agama, dan bahasa telah menjadi ciri khas budaya-budaya Asia Selatan secara historis. Atas alasan ini, banyak pihak menyebut kawasan tersebut sebagai “mangkok salad” budaya: gado-gado suku, keyakinan, dan perilaku yang berlainan.

Koin dari periode Gupta di India mencerminkan masyarakat dan keyakinan di era tersebut. Koin ini memperlihatkan para penguasa, dewa dan dewi, dan simbol. Berat dan komposisinya bahkan memberi bukti adanya perdagangan dengan peradaban-peradaban kuno lain.
Koin dari periode Gupta di India mencerminkan masyarakat dan keyakinan di era tersebut. Koin ini memperlihatkan para penguasa, dewa dan dewi, dan simbol. Berat dan komposisinya bahkan memberi bukti adanya perdagangan dengan peradaban-peradaban kuno lain.

Di Asia Selatan—yang meliputi tanah negara-negara modern India, Pakistan, Bangladesh, Bhutan, Nepal, dan Sri Lanka—perbedaan penuh warna terlihat nyata dan bahkan dirayakan.

Ketika India menabrak Asia 50 juta tahun lampau, benturannya menciptakan Pegunungan Himalaya dan menjadikan India anak benua.
Ketika India menabrak Asia 50 juta tahun lampau, benturannya menciptakan Pegunungan Himalaya dan menjadikan India anak benua.

Di bawah lapis-lapis kebhinnekaan terdapat inti kokoh tradisi Asia Selatan. Tradisi-tradisi telah bertahan lebih dari 5.000 tahun—sejak peradaban India terawal hingga hari ini.

Peradaban Lembah Indus bermula dari sekitar 3.000 SM. Bukti arkeologis dari periode ini menjadi contoh bukti bahwa banyak aspek budaya Asia Selatan bertahan melewati zaman yang berganti-ganti.

Sisa-sisa rumah pemandian kuno dan sistem sanitasi canggih menunjukkan sejarah panjang budaya Asia Selatan—kekaguman pada kesucian dan kebersihan, dan kebencian pada semua hal yang tercemar. Patung-patung kuno yang melambangkan dewa Shiwa adalah bukti bahwa tradisi keagamaan Asia Selatan modern juga sudah ada selama bermilenium-milenium.

Jiwa Asia Selatan

Untuk memahami sejarah dan budaya Asia Selatan kuno, penting sekali mempertimbangkan perkembangan Hinduisme dan Buddhisme. Dua agama ini mencakup lebih dari sekadar spiritualitas. Mereka menjadi darah kehidupan masyarakat dan tulang punggung struktur sosial, politik, dan ekonomi. Agama-agama ini merembesi segala aspek kehidupan dan membentuk evolusi kawasan.

Orang India kuno membangun monumen keagamaan yang dipersembahkan untuk banyak kepercayaan. Banyak monumen dikunjungi peziarah hari ini, contohnya kuil Buddha di Nalanda ini.
Orang India kuno membangun monumen keagamaan yang dipersembahkan untuk banyak kepercayaan. Banyak monumen dikunjungi peziarah hari ini, contohnya kuil Buddha di Nalanda ini.

Sebagian menyebut Hinduisme “jiwa India”. Salah satu perkembangan paling kuat dan berpengaruh dari Hinduisme kuno adalah institusi sistem kasta. Sistem kasta menjadi terlebur jauh ke dalam tradisi India dan menciptakan kerangka status sosial warisan yang bertahan lama.

Buddhisme muncul sebagai penolakan terhadap ketidakadilan akibat sistem kasta yang disahkan oleh Hinduisme. Itu adalah respon terhadap ketidakpuasan dan pencarian jawaban baru bagi pertanyaan-pertanyaan misterius dan rumit yang mendefinisikan pengalaman manusia.

Struktur-struktur kekuasaan terorganisir timbul dari konflik ini dan dari kebingungan yang mengiringi pertumbuhan agama-agama baru dan penantangan struktur sosial. Struktur-struktur kekuasaan ini berujung pada pembentukan sistem negara dan bahkan memicu perkembangan kekaisaran-kekaisaran besar.

Tak banyak kawasan di dunia memiliki sejarah sekuno dan sebhinneka Asia Selatan. Dan tak banyak orang menyadari bahwa akar Asia Selatan dapat ditelusuri sampai ke awal-mula peradaban manusia. Ditandai dengan integrasi, intelektualisme, dan spiritualitas, sejarah kuno Asia Selatan meminta untuk dijelajahi.

Peradaban Awal di Lembah Indus

Frasa “peradaban awal” biasanya membangkitkan gambaran Mesir dan Mesopotamia, beserta piramida, mumi, dan makam emas mereka.

Bangsa Arya barangkali menggunakan Celah Khyber untuk menyeberangi pegunungan dalam invasi India mereka. Terletak di Pakistan modern, celah ini selebar kira-kira 16 yard di titik tersempitnya.
Bangsa Arya barangkali menggunakan Celah Khyber untuk menyeberangi pegunungan dalam invasi India mereka. Terletak di Pakistan modern, celah ini selebar kira-kira 16 yard di titik tersempitnya.

