“Saya benci kutipan. Katakan saja apa yang kau ketahui.”
(Ralph Waldo Emerson)

“Pada masa khilafah dulu, para khalifah telah  memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan manusia. Sistem khilafah mampu menjamin masyarakatnya hidup sejahtera.” (Will Durant dalam The Story of Civilization)

“Islam telah berhasil menciptakan suatu masyarakat yang bebas dari kekejaman dan penindasan sosial daripada masyarakat-masyarakat yang pernah ada sebelumnya di dunia.” (H.G. Wells dalam The Outline of History)

“Kekhalifahan tidak berperang berdasarkan kebohongan dan penipuan. Tujuan tunggalnya dalam berperang adalah melenyapkan ketidakadilan dan membawakan sistem baru untuk masyarakat. Walaupun Amerika dan Inggris menyebutkan tujuan yang sama di Irak, realitanya jauh dari ini. Penggunaan uranium, penyiksaan dan pembunuhan warga sipil, dan pemaksaan sistem korup lainnya tidak akan pernah terjadi dengan Kekhalifahan. Secara historis, Kekhalifahan memenangkan hati dan pikiran masyarakat di tanah yang didudukinya. Ia tak pernah menganiaya mereka dan, berlawanan dengan Kekaisaran, ia tak pernah memiskinkan mereka demi memperkaya ibukota.” (Abdullah N. Malik) (Sumber: Abdullah N. Malik, Revival of Khilafat in the Modern World, Pakistan Daily, 14 Januari 2010)

“Penguasa dan ulama muslimin (dahulu) membuka pintu rumah mereka bagi orang-orang yang memerlukan dan mengadukan kesulitan. Para Kaisar Romawi dan Kisra Persia tidak berhubungan dengan rakyat, tidak pernah berjalan kaki di jalan-jalan umum, dan tidak hidup seperti kehidupan rakyat biasa.” (Ulama)

“Islam adalah sistem yang syamil (menyeluruh) mencakup seluruh aspek kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, serta pasukan dan pemikiran. Sebagaimana ia juga aqidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.” (Hasan al-Banna) (Sumber: Eman Mulyatman, Paham, Sabili No. 2 TH. XVII 13 Agustus 2009 / 22 Syaban 1430, hal 82-83)

“Apabila saudaraku Muslim mengetahui agamanya dalam kerangka prinsip-prinsip tersebut, maka ia telah mengetahui makna dari syiarnya: al-Quran adalah undang-undang kami dan Rasul adalah teladan kami.” (Hasan al-Banna) (Sumber: Eman Mulyatman, Paham, Sabili No. 2 TH. XVII 13 Agustus 2009 / 22 Syaban 1430, hal 82-83)

“Islam bukan sistem filsafat kehidupan semata. Islam adalah sistem hidup universal dan total…” (Abul A’la al-Maududi) (Sumber: Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011, hal. 74)

“Peradaban Islam adalah peradaban paling tinggi, mulia, dan luhur, yang tidak bisa dibandingkan dengan Peradaban Setan yang terus menimpakan siksaan kejam terhadap seluruh dunia, membangunkannya, menebarkan kejahatannya, dan menyebarkan kerusakannya. Siapa yang sebelum ini meragukan hal itu, maka Amerika Serikat sendiri yang akan menghilangkan keraguan itu melalui perilakunya. Saya katakan itu, sementara saya dari dulu telah meyakininya, tetapi keyakinan saya mengenai hal itu saat ini lebih kuat daripada keyakinan saya di masa lalu: Kita adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia, saya tidak mengatakan kita di sini orang Arab, atau orang Timur Tengah, tetapi kita umat Islam yang memiliki keimanan kepada hal-hal gaib dan kepada Allah. Kita adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia…” (Muhammad Abbaas) (Sumber: Dr. Muhammad Abbaas, Bukan… Tapi Perang terhadap Islam (diterjemahkan oleh Ibnu Bukhori), Solo: Wacana Ilmiah Press, Cet. I, April 2004, hal. 385)

