Jaksa – Rusia dan Rezim Assad Bisa Dituntut

“Nah, Anda tak mungkin mendapatkan mereka besok—butuh 15 tahun bagi Pengadilan Internasional untuk menangkap Jenderal Bosnia-Serbia Ratko Mladic—tapi…pada dasarnya Anda mengirim sinyal bahwa orang-orang yang terlibat akan diburu selama sisa hidup mereka.”

Advertisements

Mengapa Kaum Kiri Harus Mendukung Revolusi Suriah

Seperti kekuatan regional dan internasional lainnya, pemerintah AS turut ambil bagian di Suriah. Ia sedang bermanuver untuk membentuk—dan akhirnya mengekang—Revolusi Suriah. Artinya AS mendukung sebagian faksi di antara pemberontak yang menurutnya paling lunak, tapi tentu tidak semua faksi. Sepanjang pembantaian yang ditimbulkan oleh rezim, AS sangat membatasi dukungannya, terutama dukungan militer.

Mengapa Mereka Benci Rusia

Berurusan dengan negara eksotis seperti Rusia, yang terpisah dari Barat berdasarkan geografi uniknya, sejarahnya, agamanya, dan sistem politiknya, Barat memegang sikap munafik dan tidak demokratis yang sudah terinternalisasi, yang diisyaratkan oleh peribahasa “quod licet Iovi, non licet bovi” (yang dibolehkan untuk Yupiter, tidak dibolehkan untuk lembu). Lebih jauh, sebagai pendatang terakhir di peradaban Barat, orang-orang Rusia sendiri sepertinya menerima sikap tak sehat ini tanpa menegurnya.

Rusiafobia dan Islamofilia

Rusia tak berilusi soal Muslim militan. Bahkan, Anda bisa buktikan bahwa Putin membangun kembali Gereja Ortodoks Rusia sebagai rintangan ideologis bagi penyebaran racun Islam di Rusia. Andai saja Eropa atau Amerika mendukung Yudaisme dan Kristen dengan keyakinan tanpa sesal seperti ini.

Konflik Georgia yang Pahit

Georgia berada di garis depan “perang dingin” demokrasi barat yang baru. Semua bekas negara-negara satelit Soviet dalam Pakta Warsawa kini menjadi anggota NATO. Tiga republik bekas Uni Soviet (Latvia, Lithuania, dan Estonia) sudah bergabung dengan NATO—dan tiga lagi (Ukraina, Georgia, dan Azerbaijan) ingin sekali bergabung; Ukraina sudah dijanjikan keanggotaan. Georgia mengawali perjalanan menuju keanggotaan Desember lalu.

Kerusuhan Muslim di Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang

Beijing secara sistematis berusaha mengelola dan mengendalikan aktivitas keagamaan di seluruh China, demi menjaga pesatuan dan stabilitas nasional. Di Xinjiang, karena Islam pada hakikatnya tak dapat dibedakan dari identitas budaya dan nasional setempat, Beijing merasakan ancaman khusus terhadap kekuasaannya. Alhasil, masjid-masjid dan sekolah agama di Xinjiang, yang dianggap sebagai lingkungan kondusif untuk sentimen anti-rezim, secara berkala ditutup dan aktivis keagamaan ditangkap dan diganggu.

Beijing vs Islam

Sebagaimana pandangan Askar, persoalan Xinjiang menjadi fenomena perkotaan. Pengangguran dan diskriminasi adalah akar masalah. Dia melirik ke sekeliling ruangan dan memelankan suara: “Di Kashgar tahun lalu ada sekitar 6.000 lulusan SMU dan universitas. Tapi hanya 3.000 yang memperoleh pekerjaan dan sisanya menunggu.” Dia mencondong ke depan untuk menekankan: “Dan 90% pengangguran tersebut adalah Uighur. Lulusan China tak kesulitan mendapat kerja.”

Selamat Datang di Milenium China

China memiliki pandangan ras yang amat berbeda: 92% dari 1,4 miliar populasinya percaya bahwa diri mereka adalah satu ras, Han. Ini kontras dengan negara-negara padat populasi lainnya di dunia, semisal India, AS, Indonesia, dan Brazil, yang percaya bahwa diri mereka multiras. Sikap China utamanya merupakan produk sejarah panjangnya sebagai negara peradaban, yang menghasilkan sejarah panjang percampuran dan perpaduan ras-ras dan melahirkan rasa identitas China yang kuat.

China dan Akhir Westernisasi

Subtitel buku karangan Jacques menyebut “akhir dunia barat”, tapi dia tidak menyatakan barat akan kolaps atau lenyap, melainkan bahwa dunia yang didominasi barat selama beberapa abad terakhir akan berakhir – dan begitu pula klaim barat sebagai hakim modernitas. Modernitas versi saingan telah mulai muncul di China, cacat dalam beberapa hal, seperti semua komunitas manusia lainnya, tapi sejatinya berbeda dari model barat.

Akhir Peradaban Barat

Sekulerisme sebagai fondasi peradaban Barat telah melahirkan sistem yang cacat. Sistem demokrasi liberal dengan konsep trias politikanya telah gagal menjadi sistem yang ideal bagi umat manusia. Doktrin trias politika yang digagas Montesquieu dalam Spirit of Law, telah menjadikan sistem demokrasi membentuk rezim otoritarian baru, yakni pemilik modal. Para pemilik modal telah menguasai ketiga lembaga negara demokrasi (eksekutif, legislatif, yudikatif). Fungsi ketiganya telah lumpuh akibat kekuasaan para pemilik modal, hingga lahirlah negara korporasi.

Kebangkitan Islam dan Negara-negara Kawasan

Bahkan, gerakan kebangkitan Islam tidak bisa hanya dihubungkan dengan pemikiran para pionir aktivis yang terorganisir an sich, melainkan harus pula melihat kecenderungan-kecenderungan pemikiran yang lain. Fenomena sosial yang luas dan kesadaran membaja untuk memisahkan diri dari gaya hidup Eropa dan kembali ke pangkuan Islam telah mendorong umat untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam realitas kehidupan.

Dari Baghdad Sampai Bishkek, Waktu Kekhalifahan Telah Tiba

Muslim mendasarkan identitasnya pertama-tama dan terutama kepada Islam, dan, Islam sebagai agama universal, mereka tentu saja akan mengatasi nasionalisme kafir dan bekerjasama untuk merealisasikan negara ideal, berbasis program Al-Qur’an yang rinci dan luar biasa ketat. Konsep dasar nasionalisme adalah konsep barat dan menjadi kekuatan politik utama baru-baru ini saja, dengan kemenangan kapitalisme dan kenaikan sekulerisme di abad 19. Ia mencapai bentuk paling jahatnya di Nazi Jerman dan hari ini di Israel. Ia harus dibuang demi kesatuan semua Muslim, menolak rezim-rezim nasionalis yang disponsori oleh imperialisme – dahulu Inggris dan kini Amerika – untuk membuat Muslim tetap terpecah.

Kekhalifahan – Tantangan Islam Terhadap Tatanan Global?

Keyakinan terhadap Islam sebagai sumber komprehensif untuk mengatur individu, negara, dan masyarakat, bersama dengan pergerakan imigrasi, ide, dan informasi global telah memungkinkan dunia Islam untuk mengatasi inferioritas intelektual, teknologi, dan politiknya di hadapan peradaban Barat. Kekayaan tambang, strategi, sumber daya intelektual dan manusia yang eksis di luasnya wilayah dunia Islam menyediakan keyakinan intelektual terhadap kemampuan Kekhalifahan untuk menantang dan mengatasi keunggulan militer dan teknologi Barat.