Tapi pada 1920-an, sebuah penemuan besar di Asia Selatan membuktikan Mesir dan Mesopotamia bukan satu-satunya “peradaban awal”. Di dataran luas Sungai Indus (terletak di wilayah modern Pakistan dan India barat), di bawah lapisan tanah dan gundukan lumpur, para arkeolog menemukan sisa-sisa kota berusia 4.600 tahun. Sebuah peradaban urban dan subur eksis pada waktu yang sama dengan negara-negara Mesir dan Mesopotamia—di sebuah lahan dua kali lebih luas dari ukuran mereka.

Masyarakat peradaban Lembah Indus ini tidak membangun monumen raksasa seperti rekan-rekan sezaman mereka, tidak pula mengubur kekayaan di antara jasad-jasad di dalam makam emas. Tak ada mumi, tak ada kaisar, dan tak ada perang keras atau pertempuran berdarah di teritori mereka.

Luar biasanya, ketiadaan semua inilah yang membuat peradaban Lembah Indus begitu asyik dan unik. Sementara peradaban-peradaban lain mencurahkan banyak waktu dan sumber daya pada kaum kaya, kaum gaib, dan kaum mati, para penghuni Lembah Indus mengambil pendekatan praktis dalam menafkahi orang-orang jelata, duniawi, hidup. Tentu, mereka percaya akhirat dan mempergunakan sistem pembagian masyarakat. Tapi mereka juga percaya sumber daya lebih berharga bila beredar di antara orang hidup daripada dipamerkan di bawah tanah yang tertimbun.

“Pemandian Besar” Mohenjo-Daro adalah tangki air umum paling awal dari dunia kuno. Sebagian besar cendekiawan percaya tangki ini dipakai bersama dengan upacara keagamaan. (Hak cipta J.M. Kenoyer)
“Pemandian Besar” Mohenjo-Daro adalah tangki air umum paling awal dari dunia kuno. Sebagian besar cendekiawan percaya tangki ini dipakai bersama dengan upacara keagamaan.
(Hak cipta J.M. Kenoyer)

Hebatnya, peradaban Lembah Indus terlihat seperti peradaban damai. Sedikit sekali senjata yang ditemukan dan tak didapat bukti adanya tentara.

Tulang-belulang manusia hasil galian tidak mengungkap tanda-tanda kekerasan, dan puing-puing bangunan tidak menunjukkan indikasi pertempuran. Semua bukti menunjuk pada preferensi perdamaian dan keberhasilan dalam mencapainya.

Jadi bagaimana peradaban sepraktis dan sedamai itu menjadi begitu sukses?

Kota-kota Kembar

Reruntuhan dua kota kuno, Harappa dan Mohenjo-Daro (keduanya di Pakistan modern), dan sisa-sisa banyak permukiman lain, mengungkap petunjuk hebat menuju misteri ini. Bahkan Harappa merupakan penemuan sedemikian kaya sampai-sampai Peradaban Lembah Indus dinamakan juga peradaban Harappa.

Segel-segel semacam ini dipakai oleh para pedagang di peradaban Harappa. Banyak pakar percaya ini menandakan nama. (Courtesy foto: Carolyn Brown Heinz)
Segel-segel semacam ini dipakai oleh para pedagang di peradaban Harappa. Banyak pakar percaya ini menandakan nama.
(Courtesy foto: Carolyn Brown Heinz)

Artefak pertama yang ditemukan di Harappa adalah sebuah segel batu unik berukiran unicorn dan prasasti. Sejak saat itu segel-segel serupa dengan lambang binatang dan tulisan berbeda telah ditemukan di seluruh kawasan. Kendati tulisannya belum diurai, bukti menunjukkan mereka berasal dari sistem bahasa yang sama. Rupanya, sistem tulisan paku milik Mesopotamia punya saingan dalam perlombaan menjadi sistem penulisan pertama di dunia.

Penemuan segel-segel ini mendorong arkeolog untuk menggali lebih lanjut. Arsitektur urban yang hebat segera ditemukan di seluruh lembah dan masuk ke dataran barat. Temuan-temuan menunjukkan dengan jelas bahwa komunitas-komunitas Harappa terorganisir rapi dan sangat bersih.

Salinan <em>Rig Weda</em> ini ditulis setelah Zaman Weda. Bangsa Arya tidak punya bentuk tulisan pada waktu menginvasi India. Alih-alih, naskah-naskah keagamaan ini dihafal dan diwariskan secara lisan oleh para pendeta Brahma.
Salinan Rig Weda ini ditulis setelah Zaman Weda. Bangsa Arya tidak punya bentuk tulisan pada waktu menginvasi India. Alih-alih, naskah-naskah keagamaan ini dihafal dan diwariskan secara lisan oleh para pendeta Brahma.

Untuk perlindungan dari banjir musiman dan air tercemar, permukiman dibangun di atas landasan raksasa dan tanah yang ditinggikan. Pada fondasi-fondasi ini, jaringan jalan raya diletakkan dalam pola apik garis lurus dan sudut siku-siku. Bangunan-bangunan sepanjang jalan dikonstruksi dari bata yang berukuran seragam.

Rumah-rumah bata milik semua penduduk kota dilengkapi area pemandian yang dipasok dengan air dari sumur-sumur setempat. Sistem drainase canggih di seantero kota membawa air kotor dan comberan keluar dari ruang hidup (living space). Bahkan rumah-rumah paling kecil di pinggiran kota tersambung dengan sistem ini—kebersihan jelas-jelas dianggap sangat penting.