“Tadinya kita adalah kaum yang paling hina. Kemudian Allah muliakan kita dengan Islam. Maka kalau kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah menghinakan kita.” (Umar bin Khattab ra) (Sumber: Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011, hal. 91)

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (QS al-Anbiyaa [21]: 10)

“Dan al-Qur’an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?” (QS al-Anbiyaa [21]: 50)

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi al-Qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS an-Naml [27]: 6)

“Syekh Maududi pernah menguraikan, betapa besar kerugian dunia dan kehidupan manusia ketika Islam tidak memimpin lagi peradaban. Bukan saya kaum Muslimin yang merasakan kerugiannya, tapi juga seluruh umat manusia. Bahkan, jika hari ini Islam diangkat dari seluruh kehidupan manusia, yang tinggal dalam peradaban ini hanya kegelapan semata-mata… Apa jadinya jika tak ada orang yang setia membawa dan menjaga nyala lentera kebenaran? Kita semua, harus menjadi Muslim yang setia, mengantarkan manusia pada kebenaran hakiki, menuju Allah dan menyembuhkan luka-luka jahiliyah. Tapi sebelum sampai ke sana, kita harus melalui periode gelap yang akan mengantarkan pada keruntuhan. Syekh Muhammad Quthb, menyebut periode ini sebagai zaman tamparan Ilahi.” (Herry Nurdi) (Sumber: Herry Nurdi, Jahiliyah Modern, Sabili No. 26 TH. XVI 16 Juli 2009 / 23 Rajab 1430, hal. 12-13)

“Gurun kesesatan ini sangat luas, jauh lebih luas dari apa yang dibayangkan oleh kebanyakan manusia. Nyaris tidak ada satu aspek kehidupan umat Islam yang tidak terpengaruh oleh kesesatan ini. Seakan-akan, selama setengah abad atau lebih ini, umat Islam telah berubah menjadi umat lain yang berbeda dengan umat Islam sebelumnya. Berubah segala-galanya. Persepsinya, pemikirannya, perasaannya, dan pola perilakunya…di bidang politik, ekonomi, sosial, moral, pemikiran, etika, dan seni…dalam segala hal! Umat ini—tentu saja—merasakan perubahan ini. Perbedaan antara keadaan mereka dahulu dengan keadaan yang terjadi selama masa yang pendek ini sangatlah tajam. Tetapi, yang menjadi bencana adalah bahwa umat Islam—selama berada di gurun kesesatan ini—menyangka bahwa ia sedang berubah kepada keadaan yang lebih baik. Ia melihat kepada dirinya ketika melepaskan agama, tradisi, warisan, dan persepsi lamanya bahwa ia sekarang sedang memulai langkah pertamanya menuju jalan lurus!” (‘Allamah Muhammad Qutb) (Sumber: Dr. Muhammad Abbaas, Bukan… Tapi Perang terhadap Islam (diterjemahkan oleh Ibnu Bukhori), Solo: Wacana Ilmiah Press, Cet. I, April 2004, hal. 361-362)

“Terombang-ambing di dalam pelukan musuh adalah mungkin, menyerahkan tanah air kepadanya juga mungkin, menyepakati perdamaian hina dan membayar upeti kepada musuh pun mungkin, semua ini mungkin untuk dilakukan, kecuali satu hal, yaitu kembali kepada Islam yang benar, yang terbebas dari kecintaan kepada kekuasaan dan perbudakan dunia serta yang memerintahkan untuk berpegang pada tali Allah saja dan tidak berpecah-belah. Apa pun mungkin untuk dilakukan—dalam kebiasaan mereka—, kecuali satu hal ini.” (‘Abdul Halim ‘Uwaisy) (Sumber: Dr. Muhammad Abbaas, Bukan… Tapi Perang terhadap Islam (diterjemahkan oleh Ibnu Bukhori), Solo: Wacana Ilmiah Press, Cet. I, April 2004, hal. 379)

