Kerusuhan Muslim di Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang

Beijing secara sistematis berusaha mengelola dan mengendalikan aktivitas keagamaan di seluruh China, demi menjaga pesatuan dan stabilitas nasional. Di Xinjiang, karena Islam pada hakikatnya tak dapat dibedakan dari identitas budaya dan nasional setempat, Beijing merasakan ancaman khusus terhadap kekuasaannya. Alhasil, masjid-masjid dan sekolah agama di Xinjiang, yang dianggap sebagai lingkungan kondusif untuk sentimen anti-rezim, secara berkala ditutup dan aktivis keagamaan ditangkap dan diganggu.

Beijing vs Islam

Sebagaimana pandangan Askar, persoalan Xinjiang menjadi fenomena perkotaan. Pengangguran dan diskriminasi adalah akar masalah. Dia melirik ke sekeliling ruangan dan memelankan suara: “Di Kashgar tahun lalu ada sekitar 6.000 lulusan SMU dan universitas. Tapi hanya 3.000 yang memperoleh pekerjaan dan sisanya menunggu.” Dia mencondong ke depan untuk menekankan: “Dan 90% pengangguran tersebut adalah Uighur. Lulusan China tak kesulitan mendapat kerja.”

Paris Segera Miliki Islamic Center

Pemerintah Prancis berharap, pembangunan Islamic Center bisa mengatasi dua masalah penting terkait komunitas Muslim, yakni kelangkaan masjid di Paris serta aturan baru yang melarang komunitas Muslim menyelenggarakan shalat Jumat di jalanan. Karena larangan itu, untuk sementara kaum Muslim diimbau beribadah di sebuah tempat yang tidak biasa, yakni aula di gedung bekas markas pemadam kebakaran di utara Paris.