Kejatuhan Budaya Harappa

Tak diragukan, kota-kota ini adalah mahakarya teknik di masa mereka. Puing-puing tembok memberi petunjuk tentang budaya yang tumbuh subur di Lembah Indus. Arca tanah liat para dewi, contohnya, adalah bukti bahwa agama sangat penting. Mainan dan permainan menunjukkan bahwa di tahun 3000 SM pun anak-anak—dan mungkin orang dewasa—suka bermain. Tembikar, tekstil, manik-manik adalah bukti kerajinan terampil dan suburnya perdagangan.

Swastika adalah simbol sakral bagi bangsa Arya yang menandakan kemakmuran. Kata ini berasal dari bahasa Sanskerta untuk “nasib baik”. Hitler meminjam simbol ini, mengubah sudut dan arah tangkai-tangkai, dan memakainya untuk melambangkan Nazi.
Swastika adalah simbol sakral bagi bangsa Arya yang menandakan kemakmuran. Kata ini berasal dari bahasa Sanskerta untuk “nasib baik”. Hitler meminjam simbol ini, mengubah sudut dan arah tangkai-tangkai, dan memakainya untuk melambangkan Nazi.

Kecintaan kuat pada kerajinan dan perdagangan inilah yang memperkenankan budaya Harappa menyebar luas dan menjadi sangat makmur. Setiap kali barang-barang diperdagangkan atau para tetangga memasuki gerbang kota untuk melakukan barter, budaya Indus tersebar.

Tapi akhirnya, sekitar tahun 1900 SM, kemakmuran ini berakhir. Jaringan budaya terpadu runtuh, dan peradaban terpecah menjadi budaya-budaya kedaerahan kecil. Perdagangan, penulisan, dan segel nyaris menghilang dari area tersebut.

Banyak pihak percaya kejatuhan peradaban Harappa adalah akibat invasi Arya dari utara. Teori ini terasa logis karena bangsa Arya naik berkuasa di Lembah Gangga tak lama setelah kematian Peradaban Lembah Indus. Tapi karena tak banyak bukti adanya suatu jenis invasi, banyak sejarawan mengklaim bencana lingkunganlah yang mengakibatkan kematian peradaban tersebut. Mereka berargumen perubahan pola sungai telah mengacaukan sistem pertanian dan perdagangan dan akhirnya berakibat banjir yang tak bisa diperbaiki.

Kendati tetek-bengek budaya awal Lembah Indus takkan pernah diketahui sepenuhnya, banyak kepingan puzzle kuno telah ditemukan. Puing kota-kota Lembah Indus terus ditemukan dan ditafsirkan hari ini. Bersama seiap artefak baru, sejarah peradaban awal India diperkuat dan warisan metropolis ulung dan bhinneka ini diperkaya.

Sistem Kasta

Jika orang Hindu diminta menjelaskan hakikat sistem kasta, dia mungkin akan mulai menceritakan Brahma—dewa berkepala empat bertangan empat yang disembah sebagai pencipta alam semesta.

10. Gadis-gadis anggota kasta Paria
Gadis-gadis ini, anggota kasta Paria, membuat pastel kotoran hewan yang digunakan untuk bahan bakar dan panas oleh anggota semua kasta. Pekerjaan ini dianggap begitu kotor sampai-sampai kasta-kasta lain tidak bergaul dengan anggota masyarakat yang menjalankannya.
(Courtesy foto Carolyn Brown Heinz)

Menurut sebuah teks kuno yang dikenal sebagai Rigweda, pembagian masyarakat India didasarkan pada manifestasi ilahi Brahma ke dalam empat kelompok.

Pendeta dan guru keluar dari mulutnya, penguasa dan ksatria keluar dari lengannya, saudagar dan pedagang keluar dari pahanya, dan pekerja dan petani keluar dari kakinya.

Apa arti “Kasta”?

Hari ini pun, kebanyakan bahasa-bahasa India memakai istilah “jati” untuk sistem struktur kemasyarakatan turun-temurun di Asia Selatan. Ketika para penjelajah Portugis di India abad 16 pertama kali menjumpai apa yang terlihat sebagai stratifikasi sosial berdasar ras, mereka menggunakan istilah Portugis “casta”—yang berarti “ras”—untuk mendeskripsikan apa yang mereka lihat. Hari ini, istilah “kasta” dipakai untuk mendeskripsikan masyarakat berstrata atas dasar kelompok turun-temurun bukan hanya di Asia Selatan tapi di seluruh dunia.

Walaupun terlahir ke dalam kasta Kshatriya, Mahatma Gandhi menghabiskan banyak hidupnya untuk membawa kesetaraan bagi kasta Paria. Gandhi-lah yang pertama kali menamai kaum Paria “Harijan”, bermakna “anak-anak Tuhan”.
Walaupun terlahir ke dalam kasta Kshatriya, Mahatma Gandhi menghabiskan banyak hidupnya untuk membawa kesetaraan bagi kasta Paria. Gandhi-lah yang pertama kali menamai kaum Paria “Harijan”, bermakna “anak-anak Tuhan”.

Yang lain mungkin mengemukakan penjelasan biologis atas sistem stratifikasi India, berdasarkan pemikiran bahwa semua makhluk hidup mewarisi seperangkat kualitas tertentu. Sebagian mewarisi kebijaksanaan dan kecerdasan, sebagian mendapat kebanggaan dan semangat, dan yang lain terjebak dengan ciri-ciri yang kurang mujur. Para pendukung teori ini mengaitkan semua aspek gaya hidup seseorang—status sosial, pekerjaan, dan bahkan menu makan—dengan kualitas-kualitas inheren tersebut dan karenanya memakai semua kualitas itu untuk menjelaskan fondasi sistem kasta.