“…Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan saling memerangi di antara mereka.” (HR Ibnu Majah no. 4009, lafal baginya, dan riwayat Al-Bazar dan Al-Baihaqi, shahih lighoirihi menurut Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib hadits no. 1761, dari Abdullah bin Umar)

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (al-Qur’an) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS al-Mu’minuun [23]: 71)

“Dan kamu tidak pernah mengharap agar al-Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.” (QS al-Qashash [28]: 86)

“Ketika Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW, Allah SWT mengutusnya dengan manhaj  yang lurus dan adab yang bagus. Para sahabatnya dan tabi’in pun mengikuti jalannya. Kemudian masuk penyakit dan bid’ah. Betapa banyak penguasa yang bekerja dengan hawa nafsu dan pandangannya, bukan dengan ilmu. Lalu mereka sebut itu sebagai politik. Padahal, politik itu adalah syariah.” (Imam Ahmad, al-Maqdisi,  al-Furu’, juz VI/425)

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.” (QS al-Hajj [22]: 67)

“Agama dan kebaikan apakah yang dimiliki seseorang bila dia melihat larangan Allah dilanggar, hukum-hukum Allah diabaikan, sunnah Rasulullah saw dienyahkan, sedang dia diam, hatinya dingin, dan lidahnya bisu seperti setan bisu?” (Umar bin Khattab ra)

“Demi Allah, berterus teranglah kepadaku wahai Ikhwan! Jika Islam itu agama yang tidak menangani masalah politik, sosial, ekonomi, dan ilmu pengetahuan, lalu apa gunanya Islam itu? Apakah pengertian Islam itu hanya terbatas pada jumlah rakaat shalat yang kosong dari konsentrasi hati mengingat Allah? Ataukah ia hanya merupakan susunan kalimat istighfar yang menurut penilaian Rabi’ah ‘Adawiyah sebagai ‘istighfar yang memerlukan istighfar’? Hanya untuk tugas itukah al-Qur’an diturunkan sebagai sistem yang lengkap, universal, rapi, dan rinci?” (Hasan al-Banna) (Sumber: Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011, hal. 78-79)

“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa al-Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah- robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’aam [6]: 114-115)

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maa’idah [5]: 50)

“…Maka, hendaklah kita menempatkan diri pada posisi kita dalam sejarah, untuk mencegah keberakhiran dan penyimpangannya. Tidak ada jalan yang membentang di hadapan kita, selain persatuan umat Islam di bawah panji-panji kekhalifahan, yang substansinya merupakan: agama secara keseluruhan.” (Muhammad Abbaas) (Sumber: Dr. Muhammad Abbaas, Bukan… Tapi Perang terhadap Islam (diterjemahkan oleh Ibnu Bukhori), Solo: Wacana Ilmiah Press, Cet. I, April 2004, hal. 385)

“Umat terakhir ini tidak akan baik kecuali jika mereka melakukan perbaikan seperti apa yang telah dilakukan pendahulu mereka sebelumnya.” (Slogan Jama’at Islamiyah bentukan Abul A’la al-Maududi) (Sumber: Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011, hal. 73)

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi suatu kaum maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang bijaksana, dan dijadikan ulama-ulama mereka menangani hukum dan peradilan. Juga Allah menjadikan harta kekayaan di tangan orang-orang yang dermawan.” (HR Ad-Dailami)

“Sesungguhnya terapi bagi keterpurukan, perpecahan kata, kehancuran dan kemunduran peradaban umat Islam tidak bisa dilakukan dengan terapi tunggal, ia harus dengan terapi komprehensif. Begitu juga manhaj reformasi untuk membebaskan umat Islam dari keterpurukannya haruslah komprehensif tanpa memprioritaskan manhaj salah satu reformis, tetapi harus mencakup seluruh unsur reformasi. Dengan itulah semua kondisi umat Islam akan membaik.” (Hasan al-Banna) (Sumber: Eman Mulyatman, Paham, Sabili No. 2 TH. XVII 13 Agustus 2009 / 22 Syaban 1430, hal 82-83)

