Di Bawah Presiden Trump, Kita Akan Memasuki Abad Konfrontasi Global

Kedatangan Donald Trump di Gedung Putih mencerminkan fenomena lebih luas: era baru nasionalisme. Dia bergabung dengan Vladimir Putin dari Rusia, Narendra Modi dari India, Xi Jinping dari China, Recep Tayyip Erdoğan dari Turki dan banyak pemimpin nasionalis lain di seluruh dunia.

Tolong Suriah Sekarang, Esok Mungkin Terlambat

Orang-orang berjuang di sini dengan perlawanan penuh karena mereka sadar pembantaian besar menanti mereka jika rezim berhasil meraih kembali kendali wilayah. Mereka yang tidak terbunuh akan ditahan dan disiksa secara biadab. Pilihannya adalah mati dengan melawan rezim agresi rezim fasis atau tewas oleh rezim ini dengan cara terburuk. Orang-orang merinding ketakutan, dan saya sendiri merinding, bila membayangkan rezim ini memerintah kami lagi.

Mengapa Kaum Kiri Harus Mendukung Revolusi Suriah

Seperti kekuatan regional dan internasional lainnya, pemerintah AS turut ambil bagian di Suriah. Ia sedang bermanuver untuk membentuk—dan akhirnya mengekang—Revolusi Suriah. Artinya AS mendukung sebagian faksi di antara pemberontak yang menurutnya paling lunak, tapi tentu tidak semua faksi. Sepanjang pembantaian yang ditimbulkan oleh rezim, AS sangat membatasi dukungannya, terutama dukungan militer.

Mengapa Mereka Benci Rusia

Berurusan dengan negara eksotis seperti Rusia, yang terpisah dari Barat berdasarkan geografi uniknya, sejarahnya, agamanya, dan sistem politiknya, Barat memegang sikap munafik dan tidak demokratis yang sudah terinternalisasi, yang diisyaratkan oleh peribahasa “quod licet Iovi, non licet bovi” (yang dibolehkan untuk Yupiter, tidak dibolehkan untuk lembu). Lebih jauh, sebagai pendatang terakhir di peradaban Barat, orang-orang Rusia sendiri sepertinya menerima sikap tak sehat ini tanpa menegurnya.

Balas Dendam Rusia – Kenapa Barat Takkan Memahami Kremlin

Pandangan Rusia terhadap barat (terutama yang diangkat untuk konsumsi publik) sama-sama mengandung cacat, dirangsang oleh teori-teori konspirasi dan kecurigaan terhadap motif dan aspirasi Amerika. Tapi setidaknya Rusia memiliki diplomat-diplomat unggul seperti Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov yang mengenal barat bukan dari katanya tapi karena dia mempelajarinya selama lebih dari 30 tahun.

Implikasi Geopolitik Konflik Ukraina

Pekan ini di Ukraina, salah satu kawasan inti bekas kekaisaran tersebut, keadaannya jauh lebih mendekati “dentuman”. Kamis kemarin Kiev menyaksikan kekerasan berdarah yang memakan lusinan nyawa di tengah baku tembak dan bentrokan brutal di Independence Square. Ratusan orang terluka, kebanyakan serius. Kekerasan mendekati pertempuran serupa pada hari Selasa—dan menandai dimulainya konflik berkepanjangan dan dramatis terkait masa depan negara tersebut.

Kemunafikan Amerika Soal Ukraina

Rusia dan Putin adalah sasaran empuk. Di Amerika, jalan ceritanya begini: setelah Perang Dingin berakhir, Amerika Serikat bermurah hati menghujani Rusia dengan bantuan, sambutan ke dalam kedai obrolan demokrasi industri G-8, dan “pakar-pakar” di bidang penciptaan demokrasi (saya ikut salah satu perjalanan itu), tapi rakyat Rusia membiarkan si keras Vladimir Putin merusak upaya kami untuk mengekspor demokrasi ke sana dengan melembagakan ulang aturan otokratis. Orang Amerika merasa ditolak, karena orang Rusia tak ingin menjadi seperti kami.

Konflik Georgia yang Pahit

Georgia berada di garis depan “perang dingin” demokrasi barat yang baru. Semua bekas negara-negara satelit Soviet dalam Pakta Warsawa kini menjadi anggota NATO. Tiga republik bekas Uni Soviet (Latvia, Lithuania, dan Estonia) sudah bergabung dengan NATO—dan tiga lagi (Ukraina, Georgia, dan Azerbaijan) ingin sekali bergabung; Ukraina sudah dijanjikan keanggotaan. Georgia mengawali perjalanan menuju keanggotaan Desember lalu.

Paus Fransiskus: Perang Dunia III Telah Dimulai

Pernyataan Paus tersebut terlontar pada acara Misa di Sarajevo. Paus juga mengatakan bahwa “Suasana perang ini dikobarkan oleh orang-orang dan politisi untuk motif yang berbeda.” Beberapa dari mereka sengaja memprovokasi suasana ini, terutama mereka para aktor yang berusaha untuk mengobarkan konflik antar peradaban dan masyarakat, dan mereka inilah yang tengah bertaruh dengan memanfaatkan perang untuk menjual senjata.

Geopolitik Jihad: Gerakan Militan di Asia Selatan-Tengah dan Keamanan Regional

Retakan geopolitik dalam yang telah menjadi pendorong konlik di Asia Selatan-Tengah masih membentuk dinamika organisasi militan. Ini tak hanya membentuk kemampuan operasional kelompok militan, jaringan mereka, serta apa dan siapa yang mereka pilih untuk diperangi, tapi juga kemungkinan besar memperlunak respon negara-negara di kawasan terhadap ancaman yang ditimbulkan organisasi-organisasi tersebut.

Penulis Rusia dan Amerika: Khilafah Akan Kembali Tegak!

Penulis mengatakan bahwa ia memprediksi akan ada beberapa Negara Besar di dunia yang akan muncul pada tahun 2020. Saat itu,akan terdapat empat atau lima negara berperadaban, yaitu Rusia, yang akan menguasai benua Eropa, China, Negara Timur Jauh, Negara Khilafah Islam dan Negara konferderasi Amerika yang akan menggabungkan Amerika Utara dan Amerika Selatan.