Asal-muasal Sistem Kasta

Menurut teori yang lama dipegang mengenai asal-usul sistem kasta Asia Selatan, bangsa Arya dari Asia tengah menginvasi Asia Selatan dan memperkenalkan sistem kasta sebagai alat mengendalikan penduduk setempat. Bangsa Arya menetapkan peran-peran kunci di masyarakat, lalu menunjuk kelompok-kelompok masyarakat untuk peran tersebut. Individu terlahir, bekerja, menikah, makan, dan mati di dalam kelompok-kelompok ini. Tidak ada mobilitas sosial.

Imigran India ini masih sadar akan warisan Brahma-nya. Di sini dia terlihat berdiri di depan sebuah altar di rumahnya di Amerika Serikat.
Imigran India ini masih sadar akan warisan Brahma-nya. Di sini dia terlihat berdiri di depan sebuah altar di rumahnya di Amerika Serikat.

Mitos Arya

Ide kelompok bangsa “Arya” tidak diusulkan sampai abad 19. Usai mengidentifikasi sebuah bahasa bernama Arya yang darinya bahasa-bahasa Indo-Eropa turun, beberapa ahli bahasa asal Eropa mengklaim para penutur bahasa ini (dinamai bangsa Arya oleh para ahli bahasa tersebut) datang dari utara—dari Eropa.

Jadi, menurut teori ini, bahasa-bahasa dan budaya-budaya Eropa datang pertama kali dan karenanya lebih unggul daripada yang lain. Ide ini kemudian dipromosikan secara luas oleh Adolf Hitler dalam upayanya menegaskan “keunggulan rasial” bangsa berkulit terang dari Eropa atas bangsa berkulit gelap dari seluruh dunia—dan dengan begitu menyediakan justifikasi untuk genosida.

Tapi pengetahuan abad 20 menyangkal habis teori ini. Kebanyakan cendekiawan percaya tidak ada invasi Arya dari utara. Bahkan sebagian percaya bahwa bangsa Arya—jika memang eksis—sebetulnya berasal dari Asia Selatan dan menyebar dari sana ke Eropa. Tanpa memperhatikan siapa bangsa Arya atau di mana mereka tinggal, secara umum disepakati bahwa mereka tidak sendirian menciptakan sistem kasta Asia Selatan.

Jadi mustahil menentukan asal-usul persis sistem kasta di Asia Selatan. Di tengah perdebatan, cuma satu hal yang pasti: sistem kasta Asia Selatan telah ada selama beberapa milenium dan, sampai paruh kedua abad 20, tak banyak berubah selama masa itu.

Waktu Untuk Kelas

Di India kuno, kelompok-kelompok pekerjaan berperingkat disebut sebagai varna, dan kelompok-kelompok pekerjaan turun-temurun di dalam varna dikenal sebagai jati. Banyak pihak langsung berasumsi bahwa kelompok-kelompok sosial dan aturan yang melarang pernikahan lintas kelompok menandakan adanya budaya rasis. Tapi asumsi ini keliru. Varna bukanlah kelompok ras, tapi lebih tepatnya kelas.

Empat kategori varna disusun untuk menata masyarakat berdasarkan ekonomi dan pekerjaan. Pemimpin dan guru spiritual disebut Brahmin. Ksatria dan ningrat disebut Kshatriya. Saudagar dan produsen disebut Vaishya. Buruh disebut Sudra.

Paria

Selain varna, terdapat kelas kelima dalam Hinduisme. Itu mencakup orang-orang buangan yang, secara harfiah, melakukan semua pekerjaan kotor. Mereka disebut sebagai “untouchable” (“paria”) karena menjalankan tugas-tugas hina yang dikaitkan dengan penyakit dan polusi, seperti bersih-bersih setelah penguburan, mengurusi comberan, dan menangani kulit binatang.

Brahmin dianggap perwujudan kemurnian, dan paria dianggap perwujudan pencemaran. Kontak fisik antara kedua kelompok dilarang mutlak. Brahmin berpegang kuat pada aturan ini sampai-sampai mereka merasa wajib untuk mandi jika sekadar bayangan seorang paria menimpa mereka.

Berjuang Melawan Tradisi

Kendati kekuatan politik dan sosial sistem kasta belum hilang sama sekali, pemerintah India telah resmi melarang diskriminasi kasta dan menyebarluaskan reformasi. Terutama berkat upaya-upaya nasionalis India semisal Mohandas Gandhi, aturan yang mencegah mobilitas sosial dan pergaulan lintas kasta sudah longgar.

Gandhi menamai ulang orang-orang paria sebagai Harijan, yang bermakna ”sanak-saudara Tuhan”. Diadopsi pada 1949, Konstitusi India menjadi kerangka hukum untuk emansipasi kaum paria dan untuk kesetaraan semua warga.

Pada tahun-tahun belakangan Paria telah menjadi kelompok politik aktif dan memungut nama Dalit, bermakna “orang-orang yang patah”.

Kenaikan Hinduisme

Dharma. Karma. Reinkarnasi.

Brahma. Shiwa. Wishnu.