“…Selama kita belum mewujudkan sistem Islam secara nyata, maka kita tidak akan mampu memberikan pengabdian kepada Islam melalui kata-kata dan pembicaraan.” (Abul A’la al-Maududi) (Sumber: Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011, hal. 74)

“Kita tidak akan mampu melakukan perbaikan dan kita tidak bisa menerapkan konsep perbaikan secara internal selama kita belum merdeka dari intervensi dan campur tangan asing.” (Hasan al-Banna) (Sumber: Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011, hal. 79)

“Bukankah sebuah paradoks yang aneh, kita meninggikan suara menuntut untuk merdeka dari Eropa dan melakukan protes keras terhadap segala tindak tanduknya, sementara di sisi lain kita mengagungkan tradisi-tradisinya dan terbiasa dengan adat-adatnya, dan bahkan kita lebih memilih produk-produknya?” (Hasan al-Banna) (Sumber: Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011, hal. 79-80)

“Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7)

“Wahai umat Islam, embanlah dakwah al-Qur’an, bergeraklah dan terbanglah menjelajah dunia.” (Motto majalah Turjuman Al-Qur’an bentukan Abul A’la al-Maududi) (Sumber: Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011, hal. 73)

“Sejujurnya, ikhwan sekalian, kita harus ingat bahwa kita berdakwah dengan dakwah Allah swt, yang merupakan dakwah paling mulia. Kita mengajak manusia untuk memegang pemikiran Islam, yang merupakan pemikiran paling lurus. Dan kita mengajukan syariat al-Qur’an kepada manusia, yang merupakan syariat paling adil.” (Hasan al-Banna dalam Risalah baina Al Ams wal Yaum) (Sumber: Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011, hal. 78)

“…konsep seperti demokrasi atau kebebasan pada akhirnya tidak bisa mengalahkan visi Islam… Bagaimanapun, demokrasi semata atau bahkan konsep kebebasan saja tidak cukup kuat menandingi visi ‘grand meta-narrative’ yang dihadirkan para Islamis. Sememikat dan semenariknya konsep ini, hampir mustahil untuk bersaing dengan pandangan keduniaan Islam yang komprehensif, yang diyakini penuh oleh penganutnya berasal langsung dari Tuhan. …kita harus akui bahwa ini adalah visi yang kuat. Bayangkan, sebuah bentuk pemerintahan yang berjanji mengakhiri seluruh penindasan, di mana keadilan selalu berlaku, di mana orang jahat ditundukkan, di mana Muslim hidup bersama dalam damai dan bersatu, dan di mana berkah Tuhan melekat…”  (Joel Richardson, 22 Juni 2010, WorldNetDaily)

“Demokrasi adalah tatanan yang berbahaya karena kaum penguasa lebih berupaya meraih kekuasaan materil daripada menegakkan kebenaran dan kemoderatan. Demokrasi adalah bentuk negara yang paling buruk karena mudah mengarah ke berbagai penyalahgunaan, kekacauan, dan tirani.” (Plato dalam Georgias) (Sumber: Atton Sumarya, Pemilukada Langsung atau Perwakilan?, Pikiran Rakyat, Sabtu 8 Januari 2011, hal. 29)

“Demokrasi dapat mengambil bentuk demagogi di mana rakyat membiarkan dirinya dipimpin oleh hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan langsung tanpa memikirkan lebih lanjut kepentingan umum masyarakat untuk jangka panjang.” (Aristoteles dalam Politea) (Sumber: Atton Sumarya, Pemilukada Langsung atau Perwakilan?, Pikiran Rakyat, Sabtu 8 Januari 2011, hal. 29)

“’Demokrasi’ adalah bentuk pemerintahan yang paling buruk karena selalu mempertontonkan kekacauan dan pertikaian dan tidak dapat menopang keamanan pribadi atau hak milik.” (James Madison) (Sumber: Atton Sumarya, Pemilukada Langsung atau Perwakilan?, Pikiran Rakyat, Sabtu 8 Januari 2011, hal. 29)