Tak banyak hal tetap bertahan tanpa interupsi atau perubahan besar selama lebih dari 5.000 tahun. Tradisi Hindu seperti disebut di atas adalah pengecualian besar. Bisa dibilang, Hinduisme merupakan agama tertua di Bumi.

Masing-masing dari tiga dewa utama Hindu melambangkan sebuah bagian dari siklus kehidupan: Brahma sang pencipta, Wisnu sang pemelihara, dan Siwa sang pemusnah. Setelah pemusnahan, kaum Hindu percaya bahwa siklus penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan berawal lagi.
Masing-masing dari tiga dewa utama Hindu melambangkan sebuah bagian dari siklus kehidupan: Brahma sang pencipta, Wisnu sang pemelihara, dan Siwa sang pemusnah. Setelah pemusnahan, kaum Hindu percaya bahwa siklus penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan berawal lagi.

Untuk memahami bagaimana Hinduisme tahan ujian waktu, penting sekali mengetahui prinsip-prinsip dasarnya. Dan untuk memahami prinsip-prinsip ini, perlu sekali mengetahui fondasi bersejarah mereka.

Para arkeolog telah menentukan bahwa peradaban-peradaban maju tumbuh subur di seluruh Lembah Indus antara 4000 sampai 1500 SM. Tapi untuk alasan yang masih tak diketahui, penghuni lembah tersebut tampaknya pindah tiba-tiba. Mereka bermukim ulang di antara tetangga-tetangga baru di India baratlaut dan menjumpai sekelompok bangsa dari Asia tengah yang membawa etika ksatria dan sebuah agama bernama Vedisme.

Di dalam reruntuhan peradaban kuno Lembah Indus, arkeolog menemukan banyak artefak Hinduisme modern yang tak ditemukan di peradaban Vedik manapun. Mereka mencakup patung dan jimat para dewa dan dewi, tangki candi besar untuk pemandian, dan patung orang-orang dalam posisi yoga.

Berdasarkan bukti ini, sepertinya saat bangsa dari Asia tengah bermukim di India, keyakinan Vedik mereka berbaur dengan kepercayaan bangsa pribumi India. Jadi, kemungkinan besar tradisi Lembah Indus dan dewa-dewa dan kepercayaan Vedik bergabung membentuk fondasi Hinduisme.

Terdapat trinitas untuk dewi-dewi Hindu sebagaimana untuk dewa-dewanya. Laxmi, dewi kedua dalam trinitas (diperlihatkan di atas), adalah dewi kekayaan. Merupakan isteri Wisnu, dia berinkarnasi di bumi sebagai isteri masing-masing awatara Wisnu, menjadi contoh pengabdian seorang isteri Hindu.
Terdapat trinitas untuk dewi-dewi Hindu sebagaimana untuk dewa-dewanya. Laxmi, dewi kedua dalam trinitas (diperlihatkan di atas), adalah dewi kekayaan. Merupakan isteri Wisnu, dia berinkarnasi di bumi sebagai isteri masing-masing awatara Wisnu, menjadi contoh pengabdian seorang isteri Hindu.

Satu Iman, Banyak Jalan

Hinduisme berdiri terpisah dari semua agama lain untuk beberapa alasan. Ia tak memiliki pendiri tunggal, tak memiliki kitab hukum teologis dan kebenaran tunggal, tak memiliki organisasi keagamaan pusat, dan tak memiliki definisi awal dan akhir yang mutlak.

Hinduisme adalah moral kehidupan—sekumpulan sikap, pengalaman pribadi, dan praktek spiritual. Ia, intinya, didefinisikan oleh perilaku ketimbang kepercayaan.

Menurut filosofi Hindu, ada satu realitas ilahi, dan semua agama hanyalah beranekaragam penafsiran atasnya. Oleh sebab itu, Hinduisme memperbolehkan dan bahkan mendorong individu untuk memilih jalan agama yang paling cocok dengan kebutuhan sosial, intelektual, emosional, dan spiritualnya.

Satu pemuja Hindu boleh jadi menyembah dewa-dewa terkenal seperti Wisnu dan Siwa di sebuah kuil umum besar, sedangkan satu pemuja lain boleh jadi menyembah dewa-dewa kurang lazim di kuil pribadi di dalam rumahnya sendiri. Tapi mereka berdua akan dianggap pemeluk Hindu yang baik, asalkan mereka saling menghormati pilihan masing-masing.

Toleransi ini membuat Hinduisme sulit dimengerti dan didefinisikan, tapi itu menjelaskan kenapa begitu banyak dewa, dewi, dan ritual dilukiskan dalam banyak kitab Hindu.

Weda dan Upanisad

Terlepas dari fakta bahwa pemeluk Hindu khasnya mempercayai dan melakukan hal-hal berbeda, beberapa konsep dan tradisi mengikat mereka. Banyak dari kepercayaan-kepercayaan ini dihimpun dalam sekumpulan kitab yang ditulis sekitar tahun 1300 SM, dikenal sebagai Weda. Diyakini bahwa kitab-kitab Weda adalah kebenaran abadi yang didengar, lalu ditulis oleh para pelihat suci (holy seer).

<em>Ramayana</em>, epik klasik dalam agama Hindu, mengisahkan Rama dan awatara (inkarnasi) Wisnu yang ke-7. Gambar ini memperlihatkan Rama sedang mematahkan busur panah Siwa, memenangkan kontes dan berikut pula isteri Wisnu, Sita, untuk dinikahi.
Ramayana, epik klasik dalam agama Hindu, mengisahkan Rama dan awatara (inkarnasi) Wisnu yang ke-7. Gambar ini memperlihatkan Rama sedang mematahkan busur panah Siwa, memenangkan kontes dan berikut pula isteri Wisnu, Sita, untuk dinikahi.