“Demokrasi selalu menjadi tirai yang menutupi minoritas, baik itu para tuan pemilik budak maupun pemilik modal. Apa yang disebut sebagai ‘Demokrasi Athena’ di zaman Pericles yang menjadi prototipe dari induk demokrasi, pada hakikatnya hanyalah kekuasaan 20.000 warga negara yang bebas terhadap 100.000 budak yang tidak mendapat hak apa pun. Kita sedang berada di hadapan kekuasaan minoritas yang memperbudak dan disebut sebagai Demokrasi. Ia adalah demokrasi untuk para penguasa, bukan untuk orang lain.” (Roger Garaudy dalam Amerika, Pionir Keruntuhan) (Sumber: Dr. Muhammad Abbaas, Bukan… Tapi Perang terhadap Islam (diterjemahkan oleh Ibnu Bukhori), Solo: Wacana Ilmiah  Press, Cet. I, April 2004, hal. 180)

“Jangan dengar kata-kata orang yang menyatakan suara rakyat adalah suara Tuhan, karena kericuhan massa selalu dekat dengan kegilaan!” (Surat sejarawan dan rohaniawan Alcuinus kepada Charlemagne sang Raja Frank) (Sumber: Chairul Akhmad, Presiden, Sabili No. 26 TH. XVI 16 Juli 2009 / 23 Rajab 1430, hal. 112)

“Komunisme adalah upaya untuk mendistribusikan kemiskinan dan kemelaratan. Kapitalisme adalah persekongkolan dari sejumlah kecil manusia untuk mencuri hak orang banyak. Sosialisme adalah kosmetik untuk memperindah wajah komunisme dan kapitalisme.” (Kutipan)

“Tapi Islam bukanlah agama dengan pengertian ‘sempit’ ini. Ia jauh lebih dari itu. Ia adalah sistem hukum; ia adalah sistem sosial dan politik; ia adalah jalan hidup. Islam memiliki kendali penuh atas perilaku individu, masyarakat, dan negara. Ia mengurusi perang dan perdamaian; ia menetapkan hubungan antara Muslim dan seluruh dunia; dan sebagaimana kita lihat, ia juga menetapkan sikap kepada non-Muslim yang tak cukup beruntung berada di bawah aturan Islam. Sifat khas Islam digambarkan dengan baik, ringkas, dan akurat oleh sebuah tradisi terkenal yang berbunyi: ‘Agama dan negara adalah saudara kembar’. Ini berarti tak ada perbedaan antara urusan agama dan urusan duniawi dalam Islam, tak ada semacam pemisahan negara dan agama. Diiringi pula bahwa masyarakat Muslim dipandang sebagai tentara Allah yang tujuan utamanya adalah memerangi musuh Allah, dalam rangka menundukkan dunia seluas mungkin di bawah aturan Allah, dengan kata lain di bawah yurisdiksi pemerintahan Islam yang dituntun al-Qur’an, sunnah Nabi Muhammad, dan Syariah Islam…” (Moshe Sharon, Mideast Outpost – 1 Januari 2008)

“Kebenaran harus punya negara. Sebab kebatilan pun memiliki negara.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

“Musuh negara itu bukan Islam, tetapi imperialisme, kapitalisme, individualisme, komunisme!” (Jenderal (purn.) Tyasno Sudarto, mantan Kasad)

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS Al-Jaatsiyah [45}: 18)

“Saya hanya akan memperjuangkan apa yang telah diperjuangkan oleh seluruh khalifah dan utusan Allah, dari Adam as sampai kepada Muhammad saw, yaitu menegakkan syariat Allah di muka bumi, sehingga tercipta keadilan…” (Abu Bakar Ba’asyir)

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (QS Al-A’raaf [7]: 3)

“Saya memiliki jiwa yang ambisius, dan setelah saya sampai kursi [kekuasaan], saya masih ambisius yang lebih tinggi dan mendapatkan bahwa surga dan ridha Allah yang lebih tinggi, maka saya bertekad menjadikan khilafah untuk meraih surga dan ridha-Nya.” (Umar bin Abdul Aziz) (Sumber: Sabili No. 9 TH. XVII 26 November 2009 / 9 Dzulhijjah 1430, hal. 73)

“Saya tidak takut masa depan, karena tidak ada bahaya. Masa depan milik umat Islam, jika mereka tetap istiqomah, baik secara pribadi atau kolektif.” (Muhammad Natsir) (Sumber: Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011, hal. 1)

“Aku telah bergabung dengan apa yang kuanggap sebagai keluarga terbesar dan terbaik di dunia. Ketika kami bersatu, kami pasti tak terkalahkan.” (Yvonne Ridley) (Sumber: Anton Kurnia, Dari Penjara Taliban Menuju Iman: Kisah Yvonne Ridley, Wartawati-Feminis Inggris yang Menjadi Mualaf Setelah Ditawan Taliban, dan Kini Menjadi Pembela Islam di Barat, Bandung: Mizan, Cet. I, Maret 2007, hal. 136)

“Persatuan umat Islam sedang tidur, tetapi kita harus punya perhitungan bahwa orang yang tidur itu akan bangun.” (Arnold Toynbe dalam Al islam wal gharbu wal istiqba)

“Kekuatan yang tersembunyi dalam Islam itu sendiri yang membuat Eropa ketakutan.” (Orientalis Gardeneir)

“Ketakutan dan perhatian kita yang sungguh-sungguh kepada bangsa Arab, bukan karena adanya kekayaan banyak pada bangsa tersebut, tetapi karena Islam….” (More Borger)

“Sejak masa Raja Richard The Lion Heart di Inggris hingga masa Presiden Bush, bangsa Arab sudah menemukan dua hal dengan sangat jelas. Pertama, mereka ingin agar bangsa Eropa—dan sekarang Amerika—menjauh. Kedua, memilih bentuk-bentuk pemerintahan mereka sendiri, yang semakin besar berlandaskan hukum Islam, dan bukan konsep-konsep demokrasi sekuler kita.” (John Perkins) (Sumber: Orhan Basarab, Sultan Mehmed II – Sang Pembantai Drakula, Yogyakarta: Darul Ikhsan, Cet. I, Januari 2008, hal. 156)

“Sekalipun kita menang dan menguasai umat Islam, tetapi selalu ada bahaya yang muncul, karena tekanan dan penderitaan yang dialami mereka. Sebab keinginan dan semangat mereka tidak akan pernah kita padamkan.” (Hanoutou, mantan menteri luar negeri Prancis)

“Resapilah kembali ajaran keberanian, kebenaran, dan keadilan, karena kamu akan dipanggil kembali memimpin bangsa-bangsa di dunia.” (Muhammad Iqbal) (Sumber: Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011)

“Tidak ada kebangkitan tanpa ilmu pengetahuan dan apa yang diraih oleh orang kafir (dalam menjajah) adalah karena dengan ilmu.” (Hasan al-Banna) (Sumber: Akhmad Jenggis P., Kebangkitan Islam, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011, hal. 79)

“Dalam setiap kebangkitan sebuah pemikiran dan kejayaan sebuah peradaban, maka di balik itu semua senantiasa ada para pemuda yang mengibarkan panji-panji kemenangannya.” (Hasan Al-Banna)

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah ta’aala akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Dia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR Abu Dawud no. 9435)

“…Setelah itu, Khilafah akan kembali tegak dengan berjalan di atas manhaj kenabian.” (HR Ahmad)

“Mereka berupaya mengambil-alih pemerintahan mulai dari Afrika Utara sampai Asia Selatan dan mendirikan kembali kekhalifahan yang mereka harap, suatu hari, akan mencakup setiap benua. Mereka telah merancang dan mendistribusikan sebuah peta di mana perbatasan negara dihapus dan digantikan oleh kekaisaran ekstrimis global.” (Donald H. Rumsfeld, 42nd Munich Conference on Security Policy, 4 Februari 2006)