Menurut kitab-kitab Weda, waktu dan kehidupan bersifat siklis. Pasca kematian, jiwa seseorang meninggalkan raga dan terlahir kembali, atau bereinkarnasi, ke dalam wujud baru.

Siklus konstan kelahiran dan kelahiran kembali dikenal sebagai samsara dan ukuran kualitas kelahiran baru dikenal sebagai karma. Karma, akumulasi buah perbuatan seseorang dalam berbagai kehidupan, bisa baik atau buruk. Tingkah laku yang berbudi dan bermoral, dikenal sebagai dharma, adalah jalan menuju karma baik.

Contoh-contoh tingkah laku baik dan tradisional adalah menikah dalam satu kasta, mentakzimkan kasta lebih tinggi, melakukan amal baik, dan berpantang dari daging, terutama daging sapi.

Tulisan-tulisan yang dikenal sebagai Upanisad muncul 600 sampai 800 tahun setelah Weda dan kebanyakan fokus pada bagaimana melepaskan diri dari siklus kelahiran kembali. Upanisad menjelaskan cara meninggalkan Samsara melalui pembebasan dan pencerahan puncak yang dikenal sebagai moksha. Kemunculan Upanisad menandai dimulainya periode yang dikenal sebagai Zaman Wedantik.

Akhir Weda?

Secara harfiah, “Wedantik” berarti “akhir Weda”. Tapi kepercayaan-kepercayaan Weda tak pernah betul-betul menghilang. Dewa-dewa tradisi Weda menjadi kurang lazim disembah, tapi filosofi Weda yang terekam dalam kitab-kitab tentunya tak dilupakan. Prinsip karma dan dharma terlalu populer (terutama di antara anggota kasta-kasta rendah) untuk memudar begitu saja.

Para cendekiawan terus berdebat tentang permulaan Hinduisme, tapi mayoritas sepakat bahwa pada Zaman Wedantik (antara 800 s/d 400 SM) terdapat pergeseran ke penyembahan dewa Wisnu dan Siwa yang tersebar luas. Mereka juga sepakat pergeseran ini bertepatan dengan munculnya agama-agama baru di India yang mencari pencerahan, seperti Buddhisme dan Jainisme.

Pada tahun-tahun selanjutnya, Hinduisme terpecah ke dalam banyak sekte. Tapi karena setia pada fondasi Hinduisme, kepercayaan dan praktek sekte-sekte baru ini diterima. Berkat toleransi demikian, Hinduisme tumbuh subur hari ini, bermilenium-milenium setelah ia lahir.

Kelahiran dan Penyebaran Buddhisme

Apa kedudukan umat manusia di alam semesta?

Selama bermilenium-milenium, orang-orang di seluruh dunia mengajukan pertanyaan ini. Di Asia Selatan abad 6, pertanyaan ini menimbulkan revolusi kecil.

Buddha menyampaikan khotbah pertamanya di Sarnath, diperlihatkan di atas. Dia percaya kebebasan dari hasrat membebaskan manusia dari siklus kelahiran kembali.
Buddha menyampaikan khotbah pertamanya di Sarnath, diperlihatkan di atas. Dia percaya kebebasan dari hasrat membebaskan manusia dari siklus kelahiran kembali.

Jawaban yang disediakan oleh ajaran dan praktek tradisional Hindu membuat para filsuf dan saga India semakin kecewa. Banyak anggota kelas Vaishya menentang ketidakadilan sistem kasta Hindu dan besarnya kekuasaan kelas pendeta, dikenal sebagai Brahmin.

Banyak pendeta Brahmin dianggap menyimpang lantaran melakukan pengorbanan binatang dan mempraktekkan ritual-ritual Weda lainnya. Kebencian terhadap ritual demikian dan amarah berkelanjutan terkait kekuasaan sosial yang timpang mendorong perkembangan ajaran intelektual dan filosofi baru. Ide-ide baru ini berpendapat bahwa beberapa aspek tradisi dan ritual Hindu mengandung kebaikan. Mereka tak pernah menantang langsung dewa-dewa atau kepercayaan Weda.

Tapi Siddharta Gautama menantang.

Buddha: Ilham Spiritual

Siddharta dilahirkan sekitar tahun 563 SM di kaki gunung Himalaya. Sebagai pangeran, dia hidup terlindungi di tengah kemewahan, kekayaan, dan kenyamanan. Tapi pada usia 29, Siddharta kabur dari istana dan menemukan sesuatu yang baru.

Untuk pertama kalinya dia melihat kemiskinan, kesengsaraan, dan penyakit. Di rumah, dia segera merasa tidak puas dengan kehidupan materialistiknya dan kondisi yang mengelilinginya. Sebagai respon terhadap emosi yang dipicu oleh pengalaman di luar istana, dia mendermakan semua barang kepunyaannya dan mencari pencerahan dengan meninggalkan kebutuhan dasar.

Siddharta mengawali pencarian dengan periode kelaparan. Menurut legenda, dia jadi begitu kurus selama masa ini sampai sampai bisa merasakan kedua tangannya [bersentuhan] jika salah satu ditaruh di bagian terbawah punggungnya dan satu lagi di perutnya. Metode-metode pengingkaran diri ini akhirnya membawanya kepada sebuah ilham.

Siddharta Gautama adalah pangeran di sebuah kerajaan dekat perbatasan modern India dan Nepal. Pasca pencerahannya, para pengikut mulai memanggilnya Buddha, yang berarti “Yang Tercerahkan”.
Siddharta Gautama adalah pangeran di sebuah kerajaan dekat perbatasan modern India dan Nepal. Pasca pencerahannya, para pengikut mulai memanggilnya Buddha, yang berarti “Yang Tercerahkan”.

Siddharta menemukan bahwa dia perlu mencari jalan lain—sesuatu di antara gaya hidup kaya dan miskinnya. Dia putuskan menempuh Jalan Tengah.

Siddharta mencari pencerahan lewat konsentrasi. Dia duduk di bawah sebatang pohon pipal, mengamalkan meditasi hebat, dan menyingkirkan semua godaan duniawi. Setelah 40 hari, dia mencapai tujuan puncak—nirwana.

Dia mulai memahami kehidupan-kehidupan terdahulunya dan akhirnya meraih pelepasan dari siklus penderitaan. Ketika mencapai pencerahan, dia jadi dikenal dengan gelar Buddha, atau “Yang Terbangunkan”.

Sang Buddha bermaksud membagi pengalamannya dan mengajari orang lain untuk menempuh Jalan Tengah. Dia bepergian ke seluruh India timurlaut selama beberapa dasawarsa, menyebarkan filosofinya kepada siapapun yang tertarik, tanpa peduli jenis kelamin atau kasta. Bahkan para Brahmin dan anggota kaum ningrat berpindah agama.

Buddha wafat pada 483 SM, setelah 45 tahun bepergian dan mengajar. Begitu mati, Buddha masuk ke dalam status nirwana, pelepasan tertinggi dari penderitaan di mana diri tak lagi eksis dan keselamatan tercapai. Termasuk dalam nafas terakhirnya adalah empat kata inspirasi: “Berjuang terus dengan keinsyafan”. Dan para pengikut mengamalkannya.

Buddhisme: Revolusi Spiritual

Komunitas kecil biarawan dan biarawati, dikenal sebagai bhikku, bermunculan sepanjang jalan yang Buddha lewati. Setia pada ajarannya, mereka berpakaian jubah kuning dan mengembara di pedalaman untuk bermeditasi dalam sunyi. Selama hampir 200 tahun, murid-murid sederhana ini dibayangi oleh penganut Hindu yang dominan. Tapi kenaikan sebuah kekaisaran besar mengubah semua itu.

Pada abad 3 SM, beberapa pemimpin ambisius membangun kekaisaran Maurya yang ekspansif dan banyak pertempuran berdarah dilancarkan guna memperluas perbatasannya. Seorang raja, bernama Ashoka, begitu terusik oleh efek penaklukan-penaklukan ini pada umat manusia hingga dia berpindah agama ke Buddhisme. Mengadopsi moral non-kekerasan, dia meninggalkan semua peperangan dan memasukkan prinsip-prinsip Buddhisme dalam praktek pemerintahannya.

Ashoka mempromosikan ekspansi Buddhisme dengan mengirim para biksu ke teritori sekitar untuk membagi ajaran Buddha. Gelombang perpindahan agama dimulai, dan Buddhisme menyebar bukan saja di India, tapi juga secara internasional. Sri Lanka, Myanmar, Nepal, Tibet, Asia tengah, China, dan Jepang hanyalah beberapa daerah di mana Jalan Tengah diterima luas.

Dengan penyebaran dahsyat Buddhisme, praktek dan filosofi tradisionalnya jadi terdefinisikan ulang dan berbeda-beda secara kedaerahan. Hanya minoritas kecil yang mengamalkan bentuk terawal Buddhisme, dan pengaruh Buddhisme secara keseluruhan mulai pudar di India. Sebagian cendekiawan percaya bahwa banyak praktek Buddhisme terserap ke dalam agama Hindu yang toleran.

Hari ini terdapat kurang-lebih 350 juta penganut Buddhisme di dunia.

Periode Gupta India

Periode Gupta India tidak dicirikan dengan kekayaan materil berlimpah atau kegiatan dagang luas.

Gua Ajanta dan Ellora dibuat pada Zaman Emas. Mereka dihiasi lukisan tokoh-tokoh agama; sebagian Hindu dan sebagian Buddhis.
Gua Ajanta dan Ellora dibuat pada Zaman Emas. Mereka dihiasi lukisan tokoh-tokoh agama; sebagian Hindu dan sebagian Buddhis.

Ia didefinisikan dengan kreativitas. Seni subur, sastra hebat, dan cendekiawan agung adalah beberapa hal yang menandai periode ini.

Pada 185 SM, kekaisaran Maurya runtuh ketika raja terakhir Maurya dibunuh. Sebagai gantinya, kerajaan-kerajaan kecil bermunculan di seantero India.

Selama hampir 500 tahun berbagai negara saling berperang. Di teritori utara, sebuah kerajaan baru muncul ketika penguasa bernama Chandragupta I naik takhta pada 320 M. Dia membangkitkan banyak prinsip pemerintahan Maurya dan melapangkan jalan bagi puteranya, Samudragupta, untuk mengembangkan kekaisaran luas.