“Militan percaya bahwa penguasaan sebuah negara akan mengerahkan massa Muslim, memungkinkan mereka untuk menggulingkan seluruh pemerintah moderat di kawasan dan mendirikan kekaisaran Islam radikal yang membentang dari Spanyol sampai Indonesia…mereka fanatik dan ekstrim…amat teguh… Mereka ingin mendirikan sebuah utopia politik keras di Timur Tengah, yang mereka sebut Kekhalifahan – di mana semuanya akan diatur menurut ideologi kebencian mereka. Kekhalifahan ini akan menjadi kekaisaran totaliter Islam yang meliputi seluruh tanah muslim formal saat ini. Membentang dari Eropa sampai Afrika Utara, Timur Tengah sampai Asia Tenggara. …Dari Pilar Hercules sampai Kepulauan Indonesia, Tirai Hijau yang busuk mengancam keturunannya untuk menyelimuti dan memperbudak banyak penduduk bumi. Sebuah Kekaisaran Islam, kebangkitan Kekhalifahan Muslim, berbungkus ‘kekuatan ekonomi, militer, dan politik besar…mampu memajukan agenda mereka: mengembangkan senjata pemusnah masal…menghancurkan Israel…mengintimidasi Eropamenyerang bangsa Amerika…dan memaksa pemerintah kita terisolasi.’“ (George W. Bush)

“Kekhalifahan bukanlah sebuah mimpi melainkan rencana aksi. Ia merupakan sasaran yang hendak dicapai. Ini merupakan pesan yang datang dari al-Qaeda-nya Bin Laden, dari doktor-doktor di universitas-universitas, dan dari pendakwah-pendakwah di masjid-masjid di seluruh dunia Islam.” (Moshe Sharon, Mideast Outpost – 1 Januari 2008)

Rasulullah saw pernah ditanya, “Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?” Rasul menjawab, “Kotanya Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel.” (HR Ahmad, ad-Darimi, dan al-Hakim)

“Camkanlah, seandainya saja umat Muhammad berkeyakinan bahwa Allah memerintahkan mereka menertibkan dunia Barat yang dekaden dan membawa masyarakat ini kepada perintah-Nya, maka – dengan iman di dada – mereka akan melanda Eropa yang tak ber-Tuhan laksana gelombang pasang, dan mereka tidak akan pernah bisa dibendung sekalipun oleh kaum Bolshevik yang paling fanatik dan penuh semangat juang.” (Pidato mantan Kaisar Jerman, dimuat dalam Evening Standard, London 26 Januari 1929)

“Eropa kelak akan menjadi bagian barat dari dunia Arab pada pengujung Abad 21.” (Bernard Lewis) (Sumber: Sabili No. 17 TH. XIII 9 Maret 2006/9 Shafar 1427, hal. 50)

“Baru-baru ini saya berbicara dengan salah seorang uskup yang memperhatikan masalah ini. Ia menegaskan pada saya bahwa Islam akan menguasai Eropa hanya dalam waktu 30 tahun. Saya khawatir pendapat inilah yang benar.” (Marcello Pera, Ketua Senat Italia) (Sumber: Sabili No. 15 TH. XIII 9 Februari 2006/10 Muharram 1427, hal. 57)

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS Al-Fath [48]: 28)

Tuhan telah bersumpah bahwa syariat-Nya tidak akan hilang
Ujung fajar sudah terlihat di langit tinggi
Esok hari matahari kita akan terbit di atas bukit kecil
Dan di setiap rumah, kita akan disambut dengan hangat
Esok hari kita akan mengetahui siapa yang menipu agama kita
Mereka akan memekik minta tolong di neraka Jahim
kepada hujan kemenangan kita
Esok hari kita akan tertawa sepenuh hati
di negeri keabadian yang dihiasi kehadiran Kekasih kita

(Syair Arab)