Kemenangan Berapapun Harganya

Samudragupta adalah ksatria agung dan penaklukan merupakan hasratnya. Dia berusaha menyatukan seluruh India di bawah kekuasaannya dan segera mulai menggapai cita-cita ini dengan melancarkan perang di sebagian besar anak benua India.

Berharap belas-kasih, banyak calon korban menyodorkan upeti dan hadiah kepada Samudragupta selagi dia menyapu wilayah-wilayah. Tapi tak banyak belas-kasih diberikan. Satu demi satu, dia mengalahkan sembilan raja di utara dan dua belas raja di selatan. Selain kehancuran manusia, tak terhitung kuda dibantai untuk merayakan kemenangannya.

Teritori Gupta meluas begitu besar di bawah pemerintahan Samudragupta sampai-sampai dia kerap disamakan dengan para penakluk agung seperti Alexander Agung dan Napoleon. Tapi tentu saja dia tidak meraih kesuksesan militer seorang diri. Skuad lokal—yang masing-masing terdiri dari satu gajah, satu kereta tempur, tiga prajurit kavaleri bersenjata, dan lima prajurit pejalan kaki—melindungi desa-desa Gupta dari penyergapan dan pemberontakan. Di masa perang, skuad-skuad ini bergabung membentuk tentara kerajaan yang kuat.

Pencapaian Gupta

Tapi Samudragupta lebih dari sekadar pejuang; dia juga pecinta seni. koin berukiran dan pilar berpahatan dari masa pemerintahannya menjadi bukti bakat seni dan patronasenya. Dia menyiapkan jalan untuk kemunculan seni klasik, yang terjadi di bawah pemerintahan putera dan penggantinya, Chandragupta II.

Chandragupta II memberi dukungan hebat pada seni. Para seniman dihargai begitu tinggi di bawah pemerintahannya sampai-sampai mereka dibayar atas pekerjaan mereka—sebuah fenomena langka di peradaban-peradaban kuno. Mungkin berkat kompensasi keuangan inilah kemajuan sedemikian besar dihasilkan dalam sastra dan sains selama periode tersebut.

Universitas Nalanda didirikan pada Zaman Emas India. Pusat pembelajaran Buddhisme ini dibangun di tempat yang pernah didatangi Buddha beberapa kali, dan dilindungi oleh raja-raja Gupta.
Universitas Nalanda didirikan pada Zaman Emas India. Pusat pembelajaran Buddhisme ini dibangun di tempat yang pernah didatangi Buddha beberapa kali, dan dilindungi oleh raja-raja Gupta.

Banyak dari sastra yang dihasilkan selama dinasti Gupta berupa syair dan drama. Babad naratif, tulisan keagamaan dan meditasi, dan syair liris muncul memperkaya, mengedukasi, dan menghibur masyarakat. Esai-esai formal disusun, menyangkut topik-topik mulai dari tatabahasa dan pengobatan hingga matematika dan astronomi. Esai paling terkenal dari periode ini adalah Kamasutra, yang menyediakan aturan soal seni asmara dan pernikahan menurut hukum Hindu.

Dua cendekiawan paling terkenal dari era ini adalah Kalidasa dan Aryabhatta. Kalidasa, penulis terhebat kekaisaran, mengangkat seni drama ke level baru dengan mengisinya dengan humor dan heroisme epik. Aryabhatta, ilmuwan yang mendahului masanya, menyelisihi pendapat umum dan mengusulkan bahwa bumi adalah bola berotasi, berabad-abad sebelum Columbus melakukan pelayaran masyhurnya. Aryabhatta juga mengkalkulasi panjang tahun matahari sebanyak 365, 358 hari—cuma lebih tiga jam dari angka yang dikalkulasi oleh ilmuwan modern.

Di samping pencapaian keilmuan ini, arsitektur megah, patung, dan lukisan juga berkembang. Di antara lukisan-lukisan terhebat dari periode ini adalah yang ditemukan pada tembok Gua Ajanta di dataran India selatan. Lukisan itu menggambarkan berbagai kehidupan Buddha. Sebuah patung dewa Hindu Siwa setinggi 18 kaki juga ditemukan di dalam kuil batu dinasti Gupta dekat Bombay.

Inspirasi Abadi

Kendati para penguasa Gupta mempraktekkan ritual dan tradisi Hindu, berdasarkan temuan-temuan ini sangat jelas bahwa kekaisaran tersebut bercirikan kebebasan beragama. Bukti adanya universitas Buddhis di kawasan itu merupakan bukti lebih jauh akan koeksistensi damai antara umat Hindu dan umat Buddha.

Dinasti Gupta berkembang hebat di bawah Chandragupta II, tapi melemah pesat di bawah pemerintahan dua penggantinya. Gelombang invasi yang dilancarkan oleh bangsa Hun, sebuah kelompok nomaden dari Asia tengah, dimulai pada 480 M. Dua dasawarsa kemudian, raja-raja Gupta memiliki sedikit teritori tersisa di bawah kendali mereka. Sekitar tahun 550 M, kekaisaran itu musnah sama sekali.

Meski India tidak betul-betul bersatu lagi sampai datangnya kaum Muslim, budaya klasik Gupta tidak lenyap. Seni-seni subur kawasan itu, yang tak tertandingi di masanya, meninggalkan lebih dari sekadar pusaka. Mereka meninggalkan keturunan Gupta dengan inspirasi tiada henti untuk berkreasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s